11. Pemulihan Ingatan

2247 Words
    Aku memulai proses pemulihan kesehatanku dengan cukup baik pada Minggu pagi. Sama seperti kemarin, hari ini aku akan mengelilingi rumah dan halamannya sembari memperhatikan seluk-beluk setiap ruangan yang ada di rumah yang katanya sudah kutinggali sejak kecil ini. Barangkali, aku akan menemukan serpihan ingatan yang tertinggal di sana.     Sudah dua hari sejak aku bangun dari tidur panjang yang kabarnya telah berlangsung selama dua bulan lamanya. Selama itu juga aku terus berbaring di atas tempat tidur, orang tuaku dan juga Nenek menjagaku secara bergantian. Dokter maupun tabib datang silih berganti memeriksa keadaanku saat kedua mata ini terpejam.     Aku sama sekali tak mengingat ataupun menyadari kehadiran mereka di dekat tubuh kurusku, aku benar-benar terlelap seperti seorang putri tidur—tentu dengan versi laki-lakinya.     Ibu dengan sabar selalu mengganti seprai dan sarung bantal di kamarku setiap dua minggu sekali. Pakaian yang melekat di tubuh yang tak mendapat asupan makanan selama hampir dua bulan pun tak luput dari tangannya yang lentik. Ibu merawatku dengan sangat baik, dia memandikanku dan mengelap aroma tak sedap yang menempel di belakang telinga dengan sangat terampil menggunakan sapu tangan yang basah ujungnya.     Koma, itulah keadaan yang dikatakan oleh dokter kepada orang tuaku—yang telah disampaikan dengan jelas oleh Ibu pada hari di mana aku sadar dan masih dilanda kebingungan. Keluargaku menolak untuk merawatku di rumah sakit besar yang ada di ibukota, sebab mereka ingin merawatku di rumah dan memperhatikan tiap gerakan yang mungkin saja kubuat ketika tak sadarkan diri itu. Padahal fasilitas di sana lebih lengkap daripada hanya merawat di rumah saja, tapi keluargaku berhasil meyakinkan dokter untuk tetap membiarkan aku tidur di tempat tidurku sendiri. Oleh sebab itu, terkadang dokter atau tabib akan datang ke rumah dan memeriksa keadaanku.     Ibu selalu menungguiku di sebelah ranjang setelah pekerjaan rumah selesai dikerjakannya, terkadang Ibu akan menangis jika tak melihat tanda-tanda bahwa aku akan bangun dengan cepat. Dia benar-benar ketakutan saat memikirkan apakah besok dia masih bisa mendengar detak jantungku serta melihat dadaku yang naik turun karena menghirup oksigen ke dalam paru-paru.     Ayah juga melakukan hal yang sama seperti yang istrinya lakukan. Jika Ibu tak bisa memandikanku di suatu waktu, maka Ayahlah yang akan menggantikan posisi itu dan membersihkan anak satu-satunya dengan baik. Ibu bahkan berkata, tiap malam Ayah akan tidur di sebelah ranjang dengan hanya berbantalkan lengan besar berbulunya.     Aku terharu mendengar perhatian yang mereka lakukan untukku ketikaku koma selama itu, cerita dan pengorbanan mereka sangat menyentuh titik kosong yang tak pernah terisi selama dua bulan lamanya di dalam hatiku. Bahkan setelah kebaikan yang tak akan cukup kubalas hanya dengan ucapan terima kasih itu, aku malah melupakan keduanya beserta makna kehadiran mereka untukku.     Menyedihkan. Namun setidaknya, aku masih bisa mengumpulkan kepingan ingatan ini secara perlahan dan mengingat kenangan demi kenangan milik kami sekeluarga. Memang, semua perlu waktu. Tapi aku percaya aku bisa mengingat kembali semuanya.     Demi Ayah dan Ibu, demi Paman dan Bibi juga Nenek yang terlihat tak peduli meski kenyataannya beliau adalah sosok yang terus memaksa orang tuaku untuk memanggil dokter atau tabib ke desa terpencil ini.     Aku sangat bersyukur, sebab dianugerahi keluarga yang begitu peduli, serta kasih sayang yang mereka limpahkan tanpa henti. Perasaan tulus yang datang secara terus-menerus dan tak ternilai harganya. Hanya untukku seorang. Aku sangat bahagia, dan aku yakin aku pasti bisa mengingat mereka kembali setelah berbagai hal baik yang kudapatkan ini.     Aku akan pulih dan sehat seperti sebelumnya, serta mendapatkan ingatanku kembali.     ***     Selama dua hari ini, semenjak aku sadar dan masih rutin meminum obat, Ayah dan Ibu sering datang ke kamar dan secara bergantian menceritakan sebuah cerita padaku. Ada banyak hal random yang mereka bicarakan, namun mereka selalu menghubungkan cerita-cerita ini denganku. Berharap cerita itu akan membuatku mengingat kenangan masa kecil yang menyenangkan, sekecil apa pun pengaruhnya padaku, mereka akan terus mencobanya. Bahkan jika perlu, mereka bisa menceritakan isi dunia ini untuk membuatku tahu bahwa akulah sang Aaron Demien, putra kesayangan mereka yang teramat mereka kasihi.     Mereka juga menceritakan apa yang pernah terjadi di rumah ini, seperti kapan rumah ini dibangun dan warna dinding kamar sebelum dicat dengan warna putih. Ibu memberitahuku kartun kesukaan yang selalu kunonton secara berulang-ulang di DVD Player, bahkan Ibu juga menceritakan celana dalam bergambar Mickey Mouse yang sering kugunakan meski karetnya sudah longgar.     Mereka tak menyerah terhadap kondisiku yang terlihat seperti orang linglung saat ini, berharap dengan cerita-cerita yang terjadi di masa lalu itu, aku bisa mengingat sesuatu atau lebih bagusnya lagi aku bisa kembali pulih seperti sebelumnya.     Aku senang, karena akhirnya aku bisa mengingat semua peristiwa yang terjadi dalam hidupku satu per satu.     ***     "Aaron, apa mau minum s**u lagi?"     Suara lembut Ibu selalu bisa membuatku kembali ke kenyataan, aku yang sedang duduk di sebelah rumah sembari menatap bunga mawar pun terkesiap, kemudian menoleh dengan cepat ke arah datangnya suara. Kulihat Ibu memakai syal berwarna merah marun yang selalu dipakainya ketika hendak keluar dari rumah. Penampilannya saat ini pun membuktikan semua itu dengan jelas.     "Ibu mau pergi kemana?" tanyaku tanpa mengubah posisi, masih duduk berjongkok di depan tanaman yang telah dirawat Ibu sejak aku berusia lima tahun. Ibu begitu menyayangi taman kecilnya ini, itulah sebabnya dia masih mengingat detail tak pentung seperti itu dan menceritakannnya lagi padaku.     "Ibu mau pergi ke rumah keluarga Blouse," jawabnya ramah. "Ada yang ingin Ibu tanyakan kepada ibunya Albert dan Deinn."     Dengan gerakan lugas, Ibu memperbaiki syal yang mengitari lehernya, lalu menyampirkan anak rambutnya yang menutupi wajah, Ibu pun kembali bertanya padaku, "Apa Aaron mau ikut?"     Aku spontan menggeleng dengan lemah, menolak halus tawaran tersebut. Sejujurnya, aku masih belum ingin menemui siapa pun dengan keadaan yang cukup memprihatinkan ini. Sebab aku sadar, menemui orang selain keluargaku hanya akan menambah kebingungan ketika mereka memberitahukan banyak informasi padaku. Terutama, yang akan Ibu datangi ini adalah keluarga Blouse.     Berdasarkan cerita Ibu sebelumnya, Blouse adalah nama belakang dari dua orang sahabat dekatku, Albert dan Deinn. Ibu sepertinya ingin mempertemukanku dengan Alyna Blouse, ibu dari kedua anak itu.     "Sayang sekali, Ibu pikir kau akan ikut kali ini." Ibu memasang ekspresi kecewa, matanya memandangiku sayu seakan tak puas sebab ada sesuatu yang tak akan bisa terselesaikan hanya dengan bertanya tanpa membawa langsung orangnya. "Setidaknya kita bisa ke sana dan menanyakan beberapa hal seputar mengatasi hilangnya ingatan seseorang, sebab dulu Deinn pernah mengalaminya saat dia masih kecil."     "Siapa tahu setelah mendengarnya, kau bisa mengingat-ingat kembali apa yang telah kau lupakan selama dua bulan ini."     Aku tertarik dengan gagasan itu, belum lagi sempat-sempatnya aku tercengang saat mengetahui bahwa Deinn pernah hilang ingatan, sama sepertiku sekarang ini.     "Baiklah, aku ikut—"     "Tahan sebentar." Mendadak Ayah datang dari dalam rumah dan berjalan tergesa-gesa menghampiri aku dan Ibu yang sedang membicarakan hal serius. Lalu Ayah kembali melanjutkan apa yang hendak dia ucapkan sebelumnya. "Aaron, kau tak perlu ikut hari ini," ucapnya mengagetkanku.     "Cepat masuk ke dalam, dan tunggu Nenek Meida datang dan memeriksa keadaanmu." Pria yang kupanggil Ayah dan terlihat masih muda itu telah mengeluarkan titahnya padaku. Aku bergeming, terdiam seketika.     Aku menatap Ayah selama seperkian detik. Jujur, aku bingung dengan permintaannya itu, padahal aku ingin sekali ikut dengan Ibu dan menemui teman lama yang kumiliki. Barangkali, dengan cara itu, ingatanku akan kembali padaku.  Meski masih dilanda kebingungan, aku mengerti semua yang dilakukan Ayah adalah demi kebaikanku. Dengan cepat aku mengiakan ucapan Ayah. Aku tak mungkin membantah apa yang telah dikatakan oleh kedua orang tuaku, karena aku yakin apa yang mereka lakukan ini adalah semata-mata untuk melindungi diriku.     Mereka tahu yang terbaik untuk seorang anak yang tak mengetahui siapa identitasnya yang sebenarnya.     Nenek Meida sendiri adalah seorang tabib desa yang terkenal di daerah ini berkat ramuan tradisionalnya, sejak aku dirawat di tempat tidur selama dua bulan itulah Nenek Meida sering memberikanku salep khusus untuk menjaga kehangatan tubuh dari dinginnya udara malam hari. Setelah bangun pun, dia tetap memberikanku ramuan yang berkhasiat memulihkan stamina dan meningkatkan imunitas tubuh. Dia begitu baik, meski keriput di wajahnya yang sangat banyak itu membuatnya terlihat mengerikan. Kulit yang menggantung di bawah matanya membuat matanya cekung seperti seorang nenek sihir. Tapi aku yakin dia memang sosok yang baik. Buktinya Nenek Meida sering menceritakan sesuatu yang baru tentang hal-hal unik di sekitar tempat tinggalnya yang lama.     Aku melepas keberangkatan Ayah dan Ibu dengan lambaian tangan, meski kutahu keduanya tak akan pergi terlalu jauh, hanya saja aku mulai sering merindukan mereka. Perlahan-lahan, aku sudah lebih terbiasa dengan lingkungan tempat tinggalku ini. Meski ingatanku masih belum menemukan tempatnya kembali, tapi aku percaya aku pasti bisa mendapatkannya lagi.     Semua demi orang-orang yang peduli denganku, mereka menunggu sejak aku koma, hingga mendapatkan kembali ingatan ini.     Aku berajak dari teras setelah memastikan Ayah dan Ibu telah cukup jauh dari halaman. Aku pun menaiki anak tangga dengan hati-hati agar tidak terjatuh karena kayu di pijakan tangga itu terlihat sudah mulai lapuk. Aku hendak masuk ke dalam dan meminum s**u yang tadi Ibu katakan, hingga sebuah suara serak menginterupsi niat itu.     "Aaron, waktunya kunjungan."     Aku seketika berbalik dan memandang siapa yang berbicara. Oh, dia sudah datang! Buru-buru aku turun dan membantu wanita tua itu menaiki tangga rumah. Nenek Meida berdiri di sebelah tiang utama penyangga teras yang berada di dekat anak tangga, dan aku sama sekali tak menyadari kehadirannya tadi.     "Naiknya pelan-pelan, Nek," ucapku sembari menuntun Nenek Meida menaiki tangga dan masuk ke dalam rumah. Dibandingkan dengan nenekku yang berbadan kurus dan ringan, tabib desa ini berbadan sedikit tambun dan jalannya harus menggunakan tongkat kayu yang terbuat dari kayu gaharu yang dicat warna cokelat muda. Ada ukiran berbentuk seperti burung di bagian gagang. Menarik, aku selalu antusias memperhatikan tongkat yang selalu dibawa-bawa oleh Nek Meida ini kemana-mana. Oh, informasi ini diberitahukan sendiri oleh sang pemilik tongkat itu sendiri.     "Di mana Carrol?" tanya Nenek Meida setelah berhasil kududukkan di sebuah sofa berwarna hijau lumut. Matanya yang berwarna cokelat gelap memandangi ruangan dengan tatapan menyelidik. Carrol sendiri adalah nama nenekku, terdengar seperti nama anak yang muda sekali, benarkan?     "Oh, Nenek sedang bersantai di taman belakang," balasku lembut, "apa Nek Meida mau menyusul Nenek ke belakang?"     Nenek Meida spontan mengangkat tangan kanannya yang kurus dan panjang, seperti tulang yang hanya dibungkus dengan kulit saja. Beliau memberikan gestur, bahwa dia tidak akan masuk ke ruangan seseorang yang telah menjadi temannya sejak puluhan tahun silam. Nenekku ke taman belakang seorang diri karena ingin menikmati terpaan angin seorang diri, itu yang disampaikannya tadi.     Nek Meida sendiri bukanlah seorang dokter yang mempunyai sertifikat dari rumah sakit kota, beliau hanyalah seseorang yang diberikan tugas mengobati mereka yang terluka dengan kemampuannya yang mampu mengenal penggunaan beberapa tanaman herbal liar di dekat hutan.     Meski sudah terlalu tua untuk mencari tanaman obat, setidaknya Nek Meida tetap bisa membantu kami menemukan obat ampuh yang bisa menyembuhkan suatu penyakit.     Walau tak bisa disamakan dengan dokter, bagi kami yang tinggal di desa yang jauh dari kota, kehadiran Nenel Meida yang pandai adalah suatu anugerah yang tak ternilai harganya dan kami menghormati keberadaannya di sini.     "Bagaimana keadaanmu, Aaron?"     "Seperti yang Nenek lihat, aku baik-baik saja," jawabku sambil mengembangkan senyum. Nek Meida menatapku serius, kerutan di keningnya seakan bertambah. Ada yang sedang dipikirkan olehnya, pikirku.     "Apa kau sudah mulai mengingat sesuatu?" Nenek Meida kembali bertanya. Tiap kali dia mengajukan pertanyaan, aku seperti berada di sebuah pengadilan yang siap menjatuhiku hukuman. Dia melakukannya seperti sedang menginterogasiku.     Aku menggeleng dan menyahuti perkataannya, "Belum, Nek. Aku belum bisa mengingat apa pun saat ini."     Nenek Meida manggut-manggut. "Akan lebih baik jika kau tak mengingat apa yang terjadi kala itu," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. Begitu tak terdengar dengan jelas jika saja aku tak memusatkan seluruh perhatianku padanya.     "Aku harus segera mengingatnya, Nek. Aku rindu bermain dengan teman-teman di luar rumah."     Nenek Meida yang semula menunduk, mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Lagi, dia menatapku dengan kening yang berkerut dalam. Entah apa maksudnya. Hening pun terjadi di antara kami berdua. Aku memutuskan beranjak ke dapur dan mengambil air minum untuknya.     "Silakan, Nek." Aku kembali setelah lima menit berada di dapur, aku menyuguhkan teh hitam tanpa gula dan juga beberapa potong kue. Ibu telah mempersiapkannya di dapur, jadi aku hanya perlu menyuguhkannya kepada tamu.     Nek Meida menatap suguhan yang kuberikan.     "Kue Medovik, ya?" Dia berkata sembari mengambil piring kecil tempat kue itu berada. "Banyak variasi dari kue madu yang populer di Rusia, salah satunya kue kecil ini."     Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Ya, Nek, kue Medovik ini dapat dibuat dengan s**u kental, buttermilk, puding atau dengan sour cream asli. Mirip dengan kue lain, lapisan tipis kue yang kali ini diberi madu, akan dilapisi dengan krim manis. Nenek suka manis?"     Dengan gerakan lambat, Nek Meida menyuap sesendok potongan kecil kue Medovik itu ke dalam mulutnya. "Kau ingin tahu, Aaron?" ucapnya disela-sela makannya. "Legenda dulu mengatakan bahwa, bahkan istri Tsar Alexander I sangat menyukai kue ini sekalipun dia tidak suka dengan madu."     "Oh, bukankah dia kaisar pertama di Rusia?" sahutku menebak-nebak, aku tak pernah membuka buku pelajaran lagi semenjak dilarang dokter. Nek Meida menatapku dalam, lalu menggelengkan kepalanya. Gerakannya begitu lemah, cukup wajar karena dia sudah sangat tua.     "Bukan, dia hanya berkuasa sekitar 24 tahun saja," jawab Nek Meida sambil kembali menyuap kue di tangannya dengan begitu lahap, sepertinya dia sangat menyukai kue itu. Aku akan mengatakan kepada Ibu untuk membuat kue itu lagi besok.     "Potongan kue yang berlebih akan dibakar menjadi remah-remah ini, dan digunakan untuk melapisi kue yang disukai sebagian besar orang," ujarnya memberitahu. "salah satunya adalah aku."     Tak lama setelah menghabiskan kue dan teh yang disajikan, Nenek Meida pun bangkit dan pamit undur diri. Aku mengantarkannya ke depan dan menuruni tangga, setelahnya aku kembali masuk ke dalam dan mengurung diri dalam kamar.     Aku pasti akan mendapatkan ingatanku kembali, kapan pun dan di mana pun itu, aku tak akan membiarkan ingatanku mati dan melupakan semua orang yang kusayangi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD