25. Serangan Ingatan

1728 Words
Aku memegangi d**a sebelah kiri, rasa berdenyut-denyut yang menyakitkan berasal dari sana, membuatku kesulitan bernapas, bahkan sampai menitikkan air mata. Kenapa aku malah mengingat kisah yang pernah Elena dongengkan padaku? Itu tak ada hubungannya dengan keadaanku saat ini, tapi mengapa rasanya menyakitkan? Sekelebat bayangan wajah Elena melintas tanpa kuminta, aku tertawa hambar, di tengah rasa sakit ini aku bisa mengingat senyuman dan tawanya dengan jelas, bagai kaset yang diputar dan menayangkan mahakarya terindah yang tak bisa lagi kugapai. Aku ingat, cerita itu adalah bagian dari salah satu buku yang selalu Elena baca dan dia sering membawanya saat berkunjung ke rumahku. Ifis dan Lanthe, itu judul yang tertera pada sebuah buku bersampul kuning dengan dihiasi ilustrasi bunga matahari. Hal mustahil saja terjadi dalam cerita, apa aku bisa berharap lebih? Aku hanya ingin kembali, aku hanya ingin jadi lebih kuat. Aku sangat ingin menyelamatkan Elena. Jika saja saat itu aku ... pastilah Elena akan tertolong, dan masih di sini bersamaku. Aku takut saat membayangkan tak bisa melihat gadis itu di masa depan, aku takut. Aku takut Elena tiada, aku takut. Rasa sakit di d**a ini memunculkan perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. Panas, panas sekali. Tenggorokanku semakin kering, suara yang keluar dari mulutku seperti suara burung yang terjepit. Aku masih belum bisa merasakan kakiku yang kesemutan. Serangan ingatan yang masuk secara beruntun membuatku tak bisa berpikir jernih. Beberapa saat sebelumnya, aku masih bisa mengendalikan diri, bahkan ketika bangun dari tidur, perasaan hampa itu masih ada. Namun ketika aku mengingat cerita yang pernah diceritakan seseorang padaku, aku langsung bisa meraih semuanya, aku mendapatkan ingatanku kembali. Aku terlalu labil, aku hanya anak berusia tujuh tahun. Aku mencoba merangkak setelah kakiku terasa sedikit lebih baik, lututku menopang berat tubuhku yang terasa lebih berat dari sebelumnya dan aku merayap di lantai seperti kadal. Memalukan, memalukan. Aku benar-benar pecundang. Elena, Elena ... aku memanggil-manggil namanya dalam hati. Sekelebat wajahnya kembali terlintas, bersamaan dengan tawa renyah yang akan kurindukan selamanya. Pertahananku roboh, aku tak kuasa menahan kesedihan yang menyelimutiku saat ini. Aku mulai merindukannya melebihi rasa rindu yang pernah kurasakan. Aku rindu, aku ingin bertemu. Elena .... Aku merebahkan diri di lantai, menatap langit-langit ruangan, dan kembali tertawa hambar, bahkan aku masih berada di kamar. Aku memejamkan mata, menahan gejolak perasaan bersalah yang meluap-luap. Rasa sakit di kepala dan dadaku telah memudar, kakiku tak lagi kesemutan, tapi aku lelah. Aku ingin di posisi ini lebih lama, sambil mengingat berbagai hal yang sudah kualami sebelumnya. Tentang rasa takut yang membuatku tak bisa menolong Elena kala itu, keluarga yang kulupakan tapi tetap memberikan kasih sayang yang kubutuhkan, bahkan sampai mengingat hal-hal yang tidak penting dan tak seharusnya kuingat. Aku menyelam dan tenggelam dalam alam pikiran yang terbuka lebar, mengingat kembali kilas balik berbagai hal yang telah terjadi selamaku hidup. *** Aku takut! Aku membenci Nenek! Cerita yang keluar dari mulutnya itu terdengar tidak masuk akal! Bisa saja anak-anak yang menghilang itu telah memasuki hutan Lakebark dan tersesat jauh di dalamnya?! Atau bisa juga mereka semua jatuh ke dalam jurang karena orang dewasa lengah terhadap anak-anaknya?! Kemungkinan itu bisa saja terjadi, kan?! Yah, tapi aku masih belum bisa menjelaskan kenapa ada orang dewasa yang dibawa pergi oleh makhluk-makhluk itu? Kalau anak-anak, mungkin bisa dibantah dengan jawabanku sebelumnya. Mungkin saja, goblin itu memang nyata seperti yang dikatakan oleh nenekku. Tak salah jika aku yang masih berumur tujuh tahun ini selalu membangkang. Ada jiwa pemberontak yang tumbuh dalam diriku. Tapi, bukan hanya aku saja, teman-temanku yang lain juga akan mengabaikan larangan orang tua mereka dan pergi ke area perbatasan, tempat yang memisahkan desa ini dengan hutan Lakebark. Seperti yang kukatakan, ada dua akses gerbang di desa ini, dan ada satu akses jalan rahasia yang hanya aku dan teman-temanku ketahui. Dua di antaranya adalah gerbang yang dijaga ketat, sedangkan satunya adalah jalan yang tersembunyi dari keramaian. Anak-anak memang gemar menjelajahi tempat yang baru. Alam selalu mampu memenuhi rasa keingintahuan kami dengan sesuatu yang indah. Tak ada campur tangan teknologi di sini, kami semua tumbuh dalam lingkungan yang menyenangkan. Apa yang bisa kami harapkan dari desa kecil yang berada jauh dari ibukota? Sama sekali tak ada internet, tak ada hiburan, apalagi supermarket. Namun, hanya bermain-main di dekat hutan saja, kami semua sudah merasa senang sekali. ***** Aku tersenyum hampa, betapa kekanakannya aku dulu jika diingat-ingat. Sepertinya kehilangan ingatan membuat kepribadianku berubah menjadi jauh lebih baik. Aku meneruskan perjalanan penuh kenangan dalam keheningan. ***** Ibuku sangat terkejut saat dokter itu menjelaskan apa yang terjadi padaku sebelum aku mendapatkan trauma di kepala. Dia benar-benar tahu secara detail, bahkan aku yang mengalaminya saja baru tahu setelah mendengar penjelasannya. Keluargaku yang merupakan saksi mata kejadian itu saja tak bisa menjelaskan dengan baik ketika kuajukan pertanyaan kepada mereka. Namun, pria bertopi itu ... dia tahu semua jawabannya. Benar-benar luar biasa. Nenekku bahkan menganggap dokter itu sebagai seorang cenayang masa depan dan meminta resep rahasia umur panjang darinya. Aku berharap dalam hati, semoga Nenek tak mendapatkan resep itu. Jika nenekku berhasil mendapatkannya, entah apa yang akan terjadi padaku nanti seandainya beliau tetap ada dan terus mengisahkan cerita seram padaku. Aku bahkan berpikir, apakah Nenek akan mulai bercerita bahkan setelah aku menikah dan melakukan malam pertama? Ah, bukan berarti aku membenci Nenek. Hanya saja ... semua akan jadi rumit jika itu sampai terjadi bahkan setelah aku tumbuh dewasa. Privasiku akan terganggu, bahkan jika yang melakukannya adalah nenekku sendiri. Sebab, dialah yang menjadi penyebab rasa takutku pada hari itu. *** "Tadi menyenangkan, ya?!" Elena di sampingku angkat bicara dengan ceria, ia tersenyum secerah matahari pagi. Betapa cantiknya. "Aku bosan melihat kalian bermain, seharusnya aku juga ikut tadi!" Tangannya yang mungil memetik bunga-bunga liar di sekitar kakinya, lantas mengumpulkannya. Kulihat dia tak tertarik dengan bunga-bunga yang hanya dikumpulkan olehnya itu. "Iya, menyenangkan," sahut Albert dengan senyum ramah. "Tentu, kau harus mencobanya nanti, Len." Di antara yang lain, Albert lah yang paling dewasa. Kakaknya Deinn ini memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda dengan adiknya. Iris matanya berwarna biru, di pipi dan hidungnya terdapat bintik-bintik berwarna cokelat. Deinn dan Albert itu kembar non-identik. Walau dari luar terlihat berani, faktanya adalah keduanya hanyalah para penakut dari kota. Pernah suatu ketika, di awal perkenalan kami dengan mereka yang baru saja pindah ke desa Birdben setelah menghabiskan beberapa tahun hidupnya di salah satu kota di Jerman, aku menceritakan sebuah kisah seram yang kudapat dari nenekku pada mereka berdua. Kupikir mereka tidak akan terkejut dan bersikap biasa saja, sebab mereka dari luar negeri. Nyatanya reaksi mereka begitu lucu. Deinn menangis ketakutan sambil menutupi wajahnya, sedangkan Albert mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa Prancis yang tidak kami ketahui artinya. Ivanoff juga seorang pendatang dua tahun yang lalu, dia pindahan dari tempat yang kuketahui sebagai kampung halaman Nenek. Apa mereka punya sejenis hubungan, kerabat misalnya? Soalnya mereka berdua suka sekali membuatku takut! Ivanoff dan keluarganya sama-sama berasal dari bangsa Slavia, dan sama seperti Nenek, dia juga suka "mendongeng". Semua yang dia ceritakan begitu seram, bahkan sukses membuatku dimarahi Ibu karena menjadikan tempat tidurku basah setiap malam. Kau pasti mengerti maksudku. *** Mulutku masih sibuk membaca apa yang ada di kertas usang tersebut. Tanganku gemetar, mataku terus bergerak ke sembarang lain. Aku mencoba menahan mulutku bergerak, tapi sama sekali tidak bisa. Puncaknya, aku semakin gelagapan ketika salah seorang yang ada di atas panggung mulai melangkah maju ke depan, berdiri seakan memimpin orang-orang di belakangnya. Jubah hitam yang dipakainya terlihat berbeda dari yang lain. Seperti ada jahitan benang yang rumit di bagian d**a, serta pernak-pernik aneh berbentuk kepala dan bulu-bulu angsa yang menjuntai di bawah sikunya. Aku mencoba fokus, kini dia yang sudah berdiri lebih maju dari teman-temannya itu pun mulai membuka tudung kepalanya, menyibak dan memperlihatkan wajah siapa di baliknya. Seketika itu juga aku tersentak di tempat. Sosok itu membuatku tercengang, karena dia adalah seseorang yang sangat kukenal baik. Aku tak menyangka bisa melihatnya di tempat seperti ini, dalam kondisi yang tak jauh berbeda denganku, meski pakaian yang kami kenakan sangat jauh berbeda. Dia adalah ... Ivanoff, sosok yang berdiri di atas panggung itu adalah salah seorang sahabat baikku. *** Aku sungguh-sungguh tak mengerti. Ada beragam pertanyaan yang mulai berkumpul dalam otakku dan saling dorong satu sama lain, hingga membuatku kesal sendiri karena tak bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan ini. Juga, ada banyak yang ingin kutanyakan kepada teman-teman sepermainanku. Kepada Elena yang tadi kulihat, juga kepada Ivan yang sibuk dengan tugasnya di atas panggung. Mereka berdua yang kukenal baik, malah ada di tempat yang sama denganku dan dalam keadaan yang jauh berbeda satu sama lain. Aku ingin sekali memanggil Ivan, namun mulutku terus melafalkan kalimat-kalimat aneh yang tak bisa kuhentikan. Meskipun ingin, tapi tetap saja tak bisa. Padahal aku sudah berusaha keras menahan mulutku, dan mencegahnya untuk tidak bersuara lagi, tapi aku tak bisa! Ini menyebalkan! Apa yang harus kulakukan!? *** "ELEENNN!!!" pekikku histeris. "TIDAK ELEN! KEMBALIII!" "KEMBALIKAN ELENA PADAKUUU!!!" Hhh ... hhh! Aku semakin panik. Mustahil aku bisa mengejarnya dengan keadaanku saat ini. Tidak! Ini semua belum berakhir. Aku segera berbalik badan, dan memutuskan untuk kembali menuju desa sama seperti sebelumnya. Aku tak peduli jika harus meminta tolong kepada para penduduk desa itu untuk mencari sahabatku, aku hanya ingin Elena diselamatkan. "Maafkan aku, Elen!" Aku menyeka mataku yang basah. "Maafkan kebodohanku ini!" Sial, aku mulai menangis. Aku sangat memalukan. Apakah aku masih memiliki keberanian untuk menatap Elena dengan keadaan lemah seperti ini? Apakah aku gagal menyelamatkan sahabat baikku? Aku menggosok mataku dengan cepat, tapi ada satu hal pasti yang masih saja mengganjal pikiranku saat memilih pergi meninggalkan hutan dan juga Elena yang dibawa oleh segerombol makhluk bernama Goblin. Itu ... adalah saat di mana kumelihat wajah ketakutan Elena yang berlinang air mata. Sungguh, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. *** "AARHGHHH!!" Aku menjerit kesakitan. Sakit! Sungguh sakit rasanya. Saking sakitnya kepala ini, aku sampai harus menjambak kepalaku sendiri dengan kuat. Ini menyakitkan! Aku tak melakukan sesuatu yang salah. Aku tak memaksakan diri mengingat apa pun. Akan tetapi, tiba-tiba saja ingatan ini masuk berkelebat lalu menghancurkan ketenangan yang kurasakan sebelumnya. Rasa sakitnya dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Aku tak ingat apa yang membuatku seperti ini. Aku ... aku ... aku bingung. Apa yang membuat ingatan ini seperti memberontak dan memaksaku mengingat kembali semuanya secara tiba-tiba? Aku hanya duduk saja di lantai sambil memegangi kepalaku yang kupikir rasa sakitnya sudah menghilang. Namun nyatanya, ketika tak sengaja melihat sebuah boneka usang berbentuk pria jahe di dalam kotak mainan, seketika aku berubah menjadi tak terkendali seperti ini. A-ada apa dengan boneka jahe itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD