30. Memperhatikan Tingkah Laku

1808 Words
Aku memperhatikan ketiga temanku dan melihat kemungkinan apa mereka sedang berbohong atau tidak. Menurut buku psikologi yang pernah dibawa Ayah, ada cara untuk mengetahui apakah seseorang tengah melakukan kebohongan. Mungkin ini saat yang tepat untuk memperhatikan tingkah laku mereka dan mencocokkan dengan apa yang kuketahui di buku itu. Yang pertama adalah Posisi Tubuh Menutup Diri. Orang yang sedang berbohong dapat dilihat dari gerakan atau bahasa tubuhnya. Tubuh yang membungkuk atau seperti melindungi tubuh adalah salah satu ciri orang yang sedang berbohong. Mereka cenderung menutup tubuhnya secara tidak sadar. Ivanoff berdiri sambil berkacak pinggang, dari dulu dia memang punya kebiasaan seperti menantang orang lain dan kesombongan selalu menyertai. Aku melirik Albert yang berdiri di tengah-tengah adiknya dan Ivan, dia sedang berdiri sambil memperhatikan kuku jarinya yang tumbuh begitu panjang. Setahuku, Albert bukan tipe yang senang memelihara kukunya sedemikian rupa. Tindakannya yang tenang membuatku berpikir jika dia sedang berbohong terbantahkan saat dia mengeluarkan gunting kuku dan mulai merapikan kuku-kuku di jari tangannya. Baiklah, sepertinya Albert tidak berbohong karena sikapnya terlihat begitu natural. Aku mencoba mempertahankan sikap tenang sebelum menggeser pandanganku kepada Deinn. Kedua, Gerakan Tubuh yang Tidak Perlu. Pembohong biasanya banyak melakukan gestur atau gerakan tubuh yang tidak perlu untuk menutupi kebohongannya. Namun, ada juga orang yang berbohong dan terlihat tenang selama percakapan. Hal ini dilakukan untuk mengelabui dan membuat Anda yakin akan hal yang disampaikannya. Kemungkinan lainnya, pembohong justru melakukan gerakan hati-hati agar lawan bicaranya tidak curiga. Gerakan hati-hati tersebut, seperti memegang tangan, duduk diam, berbicara perlahan, dan menjaga agar gerakan wajah yang dilakukan tidak terlalu banyak. Kuperhatikan Deinn, dia sama seperti Albert, hanya saja lebih tenang dan tidak bisa ditebak. Dari dulu dia memang tak pandai mengekspresikan diri melalui perbuatan atau kata-kata. Baiklah, untuk memastikan ketiganya tidak berbohong aku akan mengajukan pertanyaan lagi. Ini merujuk pada ciri-ciri nomor tiga! Kalimat Tidak Konsisten. Orang yang sedang berbohong biasanya mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak konsisten. Apabila Anda berbicara dengannya dan menanyakan kembali pertanyaan yang sama, mungkin pembohong akan memberikan detail cerita yang berbeda dari sebelumnya. "Kalian sendiri 'kan tahu bahwa aku itu tidak terlalu pintar. Mana bisa aku mendapatkan beasiswa ke luar negeri?" Ini dia, pertanyaan ini akan membuat mereka kebingungan karena harus menunjukkan kebenarannya, bahwa apa yang mereka sampaikan tadi bukanlah kebohongan. "Transkrip nilaimu ada pada Mrs. Beatrix dan di sana tertulis kau lolos di mata pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin, sehingga dibandingkan murid lain yang tidak memenuhi standar untuk mendapatkan beasiswa berbasis di bidang bahasa itu, kaulah yang memenuhi syarat." Aku tercengang mendengar penuturan Albert. Ya, di sini letak keganjilannya. Di sekolahku tak pernah ada mata pelajaran bahasa Mandarin karena hanya ada bahasa Inggris, Jerman dan Rusia. Kami belum bisa menambah satu bahasa asing lagi karena pihak kepala sekolah tak mengizinkan. Apalagi ini bahasa Mandarin yang jelas-jelas berasal dari China. Mr. Franklin tentu tak akan mau bahasa ini ada di sekolah yang dikelolanya. Lalu, kenapa setelah aku bangun dari tidur panjang (alias lupa ingatan) mendadak ada bahasa itu di sekolah dan melibatkanku dalam salah satu beasiswanya? Jelas ada sesuatu yang janggal di sini dan aku harus lebih teliti lagi saat menyelidikinya. "Oh, aku tak ingat lagi. Kenyataan bahwa aku terlalu disibukkan dengan kegiatanku mempelajari bahasa Jerman dibandingkan bahasa Mandarin selama 4 bulan di China membuatku pusing." Aku mengikuti permainan teman-temanku yang kuat dugaan sedang berbohong, aku ikut menambah kebohongan guna menggali informasi lebih dalam lagi. "Yah, kurasa kau benar, bahasa-bahasa negeri Eropa memang lebih mudah dipelajari dibandingkan bahasa dari Asia Tenggara." Mataku langsung terbelalak, disertai senyuman bahagia yang kusembunyikan dengan seringai tipis. Itu dia! Mereka bahkan tak tahu di mana letak China itu. Mereka hanya asal sebut. Padahal seharusnya mereka menjawab Asia Timur, bukan Asia Tenggara. Jelas mereka tak tahu apa-apa terhadap apa yang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu. Aku mulai mencurigai mereka yang awalnya kupikir 'bersih' karena tak menunjukkan bahasa tubuh seperti orang yang sedang berbohong. Aku baru bisa tenang setelah membuktikannya sendiri, aku akan membuat mereka menyadari keanehan yang hanya aku yang bisa melihat dan merasakannya. "Benar, aku lebih memilih bahasa Jerman. Kau tahu? Musim hujan di China itu sangat dingin. Sama sekali tak ada salju di sana karena letaknya yang jauh dari gunung es, dan aku selalu ingin makan sup durian yang hangat, tapi saat ini di China sana sedang bukan musimnya, makanya tidak berbuah." Aku memancing mereka dengan pernyataan yang jauh dari kebenaran yang ada. Durian mana bisa tumbuh di China? Itu 'kan buah tropis. Sejenak teman-temanku terdiam, mungkin meresapi apa yang baru saja kukatakan. Aku menatap mereka satu per satu dan kemudian teringat akan Elena, gadis kecil satu-satunya yang ada di perkumpulan itu. Selama pembicaraan yang tidak jelas mengarah ke mana ini berlangsung, tak seorang pun di antara mereka yang menyinggung tentang Elena, bahkan menanyakan keberadaan atau mengungkit keadaan gadis itu saja tidak ada. Aku dibuat geram begitu menyadari fakta ini, seolah Elena sejak awal tidak pernah hadir di antara kami berempat. Jelas-jelas dia itu nyata, Elena kerap mengikuti kami dan menunggu kami selesai bermain sebelum kembali menemuinya yang selalu duduk di bawah pohon dengan buku bacaannya. Dia yang paling muda di antara kami berempat. Apa mereka tak bisa mengingat sedikit pun tentang Elena? Bahkan hal terkecil sekalipun? "Apa kalian melihat Elena?" Aku iseng mengajukan pertanyaan. Deinn terlihat kebingungan, begitu pula dengan Albert yang menaikkan sebelah alisnya. Ivan hanya menatap seolah aku baru saja menyebutkan nama salah satu makhluk mitologi. Mereka tak terlihat seperti orang yang mengenal nama itu. Mereka tak bereaksi apa-apa saat aku menyebut nama Elena. Dulu, pertanyaan ini akan dijawab dengan antusias oleh Ivan yang senang mengganggu gadis kecil itu jika Elena bersikeras ikut bertanding melawan kami. Reaksi yang kuharapkan ada pada ketiganya tak kutemukan kali ini. Mereka tak merasakan apa-apa, seperti tak pernah merasa ada sesuatu yang menghilang di sekitar mereka. Mereka seperti tak merasa ada sesuatu yang aneh di antara kami berempat, sesuatu atau seseorang yang mendadak hilang, padahal kami biasanya selalu berlima kemana saja. Apa mungkin mereka juga melupakan Elena; sama seperti aku yang awalnya sempat melupakan gadis kecil itu karena hilang ingatan? Tapi ini berbeda karena tidak hanya Elena yang kulupakan, aku bahkan melupakan siapa diriku yang sebenarnya—juga melupakan segala kenangan bersama keluarga dan orang tuaku. Sekarang aku sudah mendapatkan ingatanku kembali. Tidak seperti kesadaran awal yang masih buram, tampak tak jelas dan tak menentu mengarah kemana, begitu ingatan-ingatan itu kembali, hari-hariku dipenuhi kenangan lama yang tak henti-hentinya membuatku mengucap syukur. Sekarang aku ingat siapa aku, siapa orang tuaku, di mana aku dilahirkan, dan yang paling membahagiakan tentu adalah saat aku bisa mengingat kembali kenangan lawasku bersama Elena. Bagaikan film lama yang diputar di layar kaca, aku mengingat semuanya dengan baik, seolah baru saja mengalaminya, aku lalu mencetaknya dalam sebuah album kenangan. Di mana hanya aku yang bisa memahami setiap kepingan yang tertulis di sana. *** Seperti dugaanku, mereka tak bereaksi terhadap nama Elena. Dalam hati, aku mengumpat dengan menyebut hewan-hewan kecil yang lucu. Itu salah satu cara Elena untuk tidak berkata kasar. Dia benar-benar manis. "Kalian payah, ah. China itu aslinya di Asia Timur, loh." Aku berkata setengah menyindir, sekadar ingin melihat reaksi ketiganya. Lebih baik mengatakannya daripada bungkam dan membiarkan mereka yang tak tahu apa-apa mengenai dunia luar mengganggap satu kesalahan kecil itu adalah kebenaran. "Sudah kuduga!" seru Ivan. Ia lalu menegakkan badannya dan memasang ekspresi konyol. Terlihat seperti i***t. "Padahal aku sudah katakan pada Deinn, China itu bukan negara ASEAN! Tapi dia bersikeras bilang China adalah negara di Asia Tenggara sana." Sambil melipat tangan di d**a, Ivanoff berdecak lidah sesekali dengan wajah menunjukkan ketidakpuasan terhadap hidup. Huh, dasar tukang lakon. Aku memperhatikannya dengan saksama dan teringat ciri-ciri keempat dari orang yang sedang berbohong, yaitu Menghindari Kontak Mata. Pembohong cenderung menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Sebab, orang yang berbohong sering tidak percaya diri dengan apa yang sedang diucapkannya. Menghindari kontak mata adalah salah satu tanda non-verbal dari orang yang sedang berbohong. Ciri-ciri keempat jelas terlihat pada Ivan yang tiba-tiba saja mengubah sikapnya seperti orang pintar yang memilih melemparkan kesalahannya pada orang lain—dalam hal ini adalah Albert, karena anak itulah yang menyebut China bagian dari Asia Tenggara. "Oh, benarkah? Ternyata Albert melewatkan pelajaran geografi, ya?" Aku mengalihkan pandangan kepada Albert yang lebih tua setahun dariku. "Buktinya dia tak tahu letak China itu di mana." Albert terlihat terusik dengan pertanyaan itu. Dia yang semula bersandar di daun pintu mulai menegakkan tubuhnya dan menatap dalam-dalam kedua mataku. Sesaat aku bergidik ngeri. Mereka sudah berdiri di depan rumahku selama setengah jam, dan selama itu pula aku masih menunggu adanya teriakan dari orang tuaku yang menyuruhku masuk ke dalam. Tetap tenang, Aaron! Jangan gegabah untuk mencari tahu hal aneh di dunia ini. Aku menyemangati diri sendiri dalam hati. Seperti ciri-ciri nomor lima, Lihat Respons dari Pertanyaan! Apabila tidak yakin dengan apa yang disampaikan oleh lawan bicara, Anda dapat mengujinya dengan mempertanyakan ucapannya, lalu lihatlah responnya. "Kau tak tahu letak China?" Aku bertanya dengan hati-hati. Albert jauh lebih tinggi dariku, justru aku lupa mempertimbangkan hal itu. "Untuk apa aku tahu?" jawabnya sinis. "Setidaknya aku tidak meninggalkan desa dan teman-temanku hanya untuk pergi ke negara lain selama beberapa bulan." Aku meneguk ludah dengan susah payah, Albert sepertinya marah. Apa aku terlalu mengusiknya dengan pertanyaan menuduh, ya? Seperti penjelasan dari ciri-ciri pembohong yang k****a, pembohong biasanya akan merespons dengan cepat atas rasa tidak percaya penanyanya dan memiliki sejumlah alasan untuk berkelit. Sedangkan bila lawan bicara berkata jujur, dia akan tersinggung jika Anda meragukan ucapannya dan tetap bertahan atas apa yang dia katakan. "Intinya kau pergi ke suatu tempat yang jauh dari kami bertiga tanpa sempat memberi kabar sebelum, bahkan sesudahnya," ucap Albert dengan nada yang tegas. "A-aku hanya ingin memastikan apa kalian tahu letak China itu di mana," kilahku gugup. Albert yang tak mau tahu alasanku sontak memalingkan wajahnya. Aku tahu dia marah denganku, itu sudah pasti. "Aku minta maaf," sesalku, tapi Albert hanya diam. Kulirik Ivan dan Deinn, tapi mereka hanya mengedikkan bahu. Aku berdeham kecil, setidaknya aku sudah minta maaf. Aku akan mencari cara untuk membujuknya lagi. Kali ini, aku mengarahkan pandangan kepada Deinn, orang terakhir yang harus ditanya terkait kebenaran aku yang pergi ke luar negeri itu. Pertanyaan dan jawaban yang kudapat selalu terdengar tidak masuk akal. "Deinn, empat bulan yang lalu, aku berangkat di hari apa?" Deinn jauh lebih pintar dari Ivan, tapi kepintarannya itu tak bisa dibandingkan dengan sang kakak. Albert memang jenius, seperti halnya seorang ilmuwan terkenal yang menjadi bagian namanya, Albert Einstein. Albert yang sedang bersama kami inipun juga salah satunya. Deinn menjawab dengan tenang. "Selasa tanggal 2, minggu pertama bulan Agustus," jawabnya sambil mengingat-ingat, seakan tak memberi kesempatan untukku menyela. Ia lalu menambahkan, "Kau pergi menjelang musim gugur. Begitu musim panas berakhir, kau tiba-tiba saja sudah pergi tanpa pamit." Selasa, 02 Agustus 2021. Minggu depannya lagi adalah ulang tahunnya Elena! Aku tak ingat jika malam itu adalah malam Rabu, aku juga tak ingat jika tanggal 10-nya adalah ulang tahun sahabatku itu. Astaga, bagaimana bisa aku lupa? Aku benar-benar memalukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD