27. Tekad Untuk Menyelamatkan Yang Terlupakan

1850 Words
Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah Ibu yang sedang menangis sesenggukan, air matanya berlinang dan membasahi pipinya yang memerah. Aku menatapnya tanpa kedip. Mataku masih terasa berat dan bayang-bayang masih menyertai. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, hanya ada Ibu di sana, tidak ada Ayah. Di mana dia? Kualihkan perhatianku kembali kepada Ibu, sepertinya Ibu tak menyadari jika aku sudah bangun. Anak laki-lakinya yang pingsan telah sadarkan diri. Ibu terlalu sibuk menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Aku berusaha menyesuaikan cahaya yang jatuh ke retina mata, rupanya aku ditempatkan di dekat jendela. Aku bisa merasakan cahaya matahari yang menyergapku dengan kehangatannya. Oh, ternyata sudah pagi. Pantas rasanya silau sekali, mataku langsung menggelap secara tiba-tiba, tapi kemudian pulih kembali ke normal. Akhir-akhir ini mataku sudah berjuang keras melawan cahaya yang masuk secara tiba-tiba. Cukup wajar karena aku telah melalui hari-hari yang berat selama berulangkali. Bibir bawah dan atas terasa kering, aku jadi ingin membasahinya dengan saliva, tapi aroma besi karatan di sekitar hidung membuatku mengurungkan niatan itu. Aku baru ingat, meski masih samar dalam ingatan, bahwa hidungku mengeluarkan darah yang cukup banyak, mimisan. Aku menatap langit-langit kamar, dan mengingat apa yang baru saja kualami sebelum pingsan. Aku tak merasakan apa-apa, begitu sadarkan diri, aku sudah di atas ranjang dengan Ibu yang duduk di sebelah ranjang seraya menangis seperti anak kecil. Sakit kepala hebat yang seolah ingin memecahkan kepala itu sudah berhenti, aku tak lagi merasakan nyeri di puncak dan belakang kepala dan aku sangat bersyukur karena hal itu. Sekarang aku hanya merasa lelah sekali. Bahkan aku baru bisa menggerakkan jari-jemari tangan kanan setelah beberapa saat berlalu. Aku mengantuk, tapi aku tak bisa tidur lagi. Ini hanya perasaanku saja, tapi aku ingin melarikan diri sekali lagi ke alam mimpi yang menenangkan. Aku kembali memperhatikan Ibu, dan dia masih menangis di sebelahku, kedua tangannya yang putih menutupi wajahnya rapat-rapat. Mungkin karena itu Ibu tak menyadari jika aku telah bangun sejak tadi. Aku mengangkat kedua tangan perlahan-lahan, tapi hanya satu yang terangkat. Tangan kiriku kesemutan dan aku kesulitan mengangkatnya, jadi aku hanya bisa mengangkat tangan kanan yang tepat berada di depan Ibu yang masih menangis. Aku menyentuh punggung tangan Ibu, terasa halus. Tangan inilah yang telah merawatku sejak lahir ke dunia hingga saat ini. Aku bisa merasakan betapa sedihnya Ibu ketika melihatku terbaring di tempat tidur. Maafkan Aaron, Bu. Ibu tak sadar jika ada yang sedang membelai punggung tangannya, mungkin karena gerakanku sekarang terlalu lemah. Aku tak tega melihat Ibu menangis. Kuturunkan tanganku perlahan, dan mengalihkan pandangan ke tempat lain. "AARON! KAU SUDAH BANGUN?!" teriak seorang pria dengan suara yang nyaring. Suaranya datang dari arah pintu, mau tak mau aku menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri pria bertubuh tinggi dan kurus, meski begitu tangannya selalu mendekapku dengan hangat. Aku sangat senang bisa bertemu lagi dengannya, bersyukur bisa melihat wajah yang selalu memperlihatkan ekspresi tegas itu untuk sekali lagi. "Aaron!" Ibu yang terkejut karena mendengar teriakan Ayah pun langsung bangkit dari tempat duduknya, ia melihat ke arahku dengan air mata yang menggenangi kedua matanya yang tampak sayu, Ibu lalu menangkup wajahku sampai pipiku terasa sakit karena terkena kukunya. Rasanya berdenyut-denyut pedih. "Aaron, kau sudah bangun?! Aaron!" Ibu bertanya dengan suara keras. Aku menganggukkan kepala perlahan, dan Ibu memelukku. Aku kaget karena dipeluk dengan begitu erat dan tiba-tiba, tapi aku tetap tersenyum dan menepuk-nepuk pelan lengan Ibu. Tubuhnya gemetaran, dan mataku terasa panas. Rasa-rasanya aku ingin menangis karena terharu. Ternyata yang mengalami pengalaman menyakitkan tidak hanya aku saja, melainkan semua orang yang terlibat hari itu, termasuk kedua orang tuaku. Ayah yang kurus pun, terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ayah ternyata sudah berdiri di sisi lain dan berseberangan dengan Ibu, sekarang kedua orang tuaku sudah lengkap. Mereka bersamaku dan ada di tempat yang sama, menungguiku. Seharusnya aku tak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi, karena aku memiliki mereka yang tetap berdiri dengan setia. Aku melepaskan pelukan Ibu. "Kenapa kau tak memanggil Ibu, Nak? Kami sangat mencemaskanmu dan bergantian menunggumu sadar. Apa kepalamu masih sakit?" Aku tersenyum lemah mendengar pertanyaan bernada khawatir yang Ibu layangkan, lantas menggeleng lemah sebagai jawaban. Semua tenaga yang kumiliki sudah terkuras karena insiden tadi. Kini, setelah tersadar dari lelap dan bertemu dengan kedua orang tuaku, aku teringat dengan sesuatu yang kulihat di alam mimpi. Itu tidak bersifat khayal, itu bagian dari ingatan yang kualami selama ini dan dari pengalaman itu tersusunlah sebuah kesimpulan. Kesimpulan itulah yang kusaksikan dan menjadi pembenaran. Aku ingat siapa yang kutemui sebelumnya, dialah yang bertanggung jawab atas ingatan yang kembali sepenuhnya padaku, setidaknya aku berterima kasih karena berkat dia aku bisa mengingat sahabatku kembali. Aku ingat dengan kejadian yang membuatku berakhir melupakan segala hal, termasuk Elena dan kedua orang tuaku. Jika bukan karena wanita asing itu, pastilah aku saat ini masih terjebak dalam ingatan kelabu. Terjebak di sana dan tak bisa keluar dari tempat yang membuatku terus merasa bersalah terhadap Elena yang telah kulupakan berbulan-bulan lamanya. Walau sulit kuakui, aku berterima kasih kepada wanita asing yang tak pernah menyebutkan namanya itu. *** Aku menyelam ke dalam memori dan aku melihatnya; diriku beberapa saat yang lalu sebelum tak sadarkan diri. Terdengar helaan napas panjang yang berasal dari wanita itu. Uh, jika diingat kembali, aku akan tetap tak menyukainya. Suaranya seperti dengkuran seseorang ketika tidur. Keras sekali. "Itulah terakhir kali aku melihat Eric, setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi," sesal wanita itu dengan raut wajah sedihnya. Aku masih tetap memperhatikannya, bahkan setelah cerita itu selesai. Dia menceritakan pengalamannya seperti tak pernah mengalami suatu apa pun sebelumnya. "Terima kasih kepada keluarga kecil kalian karena sudah mau mendengarkan cerita bersejarah ini." Aku tak ingat apakah dia pernah berkata ini sebelumnya. Aku memfokuskan diri dan kembali lagi ke dalam memori. Wanita berbadan sedikit tambun itu tersenyum. Bukan sebuah seringai yang menakutkan, melainkan senyum lembut seseorang yang merasa lega. Senang karena ada yang mau mendengarkan ceritanya sampai akhir. "Sekarang, Aaron. Semua ada dalam genggamanmu," ucap wanita itu. Suasana mendadak serius. Keluargaku hanya diam tak bergerak, mereka bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka tersihir di tempat dan tak bisa menggerakkan anggota badannya. "Kau adalah yang terpilih." Aku terhenyak saat menyaksikan seluruh keluargaku mengalami mimisan secara bersamaan. Darah mengalir dari lubang hidung mereka dan mereka tak mengubah posisinya sama darah mengalir turun dari hidung mereka. "Ibu!" Aku memekik dan langsung mengelap hidung Ibu, tapi aku ditarik kembali oleh Bibi Shelly dan dipaksa duduk dengan benar di kursi. Kutatap wajah pucatnya, dia hanya memandang ke arah sang wanita asing. Wanita tanpa nama membacakan sepenggal kalimat yang tak kumengerti apa maksudnya. Dia terus mengulangi kalimat itu sampai membuat keluargaku bereaksi tak wajar. Mereka menggoyang-goyangkan kepala, menyentuhkan garpu di ujung kening mereka, bahkan menyesap darah yang mengalir turun dari hidung ke dagu. Sangat mengerikan! Dan yang terburuk dari melihat semua pemandangan itu adalah sesuatu tak wajar sedang membuatku merasakan suatu perasaan familiar yang hangat. Keberadaan sebenarnya membuat suasana sekitar menjadi lebih tenang, akhirnya dia ada untuk mengawasi Lita selama satu jam. Ini dibahas per satu, dan mau konsep yang keren mengingat proses pembuatannya juga penuh perjuangan banget. Kejadian aneh yang terjadi kepada orang tua serta anggota keluargaku yang lain, seperti meyakinkanku bahwa ada yang tak beres di sini. Menikmati masa remaja, jangan melamun terlalu lama kami dan pergi ke suatu tempat yang ramai. Dengan keadaan yang sama, aku seperti melihat gambaran dengan jelas. Mereka menunggu reaksiku setelah melihat sendiri di mata mereka. Semua jenis peran, ia akan diberikan uang yang setimpal. Tapi kapan itu terjadi? Maksudku, aku tak ingat apa-apa. Ketika kupaksa berpikir tentang siapa yang sedang mencarimu sekali, ini sungguh tak asing bagiku. Mendadak pandangan mataku berkunang-kunang, jantungku berdegup kencang, semua aroma masuk ke hidung dan menimbulkan aroma manis yang kukenal. Raut wajah seseorang yang bahkan tak pernah kutemui, terlihat dengan jelas. Aku bangun dari kursi, mencoba beranjak pergi dari meja makan, tapi kehilangan pijakan. Kepalaku terlalu sakit, sampai kemudian aku kembali terduduk di kursi dan pemandangan terakhir yang kulihat adalah seorang wanita berjubah hitam dengan riasan mata berwarna ungu, sedang tersenyum lebar padaku. Samar-samar aku bisa mendengar suaranya yang berat. "Setelah ini, kau akan mendapatkan kembali semua ingatanmu yang hilang, Aaron." "Tentang hari suci, tentang malam yang indah itu." "Tentang kau yang bertemu dengan para makhluk suci nan agung .... Kau akan kembali mengingat semuanya." Begitu wanita asing itu menyentuh keningku, rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalari seluruh persendian yang ada pada tubuh ini. Ingatanku terkontradiksi dan aku dapat melihat wajah seorang gadis kecil yang sedang menangis ketakutan. Kesadaranku semakin lama semakin terenggut, semuanya menjadi kabur secara perlahan, tapi ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku yang mendadak dipenuhi oleh kilasan-kilasan peristiwa yang familiar denganku. "AAROOONN! TOLONG AKU!" *** Aku membuka mata seketika, napasku memburu dengan cepat. Aku bangun dari tempat tidur dan melihat sekitar dan tak menemukan keberadaan kedua orang tuaku. Aku kini sendirian setelah melihat kenangan pahit. Aku berusaha menenangkan diri, walau masih bernapas tersengal-sengal. "Kau tak akan menjauhiku, 'kan?" Aku terhenyak mengingat kalimat itu, rasa-rasanya seperti aku tengah mendengar Elena berbicara langsung padaku yang sekarang. Aku ingat, saat itu kami sedang bersantai di sebuah tempat, berduaan. "Mana mungkin aku menjauhimu, Elen." Aku terhenyak untuk kedua kalinya, aku melihat diriku tengah duduk di bawah sebuah pohon rindang yang dikelilingi dedaunan cokelat. Saat itu musim gugur dan tidak terlalu dingin. Aku melihat diriku saat itu segera beranjak dari samping Elena. Aku terlihat berjalan beberapa langkah di depan gadis itu. "Cepatlah, sebentar lagi makan siang, kita harus pulang sebelum orang tua mencari kita." Hening. Aku melihat ke arah Elena yang membisu. Saat itu aku tak merasakan adanya pergerakan Elena di belakangku, ternyata dia tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Dia tak terlihat ingin mengikutiku yang ingin pulang ke rumah dengan segera. Dan beberapa saat kemudian, suara Elena yang terdengar pilu membuatku berhenti melangkah. Aku mengamati gadis itu dan menguncinya baik-baik dalam ingatan. "Kau tak akan pernah melupakanku, 'kan, Aaron?" Pertanyaannya saat itu menimbulkan perasaan sesak dalam dadaku. Parahnya, mengingat kenangan kami saat itu justru menambah lubang kosong yang bsrcongkol dalam hati setelah kepergiannya. "Aaron, jangan melupakanku, ya." Aku menoleh, dan yang kudapati adalah Elena yang tertinggal di belakang. Betapapun besarnya keinginanku untuk mendekap gadis itu, nyatanya aku yang sekarang tak bisa menyentuh Elena dalam memori berharga itu. Tanganku menembusnya, tanganku tak bisa menyentuhnya. Aku tertawa getir, aku bahkan tak bisa meraihnya dalam kepingan ingatan yang tersisa darinya. "Kalau Aaron sampai melupakanku, aku jadi sedih, nih!" Elena kemudian tertawa, berusaha mencairkan suasana yang mendadak sepi, gadis itu mengembangkan tawa yang memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Meski terlihat bahagia, aku tahu Elena saat itu hanya berpura-pura. Tawanya tak pernah terlihat seperti terpaksa, kuyakin tawa yang baru pertama kali kulihat itu adalah tawa yang menyimpan banyak kesedihan. Kesedihan terhadap sebuah firasat bahwa aku dan mereka yang dikenalnya, justru akan melupakannya setelah suatu kejadian yang tak disangka-sangka. Kesedihan yang disembunyikannya dengan baik. Dan aku terlambat menyadari semua itu setelah aku benar-benar kehilangannya. Jika saja bukan karena wanita itu, mungkin aku tak akan pernah bisa mengembalikan ingatanku yang hilang. Wanita itu membacakan sesuatu yang membuatku tertidur dan menanamkan mimpi yang langsung mengguncang ingatanku. Elena ... berbekal ingatan yang tertanam dalam memori, aku berjanji. Ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah tekad. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Jadi, tunggulah aku, Elena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD