Aku sangat suka bangun sebelum pukul enam pagi, suasana pada saat itu begitu ramai dan terasa menyenangkan. Padahal ini awal bulan Desember, dan itu berarti sudah masuk musim dingin di negaraku, Rusia. Meski di luar jendela kamarku tampak beruap, hal itu sama sekali tak mengurungkan niatku untuk memandang keluar. Ada banyak sekali penduduk desa Birdben yang sudah bangun kala itu.
Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja biasa. Pada pagi buta, orang-orang itu sudah pergi bekerja di depan rumah sambil memotong kayu untuk persediaan bahan bakar selama menghadapi musim dingin yang akan tiba sebentar lagi. Ada juga yang mengatakan, mereka akan menebang pohon di hutan, padahal cuacanya di pagi hari biasanya minus beberapa derajat.
Aku khawatir mereka membeku saat melakukan pekerjaan seperti itu, tapi syukurlah mereka selalu mengenakan pakaian tebal. Keluargaku juga sudah memenuhi dapur dengan kayu bakar yang banyak, sehingga untuk beberapa waktu ke depan kami semua tidak akan mati kedinginan di rumah karena asap dari cerobong asap kami akan selalu mengepul di udara.
Meski awal bulan Desember masih belum terlalu dingin, tapi aku bisa merasakan kedua tangan kananku yang menggigil kedinginan. Mulutku mengeluarkan uap setiap kali berbicara, dan aku tahu aku butuh sesuatu yang hangat untuk meredakannya.
Hari ini aku kembali bangun di pagi buta, senang sekali ini menjadi kebiasaan yang baik. Bibi mengatakan bahwa aku dulu selalu bangun kesiangan, di saat matahari sudah berada cukup tinggi di langit. Kini udara pagi selalu menjadi favoritku. Aku jadi leluasa mengamati setiap kegiatan penduduk desa Birdben melalui kaca jendela yang tak terlihat dari luar. Dengan aroma pagi hari dan kicauan burung yang terdengar oleh rungu, pikiranku tertuju pada segelas cokelat panas yang akan disediakan oleh Ibu.
"Menu pagi ini apa, ya?" Aku berbicara sendiri sambil membayangkan sarapan yang tersedia di meja makan, juga membayangkan kami sekeluarga yang sedang makan bersama. Kemarin Ibu memasak irisan daging domba yang diasapkan, lalu diberi saos pedas yang rasanya seperti lasagna*.
Hari ini aku ingin sekali makan bacon* goreng, lalu makan lidah sapi yang digoreng setengah matang dan minum cokelat panas. Buru-buru aku kembali ke tempat tidur dan merapikan ranjang. Aku harus bersikap baik agar selalu dituruti permintaannya, karena tak bisa merayu hanya dengan kata-kata.
Beruntung aku tak punya kebiasaan aneh ketika tidur, jadi aku tak perlu repot-repot membersihkan atau membetulkan posisi bantal dan guling di ranjang. Aku cukup mengencangkan seprai dan melipat selimutku saja.
Dengan segera aku berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Oh, aku bisa mencium aroma telur dadar kesukaanku! Dan apa ini? Aroma khas dari keju mozzarella yang dicairkan. Aku bisa membayangkan sepotong roti gandum yang di dalamnya ada potongan keju yang telah mencair. Jangan lupakan s**u cokelat panas di sebelah piring makanku.
Yummy, pasti enak! Ah, tapi aku masih ingin makan bacon ....
"Selamat pagi juga, Ayah, Ibu, Nenek, Paman George dan juga Bibi Shelly!" Aku menyapa setiap anggota keluarga yang kulihat di meja makan, mereka langsung menoleh saat aku hampir sampai di ruang makan.
"E-eh?" Aku langsung berhenti bersenandung dan hanya berdiri di depan pintu masuk saat melihat ada orang asing yang duduk di kursi di mana aku biasanya duduk. Siapa dia?
"Aaron, kemarilah!" Ayah memanggil sambil melambaikan tangannya, aku agak ragu mendekat tapi akhirnya aku pun berjalan mengikuti perintahnya.
Orang asing itu terlihat menyeramkan. Rambutnya gimbal, dan kepalanya tertutup kupluk warna merah tua. Dia mengenakan jaket dan juga mantel tebal berwarna hijau lumut. Seperti penampilan seseorang yang akan menaiki gunung Everest saja.
"Nenek, orang ini siapa?" Aku langsung bertanya begitu berdiri di sebelah nenek, beliau hanya mendengkus dan tak menjawab pertanyaanku. Karena aku tak punya tempat duduk, akhirnya Ayah mengambil sofa kecil di ruang keluarga dan menaruhnya di dekatku agar aku bisa duduk di sana.
Aku ingin melayangkan protes, tapi saat tak sengaja beradu tatap dengan orang asing itu, aku mengurungkan niatanku. Astaga aku takut dengan matanya, buru-buru aku duduk dan menghindari tatapan orang itu. A-apa dia masih menatapku dengan tajam?
"Jadi, Anda ini senang mengelilingi dunia, yah?" Di tengah keheningan yang kurasakan, Ayah membuka topik pembicaraan dengan orang itu. Aku tak berani mengangkat kepala ....
Dari tempat dudukku, aku bisa mendengar deru napas orang asing yang ternyata duduk berseberangan denganku. Bagaimana aku bisa makan dengan tenang jika dihadapkan dengan seseorang seperti ini? Oh, ini tak adil!
"Ya, saya senang pergi ke suatu tempat dan mendapatkan pengalaman di sana ...."
Uh, bagaimana bisa seorang perempuan memiliki suara berat dan dalam seperti dia? Perempuan itu haruslah lemah lembut. Mengerikan! Apa dia nenek sihir?
"Wah, menakjubkan. Apa Anda ingin berbagi cerita dengan kami di meja makan ini? Tentu kami akan makan sambil terus mendengarkan."
Tidak! Jangan! Aku berteriak dalam hati. Bisa-bisanya Ayah bersikap baik kepada orang asing. Aku menangis tanpa suara. ಥ‿ಥ
"Baiklah, kalau itu maumu, aku akan menceritakan sebuah pengalaman yang tak akan pernah kulupakan."
Aneh, aku penasaran ingin melihat seperti apa ekspresi wanita yang akan menceritakan kisahnya kepada keluarga asing yang sedang sarapan pagi. Eng, dia tak akan menaburi racun di makanan kami, kan?
"Hey, Nak, makanlah yang benar."
Tidakkk! Apa dia bisa membaca pikiranku?!
"Sebab peristiwa dalam cerita hidupku ini akan membuatmu membuka mata lebar-lebar."
***
"Ada suatu peristiwa yang beberapa hari terakhir ini telah mengguncang pemahamanku tentang dunia, dan meninggalkan aku dengan watak yang putus asa dan dilanda kebingungan yang hebat."
"Tapi aku merasa bahwa aku harus mengatur peristiwa-peristiwa ini dalam pikiranku, bahwa aku dipaksa untuk menyusun hal-hal buruk yang sudah aku lihat sehingga aku dapat memahaminya dengan lebih baik ke depannya nanti, sehingga pikiranku dapat beristirahat sesuai kebutuhan untuk mengukur apa yang terjadi kelak."
"Itu sepenuhnya hanyalah sebuah kebetulan, bahwa sebelumnya aku pernah bertemu dengan seorang pemuda bernama Eric Nam. Saat itu musim semi, dan pada awalnya semua orang mampu bertahan dengan baik dan melawan kebekuan yang seakan mencengkeram leher mereka.
Saat itu cengkeraman musim dingin lebih menakutkan.
Aku sedang meneliti sebuah artikel yang aku tulis untuk sebuah publikasi yang boleh dikatakan, kurang bereputasi. Ketika aku mendapati diriku berada di bawah belas kasihan sebuah desa dataran tinggi kecil untuk malam itu, seluruh cobaan itu membuatku frustrasi dan aku merasa lelah untuk semuanya.
Aku seharusnya kembali ke Ceshhew malam itu untuk mengetik catatan terbaruku dan menghilangkan kabut yang sering menyertai tugas menulis yang aku kerjakan. Aku sedang berpikir untuk menulis cerita baru yang sesuai keinginanku, tapi aku masih harus menyelesaikan kontrak ini agar setelahnya aku bisa menikmati hidup dengan lebih tenang.
Aku butuh uang dan aku menulis karena termotivasi untuk hal itu.
Aku terdampar di sebuah desa kecil dengan hanya memiliki satu akses jalan dan sebuah penginapan yang terlihat seperti sebuah bangunan yang belum pernah didekorasi ulang sejak zaman penjajahan.
Aku memang tak mengetahui banyak tentang kenyamanan rumah atau interior bangunan apa yang menarik perhatian, terutama setelah beberapa minggu aku melalui perjalanan yang melelahkan, bertemu dengan orang-orang yang harus diwawancarai, dan lebih dari satu malam selalu gelisah di tempat tidur dan makan sarapan yang suram.
Aku jadi tak punya perasaan estetika dalam diri ini, jadi aku tak mempedulikan bangunan yang kutempati ke depannya nanti akan seperti apa.
Ada jalan turunan di salah satu kota yang membuat bus lokal tidak mungkin melanjutkan perjalanannya ke sana, tapi yang lebih penting bagiku adalah ada bus lain yang bisa membawaku ke tempat yang lebih aman lagi.
Setelah beberapa panggilan telepon, ketika aku mencoba mendapatkan rute perjalanan yang lebih alternatif dari yang kumiliki sekarang, semua menjadi jelas bahwa aku tidak ke mana-mana sampai pagi. Salahkan aku yang tidak bisa membaca petunjuk jalan dengan benar.
Penginapan yang kudatangi ini diberi nama yang cukup unik, yaitu Land of Dungeon. Bangunannya sudah terlihat begitu kuno, seperti apa pun bisa jatuh di atas kepalaku kapan saja. Lengkap dengan balok kayu yang panjang dan melengkung. Jangan lupakan suara derit yang muncul setelah kayunya diinjak.
Bangunan seperti itulah yang akan menjadi rumahku untuk beberapa malam. Tidak buruk, lagipula harganya murah dan aku ingin tinggal lebih lama lagi di sana.
Setelah berbicara panjang lebar dengan pemilik penginapan itu, seorang pria bertubuh tinggi besar dan berusia sekitar lima puluhan, berjalan mendahuluiku sambil tersenyum dengan ramahnya.
Aku lalu diberi sebuah kunci perak yang penuh dengan debu. Pria itu lantas mengantarku menuju kamar kecil di lantai atas yang jelas-jelas belum pernah dipakai untuk tidur ataupun dibersihkan untuk beberapa waktu.
Aku sangat yakin mereka ini hanya ingin mengeruk uangku saja, tidak benar-benar serius ingin membuka penginapan di lokasi terpencil.
Namun, orang-orang itu cukup baik dan periang. Setelah makan beberapa makanan berbahan dasar, tapi aku merasa cukup puas. Rasanya begitu menyenangkan, ketika aku duduk di kursi berlengan empuk yang terasa nyaman karena terletak di dekat perapian tua di sudut bar kecil penginapan itu.
Aku putuskan untuk menghilangkan kebosanan itu dengan minum beberapa botor bir lokal dan juga sebotol anggur yang sengaja kubawa dari rumah secara diam-diam. Harga anggur dengan merek tertentu menjadi mahal seiring lamanya pembuatan.
Aku memperhatikan perapian yang menyala dengan api yang berkobar. Nyala api itu terlihat seperti sedang menari di depanku, dan saat menjelang tengah malam, alkohol yang kuminum membuatku sedikit merasa mual, tapi sebenarnya aku cukup puas dengan rasa yang diberikan.
Aku hampir senang berada di lingkungan pedesaan seperti itu. Desa itu mungkin agak suram, tetapi melawan angin dingin di luar sana dan langit yang semakin gelap, membuat penginapan itu terlihat mempesona.
Aku tidak yakin sudah berapa lama aku duduk di sana, terhipnotis seperti diriku yang merasa panas sejak duduk di dekat rak perapian dan ditemani beberapa gelas anggur merah, tetapi ternyata aku telah ditemani oleh tamu lain di penginapan.
Orang asing yang tak kukenal siapa
Dia duduk di hadapanku, di kursi berlengan yang panjang dan memiliki sisi yang lebar di lain, dia duduk di sana menatap nyala api di perapian yang berkedip-kedip.
Dia penasaran dengan wataknya. Dari luar dia terlihat begitu muda, mungkin di awal tiga puluhan, tapi kepribadiannya tenggelam dalam kerapuhan yang biasanya tidak diharapkan untuk dilihat pada pria seusianya. Dia tampak rapuh.
Wajahnya bersinar cerah di bawah terpaan cahaya api, membawa serta-merta kekhawatiran dan garis-garis yang menunjukkan kekacauan batin; matanya tampak tidak fokus, dia berkaca-kaca dan tangannya sedikit gemetar saat dia menghangatkannya dengan bara api."
Wanita yang terlihat seperti pria itu tiba-tiba menghentikan ceritanya, aku jadi ingin mengangkat kepala untuk sekadar memperhatikan wajahnya, tapi aku tak ingin melihat mata berwarna biru gelap dengan riasan mata yang agak norak itu untuk kali kedua.
Dia pasti masih melihatku dengan tatapan seolah ingin memakanku hidup-hidup. Kapan wanita ini pergi ke rumah lain, sih? Aku harus melanjutkan makan dan tidur di kamar dengan tenang.