28. Sang Terpilih

1741 Words
Aku ditemani Ayah dan Ibu ke rumah sakit, kami pergi ke kota besar untuk memeriksa kondisi kesehatanku. Meski telah membaik karena dirawat di rumah selama hampir seminggu, tapi keluargaku ingin mengetahui kondisi kesehatan bagian dalam. Di desa kami tak ada dokter yang memiliki alat untuk memeriksa organ dalam tubuh manusia. Jadi kedua orang tuaku—atas saran dokter yang menanganiku selama terbaring lemah di ranjang—mereka memutuskan untuk mengantarkanku ke kota besar. Kami akan pergi ke sebuah rumah sakit pemerintah yang telah diberitahu lokasinya oleh sang dokter. Dokter itu sendirilah yang berinisiatif lebih dulu dengan merekomendasikan rumah sakit yang memiliki bayaran cukup murah kepada keluarga kecil yang sudah jauh-jauh datang dari desa di bawah gunung. Mereka kini mengelilingi kota Moskow yang indah. "Moskow merupakan kota ketiga termacet di dunia, karena di Moskow 26 persen waktu pengemudi dalam setahun habis di tengah kemacetan." Kalimat itu saya dengar dalam perjalanan saya ke kantor beberapa hari lalu di radio ketika sang penyiar membahas mengenai 10 besar kota termacet di dunia. Seketika saya teringat pengalaman tinggal di Moskow beberapa tahun lalu. Moskow memiliki berbagai moda transportasi publik dengan sistem transportasi yang sangat menunjang kebutuhan masyarakat, sekaligus sebagai upaya mengurangi kepadatan lalu lintas. Kepemilikan kendaraan pribadi baru bisa dirasakan masyarakat Rusia sejak tahun 90an, sehingga sejak periode tersebut volume kendaraan terus meningkat signifikan, termasuk di Moskow. akhirnya seluruh tubuhku diperiksa termasuk kepalaku. Aku harus melalui berbagai tahapan sekali lagi sebelum benar-benar pulih. "Benar tak sakit lagi?" Ibu bertanya setelah dokter yang memeriksa kesehatan mataku dengan alat seperti senter menjauh dari sisi tempat tidur. Aku menoleh pada Ibu dan mengangguk perlahan. Ayah menepuk-nepuk pundakku sambil memujiku dengan tulus. Ayah berkata bahwa dia bangga melihat anaknya masih tampak kuat bahkan setelah melalui hari-hari yang berat dan melelahkan. Aku tersenyum dan berterima kasih. Inilah hari-hari yang kurindukan. Aku sudah bercerita kepada orang tuaku bahwa aku sudah mendapatkan ingatanku kembali. Aku bisa mengingat masa kecilku bersama mereka, bisa mengingat tanggal lahirku dan makanan yang dijual di kantin sekolah. Setelah diberikan resep obat oleh sang dokter, kami harus menebusnya terlebih dahulu di apotik rumah sakit itu sebelum kembali ke kampung halaman kami. Jarak antara rumah sakit dengan pegunungan tempatku tinggal lebih dari 30km. Bisa dibayangkan seperti apa reaksiku kala itu ketika kami tiba di ibukota, apalagi setelah melalui hutan dan beberapa bukit dengan pegunungannya yang tinggi. Ini pertama kalinya aku keluar dari desa dan jalan-jalan di kota selama aku hidup di dunia. Terdengar norak memang, tapi aku tak pernah pergi ke kota karena nenek tak mengizinkan, dia selalu melarang kami bepergian jauh. Ibu dan Ayah terlihat senang sekali melihat aku yang begitu menikmati keindahan kota Moskow. Jalan-jalan kali ini sangat baik untukku yang telah menerima banyak sekali tekanan. "Kau senang, Aaron?" Ibu bertanya sambil mengelus kepalaku. Aku yang memandang ke luar jendela dari dalam bus pun menoleh dan mengangguk dengan antusias. "Ya! Ini surga terindah yang pernah kulihat!" Ayah yang duduk di seberang kursiku tertawa. "Tunggu sampai malam, kau akan semakin terkejut dibuatnya," ucapnya sambil tersenyum tipis, berusaha terlihat misterius. Aku kembali memperhatikan jalanan di luar bus, dan melihat ada kabel-kabel yang menggantung di langit jalanan kota Moskow. "Itu kabel apa?" tanyaku sambil menunjuk keluar. Pertanyaan itu tak dikhususkan kepada siapapun, asal ada seseorang yang mau menjawabnya untukku. Ayah melihat ke arah yang kutunjukkan. "Oh, itu bekas kabel bus listrik," jawabnya santai. "Sebagai moda transportasi ramah lingkungan, bus listrik yang dinamakan trolley bus ini tersambung dengan kabel listrik tepat di bagian atasnya." "Tapi aku tak melihat bus di bawah kabel itu," sahutku merespons ucapan Ayah. "Kurang lebih 1 juta orang pengguna trolley bus setiap harinya menggunakan moda transportasi dengan jalur 370 mil ini di seluruh Moskow dan merupakan yang terpanjang di dunia. Namun, setelah beroperasi selama 83 tahun penggunaan trolley bus mulai secara bertahap dihentikan pada tahun 2016 dan diharapkan berhenti digunakan pada tahun 2020." Ayah membacakan artikel yang dibacanya dari internet, aku terdiam dan berusaha mencerna. "Sejak September 2018 trolley bus tersebut digantikan oleh electric bus tanpa kabel yang nyaris tidak bersuara, lebih luas, nyaman dan dengan desain eksterior yang lebih bagus," jelas Ayah sambil menyimpan kembali ponselnya. Ayah tak pernah menggunakan benda itu di rumah, aku bahkan baru melihat Ayah menggunakan ponsel itu secara langsung di depan mataku hari ini. "Dengan penggunaan e-bus ini, diharapkan jaringan kabel listrik yang semula digunakan untuk trolley bus perlahan-lahan bisa dihilangkan." Ibu tiba-tiba berkomentar. "Nah, bus yang sekarang kita naiki ini adalah e-bus yang dimaksudkan itu." Kami berhenti di sebuah kedai jajanan pinggir jalan dan membeli Pierogi. Bus pun melaju meninggalkan kami yang memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati keindahan kota Moskow. Aku menatap salah satu makanan kesukaan Elena. Makanan ini terbuat dari adonan pembungkus yang tidak beragi, kemudian untuk isiannya akan ditambahkan beberapa komponen dengan cita rasa gurih ataupun manis. Pierogi adalah hidangan lezat khas Polandia yang memiliki bentuk seperti pangsit. Kami membeli cukup banyak dan aku memakan satu pierogi yang rasanya begitu enak di lidah. Pantas saja Elena sangat menyukai makanan ini. Ayah kemudian bercerita, kota Moskow akan terlihat lebih indah jika matahari sudah saling bertukar tempat dengan bulan. Malam hari adalah saat yang pas untuk melihat semua bangunan kota Moskow yang bersinar terang. Kami sekeluarga berjalan beriringan dengan Ayah di depan dan aku di belakang sambil menggandeng tangan Ibu yang berjalan di sampingku. "Itu pabrik cokelat Red October di Pulau Bolotny," tunjuk Ayah pada sebuah bangunan yang terlihat kecil di kejauhan. Kami sedang berdiri di jembatan dekat sungai, dan menghadap langsung ke seberang lautan. "Pabrik itu pernah menjadi produsen cokelat yang paling dicintai di kota ini, membuat dokter gigi begitu laris sepanjang era Perang Dingin." Ayah terkenang masa lalunya ketika masih anak-anak. "Produksi cokelat di pabrik itu pindah tujuh tahun yang lalu, dan bangunannya sejak itu telah diambil alih oleh hipsters Moskow yang pernah membuka campuran berbagai galeri seni unik, restoran, toko pakaian dan klub modis," jelas Ayah dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan." "Apa cokelat di sana enak, Yah?" tanyaku. Aku penasaran dengan rasa cokelat yang membuat Ayah sampai berekspresi demikian. Ayah mengangguk perlahan dan menjawab, "Ya, walau harus membelinya secara diam-diam karena nenek tak suka bila Ayah makan makanan manis, Ayah tetap nekat membelinya. Ayah tak bisa melupakan rasa manis yang begitu unik di lidah pada cokelat itu." Kami pun meneruskan perjalanan dan berencana ke stasiun bawah tanah dan naik kereta. Siang itu tak begitu panas, matahari tak bersinar dengan terik. Kami sangat menikmati jalan-jalan yang sangat jarang kami lakukan bersama ini. Jarak stasiun bawah tanah tidak terlalu jauh dari lokasi kami sebelumnya. Kami membeli tiket terlebih dahulu sebelum naik ke kereta. "Hati-hati kakimu." Ayah memperingatkan kami sebelum benar-benar masuk ke kereta dan membantu kami melangkah dengan baik. Ayah adalah laki-laki terbaik! ( "Dahulu ada istana untuk raja, kami akan membangun istana untuk rakyat". Begitulah kata salah satu arsitek utama dari Metro Moskow dan tur bawah tanah memberikan gambaran yang unik ke dalam jiwa orang Rusia. ) (Tempat ini kompleks, seperti labirin, dan selain penutur asli akan mustahil untuk menjelajahinya, semua tanda ditulis dalam bahasa Rusia. Namun, bisa dibilang ini adalah salah satu sistem kereta bawah tanah terbaik di dunia.) Aku membaca sejarah kereta bawah tanah yang kami naiki, semua informasi itu terdapat dalam brosur yang dibagikan oleh petugas kereta sesaat setelah para penumpang masuk. "Kita tidak akan sampai malam di tempat ini, Aaron." Ayah berkata padaku dan melirik ke arah Ibu yang dengan sigap menjelaskan apa yang tidak kuketahui. "Uang kita tidak cukup untuk berlama-lama di kota, jadi kita akan kembali ke desa siang ini juga, tapi sebelumnya kita harus mencari mobil di stasiun berikutnya dan minta tumpangannya agar kita bisa pulang ke gunung." Ibu menepuk pundakku. "Aaron bisa mengerti, kan?" tanyanya dengan nada khawatir. Aku menatapnya, kemudian tersenyum, dan mengangguk mengerti. Jelas aku tak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal lebih lama lagi di ibukota yang semua barang-barangnya seakan mencekik kami; orang desa. Aku hanya kecewa karena orang tuaku menutupi hal ini dariku. Seharusnya mereka memberitahuku sejak kami naik e-bus dan singgah untuk makan pierogi. Aku yakin harga makanan itu membuat Ayah dan Ibu harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Untuk transportasi umum, harganya dikenakan lebih murah karena itu ketentuan dari pemerintah. Aku lebih menyesal lagi karena terlambat menyadari hal ini. Padahal sejak mereka mengajakku meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, saat itu seharusnya aku sudah memahami jika kami tak bisa naik bus lebih lama lagi karena jarak yang jauh akan membuat kami semakin sulit kembali ke desa. Ayah, Ibu, maafkan ketidaktahuanku. *** Perjalanan yang memakan lebih dari tiga jam dengan menggunakan mobil (tidak termasuk saat menaiki kereta dan bus) akhirnya menemui akhir saat aku melihat jalan sempit yang berada di tengah-tengah hutan lebat. Kami diturunkan pemilik mobil di depan jalan itu dan membayar sejumlah uang karena tumpangan itu tidaklah gratis. Kami melanjutkan perjalanan ke desa Birdben dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Sebelumnya saat berangkat ke kota pagi tadi sekitar pukul tujuh, kami naik mobil pengangkut s**u milik Paman Sam dan diturunkannya di stasiun e-bus. Ketika itu aku tak tahu jarak yang kami tempuh seberapa jauh, dan ternyata Paman Sam langsung mengantarkan kami ke ibukota. Dia memang laki-laki yang murah hati. Aku dan kedua orang tuaku tiba di depan gerbang desa saat matahari sudah terbenam. Hutan menakutkan yang gelap telah berhasil kami lewati tanpa terjadi apa-apa kepada kami bertiga. Nenek langsung memarahi Ayah dan Ibu begitu tahu kami telah tiba di rumah. Nenek sangat marah karena kami datang pada senja hari yang menurutnya adalah waktu yang tidak baik berkeliaran di luar desa. Sebab menjelang malam adalah saat terbaik untuk makhluk kegelapan menangkap kami tanpa pandang bulu. Aku mencuri dengar percakapan orang-orang dewasa di dekat dapur, berpura-pura mencari minum dan duduk di tengah-tengah mereka dengan wajah polos. Aku harus mendapatkan informasi lebih jauh lagi terkait makhluk yang baru saja Nenek singgung itu. "Itu tidak benar. Kami sudah berhasil masuk sebelum jalan benar-benar gelap, kami rasa tak akan jadi masalah berarti." Ibu membantah tudingan Nenek yang mengatakan kami bertiga kabur ke ibukota untuk mencari tempat tinggal baru di sana. Nenek menatap Ibu dengan tajam, meski matanya tak bisa melotot sepenuhnya karena faktor usia, aku tahu jika Ibu takut dengan tatapan yang Nenek layangkan padanya. Ayah berusaha menjelaskan dan membela Ibu, tapi justru mendapat semprotan serupa. "Bukankah kalian sudah tahu jika Aaron adalah Sang Terpilih!? Kita tidak boleh kehilangannya, dia akan menjadi sosok besar dan kuat di masa mendatang." Selepas kalimat Nenek berakhir, aku buru-buru kembali ke kamar dan mengurung diri dalam kamar. Jantungku berdetak kencang. Apa arti dari Sang Terpilih yang dikatakan Nenek?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD