31. Berusaha Menjelaskan

1930 Words
"Jadi bagaimana rasanya tinggal di luar negeri?" tanya Albert dengan nada bicara yang bersahabat. Aku sudah takut saja saat melihatnya diam, aku tak ingin dia marah dan tak mau lagi bicara denganku. Sungguh, dia sudah seperti sosok Kakak bagiku yang memang lahir sebagai anak tunggal. Beruntungnya orang yang memiliki seorang kakak sejak lahir ke dunia. "Tidak senyaman Rusia, bahkan kota Mezhdurechensk saja jauh lebih baik dibandingkan tempat aku sekolah asrama." Kebohonganku kembali bertambah. Aku bahkan belum pernah ke Mezhdurechensk, salah satu kota terbesar di wilayah Kemerovo. Populasinya saat ini mungkin sudah lebih dari 98 ribu orang. Jarak dari Mezhdurechensk ke Kemerovo cukup jauh, sekitar 300 kilometer. Ini adalah kota yang terbilang cukup muda dibandingkan kota lainnya, Mezhdurechensk bahkan belum berusia 80 tahun. "Oh, kudengar di sana kau bermain alat musik dan kau sangat fasih berbahasa." Deinn menunjukkan keterkaitan terhadap minat sekolah di luar negeri. Padahal selama ini dia tinggal di Perancis yang menakjubkan, aku selalu ingin ke sana. Aku penasaran dengan tinggi menara Eiffel. Apa tingginya kalah jauh dibandingkan dengan bangunan tertinggi saat ini yaitu Burj Khalifa yang ada di Dubai? Oh, aku jadi ingin naik bangunan itu dan menembus langitnya. Cepat-cepat aku menyingkirkan pemikiran tak jelas itu. Ke luar dari desa Birdben saja baru satu kali setelah tujuh tahun, dan aku sudah berencana mengelilingi dunia untuk melihat semua isinya. Yah, tapi kuharap kelak aku bisa mewujudkannya. Aku akan menjadi orang sukses dengan gaji puluhan ribu dollar Amerika Serikat dan aku pasti akan mengajak keluarga besarku keliling dunia. Amin! Hehe. "Sakitmu kambuh lagi?" Ivan mendadak jadi sosok yang begitu peduli, aku tercekat di tempat. Dia sedang mendapatkan ide baru untuk mengerjaiku, ya? "Aku tidak sakit," jawabku jujur. Kulihat Albert dan Deinn memasang ekspresi serupa, mereka tampak mengkhawatirkan aku. Sementara aku tak tahu apa yang harus mereka khawatirkan? "Ibumu bilang kau terpaksa pulang ke Rusia karena akhir-akhir ini kau tak tahan dengan cuaca di sana. Kau mendadak sakit-sakitan dan harus memakan banyak obat." Deinn menjelaskan sambil mengusap punggungku dengan sikap seorang ibu yang menenangkan putra semata wayangnya yang hendak disuntik dokter. "Tapi kalian bisa lihat sendiri, kan? Bahwa aku baik-baik saja!" Aku sengaja berputar dua kali di depan mereka untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang sakit keras. Aku bahkan melompat beberapa kali dan mengentakkan kaki di lantai teras dengan cukup bertenaga. Entah kenapa aku ingin menunjukkan semangat yang kupunya. Ivan langsung menghentikanku. "Sudah cukup, Aaron. Kau masuklah ke dalam, istirahat. Kami sudah terlalu lama menjengukmu," ucapnya. Ia lalu menyerahkan bingkisan yang ia bawa kepadaku. Deinn dan Albert melakukan hal yang sama, mereka menyerahkan dua kantong yang sedari tadi mereka bawa-bawa. Ternyata bingkisan yang sejak awal mereka jaga itu adalah hadiah untukku yang baru saja pulang dari luar negeri—menurut pandangan mereka. "Kami lupa dengan tujuan awal kami saat datang kemari. Sebenarnya kami berencana mengunjungimu sejak minggu lalu, tapi kami lupa menentukan waktu yang pas. Saat bertemu kau pun, kami malah memberondongimu dengan pertanyaan tak jelas; apa kau senang di Beijing? Tapi kami lupa jika sebenarnya kau sedang berusaha keras melawan rasa sakit." Ivan yang kukenal itu adalah anak yang sangat jail, kerap berkata kasar dengan tingkah yang kadang bar-bar sampai membuat d**a menjadi sesak karena kesal terhadapnya. Namun, Ivan yang ada di depanku saat ini adalah Ivan yang benar-benar berbeda dengan Ivan yang kuketahui. Jelas dia bukan Ivan yang itu, mustahil Ivan yang kukenal adalah orang yang beberapa saat lalu tertangkap basah sedang menari t****k di halte bus. Kebetulan aku tadi melihat beritanya di televisi, nama laki-laki itu juga Ivan. Entah angin dari mana, Ivan lalu mengeluarkan sebaris kalimat mutiara dari mulutnya. "Kalau sedang tak enak badan, jangan terlalu memaksakan diri. Sehat sebelum datangnya sakit itu jauh lebih mahal dibandingkan tiket pesawat menuju ke Mars sekalipun." Ivanoff yang kukenal sebagai pribadi yang seringkali berantakan dan tidak memperhatikan kesehatan, mendadak mengatakan hal-hal baik tentang betapa pentingnya merawat diri dan keluarga. Dia ingin kami menjaga kesehatan kami dengan selalu mencuci tangan sampai bersih dan menjaga asupan nutrisi yang baik bagi tubuh kami. Ivan bahkan berpesan agar kami senantiasa menjauhkan diri dari minuman soda dan dia menyuruh kami rutin meminum vitamin C untuk menjaga imunitas tubuh. "Dunia saat ini sedang tidak aman. Ada banyak penyakit baru bermunculan dan anehnya penyakit-penyakit itu seakan mengikuti perkembangan zaman dengan menjadi lebih kuat." "Untuk itu kita harus menjaga kesehatan. Apalagi kau baru saja pulang dari luar negeri, sebaiknya kau beristirahat saja di rumah, jangan kemana-mana. Maafkan kami sudah mengganggumu, ya." Ivan lalu memelukku seperti seorang kakak yang memeluk adiknya dengan sayang. Aku balas memeluknya, Ivan hari ini baik sekali, biasanya tidak seperti ini. Aku sampai lupa jika Ivan itu satu tahun lebih tua dariku, karena dia selalu bertingkah kekanakan. Namun hari ini, dia menunjukkan kebaikan hatinya dan terlihat begitu dewasa. Aku sampai heran. Omong-omong tentang sakit, aku jadi teringat kenangan masa kecilku, yang mana pada saat itu aku sedang sakit. Aku harus meminum obat yang diberikan oleh seorang dokter yang sudah mau datang jauh-jauh dari kota Mezhdurechensk ke desa Birdben yang ada di dalam hutan ini, hanya untuk mendiagnosa dan memberikanku obat. Dia berusaha keras menyembuhkan penyakitku, karena itu dia datang selama satu minggu penuh. Sebenarnya aku tak tahu pria yang datang waktu itu disebut apa. Psikiater? Atau mungkin psikolog? Entahlah, kurasa dia hanya dokter biasa. Tapi aku salut dengan pengorbanannya yang mau datang ke desa ini jauh-jauh untuk merawatku, dia tinggal di rumah kepala desa dan di sana dia banyak membantu orang-orang tua yang membutuhkan pengobatannya. Terkadang mereka meminta saran dari dokter berusia sekitar 30 tahunan itu. Karena aku tak terlalu memperhatikan orang-orang, sehingga aku tak mengetahui siapa nama asli sang dokter. Namun, dokter itu pernah menyebutkan nama kecilnya, Ron. Waktu pertama orang tuaku mendengar dia menyebutkan namanya, mereka tertawa dan menyebutkan bahwa nama sang dokter mirip dengan nama anak mereka. Bedanya dokter itu Ron, dan anak mereka—yaitu aku—adalah Aaron. Sang dokter tersenyum tipis, pembawaan yang tenang dan ramah membuat orang tuaku senang mengenal seorang dokter yang teramat baik. Orang tuaku awalnya takut saat dokter itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan rumah, menghampiri keluargaku dan mengajukan berbagai pertanyaan terkait kesehatan anak laki-laki mereka kepada kami sekeluarga. Padahal tak pernah sekalipun orang tuaku memanggil seorang dokter secara khusus ke desa yang jauh dari kota ini. Entah karena apa dan bagaimana caranya pria berkumis tipis itu bisa datang ke desa dan mengetahui berbagai hal yang seharusnya tidak dia ketahui. Padahal ada banyak desa di sekitar Birdben, desa-desa itu lebih dekat dengan jalan besar, tapi sang dokter justru singgah di desa kami yang jauh di pelosok hutan dan membantuku yang sedang sakit. Ibu sangat terkejut saat dokter itu menjelaskan apa yang terjadi padaku sebelum aku mendapatkan benturan di kepala yang membuatku trauma. Tak ada yang tahu mengenai kepala yang terbentur itu, tapi sang dokter benar-benar mengetahuinya secara detail, seolah dia menyaksikan bagaimana aku mendapatkan benturan hebat itu. Aku yang mengalami kecelakaan itu saja baru mengetahui kenyataannya setelah mendengar penjelasan sang dokter. Harus kuakui, dia adalah orang yang begitu misterius. Darimana dia mengetahui apa yang tidak diberitahukan? Keluargaku saja yang menjadi saksi mata dari kejadian itu bahkan tak bisa menjelaskan dengan baik saat aku bertanya lebih lanjut perihal kecelakaan itu kepada mereka. Tapi pria bertopi dan berjaket kulit itu ... dia tahu segalanya tanpa pernah bertanya. Dia menetap selama seminggu di desa, karena ingin melihat kondisiku yang masih dalam tahap pemulihan. Ketika mengingat sang dokter, aku benar-benar merasa dia itu begitu luar biasa. Aku kagum padanya, dan ingin mengikuti jejaknya. Tapi Nenekku selalu menganggap dokter itu sebagai seorang cenayang masa depan, dan seringkali ia meminta resep panjang umur dari dokter yang hanya tertawa mendapat permintaan aneh-aneh dari orang yang ditemuinya di desa. Dia sangat sopan dan tak pernah marah. Namun, kadang kami melihat ekspresinya berubah muram. Dia tetap tersenyum kepada kami, tapi senyumnya seperti memendam kesedihan. Kami mungkin pernah menyinggungnya, lalu pada suatu hari kami meminta maaf secara baik-baik pada dokter itu. Dia berkata bahwa dia tak pernah sekalipun merasa tersinggung, dia menjelaskan alasan dari rasa sedih yang ia rasakan. Sang dokter hanya begitu merindukan masa lalu juga keluarganya yang tinggal di desa. Dia benar-benar sosok yang tabah dan tangguh, orang tuaku senang dengan sosok sang dokter. Begitu pula aku. Tapi aku ragu, apa aku bisa menjadi seorang dokter sepertinya? Kadang-kadang penyakit delusiku kambuh, bahkan pernah terjadi saat pertemuan keluarga besar. Walau tidak mempengaruhi kehidupanku, tapi aku tidak suka memiliki penyakit yang hanya membuatku seperti anak laki-laki cengeng yang penakut akut. Sebelum mendapat perawatan, aku sama sekali tidak bisa dikagetkan, atau ditakut-takuti secara tiba-tiba. Aku akan syok dan menangis sambil memeluk Ibu. Namun setelah dokter itu datang dan mengobatiku, keadaanku berangsur-angsur membaik. Jika kubesar nanti, aku akan menjadi sosok seperti Dokter Ron. Aku pastikan untuk membantu setiap anak yang mengalami hal serupa denganku—bermasalah dengan mimpi buruk dan rasa takut berlebih. "Kami pulang dulu." Ucapan Albert seketika membuyarkan lamunanku. Ketiganya lantas berpamitan dan bersiap untuk pulang. Mereka ingin melihatku masuk ke dalam, baru setelahnya mereka akan langsung pergi dari rumahku. Dokter di klinik kesehatan Moskow selalu mewanti-wantiku untuk tidak memikirkan sesuatu yang berat dan memintaku untuk banyak-banyak beristirahat. Tak kusangka, kepergianku yang berlangsung selama 4 bulan itu, membuat teman-temanku menjadi sosok yang sangat perhatian. Deinn dan Albert melambaikan tangan padaku. Ivan sudah lebih dulu melangkah di depan mereka. Ketiganya bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin pulang dan entah karena apa, aku malah menghentikan mereka dan bertanya. "Jadi kalian benar-benar tak mempunyai ingatan apa pun tentang Elena?" Sebuah pertanyaan sama kembali kuajukan dan betapa bodohnya aku. Mereka berhenti setelah beberapa langkah dan berbalik badan, ekspresi mereka menunjukkan kebingungan yang seketika membuatku sadar apa kesalahanku. Aku kembali mengajukan pertanyaan yang sama, mungkin sudah dua kali lebih. "Siapa yang kau maksud, Aaron?" Albert menatapku lekat-lekat. "Kau bertingkah aneh." Buru-buru aku menyangkalnya. "Tidak! Tidak! Bukan sesuatu yang penting! Hahaha ... sudah, lupakan saja!" Aku tertawa canggung, berkilah dan menghindar adalah satu-satunya cara. Deinn melipat tangan di d**a. "Bukankah kami sudah jelaskan dan kau sendiri tahu jika kami tak mengenal siapa yang kau maksud, tapi kenapa kau kembali bertanya?" "Tenanglah, Ron. Sepertinya kau hanya bermimpi berteman dengan seorang gadis, atau kau teringat gadis yang kau temui sewaktu di China dulu?" Ivan ikut menimpali pertanyaanku. "Mustahil," gumamku lirih. "Elena itu nyata." Aku turun dan menghampiri mereka. Barang-barang yang mereka berikan aku taruh di depan pintu, sehingga aku bisa mendatangi teman-temanku tanpa terganggu benda-benda dalam tas plastik. "Jadi selama ini kita hanya berempat, bukan berlima dengan Elena?" Tepat saat aku berdiri di depan ketiganya, aku kembali mengulang pertanyaan yang sama seperti orang bodoh. Ivan menjawab dengan sabar, "Percayalah, kami sama sekali tak tahu dengan Elena yang kau maksud. Memangnya siapa dia? Kenapa kau terus mengulang pertanyaan yang jelas-jelas kami bertiga tidak bisa menjawabnya?" Bagai mendapat serangan di titik vital, hatiku mencelos seketika. Bibirku menggumam mustahil berulangkali. Mereka pasti berbohong. Ini semua tak nyata, aku pasti sedang bermimpi. Mereka hanya membual, seperti ciri-ciri orang berbohong nomor 6 yaitu Mengulang Pertanyaan. Orang yang sedang berbohong cenderung mengulangi pertanyaan yang ditanyakan kepadanya sebelum menjawabnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengulur waktu sehingga ia bisa memikirkan jawaban yang akan disampaikannya. Aku mengigit bibir kuat-kuat. Jika benar mereka berkata jujur, maka akulah pembohong yang sebenarnya. Tidak, bukan aku atau mereka. Ada yang tak benar di sini dan aku harus mencari tahu bagaimana hal ini bisa terjadi pada kami semua. "Elena adalah sahabatku, juga teman baik kalian. Kita selalu berlima. Sumpah, aku tak berbohong!" Dan ucapanku berakhir begitu Ivan, Deinn dan Albert menatapku dengan tatapan prihatin. Mereka mungkin mengganggap aku sudah gila atau sejenisnya. Entah mana yang benar : merekalah yang berbohong atau penyakit lamaku yang lagi-lagi kambuh? Sungguh mustahil keberadaan Elena selama bertahun-tahun ini hanya merupakan sebuah ilusi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD