Rahasia Grisa

1070 Words
Ganesh itu orang yang logis dan anti hoax. Jika ada satu hal yang menurutnya di luar nalar, tidak mungkin dia langsung percaya. “Hahahaha! Mbak Grisa gak usah bercanda. Gak lucu.” Nia memicingkan matanya, lalu berkata, “Kalau gak lucu, ngapain kamu ketawa?” Kembali Ganesh datarkan wajahnya. Dia juga nyalakan lagi mesin mobilnya. “Kalau menurut Mbak saya orang bodoh. Mbak salah.” “Siapa juga yang ngira kalau kamu bodoh? Kalau bodoh, gak mungkin lah kujadiin asisten. Aneh!” “Bukan Mbak Grisa yang jadiin saya asisten, tapi Bu Nia.” tegas Ganesh yang membuat Nia memutar bola matanya. "Gue benar-benar bukan Grisa! Kenapa lo gak percaya, sih?" geram Nia pada pria tampan yang ada di hadapannya. Saking kesalnya, dia sampai mengubah gaya bicaranya. "Haaah..." pria itu mendengus, lalu berkata, "Ini pasti akal-akalan Mbak Grisa aja kan buat godain saya? Dulu Mbak sudah saya tolak, loh. Sekali tolak, ya tetap saya tolak!" Nia membulatkan mulutnya saking terkejut dengan fakta yang baru saja dia dengar dari mulut Ganesh, asisten pribadinya. "Duh... Ganesh, lo ngomong apaan, sih? Siapa yang mau nggoda lo? Amit-amit..." Ganesh tersenyum sinis, lalu berkata, "Dengar ya, Mbak Grisa. Apapun yang Mbak Grisa lakukan gak akan ngaruh. Saya cintanya sama Bu Nia, bukan Mbak Grisa." Dooweeeng! Belum juga Nia bisa menerima kenyataan bahwa saat ini jiwanya sedang berada di tubuh Grisa, sekarang dia malah menerima fakta lain. Ini pertama kalinya dia mendengar hal ini. Baik Grisa maupun Ganesh, tidak ada satupun dari mereka yang pernah membuka mulut soal ini. Ditambah lagi, tadi Ganesh bilang kalau Ganesh cinta pada Nia. Apa lagi iniGanesh, asisten pribadi Nia malah menyatakan cintanya. Dan entah kenapa, Nia yang dikenal cuek itu malah berdebar-debar dibuatnya. Bahkan pipinya sudah semerah kepiting rebus! Edan! Asistennya sudah edan! Atau dirinya yang edan? “Gak usah ngawur lah, Nesh. Ini serius, loh!” “Saya juga serius, kok.” Nia memijat-mijat dahinya, karena tiba-tiba dia merasakan sakit kepala saking bingungnya harus berbuat apa. Bisa dibilang dia merasa agak baper. Tetapi, otak rasionalnya terus berkata bahwa ungkapan cinta Ganesh tadi bukanlah hal yang terlalu penting untuk saat ini. Kondisi jiwa dan raganya jauh lebih penting. “Nesh, ayolah… percaya, dong!” paksa Nia. “Huh! Coba kasih bukti yang valid sini! Kalau bener jiwa Bu Nia masuk ke tubuh Mbak Grisa, saya bakal lari-lari keliling kantor sambil menggonggong.” “Lah yang tadi gue omongin apaan, Oneeeng!” Nia mulai geram lagi. Padahal asisten pribadinya ini biasanya cepat tanggap. Tapi, agaknya dia harus mempertimbangkan lagi penilaiannya. “Bisa aja Mbak Grisa dikasih tahu Bu Nia. Kan Bu Nia emang orangnya ember kalau ke anaknya.” Merasa tersentil, Nia menjambak rambutnya… maksudnya rambut Grisa. Dia tidak mau meledak hanya karena kebiasaannya yang diketahui Ganesh. Kenyataannya, Nia memang selalu menceritakan hal-hal menarik yang dia temui pada Grisa. Tapi, dalam ingatan Nia, dia sama sekali tidak pernah menceritakan soal video terkutuk di PC Ganesh itu. Bagaimanapun, itu kan privasi Ganesh. Namanya juga pria dewasa. Tidak bisa diwajarkan sih, tapi itu bukan urusannya. Nia tidak mau mengganggu, kalau itu tidak merugikannya. “Hah! Udah ah! Ke kosan Grisa aja deh sekarang.” Nia bukan menyerah. Dia hanya ingin menunda, karena otaknya butuh berpikir jernih. Selain itu, mungkin dengan pergi ke kosan Grisa, Nia bisa menemukan informasi lebih lanjut mengenai keadaannya ini. Dan mungkin juga nanti dia bisa menemukan bukti yang menunjukkan bahwa dia adalah Nia, bukan Grisa … “Saya pergi dulu. Kalau butuh apa-apa, silakan hubungi saya.” Begitu pesan Ganesh sebelum dia pergi. Bicara soal kebutuhan Nia, jelas banyak sekali. Sulit untuk menyebutkannya satu per satu. Tapi, Nia sudah memiliki prioritas sendiri, yaitu UANG. Di ponselnya, Nia memiliki banyak data mengenai uang digital dan m-banking. Sayangnya, ponselnya tidak sedang bersamanya. Tapi untungnya, dia menghafal semua nomor rekeningnya. Surelnya juga bisa diakses melalui laptop Grisa tanpa harus verifikasi, karena sebelumnya laptop itu adalah miliknya. Dalam waktu satu jam saja, Nia sudah berhasil memindahkan dompet digitalnya ke ponsel Grisa. Namun, ada hal aneh yang Nia temukan saat memeriksa daftar transaksi di salah satu rekeningnya. Ada beberapa transaksi yang tidak dia ketahui di sana dengan jumlah yang cukup besar. Kartu debit dan Kredit Nia juga sudah dimatikan melalui akun i-banking miliknya. Meskipun sudah terambil sebagian, dengan ini mereka tidak bisa mengambilnya lagi. Setelah itu, Nia mentransfer sebagian uangnya pada rekening Grisa dan dompet digital milik puteri angkatnya itu. Sekarang soal perDUITan sudah selesai. Dia bisa hidup dengan aman. “Fyuuuh… makan dulu lah ya. Laper,” gumam Nia sembari membuka isi kulkas di kosan itu. Sialnya, Nia harus menggigit jari. Tidak ada satupun makanan di sana. Bahan makanan juga tidak ada. Nia sudah mengecek kamar Grisa. Di sana juga tidak ada makanan selain snack mini market. Sekedar mie instant pun tidak ada. Hal ini membuat Nia khawatir dengan keadaan Grisa saat dia tidak melihatnya. ‘Jangan-jangan nutrisinya gak terpenuhi,’ begitu pikirnya. Tapi, melihat lemak dan daging di tubuh Grisa serta postur gadis itu, Nia yakin kalau Grisa cukup ternutrisi. Jadi, kenapa? “Haaa… cari online aja lah, ya.” Nia menggulirkan layar ponselnya, memilih-milih restoran mana yang menarik baginya. Lalu, pilihannya jatuh pada restoran soto dengan rating 4.5 yang jaraknya cuma satu km dari kosan Grisa. Dia pernah ke restonya langsung dulu bersama Grisa dan mereka suka dengan rasanya. Segera Nia klik menu Soto Ayam dan kerupuk yang tertera di sana. Lalu, berhubung air di galon sudah mulai menipis, Nia juga pesan es jeruk di restoran yang sama. Begitu selesai, Nia tinggal menunggu menunya diantarkan. Sembari menunggu, Nia memutuskan untuk membuka hal-hal lain yang ada di dalam laptop Grisa. Nia ingin tahu seperti apa kehidupan Grisa selama ini. Mungkin saja ada hal yang Grisa sembunyikan darinya, terutama tentang pembully-an yang dia alami di sekolah. Pertama, Nia menjelajah email puteri angkatnya. Dari sana dia tahu akun media sosial apa saja yang Grisa miliki. Awalnya Nia ingin membuka akun seperti Y atau FD, tetapi sebuah email otomatis dari sebuah website menarik perhatiannya. “Yucub?” Dibukalah akun berbagi video milik Grisa di Yucub dan muncullah hal yang tidak pernah Grisa ketahui sebelumnya. Grisa ternyata memiliki persona lain di sana. Nama akunnya memakai nama tengahnya, Dita. Lalu, di sana dia mengenakan topeng yang menutupi setengah wajahnya. Karena penasaran, Nia membuka salah satu video yang durasinya hanya 4 menit. Betapa takjubnya Nia, saat melihat Grisa yang mulai menyanyi di depan kamera. Sungguh Nia tidak menyangka kalau Grisa memiliki hobi yang sama dengannya saat masih muda dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD