Kemudian hening, lagi-lagi wanita asing berambut gimbal menjeda kisahnya di tengah-tengah bagian yang membuatku penasaran. Ia meneguk s**u yang tersisa di gelasnya dengan cepat, seakan tak akan pernah bisa lagi meminum s**u itu seumur hidupnya.
Dia benar-benar aneh, tak pernah kutemui sebelumnya yang seperti dirinya.
Sebenarnya, semakin kupikirkan siapa dan dari mana wanita ini berasal, maka semakin sakit otakku memikirkannya. Jujur saja, aku tak menyukai kehadiran orang asing di rumahku.
"Ayo, ayo, silakan diminum lagi."
"Hoho, terima kasih." Wanita bertubuh agak gemuk itu menyodorkan gelas kosongnya kepada ibuku sambil tertawa-tawa tidak jelas, Ibu langsung menuangkan s**u cokelat dari teko ke dalam gelas wanita itu dengan patuh.
Kenapa Ibu sepertinya senang sekali saat menuangkan isi teko yang berisikan s**u cokelat kesukaanku kepada wanita itu?! s**u cokelat 'kan jatah minumku hari ini. Di hari sebelumnya, Selasa, aku hanya minum s**u biasa!
"Anak kecil, kau begitu sukanya ya dengan s**u cokelat?"
DEG
Aku menatap kedua matanya. Dia memiliki warna iris yang pertama kali kulihat, hijau muda tapi dengan pupil seperti kucing. Ketika bertatapan dengannya, aku merasa seakan menatap mata kucing yang licik. Hampir saja aku mengira dia bisa membaca pikiranku karena dia telah merebut jatah minumku hari ini. Jantungku sampai berdetak tak karuan.
"Hoo ... aku suka sekali s**u ini, tak kusangka kau juga sangat menyukainya. Bagaimana perasaanmu setelah kurebut jatah minummu hari ini?"
Jantungku kembali bertalu-talu dalam d**a. Bagaimana bisa wanita ini tahu apa yang kurisaukan tentangnya? Padahal cuma di dalam kepala saja aku membicarakan wanita ini!
"Tenanglah, aku hanya menebak apa yang kau pikirkan."
Aku refleks berjinjit di kursi makan, mendorong tubuh ke sandaran dan memandang aneh ke arah sang wanita. Sudah cukup, ini mengerikan. Apa dia nenek sihir yang tinggal di dalam hutan terlarang dekat perbatasan desa Lakebark? Atau sebenarnya dia merupakan bagian dari sekte sesat dalam hutan yang menyimpan hal kelam itu?
"Jangan berpikir yang aneh-aneh." Wanita itu kembali menegurku yang sibuk dengan alam pikiran yang melayang kemana-mana.
Hiy, aku jadi semakin yakin bahwa dia adalah bagian dari orang-orang yang selalu menyebut tentang kiamat dunia dimulai dari dalam bumi.
"Berhenti memanggilku Nenek Sihir!"
Aku tersentak di tempat dudukku. Jika saja aku sedang berdiri dan tak diam di kursi, mungkin saja saat ini tubuhku limbung dan sudah jatuh terduduk di lantai. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, mengedarkan sepasang mata yang mengawas takut-takut pada anggota keluargaku yang bersikap biasa terhadap kejadian itu.
"Ayah." Aku memanggil Ayah dengan suara kecil, tapi dia mengabaikanku. Aku menggeserkan perhatian ke sebelahnya dan menatap Nenek dengan cemas, tapi seperti yang bisa kutebak, dia malah menatapku datar. Aku tak yakin dia adalah nenek kandungku.
Dilanda ketakutan oleh sosok yang sudah ada di rumah ini selama satu setengah jam lamanya, aku langsung meminta bantuan kepada Ibu yang akhirnya membalas tatapan memelas anaknya. Lagi dan lagi, ibu menjadi orang yang tak bisa membantuku.
Tak ada seorang pun yang mampu menolongku lepas dari tatapan yang penuh intimidasi milik sang wanita asing.
Bibi Shelly yang duduk di sampingku, meremas tanganku yang ada di atas meja secara perlahan, tangannya lembut seperti bulu malaikat.
Dia seperti mengerti apa yang sedang kurisaukan sekarang, tapi ketika kumenoleh padanya, yang kulihat hanyalah pandangan yang lurus ke depan, seakan tak ingin terlihat dalam kegugupan yang kurasa. Aku tak mengerti.
Mereka aneh sekali hari ini.
Aku harus bertahan selama sekitar sepuluh menit sambil meremas piyama motif panda, keringat dingin membasahi punggung karena entah sejak kapan aku merasa atmosfer ruang makan ini menjadi semakin panas. Pagi ini saja, seluargaku sudah mulai menggunakan sweater hangat yang tampak nyaman.
Ah, pergilah kau wahai orang asing ....
"Abaikan dia, anak ini memang suka sekali cokelat. Kami masih punya banyak stok minuman ini di lemari," ucap Ibu menjelaskan, seolah ingin membantuku lepas dari sang wanita rambut gimbal.
Nada suara Ibu terdengar tak biasa, lebih mirip suara orang sakit yang dipaksa bicara, tapi aku tak peduli karena kalimat selanjutnya yang Ibu katakan justru membuatku membelalakkan mata lebar-lebar. Aku kembali menahan napas.
"Lebih baik Anda lanjutkan cerita yang tadi sempat tertunda. Kami pikir cerita itu sangat menarik dan berarti bagi anak kami, tapi ternyata ceritanya masih belum selesai. Ho ho."
Ibu kembali mengeluarkan tawa yang benar-benar tidak terdengar seperti tawa ramah yang sering kulihat hadir padanya. Tawa itu lebih terdengar seperti suara orang yang tenggorokannya dicekik, tapi harus sambil mengatakan huruf vokal a. Membingungkan? Aku justru takut.
"Kalian ternyata sangat menyukai kisah yang aku alami."
Wanita itu tak lagi memperlihatkan wajah seramnya padaku, jadi aku sudah bisa bernapas dengan lega. Aku sangat berterima kasih kepada ibuku, sambil menyuap setengah telur rebus yang sempat kuabaikan karena takut dengan aura intimidasi wanita yang duduk di seberang kursiku.
"Sambil mendengarkan cerita ini, sebaiknya kalian semua makan dulu."
Oh, dia mempersilakan kami makan di saat cerita, tapi kenapa seperti dia tuan rumahnya? Yah, apa pun itu tak kusangka wanita ini baik juga. Tanpa dia persilakan pun, aku sudah makan dengan sangat lahap. Nyam ... nyam. Menu sarapan hari ini luar biasa, susunya enak.
Tapi kenapa Ayah, Ibu, Nenek, Paman dan Bibi tak makan makanannya, ya?
Padahal ini tak ada racunnya.
"Tak apa, akan lebih baik jika mendengarkan sampai habis ceritanya dulu baru mulai melanjutkan makan."
Sumpah, aku heran dengan keluargaku. Mereka sebenarnya kenapa, sih?
***
"Eric awalnya bermaksud menghabiskan tidak lebih dari beberapa hari di desa. Bahkan setelah melakukan perjalanan sepanjang hari dari Paris, dan malam membawa serta gigitan musim dingin Skotlandia, dia berniat untuk memulai secepat mungkin. semakin cepat dia selesai, semakin cepat dia pulang.
Bekerja untuk perusahaan akuisisi properti besar, tugasnya adalah memfasilitasi klien kaya dalam mengejar tanah untuk membangun. Individu yang diwakilinya saat itu sangat tertarik untuk membeli tanah pertanian dengan pemandangan pedesaan yang indah, di mana mereka ingin membangun rumah liburan yang besar untuk keluarga mereka.
Lokasi tersebut baru-baru ini dipasarkan oleh seorang petani lokal yang mengalami masa-masa sulit karena ekonomi yang lesu. Oleh karena itu, Eric dipekerjakan untuk mengevaluasi tanah dan menegosiasikan harga, berdasarkan rekomendasi yang dibuat oleh sekelompok surveyor yang telah berada di sana minggu sebelumnya.
Setelah check in ke Land of Dungeon, dia mengemudikan mobilnya ke pertanian yang hanya beberapa mil di luar desa. Seluruh area terdiri dari ladang luas yang luas tempat tanaman ditanam dan hewan digembalakan, beberapa petak hutan, dan sungai sesekali atau sungai yang menggelegak.
Negosiasi relatif sederhana, petani. seorang lelaki tua bernama James. membutuhkan suntikan uang sesegera mungkin untuk menjaga agar sisa pertanian tetap berjalan, sementara klien pembeli antusias dengan potensi pembelian dan berharap untuk menyelesaikan kesepakatan dengan cepat.
Terlepas dari itu, Eric selalu berhati-hati dalam menyelesaikan kesepakatan sebelum dia sendiri melihat-lihat negeri itu. Selama bertahun-tahun dia telah mengembangkan reputasi untuk memberikan apa yang diinginkan klien, tanpa kejutan yang tidak menyenangkan setelah pengadaan seperti subsidi tanah atau kesulitan perencanaan lainnya.
Meskipun dia tidak terlalu menikmati pekerjaan dasar survei, dia cukup memenuhi syarat untuk menemukan apa pun yang mungkin menyebabkan kesulitan di kemudian hari, tetapi terlepas dari sikap teliti ini, dia masih berharap untuk kembali ke kota mungkin secepat berikutnya. hari, semuanya baik-baik saja.
Petani, Tuan James, dengan ramah setuju untuk membawanya ke tanah dengan traktor, dan bukannya tanpa sedikit rasa penyesalan bahwa Eric mendengarkan lelaki tua itu menggambarkan sejarah daerah itu, keterikatan keluarganya padanya, dan mengapa sangat penting baginya untuk mempertahankan tempat itu.
Tetapi bisnis adalah bisnis, dan uang yang diperoleh James dari dua bidang yang dimaksud akan memberinya rejeki nomplok yang cukup besar. mudah-mudahan cukup untuk membantunya mengatasi badai finansial.
Malam menjelang dengan cepat, dan Eric senang karena perjalanan yang bergelombang dan tidak nyaman itu tidak memakan waktu terlalu lama.
Tak lama kemudian James menghentikan traktor, menunjuk ke dua ladang yang berdekatan yang dia jual. Selama setengah jam berikutnya Eric menerobos lumpur dan rumput dengan sepatu botnya, mengambil foto di mana kliennya berpikir untuk membangun, sambil membaca catatan tim surveyor, membandingkannya dengan pengamatannya sendiri.
James tidak ingin menemaninya dalam survei dan karenanya berdiri di sisi jalan berkerikil, mengawasi dengan sedih.
Akhirnya Eric selesai, tetapi saat dia melakukannya, matanya tertuju ke sebuah bukit beberapa mil jauhnya, yang menghadap ke seluruh area.
Tampaknya tidak berpenghuni, dengan apa yang tampak seperti petak hutan dan padang rumput menjadi satu-satunya ciri yang membedakan. Terlepas dari jaraknya, bukit itu tampaknya mendominasi cakrawala, dan tanpa mengucapkannya dia merasa seolah-olah itu istimewa atau unik.
Saat kembali ke traktor, dia menunjuk ke sana, tetapi James tampaknya tidak mau membicarakan topik khusus itu, menjawab setiap pertanyaan yang berkaitan dengan itu dengan keheningan yang sedingin es.
Adalah tugas Eric untuk menyimpan portofolio tanah yang menurutnya mungkin diminati oleh klien, dan dengan apa yang tampak seperti pemandangan pedesaan yang indah, itu akan menjadi sesuatu yang berharga untuk dinilai untuk pembangunan, terutama untuk pebisnis kaya di cinta dengan Dataran Tinggi Skotlandia.
Dalam perjalanan singkatnya kembali ke pertanian, Eric merasa harus terus-menerus melirik ke bukit dan yakin bahwa naluri profesionalnya menyuruhnya untuk menyelidikinya lebih dekat.
Setelah beberapa ketekunan yang menjengkelkan, Petani James akhirnya menyerahkan kesunyiannya dan berbicara singkat tentang masalah itu, dengan jelas meremehkan tengara yang tidak biasa itu.
Ketika ditanya siapa pemiliknya, bahkan jika mungkin James sendiri adalah pemiliknya, tetapi hanya dengan menyebutkan ini, petani itu mengejek dengan hanya mengatakan: 'Tidak ada yang memiliki tempat itu, dan tidak ada yang pergi ke sana juga.'
Dia tidak akan banyak bicara, tetapi sebelum Eric berangkat ke penginapan, petani itu meletakkan tangan yang meyakinkan di bahunya dan menasihati dia untuk meninggalkan bukit sendirian, bahwa itu berbahaya dan bahwa dia berharap dia tidak perlu membicarakannya lagi.
Sementara James tampaknya takut menyebutkannya, kesan utama yang disampaikan adalah bahwa lelaki tua itu didominasi oleh kesedihan yang mendalam; salah satu yang sebaiknya dibiarkan saja.
Meski dia terpesona oleh peringatan petani, itu bukan pertama kalinya Eric menemukan takhayul lokal. yang tentu saja tidak pernah dia dengarkan, jika tidak, dia mungkin telah kehilangan beberapa bagian tanah atau properti yang bagus di seluruh dunia.
Kisah-kisah yang akan menghiburnya dengan penduduk setempat sepertinya selalu berputar di sekitar bagian Inggris yang lebih tua dan lebih terpencil. Di masa lalu dia pernah diceritakan cerita-cerita panjang tentang rumah-rumah terlantar yang membawa noda perbuatan membunuh, atau hutan yang tidak boleh ditebang karena takut akan apa yang hidup di dalamnya, tetapi tanpa kecuali tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.
Tidak ada soliditas pada mitos-mitos itu, dan meskipun dia menikmati mendengarkan cerita tentang hantu dan makhluk aneh yang berkeliaran di pedesaan dan pedesaan terbuka, dia hanya punya sedikit waktu untuk mereka dalam pekerjaannya.
Cerita-cerita seperti itu adalah pengalih perhatian yang menyenangkan, tetapi di luar hiburan di sekitar api unggun, cerita-cerita itu tidak banyak gunanya."