Nia tumbuh dengan impian besar menjadi seorang penyanyi. Sejak kecil, ia sering bernyanyi di depan cermin, membayangkan dirinya di atas panggung dengan ribuan penonton yang bertepuk tangan. Ketika usianya menginjak remaja, Nia memberanikan diri untuk menyampaikan mimpinya kepada orangtuanya.
"Aku ingin menjadi penyanyi," kata Nia dengan penuh semangat di meja makan.
Orangtuanya saling berpandangan, lalu tersenyum. "Kami mendukungmu, Nia. Kejar impianmu," kata ayahnya. Ibu Nia mengangguk setuju, memberikan dorongan moral yang sangat berarti bagi Nia. Dia merasa begitu beruntung memiliki orang tua yang mendukung mimpinya.
Tidak hanya dalam ucapan, orangtua Nia bahkan mendatangkan guru vokal dan guru piano ke rumah. Nia juga beberapa kali mengikuti kompetisi menyanyi dan menjuarainya. Saat itu Nia sangat yakin bahwa dia benar-benar akan menjadi penyanyi.
Namun, takdir berkata lain. DI usianya yang ke 17 tahun, kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orangtuanya. Dunia Nia runtuh. Di tengah duka, kakeknya, Hasan, mengajaknya bicara.
"Nia, sekarang kakek berharap kamu bisa menjadi penerus perusahaan keluarga," kata Hasan dengan suara tegas yang tidak memberi ruang untuk penolakan.
Kalaupun menolak, Nia bisa apa? Saat itu dia hanyalah remaja yang belum lulus SMA. Pendapatannya dari menyanyi pun belum seberapa. Nia tidak yakin bisa hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri.
Mimpi Nia hancur seketika. Dia harus mengurungkan impiannya untuk menjadi penyanyi demi memenuhi harapan kakeknya. Nia pun tenggelam dalam dunia bisnis, belajar keras dan bekerja tanpa henti untuk menjaga kehormatan keluarganya. Mimpinya menjadi penyanyi semakin lama semakin terkubur.
Bertahun-tahun berlalu. Nia yang kini menjadi seorang konglomerat sukses, mengangkat Grisa sebagai putri angkatnya. Dia merawat Grisa dengan kasih sayang yang tulus, meskipun sering kali merasa ada jarak yang tidak bisa dia jelaskan.
Nia menatap layar laptop dengan perasaan campur aduk. Kenangan tentang mimpinya sendiri yang terkubur perlahan kembali. Air matanya mulai mengalir tanpa disadari. "Grisa... kamu juga ingin menjadi penyanyi," gumamnya pelan.
Inilah jarak yang dimaksud. Padahal Nia sama sekali tidak berniat untuk membatasi maupun menghalangi impian Grisa. Bahkan Nia menyekolahkan Grisa di sekolah yang dia inginkan dulu. Tetapi, rupanya ikatan mereka memang tidak begitu kuat. Grisa tidak pernah menceritakan sekalipun tentang mimpinya itu.
Nia membuka video lain di channel Grisa. Video tersebut berisi curhatan Grisa tentang bullying yang dia alami di sekolahnya. Grisa menangis saat menceritakan gosip yang mengatakan bahwa ibunya, yaitu Nia, hanyalah seorang janda miskin.
Nia teringat pada syarat yang dia berikan pada Grisa saat mendaftarkannya ke sekolah elit. "Jangan pernah mengungkapkan identitasmu sebagai putri angkat dari seorang konglomerat. Jangan menyombongkan diri. Jika ditanya soal orangtua, katakan saja ibumu adalah single parent," ujar Nia kala itu.
Nia berpikir syarat itu akan melindungi Grisa dari pandangan negatif dan ekspektasi yang terlalu tinggi. Tapi ternyata, malah berbalik menjadi bumerang. Grisa dianggap sebagai anak miskin dan tidak pantas bersekolah di tempat elit.
Nia menangis dan menyesal. Seharusnya dia membiarkan Grisa mengatakan yang sebenarnya tanpa ditutupi. Dia merasa sangat bersalah telah membuat hidup Grisa menjadi sulit.
Cerita Grisa mengalir pada perlakuan teman sekelasnya, yang Nia yakini adalah Yuria dan gengnya. Mereka sering sekali mengerjai Grisa. Mereka bahkan membuat gosip yang tidak-tidak mengenai Grisa. Lama-lama, kejahatan mereka semakin menjadi-jadi sebulan terakhir ini, sehingga membuat Grisa stres.
Saat menonton video curhatan Grisa, Nia tiba-tiba menyadari sesuatu. Grisa sudah mati saat jiwa Nia masuk ke dalam tubuhnya. Nia ingat bagaimana rasanya tadi dia disekap di kamar mandi dan dibekap di air kotor. Badannya terasa begitu lemas kekurangan oksigen. Tapi, dengan tanpa rasa bersalah, Yuria dan kawan-kawannya hanya tertawa.
"Yuria dan teman-temannya... mereka yang menyebabkan kematian Grisa," Nia menggertakkan giginya dengan marah. "Aku tidak akan membiarkan ini begitu saja."
Nia berjanji akan membalas perbuatan Yuria dan gengnya. Dia juga berjanji akan mewujudkan impian Grisa menjadi penyanyi. Semenjak itu, Nia memutuskan untuk menggunakan persona Grisa di akun Yucub-nya dengan nama Dita.
…
Sore harinya, Dita—atau Nia dalam tubuh Grisa—mengemasi bajunya dan pergi ke rumahnya. Dia berniat untuk tinggal di sana lagi, apapun yang terjadi. Ketika sampai di rumah, dia disambut oleh kakeknya, Hasan.
Hasan tidak menyukai Grisa sejak awal. "Oh, jadi anak yang tak tahu diuntung ini akhirnya pulang," sindir Hasan. "Mendengar kamu diskors dari sekolah, tidak mengejutkan sama sekali. Kamu memang tidak pernah pantas untuk berada di sana."
Nia yang marah hanya bisa memendam perasaannya. Dia tahu bahwa mengungkapkan kebenaran tentang jiwa yang tertukar tidak akan membantu apapun. Hasan tidak akan percaya, dan Nia tidak mau membuang waktu berdebat.
Dia menatap kakeknya dengan tatapan tajam. "Aku akan membuktikan bahwa aku pantas berada di sini, dan lebih dari itu, aku akan membuktikan bahwa Grisa layak mendapatkan impiannya."
Hasan hanya mendengus dan pergi, meninggalkan Nia sendirian. Di dalam hatinya, Nia merasa tekadnya semakin kuat. Dia akan membalas dendam atas kematian Grisa dan mewujudkan impian Grisa menjadi penyanyi.
Di kamar Grisa yang sekarang menjadi kamarnya, Nia membuka laptop dan mulai merencanakan langkah-langkahnya. Dia mencari informasi tentang Yuria dan teman-temannya, menyusun rencana balas dendam yang matang.
Namun, sebelum itu, Nia tahu bahwa dia harus memulai dari impian Grisa. Dia membuka akun Yucub Grisa dan mempelajari video apa saja yang diunggah di sana. Melalui akun Yucub itu, Nia yakin Grisa juga punya beberapa kenalan. Pikirnya, akan mencurigakan kalau tiba-tiba Grisa berubah. Jadi, Nia berusaha untuk semirip mungkin.
Selain itu, ada satu hal juga yang menurutnya penting, yaitu perlengkapan uneuk membuat video. Di kamar kosan Grisa, Nia menemukan beberapa alat seperti kamera, microphone dan headset. Tetapi, menurut Nia alat-alat itu terlalu murahan. Dia akan membelikan yang baru dengan kualitas yang lebih bagus dan lebih mahal. Dia juga berniat untuk membeli alat-alat musik. Akan dia pelajari lagi alat-alat itu sampai mahir. Dengan begitu, fans Dita pasti akan semakin kagum.
Untuk topeng yang Dita kenakan dalam video, mungkin untuk sementara waktu tidak akan dibuka. Walau Nia ingin menggantinya, karena topeng berbahan kain yang cuma dibolongi itu sudah sangat lecek. Nia merasa harus ada waktu yang tepat untuk mengungkap identitas sebenarnya.
"Untukmu, Grisa," gumam Nia sambil menatap layar. "Aku akan melakukan semuanya demi impianmu, dan aku tidak akan berhenti sampai kita mendapatkan keadilan. Aku tidak akan membiarkan kita mati secara sia-sia seperti ini."
Dengan tekad yang membara, Nia—atau Dita—melangkah ke depan, siap menghadapi apapun yang datang untuk membalas dendam dan mewujudkan mimpi yang telah lama terkubur.