Percaya

1038 Words
Nia, dalam raga Grisa, berdiri kaku di depan jasadnya sendiri yang terbujur di atas tanah hutan yang lembap. Tubuhnya gemetar, matanya terbuka lebar, dan napasnya tersengal-sengal. Pemandangan itu begitu surreal, begitu tak masuk akal, namun nyata. Air mata mengalir tanpa henti di pipinya, meskipun ia tidak menyadarinya. Perasaan berkecamuk di dalam hatinya, campuran antara kesedihan mendalam, ketakutan, dan kemarahan yang membara. “Ini…” gumam Ganesh setelah menyusul Grisa. Ganesh berdiri di sampingnya, mencoba mencerna apa yang dilihatnya. Ini sungguh sulit dipercaya olehnya. Perempuan yang sangat dia cintai benar-benar tergeletak di hadapannya. “Ada apa?” tanya Yusuf, polisi lainnya yang ikut melakukan pencarian. “Astaghfirullahaladzim… Innalilahi wa inailaihirojiun…” ucap Rozaki yang kemudian segera mengenakan sarung tangannya. Dia mendekati jasad itu, memegangnya untuk memastikan keadaan. “Cup, cepat panggil ambulans!” perintah Rozaki kemudian. “Siap, Komandan!” Yusuf memanggil ambulans dan petugas forensik untuk mengevakuasi jasad tersebut. Begitu mereka datang, mereka langsung memasukkan jasad tersebut ke dalam kantung jenazah. Melihat itu, Grisa mencoba untuk tenang meskipun perasaannya begitu kacau balau. Manusia mana yang bisa tenang saat melihat raganya sendiri yang sudah tidak ada isinya? Grisa mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. Berkali-kali dia melakukan itu agar hatinya lebih tenang. Lalu, saat dia merasa sanggup, Grisa menghampiri Rozaki yang tengah memberi keterangan pada salah seorang petugas forensik. "Pak, tolong periksa kalungnya," katanya dengan suara datar namun tegas. "Ada alat perekam suara di situ. Mungkin ada bukti penting di dalamnya." “Baik. Tim IT kami akan segera memeriksanya,” sahut Rozaki. “Ah, benar juga. Mungkin itu akan sulit dibuka, jika dibutuhkan saya akan memanggil tim dari Rajendra Corp,” tambah Grisa. Rozaki mengangguk, mencatat informasi tersebut. Ganesh memperhatikan Grisa dengan seksama. Awalnya ia skeptis, menganggap cerita Grisa tentang jiwa Nia yang ada dalam tubuhnya hanyalah khayalan. Namun, setiap kali Grisa berbicara tentang detail yang hanya diketahui oleh Nia, keyakinannya semakin kuat. Pikiran bahwa jiwa Nia memang ada dalam tubuh Grisa mulai menghantui. Selain itu, dengan jasad Nia tergeletak di hadapannya, kenyataan itu menjadi tak terbantahkan. Ucapan Grisa bahwa Nia sudah tiada kini terbukti benar. Lalu, melihat jasad yang dibuang di hutan itu, jelas menunjukkan bahwa kematian Nia tidak wajar. Ganesh mulai percaya bahwa Nia memang telah dibunuh dengan kejam. Dan jika Grisa berkata jujur, pembunuhnya tidak lain adalah Ethan, mantan tunangan Nia. Jasad Nia dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi dengan menggunakan ambulans. Sementara Grisa dan Ganesh ikut di belakang mereka menggunakan mobil yang mereka bawa sejak datang ke mari. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, keheningan yang mencekam memenuhi udara. Ganesh memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Grisa. "Jadi, Anda benar-benar Bu Nia?" tanyanya dengan suara bergetar, matanya mencari jawaban di wajah Grisa. Grisa, yang masih dalam keadaan shock, hanya bisa mengangguk perlahan. "Iya," jawabnya pelan, matanya kosong menatap jalan di depan. Jawaban itu terasa seperti pukulan bagi Ganesh. Rasa bersalah dan penyesalan memenuhi dirinya. Seharusnya kemarin dia mendengarkan ucapan Grisa dan berbicara dengan lebih lembut padanya. "Maafkan atas sikap saya kemarin," katanya lirih. Grisa hanya mengangguk lagi, terlalu lelah untuk berbicara lebih banyak. Perasaan mereka berdua terombang-ambing antara kenyataan yang mengejutkan dan rasa duka yang mendalam. Perjalanan mereka yang memakan waktu lebih dari delapan jam pun terasa lebih panjang. Sayangnya, perjalanan itu harus mereka lalui tanpa suara. Sesampainya di rumah, pagi sudah menjelang. Mereka disambut oleh Hasan, kakek Nia, dengan kemarahan yang meluap-luap. Hasan langsung memarahi Grisa karena pergi tanpa pamit. "Kamu ini benar-benar tidak tahu diri! Pergi seenaknya saja! Kamu memang anak angkat, tapi setidaknya hargai kami yang merawatmu!" Hasan menyindir dengan tajam, suaranya penuh dengan kekecewaan dan kemarahan. Grisa hanya bisa diam, menahan perasaan yang semakin kacau. Tangannya mengepal erat, namun ia tetap tidak berbicara. Melihat Grisa yang terpojok, Ganesh maju ke depan dan memberi tahu Hasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Maaf, Pak. Mohon tahan dulu amarah Anda. Kami memiliki alasan untuk ini.” Hasan menyipitkan matanya, ragu pada ucapan Ganesh. Pikirnya, paling-paling Ganesh bekerja sama dengan Grisa untuk membuat alasan. Namun, Hasan kemudian memilih untuk lanjut mendengarkan ceritanya. “Sebelumnya, saya minta maaf dan merasa sangat berduka.” Ganesh mengepalkan tangannya untuk menguatkan diri, lalu lanjut berkata sambil menahan air mata, “Bu Nia… Bu Nia telah meninggal dunia. Jasadnya baru saja ditemukan di hutan.” Kata-kata itu membuat Hasan terdiam. Matanya melebar, terkejut, dan penuh dengan rasa tidak percaya. "Apa yang kamu katakan, Ganesh? Ini tidak mungkin!" suaranya bergetar, hampir tidak terdengar. "Tapi itulah kenyataannya," lanjut Ganesh dengan tegas. "Saat ini jasad Bu Nia sedang diautopsi. Jadi, belum diketahui penyebab meninggalnya." Keheningan menyelimuti ruangan. Nia, yang masih dalam tubuh Grisa, merasa beban yang tak terhingga. Ia tahu bahwa perjalanan mereka untuk mengungkap kebenaran baru saja dimulai, dan jalan di depan akan penuh dengan tantangan dan bahaya. Namun, ia bertekad untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Nia, meskipun jiwanya masih terperangkap dalam tubuh orang lain. Ia menatap Ganesh, mencari dukungan, dan melihat keteguhan dalam matanya. “Tidak mungkin… Cucuku… Nia… Tidak mungkin…” Hasan meluruh. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Napasnya terasa sesak dan sangat menyiksa. Pria berusia 91 tahun itu memegangi dadanya, berharap dengan demikian rasa sesaknya akan menurun. Tetapi, itu tidak terjadi. Melihat Hasan yang begitu tersiksa, Ganesh dan Grisa lari menghampirinya. Mereka menjadi lebih panik dari sebelumnya. “Kakek! Ya, Tuhan… Kakek! Ganesh! Cepat bawa kakek ke rumah sakit!” Ganesh segera menggendong Hasan. Dia membawa Hasan yang sudah begitu lemas menuju mobilnya. Diantarkannya Hasan ke rumah sakit terdekat supaya mendapatkan pertolongan pertama. “Kakek… Bertahan, Kek. Jangan buat Nia takut…” Grisa tanpa sengaja menyebut namanya sendiri. Dia begitu kalut dengan berbagai kejadian yang menimpanya sejak kemarin. Jika sekarang dia juga kehilangan kakeknya, dia tidak yakin bisa bertahan menghadapi cobaan ini. Hasan, meskipun tegas dan otoriter, adalah orang yang paling sayang padanya. Tidak pernah sekalipun Hasan menelantarkannya meskipun dia bukan cucu laki-laki yang dia harapkan. Perlakuan Hasan pada Grisa mungkin sulit ditoleransi. Tetapi, Grisa sama sekali tidak menaruh dendam pada Hasan. Grisa yang asli pernah berkata, “Kata Bu Guru, orang yang sudah sangat tua biasanya akan menjadi seperti anak kecil. Jadi, tiap kali Kakek marah padaku, aku nganggepnya lagi dimarahin anak kecil.” Ah, mengingat itu rasanya hati Nia menjadi semakin tersayat-sayat. Grisa sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kini, entah pada siapa dia harus berpegang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD