Ganesh berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, bayangan kata-kata Grisa terus menghantuinya. "Gue benar-benar bukan Grisa!"
Itu mustahil, pikirnya. Bagaimana mungkin jiwa seseorang bisa berpindah ke tubuh orang lain? Ia menganggap itu hanya akal-akalan Grisa untuk mendekatinya, seperti yang sering dia lakukan sebelumnya.
Tetapi, seagresif apapun Grisa padanya, Grisa hanya pernah menyatakan cintanya. Dia tidak pernah memaksakan kehendak dengan mencari perhatian berlebih. Karena itu, Ganesh merasa kalau Grisa hari ini agak aneh.
Grisa dikenal sebagai anak yang penurut dan bertanggung jawab. Nilainya di sekolah selalu baik dan tidak pernah membuat masalah. Anak yang seperti itu tiba-tiba dilaporkan dengan kasus pembully-an, jelas adalah hal yang tidak wajar.
Ganesh menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Dia tidak mau terlalu memikirkan gadis remaja yang usianya 12 tahun lebih muda darinya itu lagi.
Pandangannya teralihkan pada tumpukan dokumen yang harus segera diselesaikan. Pekerjaan selalu menjadi pelariannya saat pikiran terlalu penuh. Tapi hari ini, ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya lebih dari biasanya.
Jam menunjukkan pukul dua siang, namun Nia, CEO perusahaan, belum juga datang. Ganesh merasa ada yang aneh. Biasanya, Nia selalu datang pagi, memastikan semua berjalan lancar. Kalaupun tidak berangkat, biasanya Nia akan selalu menghubungi Ganesh atau bagian HRD terlebih dahulu.
“Dia mungkin sibuk,” gumam Ganesh pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang gelisah.
Namun, keesokan harinya, Nia masih tidak muncul di kantor. Ganesh mulai panik. Ini sangat tidak biasa bagi Nia yang sangat workaholic. Jangankan bolos, minta cuti saja jarang.
Setelah jam kerjanya selesai, Ganesh memutuskan untuk pergi ke rumah Nia. Setibanya di sana, dia disambut oleh Pak Hasan, kakek Nia yang sudah tua namun masih terlihat bugar. Beliau adalah mantan CEO di Rajendra Group sebelum diambil alih oleh Nia.
"Pak Hasan, apakah Nia ada di rumah?" tanya Ganesh dengan nada cemas.
Pak Hasan menggelengkan kepala, wajahnya tampak khawatir. "Tidak, Ganesh. Nia tidak pulang sejak kemarin. Saya juga khawatir, tidak tahu dia ke mana. Malah si anak sialan itu yang datang."
Ganesh merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. "Apakah ada sesuatu yang aneh yang terjadi sebelum Nia menghilang?"
Pak Hasan berpikir sejenak. "Tidak ada yang aneh. Dia cuma pamit mau menemui Ethan untuk menyelesaikan urusan mereka. Tapi dia tidak menceritakan apa-apa padaku."
Ganesh mengangguk, mencoba mencerna informasi itu.
“Bagaimana dengan Pak Ethan? Apa sudah dihubungi?”
“Sudah. Dia juga bilang tidak tahu,”
Ganesh mendenguskan napasnya. Entah harus ke mana lagi dia harus bertanya. Saat ini dia begitu kesusahan, karena banyak urusan kantor yang membutuhkan Nia sebagai pemegang keputusan akhir.
“Saya rasa kita perlu menghubungi polisi. Tapi, akan saya usahakan supaya mereka tidak membesar-besarkan beritanya,”
Hasan mengangguk setuju. Setelah itu, Ganesh izin pamit. Dia keluar dari rumah menuju mobilnya di parkiran. Tapi tiba-tiba Grisa lalu muncul dari balik pintu.
"Ganesh, kita perlu bicara," kata Grisa dengan suara tegas.
Ganesh merasa canggung bertemu dengan Grisa setelah percakapan aneh mereka sebelumnya. DIa mencoba menghindar. "Maaf, Grisa. Aku tidak punya waktu sekarang."
Namun Nia yang berada dalam tubuh Grisa tidak menyerah. Dia berjalan mendekat, memaksa Ganesh untuk berhenti. "Ini penting. Kamu harus mendengarkanku."
Ganesh menghela napas panjang. "Baiklah, apa yang ingin Mbak bicarakan?"
Grisa menatapnya dengan serius. "Aku… maksudku Nia dibunuh."
Ganesh merasa darahnya berdesir. "Apa maksudmu?"
Grisa menghela napas. "Nia sudah mati, dibunuh oleh Ethan."
“Hah? Mbak gak usah bercanda sama saya. Mbak punya bukti apa?”
"Aku punya bukti, tapi kita harus menemukan mayat Nia terlebih dahulu." kata Grisa dengan tenang.
“Haaa…“ Ganesh memutar bola matanya. Sekarang dia yakin kalau gadis itu sedang main-main dengannya.
"Please… sekaliii aja percaya. Anggap aja kamu lagi dikerjain. Kalau aku terbukti bohong, kamu boleh cuekin aku selamanya. Kalau ada masalah di sekolah, kamu juga gak perlu datang lagi.”
Sangat sulit bagi Ganesh untuk mempercayai perkataan Grisa. Tetapi, dari matanya nampak sebuah kesungguhan, seakan dia benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya. Selain itu, selama ini Grisa juga tidak pernah berbohong padanya. Tidak ada untungnya juga Grisa membohongi Ganesh untuk permasalahan seperti ini.
“Oke. Saya akan dengarkan dulu,”
Grisa mengeluarkan ponsel dari saku celana kulotnya, lalu dia membuka sebuah aplikasi. Beberapa saat kemudian, Grisa memberikan ponsel itu pada Ganesh.
“Hape ini terhubung sama kalung di leher Nia. Aku tahu di mana dia.”
Diambilnya ponsel itu dari tangan Grisa. Di sana nampak sebuah tampilan map yang menunjukkan lokasi ponsel ini dan lokasi gadget lain dengan nama ‘Ibu’.
“Gunung Sandung? Kenapa dia ada di sana?” tanya Ganesh saat melihat lokasi ponsel yang lain.
Grisa menggelengkan kepalanya.
“Setelah diracun, aku tidak melihat apa-apa lagi. Lalu, tahu-tahu aku udah di tubuh Grisa. Tolong… percaya kali ini aja,”
Melihat kesungguhan itu, Ganesh pun memutuskan, “Oke. Ini adalah yang pertama dan terakhir. Kalau Mbak bohong, jangan pernah sekalipun menghubungi saya lagi, apapun yang terjadi.”
Grisa mengangguk.
Pencarian dimulai hari itu juga. Kakek Nia yang tidak peduli pada Grisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja dengan Ganesh.
“Kenapa duduk di belakang?” tanya Ganesh pada Grisa.
“Kamu gak mau deket-deket kan? Makanya aku di sini aja.”
Ganesh merasa seperti sopir kalau begini. Kalau yang di belakang adalah Nia sih, wajar saja. Tapi kalau Grisa, Ganesh jadi risih dianggap sopir. Meski begitu, Ganesh sendiri lah yang tidak mau dekat-dekat dengan Grisa. Jadi, setelah itu dia tidak berkomentar apa-apa lagi.
Perjalanan menuju gunung Sandung membutuhkan waktu 9 jam jika menggunakan mobil. Jadi, mereka semalaman di mobil dan sampai di desa terdekat tepat pukul 3 dini hari.
Mereka beristirahat sebentar di penginapan, lalu baru melanjutkan tujuan mereka pukul 7 pagi. Dua orang dari kepolisian setempat juga ikut menemani mereka mencari jejak Nia.
Dengan bantuan aplikasi di ponsel Grisa, mereka menelusuri hutan lebat itu.
“Kok canggih banget ya, di hutan seperti ini sinyalnya masih bagus.” kata Pak Rozaki, salah satu polisi yang menemani mereka.
“Ini teknologi terbaru dari perusahaan Rajendra. Masih dalam tahap trial. Mungkin tahun depan baru bisa dirilis.” jawab Grisa.
Dahi Ganesh berkerut mendengar penjelasan gadis itu. Seingat dia, hanya sedikit orang yang tahu tentang teknologi baru itu. Tapi, bisa saja Nia lah yang memberi tahunya. Wanita itu kan memang selalu menceritakan apapun pada puterinya.
Begitu pencarian berjalan selama satu setengah jam, akhirnya mereka semakin dekat dengan keberadaan Nia. Grisa dengan semangat maju mendahului mereka.
“Hey, hati-hati! Tunggu!” seru Ganesh seraya mempercepat kakinya menyusul Grisa.
Tak jauh dari tempat awal mereka, Grisa lalu menghentikan kakinya.
“Ketemu…“ gumam Grisa lirih.
“Hey! Jangan lar…“
Seketika Ganesh luruh melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Tubuh tak bernyawa tergeletak di sana, dan tubuh itu adalah milik Nia.