Kepalaku terus berdenyut-denyut saat ingatan itu menyerang, sakit sekali. Pandanganku rasanya seperti berputar-putar. Aku mencoba bangkit dan jatuh, keseimbanganku lali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Rasa bersalah yang disertai ketakutan hebat ini membuatku tak sanggup menerima kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Sudah pasti aku tak ingin mengakuinya.
Aku menolak mengakui bahwa orang-orang yang hilang setiap tujuh tahun sekali—berdasarkan kisah yang Nenek katakan berulangkali bagai kaset rusak—itu tak pernah kembali lagi ke desa, membuatku terpuruk dalam kenangan berbalut emosi.
Mereka yang dibawa pergi umumnya adalah anak-anak, dan malangnya semua berjenis kelamin perempuan—sama seperti sahabatku, Elena.
Hidungku tiba-tiba terasa panas, begitu kuseka dengan punggung tangan, ternyata yang kudapati adalah cairan merah kental yang mengalir keluar dari sana, menetes perlahan dari lubang hidungku yang sebelah kanan. Rasa sakit yang hebat ini sampai membuatku mimisan.
Aku begitu tertekan. Aku tak tahu cara menghentikan mimisan ini, cairan kental anyir itu terus menitik dan jatuh ke pangkuanku. Aku seakan mendengar deburan ombak di kejauhan, suatu hal yang jelas sangat mustahil.
Aku tahu aku sedang berhalusinasi.
Jutaan tetes air langit menyerang bumi, turun begitu saja dengan derasnya seakan memaksa awan untuk menangis. Petir pun tak sungkan lagi untuk mengaung dan barisan kilat datang menyerbu bersamaan dengan embusan angin yang menerjang alam.
Apakah ini delusi? Setelah deburan ombak, aku mendengar ada badai yang sedang terjadi di luar sana.
Barangkali hujan badai ini akan menyerang dan menghantam apa saja yang ada di hadapannya: mengibaskan dedaunan, mematahkan dahan pohon, menerbangkan lembaran seng, dan mencabut rumput liar, selama tiga jam lamanya. Menjelang tengah malam hujan badai itu berhenti dan berganti keheningan.
Satu angin kencang berpusing menampar dahan pohon dekat jendela kamarku dan meninggalkan sensasi dingin yang menyergap kulit, padahal aku berada dalam kamar yang tertutup rapat. Terdengar dari kejauhan suara sesuatu yang tercabut dan terbang di kegelapan malam disusul suara benturan lainnya.
Bisa jadi itu adalah suara pohon kecil yang ditarik paksa lantas dilambungkan begitu saja oleh sang angin topan.
Terdengar suara gemuruh dari kejauhan yang berangsur-angsur turun dan menuju hutan kemudian menghilang. Daun-daun saling berbisik kompak, sesekali terdengar suara berderak seperti pohon bambu patah atau dahan pohon dipilin, sesuatu bergerak cepat di angkasa kemudian ditelan malam, suara burung terdengar menggeram, tapi segera lenyap.
Dalam kegelapan dan kesunyian malam itu, aku tak bisa bergerak sedikit pun.
Hanya merintih dan menahan sakit di kepala dan dadaku, terpaku menatap kesendirian yang kurasakan. Untuk sesaat, aku mencoba menggeser kaki dan menggerakkan jari-jarinya perlahan. Memastikan aku masih bisa menggerakkannya atau tidak.
Aku takut ketika jari-jari itu tak bisa digerakkan, tak menginjak bumi lagi dan merasakan pergerakan sendi yang menandakan aku masih bernapas, fakta terpampang di depan wajahku. Bahwa aku kehilangan pijakan, bahwa aku kehilangan kemampuan untuk bisa berjalan lagi.
"Ayah ... Ibu ...." Dengan sisa tenaga tersisa, aku merangkak menuju pintu, berusaha mencari pertolongan dari luar kamar. Seluruh sendi tubuhku mendadak kaku, badanku ikut sakit semua.
"To-tolong ...." Aku merintih sambil berusaha terus merangkak ke depan. Sebersit ingatan mendadak muncul dan menghantam perasaan. Aku ingat dengan tingkah laku orang-orang pada malam bulan purnama di hutan terlarang desa kami.
Kepalaku kembali berdenyut dan setitik darah menetes. Sebesar inikah dampak yang kurasakan ketika berusaha mengingat sesuatu secara berlebihan? Tapi aku tak salah apa-apa.
Aku tak sanggup merangkak lagi, ini jauh lebih berat dari yang kupikirkan. Akhirnya aku memilih jalan terakhir, aku menyeret badanku di lantai sekuat tenaga. Menyisakan jejak darah dari hidungku yang mimisan.
Aku bersusa payah, berjuang keras melawan keadaan yang tak pernah kualami selama hidupku. Sekitarku terasa panas, aku mendadak gerah. Peluh membasahi baju tidur yang kukenakan, membuat keringatku mencetak punggungku dengan jelas.
Pandanganku kembali berputar. Tubuhku limbung ke depan. Siapa pun ... tolonglah. Aku lelah, dan kupejamkan kedua mata, saat itu juga ada banyak kilasan ingatan yang telah kulalui bersama orang-orang terdekatku—yang sayangnya terdesak suatu keadaan hingga membuatku terpaksa melupakannya walau hanya sejenak.
***
Aku ... tak bisa mengingat apa-apa. Termasuk siapakah aku ini.
Aku refleks menyentuh kepala, tiba-tiba rasa sakit itu bertambah parah saat aku terus saja bertanya perihal siapakah aku ini. Meski begitu, aku tetap gigih dengan apa yang inginnya kuketahui, sebab aku masih tak tahu tempat di mana aku kini berada.
Pertanyaan yang sama kembali aku ulangi. Siapa sebenarnya aku ini? Di mana aku berada sekarang?
Tak ada satu pun yang bisa kuingat selain rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerangku. Rasa sakitnya seakan menghujam, membuatku meringis kesakitan saat sakit itu menghujam secara bertubi-tubi. Oh, tuhan ... apa yang terjadi padaku? Setidaknya aku masih dapat mengingat tuhan yang telah menciptakan jiwa dan raga ini.
Dengan tertatih-tatih, aku pun mencoba berdiri dengan kedua kaki kecilku. Seolah ada aliran listrik bertegangan tinggi saat bersentuhan pada lantai, aku dapat merasakan kedua kakiku yang terasa sakit dan kaku ketika digerakkan. Aku lantas berpegangan pada sisi ranjang, lalu beralih meraba dinding kamar yang masih terasa asing untukku, sekadar untuk mencari pegangan ketika mencoba berdiri.
Aku seperti orang yang tidak berdaya dan terlihat sangat lemah. Dibandingkan bayangan samar yang terlintas di kepala, akulah yang paling buruk! Jika ada tentara Inggris yang menyerang dan menangkapku saat ini, mungkin saja aku sudah tertangkap terlebih dahulu dikarenakan kebodohanku ini. Ah, aku sangat menyesal.
***
Ibu selalu menungguiku di sebelah ranjang setelah pekerjaan rumah selesai dikerjakannya, terkadang Ibu akan menangis jika tak melihat tanda-tanda bahwa aku akan bangun dengan cepat. Dia benar-benar ketakutan saat memikirkan apakah besok dia masih bisa mendengar detak jantungku serta melihat dadaku yang naik turun karena menghirup oksigen ke dalam paru-paru.
Ayah juga melakukan hal yang sama seperti yang istrinya lakukan. Jika Ibu tak bisa memandikanku di suatu waktu, maka Ayahlah yang akan menggantikan posisi itu dan membersihkan anak satu-satunya dengan baik. Ibu bahkan berkata, tiap malam Ayah akan tidur di sebelah ranjang dengan hanya berbantalkan lengan besar berbulunya.
Aku terharu mendengar perhatian yang mereka lakukan untukku ketikaku koma selama itu, cerita dan pengorbanan mereka sangat menyentuh titik kosong yang tak pernah terisi selama dua bulan lamanya di dalam hatiku. Bahkan setelah kebaikan yang tak akan cukup kubalas hanya dengan ucapan terima kasih itu, aku malah melupakan keduanya beserta makna kehadiran mereka untukku.
Menyedihkan. Namun setidaknya, aku masih bisa mengumpulkan kepingan ingatan ini secara perlahan dan mengingat kenangan demi kenangan milik kami sekeluarga. Memang, semua perlu waktu. Tapi aku percaya aku bisa mengingat kembali semuanya.
Demi Ayah dan Ibu, demi Paman dan Bibi juga Nenek yang terlihat tak peduli meski kenyataannya beliau adalah sosok yang terus memaksa orang tuaku untuk memanggil dokter atau tabib ke desa terpencil ini.
Aku sangat bersyukur, sebab dianugerahi keluarga yang begitu peduli, serta kasih sayang yang mereka limpahkan tanpa henti. Perasaan tulus yang datang secara terus-menerus dan tak ternilai harganya. Hanya untukku seorang. Aku sangat bahagia, dan aku yakin aku pasti bisa mengingat mereka kembali setelah berbagai hal baik yang kudapatkan ini.
Aku akan pulih dan sehat seperti sebelumnya, serta mendapatkan ingatanku kembali.
***
Aku memulai proses pemulihan kesehatanku dengan cukup baik pada Minggu pagi. Sama seperti kemarin, hari ini aku akan mengelilingi rumah dan halamannya sembari memperhatikan seluk-beluk setiap ruangan yang ada di rumah yang katanya sudah kutinggali sejak kecil ini. Barangkali, aku akan menemukan serpihan ingatan yang tertinggal di sana.
Sudah dua hari sejak aku bangun dari tidur panjang yang kabarnya telah berlangsung selama dua bulan lamanya. Selama itu juga aku terus berbaring di atas tempat tidur, orang tuaku dan juga Nenek menjagaku secara bergantian. Dokter maupun tabib datang silih berganti memeriksa keadaanku saat kedua mata ini terpejam.
Aku sama sekali tak mengingat ataupun menyadari kehadiran mereka di dekat tubuh kurusku, aku benar-benar terlelap seperti seorang putri tidur—tentu dengan versi laki-lakinya.
Ibu dengan sabar selalu mengganti seprai dan sarung bantal di kamarku setiap dua minggu sekali. Pakaian yang melekat di tubuh yang tak mendapat asupan makanan selama hampir dua bulan pun tak luput dari tangannya yang lentik. Ibu merawatku dengan sangat baik, dia memandikanku dan mengelap aroma tak sedap yang menempel di belakang telinga dengan sangat terampil menggunakan sapu tangan yang basah ujungnya.
Koma, itulah keadaan yang dikatakan oleh dokter kepada orang tuaku—yang telah disampaikan dengan jelas oleh Ibu pada hari di mana aku sadar dan masih dilanda kebingungan.
Keluargaku menolak untuk merawatku di rumah sakit besar yang ada di ibukota, sebab mereka ingin merawatku di rumah dan memperhatikan tiap gerakan yang mungkin saja kubuat ketika tak sadarkan diri itu. Padahal fasilitas di sana lebih lengkap daripada hanya merawat di rumah saja, tapi keluargaku berhasil meyakinkan dokter untuk tetap membiarkan aku tidur di tempat tidurku sendiri.
Oleh sebab itu, terkadang dokter atau tabib akan datang ke rumah dan memeriksa keadaanku.
***
Lebih dari dua bulan, dan aku mengalami banyak kemajuan. Aku bisa mengingat masa kecilku yang sangat pengecut dan pengalaman menakutkan yang aku alami, aku juga tahu jika sebenarnya aku itu sangat takut dengan cerita hantu. Aneh, ketika aku tahu aku dulu sangat takut dengan makhluk halus atau sejenisnya, kini aku tak merasakan apa-apa.
Aku tak lagi merasa perlu bersembunyi di bawah selimut. Aku tak perlu lagi menangis mendengar cerita seram.
Aku berubah menjadi sosok yang berbeda seiring berjalannya waktu, tapi yang kubingungkan adalah mengapa tak ada seorang pun yang mengunjungiku?
Di mana keberadaan teman-temanku? Apa mereka tak ingin bertemu denganku, atau lebih parahnya lagi—mungkin—aku tak memiliki seorang pun teman?
Aku ingin bertemu seseorang.
***
Wanita yang terlihat seperti pria itu tiba-tiba menghentikan ceritanya, aku jadi ingin mengangkat kepala untuk sekadar memperhatikan wajahnya, tapi aku tak ingin melihat mata berwarna biru gelap dengan riasan mata yang agak norak itu untuk kali kedua.
Dia pasti masih melihatku dengan tatapan seolah ingin memakanku hidup-hidup. Kapan wanita ini pergi ke rumah lain, sih? Aku harus melanjutkan makan dan tidur di kamar dengan tenang.
Aku harus pergi ke sekolah!
***
Terulang lagi, yang kudapati kali ini adalah ingatan acak yang masuk tiba-tiba. Napasku mendadak sesak, tersengal-sengal, walau begitu aku masih belum selesai merangkak melewati pintu kamar. Dan yang lebih buruknya lagi, ada tangga yang terlihat curam.
Oh, Tuhan. Bagaimana bisa aku turun dengan keadaan tak berdaya?
Mengapa aku harus mendapatkan rasa sakit berulang imi?
Aku kehilangan ingatan cukup lama, keluargaku sudah cukup menderita karenaku. Namun justru ketika ingatan-ingatan itu kembali, semuanya seakan menjadi beban baru yang menambah deritaku.
Aku mencapai batas keletihan saat berjuang melawan kesakitan yang hebat.
Sebelum kesadaran meninggalkanku, aku melempar bola keluar pintu, mengerahkan sisa tenaga untuk melemparkannya cukup kuat. Aku yakin, benda itu pasti bisa mencapai orang tuaku.
Mereka akan bergegas kemari, dan menyaksikan keadaan anak mereka yang jauh dari keadaan baik-baik saja.