Aku seperti berjalan di tengah kegelapan, tak ada seorang pun yang bisa kutemui di tempat sepi di mana kini aku berada. Rasanya seperti berada di dunia yang hanya ada aku di dalamnya, dunia asing yang dikelilingi oleh cahaya redup yang samar. Cahaya itu semakin meredup, dan kemudian berubah menjadi hitam, menjadi pekat dan semakin misterius.
Aneh, rasanya sangat damai. Tak ada yang kurasakan selain perasaan yang lapang. Berada di tempat ini membuatku tenang dan rasanya seperti semua bebanku berkurang satu per satu hingga akhirnya terbebas dariku, meski aku sendiri pun tak tahu apa yang menjadi bebanku saat ini. Mungkinkah yang sedang kukunjungi ini adalah alam setelah kematian? Tempat di mana yang mati akan kembali kepada pencipta-Nya?
Apakah aku sudah memenuhi tugasku di alam dunia? Apa aku mengerjakannya dengan baik sesaat setelah aku mati?
Jika itu benar, berarti masa hidupku telah berakhir. Aku tak sempat berpamitan dengan Ibu, juga dengan Ayah. Aku pun tak sempat berpamitan dengan Nenek, meski dia selalu usil padaku. Aku juga belum sempat berpamitan dengan semua temanku; Ivan, Deinn dan Albert. Mereka pasti akan sangat merindukanku jika aku pergi untuk selamanya dari dunia ini.
Namun anehnya, hatiku tetap merasakan hampa, meski telah mengingat keluarga dan teman-temanku yang ada di dunia.
Apakah masih ada penyesalan yang tertinggal dalam hatiku? Entahlah, aku tak mempunyai jawabannya.
Seperti ada sesuatu yang masih belum bisa memenuhi relung hati ini yang dipenuhi rasa rindu ini. Ya, rindu. Aku merasakan kerinduan yang kuat kepada seseorang yang bahkan belum pernah kutemui, tapi ... siapa?
Bayangan wajahnya samar-samar terlintas di ingatan, menimbulkan perasaan asing yang lain, namun kemudian wajah itu berubah menjadi gelap lalu menghilang tanpa jejak. Aku tak bisa mengenali wajah itu, pun siapakah pemiliknya. Namun, rasanya tidak asing.
Apakah aku hanya berdelusi berlebihan sebab terlalu lama berada dalam ruang pikiran yang sunyi dan kosong? Aku tak mengerti, rasanya begitu sesak.
Di sini ... di kedalaman hati dan jiwaku ini, sebenarnya ada rongga yang seharusnya terisi penuh oleh seseorang yang begitu berarti dan selalu ada untukku, sampai-sampai namanya terukir rapi di dalam sini, tapi ... bagaimana? Aku sama sekali tak mengerti.
"Aaron! Aaron!"
Di tengah lamunan, aku mendengar suara seseorang memanggil. Suaranya halus, penuh keceriaan, namun sendu dan takut di saat bersamaan. Aku penasaran, siapakah pemilik suara yang indah ini?
"Aaron! Tolong aku!"
Dalam tempat yang gelap gulita itu, suara itu kembali menggema, berteriak dan meminta pertolongan dan terus memanggil-manggil nama. Aku ingin membalas panggilannya, namun suaraku tercegat di tenggorokan. Asing, mengapa hal ini terjadi padaku? Siapa yang baru saja berteriak itu?
"Kumohon, Aaron! Selamatkan aku!!!"
***
Mata yang berat setelah terpejam cukup lama sembari mengarungi alam mimpi dengan cepat terbuka, membuatku terjaga dan untuk pertama kalinya, yang menyapa indra penglihatanku adalah plafon sebuah ruangan berwarna putih s**u. Sepertinya ini kamar milik seseorang. Rasa pening seketika menyergapku tiba-tiba, sesaat setelah aku terduduk dari tempat tidur kayu yang berderit ketika aku bergerak.
Aku diamkan keadaanku selama beberapa saat, dengan pikiran kosong. Lantas bangkit dan duduk dengan hati-hati di pinggir ranjang. Pandanganku masih berkunang-kunang, dan rasa sakit masih terasa membekas di kepala bagian atas. Entah apa yang terjadi, tapi rasanya seperti kepala ini mau pecah.
Aku duduk termenung sendirian di pinggir ranjang, dengan kedua kaki yang bergelantungan bebas. Masih dalam keadaan melamun, aku menyelami alam pikiranku sendiri. Rasanya ada sesuatu yang hilang dalam diri ini, terutama setelah aku mengalami dan mendengar sesuatu di alam mimpiku.
Sebelum-sebelumnya aku juga seperti sedang bermimpi ....
Di dalam mimpi itu, aku melihat banyak hal yang luar biasa menakjubkan. Aku telah masuk ke sebuah hutan yang dikatakan oleh banyak orang sebagai hutan terlarang. Aku juga mengalami berbagai kejadian aneh yang mengerikan, melihat orang-orang bertingkah gila seperti kerasukan setan dan terakhir ... aku melihat seorang gadis kecil yang telah berhasil melarikan diri bersamaku menghilang di kegelapan malam. Namun penyebab hilangnya sang gadis masih belum bisa kupecahkan.
Tapi tetap saja, semua itu terasa nyata, seakan apa yang kulihat di dalam mimpi itu sebenarnya sudah benar-benar terjadi padaku. Saat terjebak di alam mimpi, yang kutahu aku hanya dikelilingi oleh kegelapan pekat, tapi aku yakin semua itu hanyalah mimpi yang masuk secara tidak sengaja ke alam bawah sadarku.
Ya, sesuatu yang aku lihat dan dengar dalam tidur itu hanya bagian dari bunga mimpiku saja.
Mungkin saja yang memanggilku pada waktu itu hanyalah ilusi atau peri mimpi yang sengaja datang berkunjung dan hendak memberikanku sebuah hadiah perkenalan. Peri itu sangatlah baik, tidak seperti Dryad yang tampak jahat. Kau tahu Dryad? Mereka memang seperti peri, namun mereka kejam dan tidak baik.
Dryad adalah makhluk legendaris dari mitologi Yunani. Menurut mitologi Yunani, Dryad merupakan makhluk atau semacam peri yang menghuni tumbuh-tumbuhan, dan dia berwujud wanita. Dalam bahasa Yunani istilah serupa, drys, yang berarti pohon oak. Dari kata ini timbul pengertian mengenai Dryad yakni kaum Nymph yang hidup dalam tumbuh-tumbuhan seperti pohon.
Istilah tersebut sering dipakai untuk menyebut kaum Nymph yang memang tinggal di dalam pohon secara umum. Kuakui mereka sangat cantik, karakter Dryad yang kulihat pertama kali dari mitologi Yunani ini muncul dalam sebuah film fantasi yang berjudul The Chronicles of Narnia sebagai spirit berwujud wanita yang berasal dari pepohonan.
Dia indah dan memukau, tapi terlihat menyedihkan dan menakutkan di saat bersamaan. Benar-benar sebuah perpaduan yang mematikan, tapi aku suka.
Sama seperti mimpi-mimpiku yang lain. Tak ada yang berbeda dari mimpi yang kualami ini dengan sesuatu yang sepertinya benar-benar pernah terjadi padaku sebelumnya. Semua mimpiku tetap sama.
Namun, apa yang kuanggap benar, ternyata tak sepenuhnya benar. Aku terlalu larut dalam kekhawatiran yang tak berkesudahan, sampai-sampai tak menyadari bahwa kekhawatiranku itu adalah sebuah kenyataan yang harus kuhadapi dengan lapang d**a.
Aku khawatir mimpiku itu adalah kejadian yang benar kualami, tapi ternyata ... aku tak ingat apa-apa tentangnya.
Apakah yang terjadi itu bagian dari mimpi ataukah ilusiku semata?
Kepalaku terasa sakit, rasanya semakin sakit ketika aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Pandanganku mendadak buram dan pusing di kepalaku ini tak kunjung reda. Aku hampir memukul kepalaku sendiri jika tak ingat bahwa saat ini aku terduduk di sebuah ruangan yang asing.
Sembari bertanya-tanya, ruangan ini milik siapa? Aku tak bisa mengenalinya, bahkan aku juga tak bisa mengingatnya dalam serakan ingatan yang mungkin saja tertinggal di kepala.
Aku ... tak bisa mengingat apa-apa. Termasuk siapakah aku ini.
Aku refleks menyentuh kepala, tiba-tiba rasa sakit itu bertambah parah saat aku terus saja bertanya perihal siapakah aku ini. Meski begitu, aku tetap gigih dengan apa yang ingin kuketahui, sebab aku masih tak tahu tempat di mana aku kini berada.
Pertanyaan yang sama kembali aku ulangi. Siapa sebenarnya aku ini? Di mana aku berada sekarang?
Tak ada satu pun yang bisa kuingat selain rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerangku. Rasa sakitnya seakan menghujam, membuatku meringis kesakitan saat sakit itu menghujam secara bertubi-tubi. Oh, tuhan ... apa yang terjadi padaku? Setidaknya aku masih dapat mengingat tuhan yang telah menciptakan jiwa dan raga ini.
Dengan tertatih-tatih, aku pun mencoba berdiri dengan kedua kaki kecilku. Seolah ada aliran listrik bertegangan tinggi saat bersentuhan pada lantai, aku dapat merasakan kedua kakiku yang terasa sakit dan kaku ketika digerakkan. Aku lantas berpegangan pada sisi ranjang, lalu beralih meraba dinding kamar yang masih terasa asing untukku, sekadar untuk mencari pegangan ketika mencoba berdiri.
Aku seperti orang yang tidak berdaya dan terlihat sangat lemah. Dibandingkan bayangan samar yang terlintas di kepala, akulah yang paling buruk! Jika ada tentara Inggris yang menyerang dan menangkapku saat ini, mungkin saja aku sudah tertangkap terlebih dahulu dikarenakan kebodohanku ini. Ah, aku sangat menyesal.
Salah satu pertanyaan yang masih terus menggerayangi pikiranku saat ini adalah apakah aku sudah mati? Inikah alam yang dinamakan alam setelah kematian? Sebab, aku hanya melihat ruangan dengan cat putih bersih, bahkan plafon kamar ini juga putih, seprei dari tempat tidur kayu yang kutiduri tadi juga putih.
Ya, aku rasa warna putih memang identik dengan sesuatu yang fana. Misalnya jiwa seseorang yang dibawa oleh sang malaikat maut sering digambarkan berwarna putih dan bersinar terang, atau terkadang muncul dengan warna kuning yang sangat cerah.
Jika jiwa itu berasal dari orang baik, maka cahayanya akan terang benderang. Sebaliknya jika orang tersebut tidak baik, maka cahayanya akan redup dan suram.
Aku terus berjalan dengan lambat, kakiku seperti diberi sesuatu yang berat di belakangnya, hingga membuatku harus menyeretnya perlahan-lahan. Aku menatap jari-jemari tanganku, warnanya putih pucat; seperti mayat. Aku masih tak yakin jika saat ini aku masih hidup, ataukah sudah lama mati. Perhatianku pun teralihkan seketika saat aku melihat cermin di dekat pintu. Karena penasaran, aku mencoba mendekatinya secara perlahan.
"Ah ...." Aku mencoba berdiri tegak di depan cermin, menatap dalam-dalam kedua mata biru yang ada di depanku saat ini. Warna mata ini adalah biru yang indah, warnanya agak gelap dibandingkan biru yang ada di langit ketika siang hari.
Kutatapi sosok di cermin itu, sembari bertanya-tanya, siapa sebenarnya diriku ini?
Seberapa keras pun aku mencoba, aku masih tidak bisa mengingat apa yang telah kulalui dengan sosok ini. Aku hanya tahu jika aku selalu bermimpi aneh dan ini adalah kenyataan yang tak kalah anehnya dengan mimpi-mimpiku sebelumnya.
Telingaku menangkap sebuah suara, aku langsung mempertajam indra pendengaranku dengan tujuan mengenali suara yang datang menghampiri. Suara itu ... terdengar seperti langkah kaki. Sangat cepat dan terburu-buru.
Derap langkah kaki yang begitu cepat terdengar dari arah luar, lalu secara tiba-tiba pintu berwarna putih di dekatku terbuka lebar, hampir membuatku terhuyung ke belakang karena tak bisa mengendalikan diri.
"Aaron!" Suara seorang wanita dewasa mengejutkanku. Sejurus kemudian aku melihat rambut panjang yang lebat milik sosok itu, surainya melambai lembut ketika dia bergerak menghampiriku dengan terburu-buru. Siapa sosok ini?
"Oh, syukurlah, Tuhan! Kau sudah bangun, Sayang!"
Wanita ini memelukku secara tiba-tiba, pelukan hangat yang sarat akan rindu, dapat kurasakan tubuhnya bergetar pelan, dan terdengar isak tangis kecil darinya. Aku tidak tahu siapa wanita ini, tapi tanganku bergerak sendiri mengelus punggung kecilnya.
Aku sungguh ... tak mengetahui siapa dia, namun aku tak tega membiarkan wanita ini terisak ketika memelukku.
"Seandainya penduduk desa waktu itu tak menemukanmu di sana, pastilah Ibu tak bisa memelukmu saat ini, Aaron!"
Aku tercengang di tempat. Aaron? Siapa?
Wanita itu melonggarkan pelukannya, lalu menatap dalam mataku. "Aaron sayang, bagaimana perasaanmu pagi ini? A-apa ada yang sakit, Nak?"
Wanita yang tadi memelukku, memanggilku Aaron. Apakah itu namaku yang sebenarnya?
Jadi, namaku adalah ... Aaron. Dan wanita ini tadi memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ibu, mungkinkah dia adalah wanita yang telah melahirkanku?
Apakah dia ibuku?
"Maaf," bisikku lirih. Aku menatapnya dalam-dalam. "Tapi ... i-ini di mana? Dan A-anda ini siapa?"
Pelukan sang wanita terlepas begitu saja, dan dapat kulihat kedua matanya terbelalak lebar, dia menatapku tak percaya. Seolah apa yang baru saja kukatakan itu adalah sesuatu yang sangat mengejutkannya. Aku tak tega melihatnya, lantas menundukkan kepalaku dalam-dalam, terlalu takut mengangkatnya dan melihat manik kecokelatan milik wanita di depanku.
"Kamu ada di rumah, Sayang. Dan kamu itu anak Ibu, namamu Aaron!"
Aku terpekur di tempat, melihatnya tanpa berkedip.
"Saya tak tahu saat ini saya sedang berada di mana," aku berujar lirih. "Saya juga tak tahu siapakah saya ini."
Aku mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap wanita yang berdiri di hadapanku saat ini. "Kepala ini terasa kosong, tak ada informasi yang saya tahu selain kepingan samar yang kini telah memudar sepenuhnya. Saya juga tak bisa membedakan mimpi ataupun kenyataan yang ada. Saya tak tahu apakah saya orang baik atau buruk."
Aku melihat genangan air mata di pelupuk mata wanita yang memanggilku 'Nak' ini, aku juga melihat kantong mata hitam yang melingkari bawah mata wanita itu. Apa wanita itu tidur dengan nyenyak malam tadi? Dia seperti tak tidur selama berhari-hari.
"A-Aaron ...." Wanita itu memanggil sendu. "Apa kau tak mengingat Ibumu, Nak?" lanjutnya dengan nada pedih. Aku mengangguk perlahan. Ada gurat kesedihan yang terpancar dari sorot matanya. Seperti ada banyak beban yang ditimpakan padanya selama ini, dan kabut di matanya mengatakan padaku jika aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkannya.
Aku tak sanggup berlama-lama menatap kedua matanya yang basah itu, karena aku tak bisa memandangnya dengan wajah yang penuh kegetiran hidup.
Aku tak tahu mengapa, kepedihannya seperti tersampaikan padaku dan membuatku ikut bersedih.
"Maaf," bisikku bergetar. "Tapi saya ... tak bisa mengingat apa-apa."
Jawabanku membuat wanita itu menangis, dan dia kembali memelukku erat. Aku pun tak ingin melepas dekapannya begitu saja. Isak tangis lirihnya memaksaku ikut menitikkan air mata. Aku tak tahu mengapa, tapi perasaannya tersampaikan padaku.
Bahwa wanita ini ... meski aku tak bisa mengingat atau menemukan potongan ingatan yang berhubungan dengannya, ada sesuatu yang membuatku merasa sangat dekat dengannya.
Seperti ikatan batin yang mengikatku dengan wanita ini.
Apakah dia benar-benar ibuku? Wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini? Aku tetap tak bisa mengingat apa-apa, meski aku sudah berusaha keras mengingatnya.
Lagi-lagi terdengar derap langkah kaki dari arah depan ruangan tempatku berada, aku yang menghadap pintu dapat melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahunan tengah berdiri dengan napas terengah-engah. Menatapku dengan mata besar dan warna matanya biru tua, sangat indah.
Pria itu baru saja tiba di kamar ini.
Wanita yang memelukku itu langsung melepas pelukan kami, dan menoleh ke arah sang pria.
"Sayang! A-anak kita ... anak kita! Aaron! Dia melupakan kita!" Wanita itu mengadu kepada suaminya, memberitahu kepada pria itu bahwa aku telah melupakan semuanya. "Aaron tidak bisa mengingat kita sebagai orang tuanya!"
Wanita itu kembali berlinang air mata, tangisannya terdengar begitu pilu. Hatiku ikut teriris melihatnya, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain diam dan menitikkan air mata.
"Anak kita lupa ingatan!" Wanita itu kembali berucap kepada pria yang baru saja memasuki ruangan. "Dia amnesia!"
Pria itu jelas sekali syok mendengarnya. Terguncang dengan kabar yang dibawakan oleh sang wanita. "Aaron, kau sungguh tak mengingat kami, Nak?" tanyanya setelah berdiri tepat di hadapanku.
Aku pandangi matanya lekat-lekat, tak bisa kutemukan kenangan di kedalaman matanya yang seperti samudera. Aku juga melupakan lelaki ini, sayang sekali.
"Maaf," bisikku pelan, merasa bersalah. "Tapi aku tak bisa mengingat apa pun selain kepingan yang memudar dalam ingatan."
Jujur, aku merasa bersalah kepada mereka semua. Mereka peduli denganku dan memberi perhatian yang luar biasa, tapi aku tak bisa mengingat keduanya. Ini memang murni bukanlah salahku. Aku pun tak tahu mengapa ingatanku hilang.
Saat ini keadaanku sudah baik-baik saja, tapi rasa sakit dari orang-orang yang sedang bersedih hati ini turut memengaruhiku secara emosional.
Kenapa aku tak bisa mengingat orang-orang baik ini?
"Wa-walau saya tak bisa mengingat siapa kalian," ucapku berusaha tenang, aku akan menyampaikan apa yang menjadi pikiranku saat ini kepada mereka yang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Ta-tapi saya harap kalian mau membantu saya mengingat semuanya."
"Sa-saya ingin Anda berdua menemani saya menemukan ingatan saya yang hilang ini." Aku harap mereka bisa menolongku mengingat sesuatu yang sudah kulupakan. Aku sangat ingin tahu, ingatan apa yang telah kuhilangkan ini. Dan aku merasa, ini adalah salah satu jalan terbaik yang bisa kuminta dari keduanya.
Wanita yang memanggil dirinya Ibu itu menyeka air matanya dengan punggung tangannya, bibirnya pucat di balik lipstik gelap yang dipolesnya dengan rata. Dia lalu berkata, "Tentu saja, anakku! Tentu saja ... kami berdua pasti akan membantumu mengingat semuanya, Nak."
"Kami akan membantumu mengembalikan ingatanmu yang hilang."
"Ya, anakku. Mulai sekarang, panggillah kami seperti yang seharusnya, Nak. Panggillah kami Ayah dan Ibu, karena kami berdua adalah orang tuamu, Aaron."
"Kau adalah ... Aaron Demien, kau putra dari Mike Rikharnova dan Maria Tyson."
Air mataku jatuh dan mengalir di kedua pipi, dapat kurasakan sesak yang tak kuketahui alasan di baliknya. Ada juga kegetiran yang kurasakan, menggelitik tapi menyakitkan. Mengapa aku melupakan orang tuaku sendiri? Mengapa aku bisa melupakan mereka?
"Terima kasih," ucapku sembari menyeka air mata yang menggenangi pelupuk mata. "Terima kasih sekali lagi, karena kalian sudah bersama denganku dan siap melewati semua ini bersama-sama ...."
"Sekali lagi, terima kasih banyak, Ayah ... Ibu ...."