Dengan sigap para tenaga medis menangani Hasan. Sementara itu, Grisa dan Ganesh menunggu dengan hati yang penuh kekhawatiran. Mata Grisa terpaku pada tirai yang menutupi ranjang pasien tempat Hasan berada. Seluruh dunia nampak kabur di matanya yang basah oleh air mata. Ganesh yang berdiri di sampingnya, mencoba memberikan ketenangan meski hatinya juga berkecamuk.
“Gapapa. Pak Hasan pasti akan selamat,” bisik Ganesh lembut di telinga Grisa.
Grisa hanya bisa mengangguk pelan, air mata terus mengalir di pipinya. Waktu seakan berhenti hingga seorang perawat keluar dari tirai dan memanggil mereka. "Keluarga Pak Hasan?"
Ganesh dan Grisa segera menghampirinya, mengikuti perawat masuk ke dalam.
“Apa kondisi kakek saya parah, Mbak?” tanya Grisa.
“Kami akan melakukan uji lab terlebih dahulu. Tetapi, dilihat dari kondisi saat ini, kami menyarankan untuk rawat inap selama beberapa hari.” jawab perawat itu.
“Baik. Mohon usahakan yang terbaik untuk Kakek saya.”
Perawat itu tersenyum, lalu berkata, “Pasti akan kami usahakan.”
Sambil menunggu giliran masuk ke lab, Grisa duduk menemani Hasan yang sudah agak tenang. Urusan administrasi, semua diserahkan pada Ganesh yang kini sedang mengantri di lobi.
“Aku selalu memperlakukanmu dengan buruk, untuk apa kamu menangis?” Hasan bertanya dengan suara parau.
Pria yang usianya hampir satu abad itu terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal, namun matanya masih menyala dengan keteguhan yang mendalam.
“Kakek sebaiknya tidak usah memikirkan hal sepele seperti itu,” kata Grisa sambil mengusap air matanya.
"Bagaimana tidak kepikiran? Dalam situasi seperti ini, kamu masih peduli padaku.”
Grisa menundukkan kepalanya, karena canggung. Ucapan Hasan tadi tidak ditunjukkan padanya, Nia, melainkan pada Grisa yang sebenarnya.
“Jujur saja aku tidak rela menyerahkan semua ini padamu. Tapi, di dunia ini aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”
Grisa mengepalkan tangannya di atas paha. Saat ini dia begitu bingung. Dia menyayangi sang kakek, tapi ada hal yang mengganjal di hatinya. Entah mengapa dia merasa tidak senang dengan perlakuan kakeknya pada Grisa.
“Aku… Saya tidak perlu harta Kakek. Jika Kakek tidak ikhlas, saya juga tidak akan menerima.”
Meski terhalang alat bantu pernapasan, Grisa bisa melihat sedikit senyum di bibir Hasan.
“Huh… Nia sangat percaya padamu. Aku yakin dia juga ingin memberikan semua miliknya padamu suatu saat nanti.”
Rasanya Hasan bisa menebak isi kepala Nia. Sebelum masuk ke dalam tubuh Grisa, memang Nia ingin menjadikan Grisa sebagai pewarisnya. Tetapi, tiga tahun terakhir ini Nia mengubah niatnya.
‘Srak’
Ganesh yang baru selesai mengurus administrasi membuka tirai.
“Saya masih terlalu muda. Lulus SMA juga belum. Lalu, Kakek juga pasti akan sehat lagi.” pungkas Grisa yang kemudian berdiri.
“Saya mau beli sarapan dulu di warung ayam di depan. Kam… Mas Ganesh mau titip?” lanjutnya.
Ganesh baru ingat kalau mereka belum sarapan.
“Samakan saja,” jawabnya.
“Oke.”
Grisa pun pergi meninggalkan mereka berdua. Kedatangan Ganesh benar-benar memberikan kesempatan untuk dia kabur dari pembicaraan berat tadi. Hasan saat ini masih sakit, Grisa tidak mau membuat kakeknya membuang tenaga yang sia-sia hanya untuk berdebat.
Saat tengah membeli makanan, Ganesh memberi tahu lewat pesan singkat bahwa Hasan sudah dibawa ke lab untuk diperiksa. Kamar ranap untuk Hasan juga sudah siap untuk digunakan. Karena itu, Grisa bergegas memilih dan membayar makanannya.
Grisa sampai bersamaan dengan para perawat yang akan membawa Hasan ke kamarnya.
“Bagaimana hasil ronsennya?” tanya Grisa.
“Belum selesai. Kata perawat nanti siang akan dibawakan ke kamar sekalian visit dokter.”
Grisa mengangguk paham. Mereka pun mengikuti para perawat yang tengah mendorong brankar Hasan ke kamar rawat inap. Ruangannya cukup jauh dari IGD, tetapi aksesnya mudah, karena cukup dengan naik lift saja ke lantai tiga.
Suasana setelah pintu lift terbuka lumayan sepi. Agaknya di lantai tersebut memang tidak banyak pasiennya. Atau memang didesain sedemikian rupa, karena di sana khusus ranap VVIP.
“Pak Hasan sudah tidur. Bagaimana kalau kita makan dulu?” saran Ganesh yang diangguki oleh Grisa.
Mereka duduk di sofa tunggu pasien, lalu Grisa membuka kresek yang dia bawa. Ada dua sandwich dan dua es kopi dengan rasa berbeda di sana.
“Bu Nia… juga suka kopi dicampur matcha.” ujar Ganesh saat melihat warna hijau di gelas kopi Grisa.
“Lha, kan emang Nia.” sahut Grisa.
Ganesh melipat bibirnya, merasa mengatakan hal yang salah. Ada banyak hal yang bersliweran di kepalanya, membuatnya bingung dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Dia harus ingat bahwa yang di hadapannya ini adalah atasannya di kantor, Nia, meskipun kini wujudnya adalah Grisa.
“Kamu pasti shock juga. Maaf ya, kamu jadi terlibat. Tapi, jujur aku gak punya orang lain yang bisa dimintai tolong.” ujar Grisa saat melihat kegalauan di wajah Ganesh. Dia mulai menggigit sandwich isi daging di tangannya.
Ganesh menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca, “Tidak apa-apa. Terima kasih Bu Nia sudah percaya sama saya.” katanya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Grisa meraih tangan Ganesh, memberikan kekuatan melalui genggaman yang erat. "Tentu. Kamu kan asisten andalanku," ucapnya dengan suara penuh keteguhan.
Ganesh tidak bisa membendung perasaannya lagi. Air matanya mengalir deras, tangisnya pecah di ruang itu, membuat Grisa panik.
“Seharusnya, waktu itu saya langsung percaya sama Bu Nia. Mungkin aja waktu itu Anda masih bisa diselamatkan. Mbak Grisa juga. Bagaimana Mbak Grisa sekarang? Saya banyak salah sama Mbak Grisa…“
"Ganesh, tolong tenang. Kok malah kamu yang sekarang nangis? Aku aja udah mandeg, nih," kata Grisa dengan suara lembut, mencoba menenangkan pria itu. Tangannya mengusap punggung Ganesh dengan lembut, memberikan dukungan yang dia butuhkan.
Grisa mengusap punggung Ganesh, memberikan dukungan tanpa henti. "Aku akan menerima keadaan ini. Aku berjanji. Tapi kita harus bersatu dan mencari keadilan. Aku gak rela kalau pelakunya dibiarkan gitu aja. Kamu akan membantuku, kan?" suaranya penuh harap dan keteguhan.
Ganesh menghapus air matanya dan mengangguk, matanya masih basah namun tekadnya mulai muncul kembali. "Tentu saja. Saya akan selalu di sisi Bu Nia," jawabnya dengan suara yang lebih tegas, meskipun masih penuh emosi.
Ganesh merasa sedikit lega setelah mencurahkan perasaannya, sementara Grisa merasa lebih tenang dengan dukungan Ganesh. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dengan kekuatan bersama, mereka yakin bisa melalui segala rintangan.
Badai perasaan yang melanda mereka berdua kini sedikit mereda, digantikan oleh tekad yang kuat dan rasa saling mendukung. Meskipun jalan di depan masih panjang dan penuh dengan tantangan, mereka tidak akan menyerah.
“Sudah, diminum dulu tuh kopinya! Terus, cepetan makan. Daripada lemes dari semalam gak makan,” perintah Grisa.
Ganesh mengangguk. Rasanya memalukan sekali menangis di hadapan Nia. Padahal Nia lah yang mengalami cobaan berat ini.