Saat kukira cerita wanita berambut gimbal itu telah selesai, ternyata dia masih akan melanjutkan ceritanya nanti setelah menghabiskan s**u cokelat yang diberikan oleh Ibu.
Dia bilang, s**u sangat bagus untuk pertumbuhan tulang, kulit juga akan bersih jika dibersihkan dengan sabun yang dicampur dengan s**u kambing. Akan lebih bagus lagi jika bahan sabun itu adalah s**u murni.
Dia juga berkata padaku agar rutin minum s**u setiap malam dan pagi agar tinggi badanku lekas naik. Katanya, tak bagus jika anak seumuranku memiliki tinggi di bawah 160cm. Tapi, hei, aku baru berusia tujuh tahun!
Tanpa dia beritahu pun, aku sudah sering meminum s**u melebihi jadwal yang disebutkan. Katanya bisa membuat tinggi, tapi kenapa sampai saat ini tinggiku masih belum bertambah?
Ini aneh. Ayah yang tak suka minum s**u saja tingginya melebihi 180cm dan terlihat lebih tinggi lagi jika habis melakukan olahraga lompat tali. Ibuku tak terlalu tinggi, ia memiliki bentuk tubuh dan tinggi yang normal seperti perempuan desa kami.
Beratnya bahkan tidak sampai 52 kilogram dan tingginya hanya sampai d**a Ayah, dia memang langsing, cenderung kurus malah.
Mungkin karena aku yang tak pernah lagi keluar dari rumah dan berbaur dengan orang-orang, sehingga aku tak bisa melakukan banyak hal yang mampu mendukung proses tumbuh kembangku.
Aku tak bisa ingat sesuatu yang terlupakan, apakah sebelumnya aku memiliki seorang teman?
Kenapa di antara orang-orang yang lalu-lalang masuk ke rumah ini tak ada seorang pun yang datang mengunjungi dan mengaku sebagai teman baikku?
Di antara kepingan ingatan yang samar-samar, aku hanya tahu jika aku memiliki beberapa teman dekat dan kami selalu bermain di perbatasan desa yang dekat dengan hutan terlarang.
Aku tak diperbolehkan pergi ke sana seorang diri, aku harus bersama orang lain di sana. Ketika aku berkata akan dijemput oleh teman-temanku di depan rumah, aku tersadar bahwa mereka tak datang saat itu. Aku merasa benar-benar diabaikan oleh mereka, atau sejak awal akulah yang salah karena melupakan mereka?
Apa mereka malu dengan keadaanku?
Apa mereka muak dengan hilangnya ingatanku?
Apa mereka tak rindu padaku?
Semakin dipikirkan, malah semakin membuatku bingung.
Tapi meskipun begitu, jelas akulah yang bersalah di sini. Sebab sampai sekarang, aku tak bisa mengingat rupa bahkan nama mereka. Menyedihkan, pantaskah aku merindukan mereka?
"Aaron, kenapa kau tak menyentuh lidah sapinya? Kenapa tidak kau makan?" Bibi Shelly bertanya padaku. Suaranya begitu kecil, hampir terdengar seperti bisikan malaikat, terlalu lembut. Aku suka suara Bibi Shelly, suaranya saat berbicara selalu mampu menenangkanku yang gelisah karena rindu.
Suaranya indah, sebelas duabelas dengan suara ibuku.
Aku rindu bertemu dengan teman-teman sepermainanku dulu, rindu dengan mereka yang merupakan teman baikku sewaktu aku dalam keadaan yang masih bisa dikatakan baik-baik saja.
Kini aku menyesal sebab tak pernah menulis di buku harian atau sejenisnya tentang caraku melalui banyak hal dalam keseharian maupun menceritakan bagaimana aku melewati hari-hariku bersama teman-teman.
Apa karena tak ada yang istimewa? Atau mungkin bagi mereka aku adalah seseorang yang tak terlalu dibutuhkan?
"Aaron, kau tak suka hidangan pagi ini, Nak?"
Suara ibu menyapa dengan penuh kasih. Aku mengalihkan perhatianku padanya. Ibu dan Bibi Shelly sama-sama memiliki paras yang rupawan, bahkan mereka terkesan mirip seperti sepasang anak kembar. Keduanya sama-sama memiliki surai hitam panjang yang juga sama indahnya.
Jika dilihat sekilas, keduanya memang mirip, padahal mereka tak mempunyai ikatan darah, sebab Paman lah yang merupakan adik Ibu.
Mendadak aku ingat suatu hal, jika terdengar suara aneh pada malam hari di sebuah rumah kosong, maka itu menandakan bahwa rumah itu berhantu.
"Ada apa, Nak?" Ibu bertanya lagi padaku. Aku menggeleng lemah, nafsu makanku sudah hilang sejak awal kedatangannya.
Bagaimana bisa aku makan dengan lahap jika piring yang berisi lidah sapi kesukaanku saja berada tepat di hadapan wanita yang ingin kuhindari tatapannya? Oh, mengerikan. Aku merasa sudah kenyang jauh sebelum wanita itu memberikan tatapan culasnya.
"Aaron, kau tak enak badan?" Sekarang Neneklah yang bertanya dengan suaranya yang kecil dan terdengar sedikit kering. Aku melirik nenekku dengan hati-hati, lantas menggeleng dengan lemah.
"Tidak kok, Nek. Hm, to-tolong ambilkan lidah sapinya ...." Aku menyesal telah berbicara terbata-bata, bukan ini yang kumau. Biasanya aku adalah anak yang selalu melakukan segala sesuatunya itu sendirian, aku tak ingin merepotkan orang-orang yang ada di rumah ini, terutama karena alasan kasihan sebab ingatan yang tak kunjung kembali padaku.
Aku sendiri tak tahu seperti apa aku dulu memperlakukan keluarga ini, karena itulah aku berusaha menjaga sikap dengan baik. Aku tak ingin membuat keluargaku membenci sikapku. Kan tidak lucu, sudah lupa ingatan, tapi malah merepotkan orang lain. Jadi aku ingin hidup dengan mengandalkan kekuatan dan keberanianku saja.
"Ho ho, anak ini suka lidah sapi setengah matang juga ternyata?" Wanita asing itu tiba-tiba saja kembali buka bicara. Saat aku menengadahkan wajah untuk menatapnya, dia menyodorkan piring berisi lidah sapi yang kuinginkan tadi ke depan piringku.
"Makanlah yang banyak, agar tumbuh semakin besar."
Kalimat itu disertai senyuman lebar dan tatapan yang menyeramkan. Aku tak tahu apa ini hanya perasaanku saja, tapi orang tuaku seperti tak memedulikan orang asing itu.
"Nah, karena Anda sudah makan, bagaimana kalau Anda melanjutkan cerita yang masih bersambung tadi?"
"I-Ibu!" Tanpa sadar aku menoleh padanya. Aku syok, kenapa cerita aneh itu ingin dilanjutkan, sih? Lebih baik kami menghabiskan sarapan ini. Wanita itu saja sudah menghabiskan makanan di piringnya, sedangkan keluargaku tak menyentuh makanannya sama sekali.
Apa benar ada racun di makanan kami?
"Cerita ini sangat panjang, akan tak baik untuk gendang telinga orang berada jika terus mendengarkan cerita tentang seorang gelandangan miskin ini." Wanita itu berkata dengan nada yang aneh, terkesan misterius tapi bijaksana di saat bersamaan.
Aku merasa dia bukanlah orang jahat.
Ayah tertawa dan mengatakan bahwa tidak boleh berkata seperti itu. Tak ada miskin atau kaya, semua itu hanya pandangan masyarakat.
"Anda tak perlu khawatir, cukup lanjut bercerita pada kami saja."
Wanita itu membisu selama beberapa saat, sampai tibalah saatnya untuk dia kembali melanjutkan cerita mengenai pengalamannya di sebuah bukit mengerikan.
***
"Apakah ada masalah? — Aku mendengar kata-kata itu, tetapi tidak mendengarkan sampai diulang lagi.
'Permisi. Apakah ada masalah? 'Pria itu memanggilku dengan cara yang tajam, dan aku terkejut oleh kesadaran bahwa aku telah menatapnya selama beberapa menit.
'Tidak. Tidak sama sekali," jawabku dengan nada meminta maaf. "Aku ... kupikir aku mengenalimu."
Saat dia berbalik menghadapku, dalam ekspresinya dia menunjukkan ekspresi tidak percaya pada kebohonganku, tapi untungnya, bukan tanpa sisa humor yang bagus dia sepertinya memaafkan.
'Aku minta maaf jika aku sedikit mendadak berbicara berdua denganmu,' katanya. 'Hanya saja aku muak dan lelah dengan orang-orang yang menatapku di sekitar sini.'
Dia meninggikan suaranya pada akhir kalimatnya dan mengarahkan pandangan lebar ke sekitar pub ke beberapa peminum dan pengintai yang tersebar yang menghuninya. Aku merasa bahwa mereka yang hadir ingin menghindari tatapannya.
Kami kemudian beralih ke obrolan ringan sekitar satu jam. Namanya Eric Nam—— dan dia adalah seorang agen pembebasan tanah dari Paris.
Dia mengaku menilai lokasi di dekatnya, yang ingin dijual oleh seorang petani lokal kepada pengembang properti, tetapi aku langsung merasa dia tidak nyaman membicarakan pekerjaannya. Nyatanya, dia dengan cepat mengubah fokus pembicaraan ke aku sepenuhnya; pekerjaan aku, hidup, keluarga, apapun.
Seolah-olah dia membutuhkan pertukaran kami untuk berlanjut dalam upaya yang jelas gagal untuk menjaga pikirannya teralihkan dari kecemasan yang tersembunyi. Setiap kali aku mencoba untuk mengajukan pertanyaan tentang dia atau hidupnya, dia akan memberikan jawaban satu atau dua kata, atau mengabaikannya sama sekali, bergerak cepat ke pertanyaannya sendiri.
Akhirnya percakapan berjalan dengan sendirinya. seperti yang sering mereka lakukan hanya dengan satu peserta nyata. dan untuk sesaat kami duduk dalam keheningan yang relatif; satu-satunya suara yang berasal dari beberapa penduduk setempat yang menopang bar dan denting gelas kosong yang dicuci dan dibersihkan oleh pemiliknya.
Pub sekarang terasa lebih redup, dengan sebagian besar cahaya disediakan oleh beberapa lampu kecil di atas kepala dan api yang terus berderak dan berkedip sepanjang malam.
Aku berpaling ke salah satu jendela di luar, tidak melihat apa-apa selain kegelapan. Kemudian kata-kata keluar begitu saja dari mulut aku tanpa pikiran, atau usaha: 'Mengapa orang menatapmu, Eric?'
Ada jeda yang lama saat aku menatapnya sambil menunggu jawaban, matanya tertuju ke lantai, tetapi wajahnya terukir khawatir.
Aku mengharapkan tidak ada tanggapan mendalam mengingat singkatnya percakapan sebelumnya, dan terus meminum anggur aku ketika dia tiba-tiba menjawab dengan nada muram: 'Mereka semua tahu, tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk membicarakannya.' kepada beberapa peminum yang masih di pub, dia kemudian berteriak: 'Mereka semua takut!'
Tanggapan dari pemilik dan pelanggannya tidak terdengar seperti biasanya. Mereka tampaknya mengabaikan tuduhan Eric sepenuhnya, dengan hanya sedikit keraguan gerakan atau percakapan yang membuktikan bahwa mereka benar-benar mendengar ledakan itu sama sekali.
Aku tidak mengharapkan respons yang begitu mudah berubah, tetapi ada keputusasaan dalam teriakan itu; kemarahan dan frustrasi. Kemudian, melihat langsung ke arahku dengan apa yang hanya bisa aku gambarkan sebagai campuran ketakutan dan patah hati, dia membuka mulutnya seolah ingin berbicara lagi, sebelum ragu-ragu sekali lagi.
Aku merasa bahwa pria yang jauh di lubuk hati itu ingin akhirnya membebaskan dirinya dari beban, seolah-olah beberapa informasi beracun sedang membosankan di dalam jiwanya.
Sebagai seorang penulis, rasa ingin tahu aku terpikat oleh kemungkinan sebuah kisah yang memikat, bahkan mungkin yang bisa aku gunakan sebagai dasar untuk artikel atau cerita di masa mendatang.
Mengantisipasi bahwa dia sekarang hanya membutuhkan sedikit dorongan untuk memercayai aku, aku membungkuk dan berbisik 'Apa itu?' Yang dipenuhi dengan sentimen yang saling bertentangan. Aku dapat merasakan bahwa aku akan mengetahui rahasia sesuatu yang penting, namun dengan sikapnya yang gemetar dan cemas, aku takut akan sesuatu itu.
Saat lain berlalu, dan seolah-olah seluruh ruangan telah jatuh di bawah bayang-bayang keheningan yang nyata, orang-orang di dekatnya mendengarkan dari sudut-sudut yang menakutkan dan tidak menarik. Kemudian dia berbicara: "Jika kau berbaik hati berbagi anggurmu dengan aku, dengan senang hati aku akan memberi tahumu," katanya lembut.
Dia tidak perlu berkata dua kali. Aku bangkit dari kursi aku dan meminta di bar botol dan gelas kedua untuk dibagikan dengan rekan aku. Ada keragu-raguan yang aneh saat tuan tanah mengambil keduanya dari rak di belakangnya, menempatkannya di depan aku.
Ketika aku kembali ke tempat duduk aku, aku tahu mereka yang hadir sekarang memperhatikan aku, dan aku merasakan di tulang aku bahwa ada sesuatu yang tidak nyaman mencekik tentang penampilan mereka; pandangan menuduh yang dibayang-bayangi penuh ketakutan.
Aku menuangkan segelas anggur, yang Eric minum dalam satu tegukan. Pemandangan yang kukenal dengan baik itu adalah tentang seorang pria yang tenggelam dalam penyakit ganas yang membakar di dalam jiwanya. Setelah menuangkannya lagi, aku meletakkan botol di antara kami, lantas menunggu dia menceritakan kisahnya.
Persis seperti yang kulakukan sekarang.
Setelah melihat minumannya, dia mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arahku saat api di perapian menari seolah-olah mengeluarkan beban dari pikirannya. Dia yang misterius pun memulai ceritanya."