bc

Diantara Kita

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
drama
sweet
campus
like
intro-logo
Blurb

Raka Adhikara tidak pernah berharap kehidupan SMA-nya akan menjadi sesuatu yang istimewa.

Sebagai siswa penerima beasiswa di salah satu SMA elite Jakarta, Raka tahu betul bahwa dirinya berbeda dari kebanyakan teman sekolahnya. Saat mereka menghabiskan waktu di kafe mahal dan membicarakan liburan keluarga, Raka justru sibuk memikirkan uang sekolah, kebutuhan ibunya, dan pekerjaan paruh waktu yang harus ia jalani sepulang kelas.

Satu-satunya rencana Raka sederhana: lulus, bekerja lebih keras, lalu membawa ibunya keluar dari kehidupan yang serba kekurangan.

Semuanya berjalan sesuai rencana sampai ia duduk di bangku sebelah Naya Prameswari.

Naya yang cerewet, ceria, dan tidak tahu kapan harus berhenti mengganggunya perlahan menjadi teman pertama yang benar-benar masuk ke kehidupan Raka. Namun setelah Naya datang, gadis-gadis lain mulai muncul.

Aurel, sang ketua OSIS yang selalu terlihat sempurna.

Keisha, gadis populer yang terbiasa mendapatkan perhatian semua orang.

Nadine, siswi pendiam yang ternyata memperhatikan Raka lebih dari yang ia tunjukkan.

Dan Selena, gadis misterius yang sejak awal seolah-olah sudah mengetahui sesuatu tentang kehidupan Raka.

Awalnya semua terasa seperti kebetulan.

Candaan di dalam kelas.

Makan siang bersama.

Pesan-pesan kecil.

Pulang sekolah.

Pertengkaran karena hal sepele.

Sampai perhatian yang awalnya terasa biasa mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi mereka abaikan.

Di antara tawa, kecemburuan, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Raka mulai menyadari bahwa menjadi dekat dengan seseorang berarti membiarkan orang itu melihat bagian dirinya yang selama ini ia sembunyikan.

Namun semakin dekat mereka, semakin banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Selena mengetahui keluarganya?

Mengapa nama ayah Raka muncul dalam masa lalu keluarga salah satu dari mereka?

Dan mengapa setiap kali Raka merasa mulai memahami gadis-gadis itu, selalu ada rahasia baru yang membuatnya kembali bertanya-tanya?

Mungkin pertemuan mereka memang kebetulan.

Atau mungkin, sejak awal, ada seseorang yang sengaja mempertemukan mereka.

Di antara persahabatan yang perlahan berubah menjadi cinta, perbedaan kehidupan yang tidak mudah dijembatani, dan rahasia masa lalu yang mulai terbuka satu demi satu—

Raka harus menemukan jawaban atas satu hal yang paling sulit:

di antara semua perasaan yang tumbuh di sekelilingnya, siapa yang benar-benar ingin ia pilih untuk tetap berada di sisinya?

Karena terkadang, yang paling rumit bukanlah menemukan seseorang untuk dicintai.

Melainkan mengetahui apa yang sebenarnya tersembunyi di antara kita.

chap-preview
Free preview
Kursi yang Salah
Raka tiba lebih pagi di kelas XI IPA 2 dan memilih sebuah bangku dekat jendela. Ketika Naya datang terlambat dan mengklaim bangku tersebut sebagai tempat duduknya, pertemuan pertama mereka berubah menjadi perdebatan kecil yang menarik perhatian seisi kelas. Pagi Jakarta belum benar-benar panas ketika Raka Adhikara melewati gerbang SMA Arunika. Udara masih menyimpan sisa dingin dari hujan semalam. Aspal di depan sekolah mengilap terkena cahaya matahari yang baru muncul dari sela-sela gedung, sementara suara kendaraan dari jalan raya di luar pagar sekolah terdengar seperti dengung panjang yang tidak pernah benar-benar berhenti. Raka berjalan melewati gerbang tanpa terburu-buru. Seragam putih abu-abunya rapi, meskipun bagian ujung lengan kemejanya sudah sedikit kusut. Sepatu hitamnya bersih, tetapi solnya menunjukkan bahwa sepatu itu sudah cukup lama dipakai. Tas hitam yang menggantung di bahu kanannya juga tidak memiliki merek mencolok seperti tas sebagian besar siswa lain. Ia tidak terlalu peduli. Yang penting masih bisa dipakai. Raka berhenti sebentar di depan papan pengumuman. Daftar pembagian kelas untuk tahun ajaran baru tertempel di sana, dikelilingi beberapa siswa yang datang lebih pagi. Ia tidak perlu melihat terlalu lama. XI IPA 2. Raka menghela napas pendek. “Setidaknya bukan IPS.” Suara seorang siswa laki-laki dari belakang terdengar. “Kenapa? Takut ketemu anak IPS?” Raka menoleh. Seorang anak yang tidak dikenalnya sedang berdiri sambil membawa dua gelas minuman plastik. “Takut mereka lebih pintar dari aku,” jawab Raka. Anak itu tertawa. “Berarti aman. Anak IPA juga nggak pintar-pintar amat.” “Terima kasih atas dukungannya.” “Terima kasih kembali.” Anak itu berjalan pergi sebelum Raka sempat bertanya namanya. Raka menatap punggungnya sebentar. Kemudian melanjutkan langkah menuju gedung utama. Lorong kelas masih cukup sepi. Beberapa siswa baru berdatangan, sebagian berjalan sambil menguap, sebagian lain sudah sibuk membicarakan jadwal pelajaran dan guru yang mereka harap tidak masuk kelas. Raka menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu sampai di depan XI IPA 2, ia berhenti. Pintu kelas terbuka. Kosong. Raka melihat ke dalam. “Cepat juga.” Ia masuk. Ruangan itu masih berbau kapur tulis dan meja kayu yang baru dibersihkan. Tirai jendela di sisi kanan bergerak pelan tertiup angin dari pendingin ruangan yang belum dinyalakan. Cahaya pagi masuk melalui kaca besar dan jatuh miring ke lantai. Raka berjalan ke dalam. Ia tidak terlalu suka duduk di tengah. Terlalu banyak orang. Terlalu banyak suara. Dan terlalu banyak kemungkinan seseorang mengajaknya berbicara. Matanya kemudian menemukan sebuah bangku di dekat jendela. Baris ketiga dari belakang. Posisi yang cukup sempurna. Tidak terlalu depan. Tidak terlalu belakang. Dan yang paling penting— dekat jendela. Raka meletakkan tas di atas meja, kemudian menarik kursinya. Kriet. Suara kaki kursi bergesekan dengan lantai terdengar cukup keras di kelas yang masih kosong. Ia duduk. Menaruh kedua tangannya di belakang kepala. Kemudian memandang keluar jendela. Dari lantai dua, halaman sekolah terlihat luas. Beberapa pohon ketapang berdiri di sepanjang lapangan, daunnya masih menyimpan titik-titik air. Di kejauhan, beberapa mobil mulai memasuki area parkir. Raka mengeluarkan ponselnya. Tidak ada pesan. Bagus. Ia membuka layar dan memeriksa jam. 06.41. Masih cukup lama sebelum bel masuk. Raka memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia menyandarkan punggung. Untuk beberapa menit, dunia terasa tenang. Kemudian— BRAK! Pintu kelas terbuka begitu keras hingga Raka hampir menjatuhkan ponselnya. Seorang gadis berdiri di ambang pintu. Napasnya terengah-engah. Rambut sebahunya sedikit berantakan. Dasi abu-abunya miring. Salah satu tali sepatunya bahkan belum terikat sempurna. Gadis itu memegang kedua lututnya sambil menarik napas. “Masih... belum masuk?” Raka mengangkat alis. “Belum.” Gadis itu menghela napas lega. “Syukurlah.” Ia berdiri tegak. Kemudian matanya bergerak ke seluruh ruangan. Kosong. Senyumnya menghilang. “Lho?” Raka memperhatikannya. Gadis itu memandang meja-meja di dalam kelas satu per satu. Kemudian matanya berhenti tepat pada Raka. Lebih tepatnya— pada kursi yang diduduki Raka. Ekspresinya berubah. “Eh.” Raka menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?” Gadis itu berjalan mendekat. Langkahnya cepat. Semakin dekat. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan meja Raka. “Kamu duduk di mana?” Raka melihat ke kiri dan kanan. “Di kursi.” “Aku tahu itu kursi.” “Terus?” Gadis itu menunjuk meja. “Di situ.” Raka melihat meja yang sedang ia gunakan. “Ya.” “Itu tempatku.” Raka diam. Ia kemudian melihat nomor kecil yang tertempel di sudut meja. Tidak ada nama. “Yakin?” Gadis itu memasang wajah tidak percaya. “Yakin.” “Buktinya?” Gadis itu membuka tas dengan cepat. Ia mengeluarkan sebuah buku tulis. Membuka halaman pertama. Kemudian menunjukkannya kepada Raka. Di sana tertulis dengan spidol hitam besar: NAYA PRAMESWARI — XI IPA 2 Raka membaca tulisan itu. Kemudian melihat wajah gadis di depannya. Kemudian kembali melihat buku. “Bisa saja kamu nulis sekarang.” Naya menatapnya. “Serius?” “Bisa saja.” “Kamu pikir aku datang pagi-pagi ke sekolah cuma buat merebut kursi orang?” Raka melirik jam dinding. “Sekarang jam enam lewat empat puluh tiga.” “Terus?” “Berarti kamu datang pagi.” Naya menghela napas panjang. “Justru itu masalahnya.” “Apa?” “Aku datang pagi.” Raka mengangguk. “Terus?” “Terus biasanya aku yang pertama sampai.” “Biasanya?” “Iya.” “Berarti hari ini bukan.” Naya membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi. “Kamu nyebelin, ya?” “Baru lima menit kenal sudah menilai orang.” “Karena lima menit itu sudah cukup.” Raka menatapnya datar. Naya menatap balik. Beberapa detik berlalu. Kemudian Raka menunjuk kursi kosong di sebelah meja. “Masih banyak.” Naya mengikuti arah jarinya. “Yang itu bukan tempatku.” “Kenapa?” “Karena tempatku yang ini.” Raka bersandar. “Kenapa?” “Karena aku sudah duduk di sini sejak kelas sepuluh.” Raka mengangkat alis. “Kelasnya baru naik.” “Mejanya tetap.” “Tidak masuk akal.” “Kenapa tidak masuk akal?” “Karena kamu tidak bisa memiliki meja sekolah.” Naya terdiam. Raka kembali menatap keluar jendela. “Secara teknis, meja ini milik sekolah.” Naya menatapnya seperti sedang melihat makhluk yang baru ditemukan di laboratorium. “Kamu serius?” “Serius.” “Jadi kamu mau merebut tempat dudukku hanya karena secara hukum meja ini milik sekolah?” “Aku tidak merebut.” “Kamu duduk di sana.” “Karena kosong.” “Karena aku belum datang!” “Berarti aku datang lebih dulu.” Naya memejamkan mata. Tangannya mengepal di samping tubuh. “Ya Tuhan.” Raka menoleh. “Kenapa bawa Tuhan?” “Karena aku butuh bantuan.” Raka hampir tersenyum. Hampir. Naya menunjuk kursi itu lagi. “Berdiri.” “Kenapa?” “Berdiri dulu.” “Tidak.” “Kenapa?” “Nyaman.” Naya menatapnya lama. Kemudian menarik kursi kosong di depan Raka dan duduk di sana dengan gerakan keras. Brak. Ia melipat kedua tangannya di atas meja. “Baik.” Raka menatap punggungnya. “Baik?” “Kita lihat siapa yang menang.” Raka berkedip. “Ini lomba?” “Sekarang iya.” “Kamu aneh.” “Dan kamu menyebalkan.” “Berarti seimbang.” Naya menoleh sedikit. Raka sudah kembali melihat keluar jendela. Sudut bibirnya naik tipis. Naya memperhatikannya. Untuk sesaat, ia lupa marah. Kemudian ia buru-buru memalingkan wajah. “Cih.” “Kenapa?” “Tidak apa-apa.” Raka kembali diam. Dari luar kelas, mulai terdengar suara langkah kaki. Satu per satu siswa mulai berdatangan. Percakapan kecil memenuhi lorong. Pintu kelas kembali terbuka. Seorang siswa laki-laki masuk sambil membawa tas di atas kepala. Ia melihat Naya. Kemudian Raka. Kemudian kursi yang sedang diperebutkan. “Hah?” Naya langsung menunjuk Raka. “Dia merebut kursiku.” Raka menunjuk Naya. “Dia mengklaim kursi sekolah.” Siswa itu menatap keduanya. “Pagi-pagi sudah pacaran?” “Bukan!” kata mereka bersamaan. Siswa itu tertawa. “Wah. Kompak.” Naya melempar penghapus ke arahnya. “Pergi sana!” Siswa itu menghindar sambil tertawa. Kelas mulai ramai. Raka tidak terlalu memperhatikan. Namun beberapa detik kemudian, suara wali kelas terdengar dari depan pintu. “Pagi semuanya.” Percakapan langsung mereda. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan masuk membawa beberapa lembar kertas. Ia menaruhnya di meja guru. Kemudian memandang seluruh kelas. “Yang merasa masih salah kelas, silakan keluar sekarang.” Tidak ada yang bergerak. “Bagus. Berarti tahun ini saya tidak perlu mengejar siapa-siapa di koridor.” Beberapa siswa tertawa. Guru itu membuka daftar nama. “Sekarang kita cek tempat duduk.” Raka menatap papan tulis. Kemudian ke arah Naya. Naya menatapnya kembali. Entah kenapa, keduanya tiba-tiba merasa tidak enak. Guru mulai membaca nama. “Raka Adhikara.” “Ya, Bu.” “Bangku baris ketiga dari belakang, dekat jendela.” Raka mengangguk. Naya langsung berdiri. “Bu!” Guru itu berhenti. “Ada apa, Naya?” “Itu tempat saya.” Kelas mendadak sunyi. Raka menundukkan kepala. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Guru melihat daftar. Kemudian melihat Naya. Lalu melihat Raka. “Sepertinya ada perubahan.” “Perubahan apa, Bu?” Guru tersenyum. “Naya, kamu duduk di sebelah Raka.” Naya membeku. Raka juga diam. Guru melanjutkan membaca daftar. “Mulai hari ini.” Naya perlahan menoleh ke arah Raka. Raka menoleh ke arahnya. Mereka saling menatap. Kemudian Naya berbisik sangat pelan. “Ini salah kamu.” Raka mengernyit. “Kenapa salah aku?” “Karena kamu datang duluan.” “Itu bukan pelanggaran.” “Bagi aku, iya.” Guru menatap mereka dari depan. “Kalian berdua mau terus ngobrol?” Naya langsung duduk tegak. “Tidak, Bu.” Raka mengangguk. “Tidak.” Guru kembali membaca daftar. Naya menggeser kursinya ke samping. Kriet. Ia duduk di sebelah Raka. Kemudian, tanpa menoleh, ia berbisik: “Mulai sekarang jangan ambil barangku.” Raka mengambil sebuah pensil dari meja. “Yang ini?” Naya langsung menoleh. “Itu punyaku!” Raka menyerahkannya. “Makanya jangan ditaruh sembarangan.” Naya merebut pensil itu. “Dasar.” Raka menahan senyum. Di luar jendela, matahari mulai naik. Dan tanpa mereka sadari, sebuah tempat duduk yang diperebutkan karena alasan sepele akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar teman sebangku.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Ternyata Suamiku Seorang CEO

read
133.9K
bc

Tujuh Kali Klimaks Semalam

read
22.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
51.1K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
5.8K
bc

Cinta yang Tak Semestinya

read
7.9K
bc

Gadis Kesayangan

read
10.1K
bc

Iparku Lebih Menggoda

read
2.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook