Kepala Nia begitu pusing saat mencoba beradaptasi dengan keadaannya sekarang. Sungguh dia bingung dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa tiba-tiba dia ada di sini?
"Udah tahu kan bagaimana jadinya kalau melawan kami? Atau masih belum kapok?" ancam salah satu dari tiga remaja itu.
Nia mengerutkan dahinya, bingung. Dia bahkan tidak tahu siapa tiga remaja ini. Memang apa yang sudah dia lakukan sampai diperlakukan begini oleh mereka?
"Siapa kalian?" tanya Nia.
Tiga remaja itu nampak geram pada reaksi Nia. Bisa-bisanya dia bertanya tentang siapa mereka, di saat dirinya sudah membuat mereka kesal.
“Tidak usah pura-pura. Bikin mual saja.” ucap remaja ber-name tag Yuria Damayanti itu.
Nia mendengus kesal. Tidak pernah seumur hidupnya diperlakukan setidak sopan ini oleh anak yang jauh lebih muda darinya. Dia lalu berdiri dan menatap langsung mata Yuria.
“Apa? Berani natap gue sekarang?” Yuria mengangkat salah satu ujung bibirnya.
“Kenapa nggak?” Nia balas bertanya.
Saat mata mereka bertemu, ada satu hal yang kemudian Nia sadari. Gadis di hadapannya ini badannya tinggi sekali. Padahal Nia sendiri bukan perempuan bertubuh pendek. Tinggi badannya mencapai 172 cm bila tanpa high heels.
“Anak zaman sekarang nutrisinya terpenuhi semua, ya.” begitu pikir Nia.
Namun, ada juga satu hal lain yang menjadi pikiran Nia sedari tadi. Hal tersebut yaitu suaranya yang berubah.
Nia memiliki suara alto yang cukup dalam, tetapi sekarang suaranya cukup cempreng untuk disebut soprano. Tetapi, untuk sekarang dia tidak ambil pusing. Yang terpenting sekarang adalah membalas perlakuan tiga remaja songong yang ada di hadapannya.
“Lo cuma anak janda miskin. Tahu diri dong!” seru Yuria lagi yang membuat dahi Nia berkerut.
“Janda miskin? Orangtuaku sudah meninggal, kenapa ini bocil bilang begitu?” batin Nia.
Dia mendengus, kemudian meraih kerah seragam Yuria.
“Mau apa lo?”
Plak!! Plak!
Nia tidak menjawab. Dia hanya menampar pipi remaja itu berkali-kali.
Merasa teman mereka dalam bahaya, dua remaja lain yang ada di belakang Yuria pun maju melerai. Mereka juga berusaha menyerang balik Nia. Tapi, di luar dugaan mereka, ternyata Nia bisa menyeimbangi mereka bertiga. Bahkan Nia memenangkan pertarungan 3 lawan 1 itu.
Dan saat pertengkaran itu selesai, barulah Nia sempat melihat cermin yang ada di sebelahnya. Matanya membulat sempurna saat melihat bahwa dirinya tidak terpantul di sana, melainkan gadis remaja lain yang sangat dia kenal.
“Grisa!?” teriaknya.
Grisa atau Grisaia Dita Rajendra, adalah puteri angkatnya yang masih SMA. Betapa kagetnya Nia melihat badan Grisa yang bergerak sesuai dengan keinginannya.
Sayangnya, Nia tidak punya waktu untuk memahami situasi yang sebenarnya saat itu juga. Karena, ternyata seorang siswi sudah memanggil guru dan teman-temannya untuk datang ke toilet. Niapun dengan terpaksa mengikuti arus terlebih dahulu.
…
Guru BK meminta Nia untuk memanggil walinya. Untuk itulah Ganesh Altaira, asisten pribadinya datang ke sekolah.
Pria berusia 29 tahun itu nampak kesal saat baru menginjakkan kakinya di sekolah yang juga tempat belajarnya dulu. SMA 1 Purnawira (nama sekolah fiktif), merupakan salah satu sekolah swasta yang populer di Kota B. Banyak orang sukses yang lulus dari sana, salah satunya adalah Nia sendiri. Karena itu, Nia mempercayakan puterinya pada sekolah itu. Tidak tahunya, di sana Grisa malah di-bully oleh siswa lain.
Cerobohnya, Nia yang terlambat sadar justru membuat seolah-olah bahwa Grisa lah yang mem-bully tiga anak tadi. Jadi, sekarang Nia sedang disidang di ruang BK bersama 3 siswi tadi dan orangtuanya. Ganesh sebagai wali Grisa tentu merasa malu, karena pertama kalinya dia dipanggil ke sekolah adalah untuk hal seperti ini. Seandainya saja Grisa bukan puteri angkat bosnya, pasti dia tidak akan mau datang.
“Pak, saya kan juga kena, kenapa cuma saya yang dihukum?” protes Nia sambil memperlihatkan rambutnya yang basah kuyup.
Baru saja dia mendapatkan hukuman skors selama satu minggu, sementara tiga siswi tadi cuma disuruh istirahat. Walau sama-sama tidak berangkat sekolah sementara waktu, perlakuannya jelas berbeda. Catatan perilaku mereka bersih, sedangkan Grisa sudah tercoreng. Ini jelas tidak akan baik untuk masa depannya di sekolah ini.
“Dihukum bagaimana? Mereka itu sudah kamu hukum, apa tidak puas?” balas Pak Priyono, salah satu guru BK yang mengurus mereka.
Jelas Nia tidak puas. Tapi, sayangnya apapun yang dia ucapkan di sini sepertinya tidak akan berpengaruh. Karena, Yuria, salah satu siswi yang dia hadapi adalah seorang puteri dari anggota DPR dan pengusaha kaya.
Nia kenal siapa orangnya. Jefry Suryanto, anggota DPRD dan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan. Dia adalah salah satu klien bisnis Nia. Sementara ibu Yuria yang bernama Isnayah adalah seorang pengusaha kosmetik.
Sebetulnya bisa saja Nia membalas mereka nanti. Dan itulah yang akan Nia lakukan setelah ini.
“Bodo, ah! Saya mau ngomong apa juga pasti gak akan didengar.” geram Nia.
…
Ganesh hari itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berpura-pura menjadi Om dari Grisa dan mendengarkan seluruh laporan untuk dilaporkan pada bosnya, Nia. Dia tidak sadar kalau Nia berada di sebelahnya.
Namun, Ganesh yang beberapa kali bertemu gadis itu tahu ada yang aneh. Biasanya Grisa sangat penurut dan pendiam. Tapi, tadi dia sangat aktif dan cerewet. Bahkan Grisa berani memukul orang lain.
“Kenapa kamu mukulin mereka?” tanya Ganesh.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil Ganesh untuk menuju kontrakan tempat Grisa tinggal.
“Bukannya tadi kamu udah dengar? Mereka ngatain aku… maksudku ngatain mama-ku janda miskin. Ya, jelas aku marah lah! Nikah aja gak pernah, masa dibilang janda? Udah gitu dikatain miskin pula. Kujejelin duit bisa diem kali, ya?” gerutu Nia.
Mendengar penjelasannya, Ganesh jadi ikut terbakar perasaannya. Dia begitu menghormati atasannya itu. Jadi, kalau Nia sampai dihujat begitu, jelas dia ikut tidak terima. Dalam hati Ganesh sekarang begitu mendukung tindakan Grisa.
“Bagus! Untung tadi kamu sempat balas mereka sampai babak belur.” katanya.
Nia manggut-manggut.
“Thanks, Nesh. Tahu gini aku ijinin aja Grisa bilang kalau aku ibunya.”
“Hah?”
Kali ini Ganesh bingung. Subjek dan Objek dalam kalimat Grisa terasa aneh baginya.
“Aku gak bakal ini terjadi lagi sama Grisa. Enak aja anakku diginiin…“ lanjut Nia.
“Hah?”
Nia menengok ke arah Ganesh yang masih kebingungan, lalu berkata, “Heh, Nesh! Gak usah sok bingung lah! Masa kamu gak sadar lagi ngomong sama siapa?”
“Sama Mbak Grisa…“
GYUTT!
“AAAkkk! Ini saya lagi nyetir!” pekik Ganesh saat pipinya Nia cubit.
Nia melepas cubitannya, lalu menyentak, “Dasar bego! Ini bos kamu, masa gak sadar!”
“Belum jadi bos udah sombong banget! Ku laporin Bu Nia ntar…“ ancam Ganesh.
Nia mengangkat salah satu ujung bibirnya.
“File JAV di laptop pribadi kamu kayaknya perlu dikasih lihat ke karyawan lainnya. Mereka pasti gak nyangka, kamu yang dikenal cool dan bisa segala hal ternyata punya hobi mesum.” Nia balas mengancam.
Seketika Ganesh mengerem. Untung saja jalanan saat itu sedang cukup lengang. Kalau tidak, bisa celaka mereka.
Ganesh kehilangan kendali kesabarannya kali ini. Yang tahu tentang rahasianya hanya satu orang, yaitu Nia. Dia sudah memohon agar Nia tidak menyebarkannya, jadi masa iya dia memberi tahu puterinya?
“Bu Nia…“
Nia tersenyum penuh arti pada asistennya.
“Hai, Ganesh.”