"Kau ini baru saja mendapat kesempatan bersekolah di luar negeri." Ivan angkat bicara dan tetap terlihat tenang menghadapiku yang menurut pandangannya sedang terkena Culture Shock akibat perjalanan jauh ke negara lain. Mulanya dia menyentuh pundak, tapi aku refleks menepis tangannya.
"Aaron, kau sebenarnya kenapa?!" bentak Deinn padaku, sontak aku memalingkan wajah dan menatapnya datar. Ivan masih bersikap tenang, sama sekali tidak tersinggung dengan tingkahku yang kekanakan, namun justru Deinn yang kesal karena aku sudah menolak kebaikan hati Ivan yang sangat jarang terjadi.
Harus kuakui, Ivan memang baik sekarang tapi tidak di hari-hari sebelumnya, dia dulu dan yang kulihat hari ini begitu berbeda sikap dan sifatnya.
"Kesempatan menuntut ilmu di negeri orang itu adalah kesempatan yang jarang terjadi untuk anak-anak yang tinggal di pelosok seperti kita, dan kenapa kau malah menyia-nyiakan itu semua?"
Itu karena aku tidak pergi kemana-mana, sahutku kesal dalam hati. Aku memilih diam saja saat Ivan kembali berbicara tentang betapa pentingnya belajar hal-hal baru, tapi aku terus menggerutu dalam pikiran. Sebab tak akan ada seorangpun yang bisa membaca apa yang sedang kupikirkan, jadi aku tak perlu takut ada yang mengetahui isi hati atau yang kuucapkan di pikiran.
Di dalam diriku aku aman.
"Ya, kau malah kembali ke desa dalam keadaan linglung seperti orang yang hilang ingatan." Albert ikut berkomentar. Aku menatapnya lekat, Albert selalu menjadi penengah di antara kami karena dia yang paling dewasa dan bijaksana. Namun melihatnya yang sekarang, justru dia lebih seperti Ivan yang dulu.
Mereka benar-benar membingungkan.
"Aku tahu kalian tak mempercayai ucapanku, tapi percayalah. Selama 4 bulan ini aku tidak kemana-mana. Tidak ke luar negeri atau bahkan ke China!"
Deinn dan kakaknya saling pandang. "Bukannya China di luar Rusia? Sudah pasti itu di luar negeri sana," jawab Deinn—anak yang bertubuh lebih jangkung dariku.
"Sungguh, aku tak pergi kemanapun! Aku selama ini di rumah karena aku harus menjalani perawatan, aku dalam masa pemulihan!" Aku berusaha menjelaskan keadaanku kepada ketiga teman yang sekarang menatapku dengan pandangan iba.
Seperti yang kuduga, salah seorang di antara mereka angkat bicara. "Tenanglah, kau hanya tak ingat apa yang kau lalui," tutur Albert. "Mrs. Beatrix dan orang tuamu jelas-jelas mengirimkanmu ke Beijing, kau tinggal di sana selama empat bulan. Jika kau mau, nanti kita lihat dokumennya.
"Ya, kau harus melihat sendiri rekap nilai, tanda tangan, dan cap orang tuamu yang menyetujui keberangkatanmu ke Beijing." Albert kembali menambahkan, "Dan kau sama sekali tak mengabari kami sebelumnya mengenai kabar baik itu."
Aku benar-benar muak dengan pembahasan yang berputar-putar ini. "Dengar, aku tidak berbohong, okay? Aku bersungguh-sungguh. Besok aku akan menanyakannya langsung kepada Mrs. Beatrix mengenai kebohongannya yang menyatakan bahwa aku telah pergi dari desa ini selama 4 bulan lamanya," jelasku memberi paham.
"Aku mendekam di rumah selama berbulan-bulan karena sedang dalam keadaan sakit, tapi malah disebut pergi ke luar negeri? Aku bahkan tak mempunyai hal-hal yang diperlukan dalam perjalanan ke luar negeri, itu benar-benar tak masuk akal."
"Kalau begitu, kenapa tak mulai dari orang tuamu lebih dulu? Kau bisa bertanya langsung dengan mereka," tantang Ivan yang sedari tadi diam memperhatikan.
Aku mendadak gugup dan berkeringat dingin. "Aku ingin melakukannya, aku sangat ingin pertanyaan itu terjawab. Tapi aku tak berani, aku takut mereka marah," jawabku jujur.
Aku tak peduli dianggap pengecut oleh Ivan atau yang lain, aku hanya tak ingin membuat orang tuaku lebih mengkhawatirkanku lagi jika mereka mulai berpikir bahwa anak mereka mengalami gangguan psikis setelah kehilangan ingatan dalam beberapa bulan saja.
"Okay, tapi kau tidak bisa bertemu dengannya besok di sekolah, karena Mrs. Beatrix sangat sibuk, dia juga ada keperluan di luar kota sehingga baru bisa ditemui lusa."
"Ya, kalau hari ini dia masih ada di rumah, jadi tak masalah jika kau ingin ke sana sekarang."
Aku teringat fakta bahwa besok aku sudah harus masuk sekolah, tapi tidak apa-apa. Aku sudah belajar giat untuk mengejar ketertinggalanku selama beberapa bulan ini. Aku sering bertanya kepada Ibu atau Ayah dan dengan senang hati mereka membantuku belajar.
Kami tidak berpatok pada pembahasan guru yang harus sama persis dengan materi yang ada di buku, jadi aku tak panik saat harus mencatat berbagai materi yang kutemukan di buku paket.
"Baiklah, karena besok aku sudah bisa ke sekolah lagi, aku akan menunggu hingga lusa untuk bertemu dengan Mrs. Beatrix di sana. Aku akan melihat berkas-berkas yang menyatakan kepergianku itu oleh pihak sekolah."
"Sungguh? Kau berani melakukannya?" Deinn tampak tertarik dengan pemikiranku.
Aku mengangguk. "Ya, aku akan memastikannya dengan kedua mataku sendiri," jawabku datar sebelum kembali melanjutkan, "bahwa sebenarnya aku tak pernah mengikuti kegiatan beasiswa atau semacamnya, dan tinggal di tempat yang jauh dari rumah. Walau itu merupakan keinginan sekolah dan orang tuaku langsung, tapi aku harus bertanya dan berhak menolaknya, kan?"
Ketiga sahabatku diam tak berkomentar, memberi reaksi pun tidak. Jika mereka hanya diam, itu menandakan mereka tak ingin membahas lebih jauh.
"Omong-omong, lama juga, ya," ucapku berbasa-basi, aku berusaha memberi suasana yang berbeda di antara kami berempat. "Ternyata kita sudah berada di luar sini selama sekitar ... satu jam?"
Ivan terkejut. "Sungguh? Aku tak menyangka akan selama itu!"
"Ya!" timpal Deinn. "Memang lama, karena kita hanya membicarakan sesuatu yang tidak jelas secara terus-menerus dan berputar-putar di tempat. Sangat membosankan."
Deinn melirikku, aku pura-pura tak melihatnya.
"Kalian sudah sarapan?" tanyaku, dan mendapat gelengan kepala yang kompak dari mereka bertiga. Aku tersenyum semringah. "Bagaimana jika kalian makan pagi di rumahku?"
Ivan tersenyum senang dengan gagasan itu, ia sampai bertepuk tangan layaknya anak kecil yang mendapat hadiah.
"Baiklah, kami mau." Albert tersenyum dan menepuk pundakku. Aku lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah. Kami menuju dapur dan di sana keluargaku sudah selesai menyantap sarapan.
Aku langsung menghampiri meja yang sedang dibersihkan Bibi. "Ah, punya Aaron mana?"
"Kami pikir Aaron pergi tadi, jadi sarapannya disimpan dulu."
Aku lantas merengek dan protes saat keluargaku makan lebih dulu dariku.
"Sudah, sudah. Kau makan sendiri saja," sahut Ibu yang berdiri di depan wastafel. Aku lalu menghampiri Ibu dan berbisik meminta izin kepadanya untuk mengajak ketiga sahabatku makan pagi bersamaku.
Ibu tampak terkejut. "Kau ingat teman-temanmu?" tanyanya. Aku mengangguk dan memberitahunya bahwa Ivan, Deinn dan Albert—teman-temanku—telah datang berkunjung dan mereka sekarang ada di depan pintu dapur.
"Kenapa tidak bilang? Suruh mereka masuk."
Tanpa dipanggil, tiga orang temanku muncul dari arah pintu sambil tersenyum lebar. Mereka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian belum sarapan, kan? Duduklah, biar Bibi siapkan."
***
Selepas makan, aku mengajak teman-teman ke kamar. Aku berniat menunjukkan barang-barang peninggalan Elena kepada mereka. Aku ingat ada menyimpan potret lengkap kami berlima. Saat itu sekolah kami menyelenggarakan festival tahunan musim semi, dan ada acara pentas untuk anak-anak.
Aku mencari foto tersebut di dalam album kenangan, dan begitu melihatnya aku langsung tersenyum semringah.
"Hei, hei, coba lihat ini." Aku memanggil ketiganya yang sedang duduk di pinggir ranjang. Ivan yang penasaran lebih dulu menghampiri.
"Lihat, ini kita berlima bersama Elena." Aku menunjuk semua orang yang ada di foto. "Ini aku saat mengenakan kostum domba, ini Ivan dengan kostum pohonnya. Hahaha, coba lihat! Ini Deinn dan Albert jadi serigala."
Aku memandang haru foto kenangan itu. "Dan ini ...," bisikku sambil menunjuk seorang gadis kecil berkerudung dan jubah merah. "Elena. Waktu itu dia tampil jadi Red Riding Hood. Cantik, ya?"
Teman-temanku kembali kebingungan. "Yang mana?" tanya Ivan.
"Ini," tunjukku sambil menyodorkan foto lawas itu kepada mereka. "Sungguh kalian tidak ingat Elena? Dia gadis berambut emas, campuran pirang dan kuning. Indah seperti emas yang berkilauan. Rambutnya panjang sampai hampir menyentuh pinggang, dan sedikit bergelombang di ujung bawahnya."
Mereka hanya diam. Aku tertawa, mereka pasti mengingatnya. "Mustahil kalian tidak ingat gadis secantik ini. Dia primadona desa kita, loh."
Aku menunggu pertanyaan itu terjawab dengan perasaan tak menentu. Jantungku berdebar kencang, tapi aku tetap mencoba untuk selalu berpikir positif. Aku akan membuat mereka mengingat Elena kembali.
Setelah ingatanku kembali, aku baru tahu jika ada banyak hal ganjil yang kutemui. Mulai dari Ibu dan Ayah berbohong kepada teman-temanku dengan mengatakan aku tidak ada di rumah dan pergi ke luar negeri selama 4 bulan, padahal aku tidak pernah kemana-mana kecuali ke rumah sakit. Itu juga hanya sekali.
Ditambah lagi kebohongan itu dibuat oleh Mrs. Beatrix yang menjadi wali kelas kami di sekolah. Dia mengatakan aku siswa terpilih dan harus pergi ke luar negeri. Jelas itu sebuah kebohongan. Mereka berbohong dan aku yang dibuat tak habis pikir.
Layaknya orang tua bijak, Ivan menarik napas panjang, lalu membuangnya dari mulut secara perlahan. "Aaron, coba kau ceritakan satu kisah yang menyenangkan tentang kita berlima. Tentu peristiwa yang kita lalui dengan gadis yang kau maksud itu," ucapnya tenang sambil tersenyum tipis.
Dengan percaya diri aku segera menceritakan berbagai kegiatan sehari-hari, dan acara yang kami lalui bersama Elena kepada mereka. Aku sangat antusias, cerita yang kukisahkan pun detail dan jelas, tidak seperti pembohong yang ciri-cirinya adalah mereka Tidak Dapat Bercerita Dengan Detail.
Apabila diminta untuk menceritakan suatu peristiwa, pembohong akan bercerita dengan detail yang sedikit.
Lalu, bila ditantang untuk bercerita lebih rinci tentang peristiwanya, mereka akan merasa kesulitan karena tidak memiliki persiapan. Kita yang bertanya dapat melihat sikap dan isi cerita yang tidak konsisten.
"Oh, menarik. Lalu bagaimana dengan yang lain?"
Aku mendadak gugup saat melihat mereka seperti tidak meyakini ceritaku. Kegugupanku bertambah saat Deinn bertanya, tanganku langsung berkeringat dingin, aku terlihat seperti seorang pembohong dengan ciri-ciri nomor 8 yaitu Tidak Terlihat Yakin.
Pembohong yang sedang bercerita sering terlihat tidak yakin dan merasa tidak nyaman. Mungkin, mereka sedang berpikir untuk mengarang cerita.
Selain itu, si pembohong biasanya merasa khawatir, apakah sesuatu yang mereka katakan dipercayai oleh lawan bicaranya atau tidak. Walau begitu, tidak semua pembohong terlihat tidak yakin.
Meski begitu, aku berusaha untuk tetap tenang dan terlihat yakin dengan apa yang kuceritakan. Aku mempertahankan posisi duduk yang nyaman dan aku menyebut tanggal beserta jam lengkapnya untuk mempertegas ceritaku. Ini untuk menghindari ciri-ciri nomor 9 tentang orang yang sedang berbohong yaitu Ekspresi Tidak Cocok Dengan yang Dikatakan.
Bahasa tubuh atau ekspresi orang yang berbohong seringkali tidak cocok dengan cerita atau pernyataan yang sedang mereka katakan. Salah satu contohnya adalah menggelengkan kepala ketika sedang menjawab “ya”.
Tanda-tanda di atas hanyalah sebagian kecil dari ciri-ciri orang yang sedang berbohong. Walaupun demikian, tidak semua orang yang berbohong pasti memiliki ciri-ciri seperti di atas. Jadi agar mereka tidak menganggapku pembohong, maka aku harus melakukan semua yang berkebalikan dengan ciri-ciri di atas.
Karena beberapa pembohong sudah ahli dalam mengatur cara mereka berekspresi, mengatur gerak tubuh, dan yang lainnya. Terkadang perlu latihan untuk dapat mendeteksi apakah lawan bicara kita sedang berbohong atau tidak.
Mereka tak berkomentar apa-apa setelah mendengar cerita dan penjelasanku. Aku langsung bertanya kepada mereka, "Apa kalian sekarang sudah mempercayaiku? Jadi kalian juga ingat Elena, 'kan?"
Albert menghela napas. "Kami tak akan ingat, seberapa keras pun kau mencoba."
"Tapi ini Elena!" Aku menyodorkan foto lama kami di depan wajah Albert yang langsung menepisnya jauh-jauh.
"Hentikan! Sadarlah, Ron!" Albert lalu menunjukku dan foto itu secara bergantian. "Tak ada anak perempuan di foto itu! Sama sekali tak ada!"
"Kalian bohong," desisku marah.
"Jangan bodoh, Ron. Dari tadi kau hanya menunjuk ruang kosong di foto dan berkata, 'Elena, Elena, dan Elena' padahal kita hanya berempat di situ!"
"Ti-tidak mungkin ...." Aku berbisik lirih. "Di sana ada Elena!"
"Kau menganggap kami berbohong?"
Aku menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. "Ya, kalian bohong. Kalian berusaha menyudutkanku dengan berkata di sana hanya ada kita berempat. Jelas-jelas di foto ini ada Elena!"
Aku memungut foto kenangan kami dan kembali menunjuk Elena yang ada di sana. "Kalian tidak mungkin tidak ingat dengan Elena Rikharnova!"
Mereka terkejut. "Apa hubungan gadis itu dengan guru kita?" tanya Ivan yang syok.
Aku menyeka air mataku. "Mrs. Beatrix adalah ibu kandung Elena," jawabku dengan suara bergetar.
"Tidak mungkin," sahut Albert. Ia menggeleng perlahan. "Mrs. Beatrix tak pernah dikaruniai anak."
Ivan membuatku mematung di tempat. "Tidak mungkin," bisikku lirih.
"Kalau kau tak percaya, kita ke rumah Mrs. Beatrix sekarang juga!" usul Deinn yang langsung membuat perutku sakit.
Bagaimana mungkin?