17. Wanita Pengganggu

1741 Words
Aku memberanikan diri buka suara. "Sebaiknya ceritanya ditunda saja, kami mau makan." Dan aku langsung dihujami tatapan tajam oleh semua anggota keluargaku. Mulai dari Ayah, Ibu, Nenek, bahkan Paman dan Bibi. "Aaron, kau tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak sopan seperti itu," tegur Bibi Shelly dengan lembut, matanya tak lagi menyorotku dengan tatapan seakan-akan aku adalah seorang pembunuh. "Cepat minta maaf—" "Ho ho, tak apa, Manis. Aku senang melihat bagaimana anak lelaki ini mempunyai sederet perasaan tak senang yang diperuntukkan hanya kepadaku." Wanita asing mengubah posisinya, ia tak lagi bertopang pada kedua tangannya, kini ia memilih melipat tangannya di meja dan memandangiku lekat-lekat. "Aku suka anak ini," ucapnya sekali dengan senyum lebar. "Aku suka dia, dia akan jadi orang hebat yang sangat kubutuhkan." Wanita itu lalu menyeringai, menunjukkan sederet gigi depan yang menguning bak emas. "Lihat bagaimana dia menyumpahiku dalam pikirannya yang polos. Manisnya~" Aku refleks membungkam mulut, mataku lagi-lagi terbelalak lebar karena ucapan yang mengejutkan itu keluar dari mulut sang wanita. "Kau adalah yang terpilih." Ibu dan Nenek tersenyum lebar, mereka berulangkali mengucap terima kasih, sementara Ayah hanya tersenyum, tapi tak menampik bahwa wajahnya menunjukkan kepuasan yang luar biasa. Hanya Paman dan Bibi saja yang bersikap biasa. Aku tak mengerti, siapa yang dipilih dan atas dasar apa? Aku menarik napas dalam-dalam dan memandangi Nenek yang sudah kembali normal seperti sebelumnya, ia duduk sambil memandang lurus kepada anak pertamanya—Ayahku. "Nenek kenapa tak makan?" tanyaku dengan suara pelan. Aku bersyukur sekali sebab wanita asing yang menumpang makan di rumah kami kembali menjeda kisahnya yang katanya diperuntukkan untuukku. Anehnya, Nenek menjawab pertanyaanku dan mengatakan tak sopan makan di depan tamu istimewa. Kulihat anggota keluargaku lainnya juga sama sekali tak menyentuh piring makan mereka. Padahal di atas meja sudah tersedia banyak hidangan. Memang piring yang berisikan irisan daging, telur goreng, lidah sapi yang digoreng semuanya sudah habis kumakan. Aku tidak sendiri menghabiskannya, tapi turut makan bersama dengan wanita berambut gimbal yang duduk di seberang kursiku. Aku tak tahu kenapa orang tuaku tak mau makan, tapi sepertinya mereka merasa tak enak hati dengan wanita yang sepertinya sangat kelaparan ini, jadi mereka sengaja membiarkannya makan terlebih dahulu. Bukankah itu seperti kata pepatah, tamu adalah raja? Jadi, siapa pun dia haruslah dilayani dengan baik. Terlepas dari dia orang asing atau bukan. Sebenarnya, itu hal yang bagus, tapi jika orang itu tidak dikenal sebaiknya jangan menerima orang masuk ke rumah sembarangan. Aku pernah lihat di koran, kasus pembunuhan yang dilakukan orang asing di rumah seorang gadis muda. Mengingat berita yang jadi topik utama koran edisi dua bulan yang lalu membuatku cemas. Tak ada yang tahu apa yang akan dilakukan wanita ini? Tadi saja dia sudah mengintimidasiku dengan tatapannya, dia juga menakutiku dengan kalimat-kalimat yang tak jelas maksudnya. Belum lagi keluargaku yang seakan mendukung kegilaan sang wanita. Makin bertambah sakitlah kepalaku ini dibuatnya. Nenek tak merespon pertanyaanku, dia bahkan tak melirik cucunya kni, walau begitu aku tetap bisa memakluminya atas sikapnya yang satu itu karena Nenek memang selalu memperhatikan atau datang padaku ketika ada maunya saja. Seperti ketika dia ingin memarahi seseorang, atau menakut-nakuti anak kecil, pastilah yang dicarinya lebih dulu itu adalah aku. Memangnya Nenek tak sayang dengan cucunya? Aku ini cucu pertama, loh. Laki-laki pula. Seharusnya Nenek bisa bersikap lebih baik dan menunjukkan perhatiannya padaku. "Bibi Shelly tak makan?" Aku bertanya pada wanita yang duduk di sebelah kiriku, di sebelahnya lagi ada Paman George. Bibi tersenyum dan menggeleng dengan gerakan lemah. Apa mereka sudah kenyang? Atau tadi saat aku telat ke bawah, mereka sudah makan tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Ah, tapi masa iya mereka makan lebih dulu dari aku? Padahal seperti kata tabib yang datang ke sini sebelumnya, aku haruslah melakukan hal-hal yang sering kulakukan bersama orang terdekatku agar ingatanku kembali dengan cepat. Apa karena mereka masih merasa tak enak terhadap tamu yang ikut makan dengan keluarga ini, ya? Harusnya mereka juga ikut makan karena merekalah tuan rumahnya. Aku tak habis pikir. Jika dibiarkan seperti ini sampai beberapa saat ke depan, bisa-bisa semua lauk di meja makan habis karena aku dan wanita di seberang kursiku itu sedang sangat lapar. He he he. "Anda masih belum menghabiskan cerita itu ternyata," ucap Ibu tiba-tiba sambil tersenyum dengan menyipitkan kedua matanya. Ibu berbicara kepada sang wanita asing. Aku sedikit merasa aneh saat melihat ekspresi Ibu saat itu, ekspresinya selalu berubah-ubah, tapi aku memilih untuk tetap tenang dan mengabaikan hal itu. Aku makan dan minum s**u cokelatku yang kini sudah dingin, aku dengar jika cokelat itu dalam keadaan panas atau hangat, makan akan terasa lebih nikmat. Sayang sekali karena disibukkan dengan pikiran yang tidak jelas, aku harus membiarkan susunya menjadi dingin. "Saya akan melanjutkan cerita ini setelah anak itu selesai makan." Aku yang hendak menyuap lidah sapi yang empuk ke dalam mulut pun terdiam, gerakanku terhenti. Aku menatap wanita itu dengan sebal. "Cepatlah makan dan dengarkan ceritaku." Aku menurunkan sendok dan bersedekap tangan di d**a. Aku kesal dengan orang sok akrab. Memangnya siapa dia? Menganggu nafsu makanku saja! "Tak apa, kau bisa teruskan ceritanya. Tak perlu menunggu anak ini selesai makan. Dia kalau makan kadang lebih lambat dari siput." Untuk pertama kalinya, aku mendengar paman George berkomentar di meja makan. Raut wajah paman terlihat sekali menunjukkan kegelisahan. Apa paman hendak pergi ke suatu tempat setelah jamuan makan pagi ini? "Ya, ya, aku akan kembali bercerita." Wanita itu terlihat tak suka dengan ucapan paman, tapi setelahnya raut mukanya kembali datar seperti sebelumnya. Aku pikir dia wanita baik seperti kesan yang kudapat saat dia tersenyum, rupanya kesan pertama selalu lebih benar. Huh, wanita jahat. "Aku akan lanjut bercerita." *** "Ya Tuhan, maafkan aku, Tuan James. Terimalah permintaan maaf aku, mari kita lupakan semuanya. ' 'Tidak, itu bukan salahmu.' Petani tua itu tersenyum ke seberang meja dengan wajah sedih. 'Tidak ada yang berbicara tentang anak laki-laki aku. Aku tidak diizinkan. Penduduk setempat berpikir bahwa hanya berbicara tentang dia dan yang lainnya akan membawa lebih banyak kesengsaraan ke desa. " Setelah beberapa saat merenung, dia berkata: ‘Dia anak yang baik. Kami tidak diciptakan untuk kehilangan anak-anak kami. Ya Tuhan…' Mengubur kepalanya di tangannya, dia mulai menangis tak terkendali. Eric tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menawarkan: ‘Aku sangat menyesal. Adakah ... Apakah ada yang bisa aku lakukan? " Menyeka air mata dari matanya, James duduk kembali di kursinya dengan sedih. Setelah beberapa kali menarik napas dalam-dalam dia menenangkan diri dan kemudian berbicara, suaranya bergetar dengan menahan emosi: 'Tidak ada yang tahu kapan itu dimulai, dan tidak ada yang tahu kenapa.' 'Apa yang dimulai?' Tanya Eric, belas kasihnya sekarang dikuasai oleh rasa ingin tahunya. 'Aku dibesarkan di desa ini dan bahkan ketika aku masih kecil orang-orang tidak tahu. Tentu, mereka berbicara tentang cerita-cerita lama, tentang perselisihan antara dua keluarga yang kuat yang telah berlangsung ratusan tahun. "James mencondongkan tubuh ke depan sambil menggaruk janggut yang mulai memutih di dagunya sebelum melanjutkan," Tapi tidak ada yang tahu nama mereka, setidaknya tidak ada yang mau bicara tentang bukit. Akta atas tanah itu mungkin ada di brankas beberapa pengacara dengan pemiliknya menjalani kehidupan mewah di suatu tempat, tidak menyadari harga yang telah kita semua bayar. " 'Tentunya harus ada catatan pemiliknya?' "Aku yakin ada, Nak, tetapi kau tidak akan menemukan siapa pun di sekitar sini yang ingin tahu. Selama bertahun-tahun, orang aneh akan mengabaikan peringatan dan menjelajah ke sana. Biasanya anak-anak berani satu sama lain untuk mencobanya. Tapi mereka tidak pernah kembali. 'James terseok-seok di kursinya dengan tidak nyaman saat air mata mulai memenuhi matanya sekali lagi. 'Anakku ... Dia tidak mendengarkan. Dan seperti yang lainnya, dia naik dan kemudian dia pergi. " 'Tentunya kamu mengejarnya?' Tanya Eric tidak percaya. 'Ya aku lakukan. Aku mencoba untuk naik ke sana, tetapi sama putusnya dengan istri dan anak-anak aku yang lain, mereka menarik aku kembali dari kaki bukit. Mereka tahu itu akan membawa aku juga. " `` Jadi, putramu sendiri bisa saja berada di atas sana, terluka, sekarat, dan kau tidak mengejarnya karena takhayul bodoh? '' Gagasan bahwa mitos dan kebohongan dapat mengakibatkan kematian seorang anak laki-laki membuat Eric marah, namun dia merasa malu pada dirinya sendiri begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. James tiba-tiba terbang ke seberang meja sambil meraih kerah tamu yang sekarang tidak diinginkannya itu, menghantamnya ke kompor tua. 'Kamu pikir kamu sedang berbicara dengan siapa!' James berteriak, suaranya mengguncang Eric sampai ke intinya. Bagi orang tua, dia masih sekuat lembu. Untuk sesaat dia mengira petani itu akan memukulnya, tapi kemudian, dengan cepat, James melepaskan cengkeramannya, membalikkan punggungnya. "Saat kau memiliki tiga anak lain untuk diberi makan dan istri yang akan patah hati, kau juga akan berpikir dua kali untuk pergi ke sana. Selain itu, beberapa anak laki-laki dari desa membantu istri aku dan yah, tidak ada yang akan membiarkan aku pergi. Bukan karena mereka memedulikan aku. yah, mungkin beberapa memang begitu. tetapi terutama karena mereka terus hidup dalam ketakutan akan tempat itu, tentang apa yang ada di sana. Bahwa itu mungkin turun dan mengunjungi kita semua. " Sambil menegakkan kursi, petani tua itu menuliskan tanda tangannya di kertas yang tersisa dan kemudian meminta Eric untuk pergi, yang dia lakukan setelah menawarkan permintaan maafnya sekali lagi. Di pintu, kedua pria itu mengucapkan selamat tinggal yang sopan dengan James hanya menambahkan: 'Ada pepatah lama di sekitar sini: "Sebaiknya tinggalkan saja". kau akan bijaksana untuk mendengarkannya. " *** Meskipun terguncang oleh reaksi mudah berubah dari petani tua itu atas pertanyaannya, Eric masih yakin bahwa dia ingin mengunjungi bukit itu. Mengetahui bahwa orang-orang di desa akan mencoba menghalangi atau bahkan secara fisik menahannya untuk melakukannya, dia bertekad untuk segera mengemudi ke sana dari pertanian. Saat dia berjalan, dia berpikir bahwa mungkin beberapa hal baik bisa datang darinya. Dia bisa mematahkan rasa takut mereka akan tempat itu, tetapi lebih dari itu sikap keras kepalanya yang sekarang memotivasinya. Dia ingin membuktikan bahwa dia benar, dan jika dia menemukan sebidang tanah yang sempurna untuk pengembangan dalam prosesnya, itu lebih baik. Menuju ke sana lebih merepotkan daripada yang dia perkirakan sebelumnya. Meskipun ada jalan desa kecil yang menuju ke kaki bukit, ternyata jalan itu diblokir oleh penduduk desa. Susunan lempengan beton besar, batu bata merah, tiang kayu tua, dan bahan buangan lainnya telah dibuang begitu saja di kedua ujung jalan, membuat masuk dengan mobil tidak mungkin dan hanya dengan berjalan kaki dengan susah payah. Melihat jarak yang sangat nyata dan fisik yang akan ditempuh penduduk setempat untuk menghentikan siapa pun mengakses bukit, Eric merasakan dorongan yang semakin besar untuk mencapai puncaknya dan kemudian kembali ke desa untuk memberi tahu orang-orang di bawah betapa konyolnya mereka."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD