Astaga, apa yang telah kulakukan?
Elena, padahal aku sudah berjanji tidak akan pernah melupakanmu, kita sudah saling menautkan jari kelingking di hari itu. Kau dan aku akan selalu terhubung satu sama lain, akan tetap bersama selamanya. Seperti ada lem yang merekatkan kita berdua, kau dan aku tak bisa dipisahkan dengan mudah.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Aku tak mengerti kondisi yang kualami. Aku tak ingat detailnya seperti apa. Aku hanya ingat ketika berlari di tengah hutan, dilanda ketakutan yang hebat dan kemudian terjatuh dengan keras.
Aku tak ingat. Aku tak bisa mengingat detailnya.
Saat itu, aku hanya berlari seorang diri tanpa adanya Elena yang menyertai. Aku tak ingat, aku tak bisa mengingatnya. Kapan kiranya aku dan Elena terpisah?
Dug. Dug. Dug.
Aku mendengar detak jantung yang menabuh dengan keras dalam dadaku. Aku merasa suhu tubuhku naik dan jantungku yang terus berdetak kencang, sontak aku memegangi d**a bagian kiri, merasakan sesuatu yang membuatku merindu. Rasanya seperti aku telah kehilangan ingatan ini dalam jangka waktu yang sangat lama dan menguras tenaga.
Aku tahu dari mana rasa hampa yang terkadang muncul secara tiba-tiba dan menyergapku dalam balutan kabut yang mengaburkan ingatanku setiap kali berusaha mengingatnya.
Tak lain dan tak bukan karena perasaan bersalah yang kurasakan, sebab telah melupakan seseorang yang begitu berarti untukku.
Selama masa pemulihan yang memakan waktu berbulan-bulan, aku menganggap otakku telah melupakan semua ingatan yang kumiliki, termasuk siapa-siapa saja anggota keluarga yang masih kumiliki. Namun mereka hadir di sana, mencoba memahami dan menguatkanku yang telah kehilangan arah, dan bahkan masih sibuk mempertanyakan siapakah diriku sebenarnya.
Perlahan, aku mulai bisa mengingat semuanya. Aku berhasil mengais-ngais dari dasar ingatan yang samar-samar, mengingat apa yang pernah kulalui bersama keluarga kecilku walau ingatanku kala itu masih belum kembali.
Mereka membantuku agar bisa mengingat apa yang sudah banyak kulupakan. Terkadang mereka membiarkan aku sendiri—duduk merenung sembari mencari tahu seperti apa diriku dahulu sebelum terjadi sesuatu yang membuat ingatanku terampas begitu saja dariku.
Aku melupakan kenangan bersama teman-teman, bahkan wajah-wajahnya saja aku tak bisa mengingatnya. Bagaikan kaset rusak yang tak bisa digunakan karena pita film yang berantakan. Sampai beberapa saat yang lalu, aku yang tak bisa mengingat nama-nama dari beberapa orang sahabatku, tiba-tiba saja bisa mengingat mereka dengan jelas.
Pada detik-detik berikutnya, aku ingat jika tak ada satupun dari teman-temanku yang pernah datang ke rumah atau mengajakku bermain di luar seperti yang biasa kami lakukan bersama-sama.
Apa mereka juga melupakanku seperti aku melupakan mereka? Aku masih tak mengerti apa yang aku alami. Jika benar mereka melupakanku, setidaknya aku masih bisa bertemu dengan mereka dan berkenalan seperti ketika pertama kali bertemu.
Yang menyakitkan dari semua itu adalah kenyataan di mana aku berlari tanpa adanya Elena di sisiku.
Aku sekarang ingat, saat itu aku dan Elena melarikan diri dari sekumpulan orang-orang desa yang sepertinya merupakan bagian dari sekte ajaran sesat, kami berdua berlari di jalan yang bisa kuingat di tengah gelapnya malam.
Sampai kemudian mimpi buruk paling mengerikan itu terjadi.
Aku tak berhasil menyelamatkan Elena, aku tak bisa menolongnya saat makhluk-makhluk kegelapan membawanya, aku terlalu lemah dan takut untuk melakukan perlawanan.
Elena menghilang, tak lagi mendampingiku; kini ia pergi, untuk selamanya. Lenyap ditelan gelapnya malam, menghilang dalam hutan terlarang. Aku kehilangan sosoknya di hidupku, Elena Rikharnova—gadis yang selalu ingin kulindungi dengan segenap jiwaku.
Sosok berparas manis yang memiliki rambut indah yang lembut bagaikan sutra. Mata kuning keemasan yang cantik seperti mata boneka. Dengan tawa bergemerincing yang selalu memenuhi pikiran, dia adalah sosok yang telah bersamaku lebih lama dari siapa pun, selain keluargaku.
Aku masih mengingat kulitnya yang seputih porselen, bahkan rona merah saatnya tersipu malu akan terlihat jelas di kedua pipinya yang chubby. Ketika tertawa, gigi gingsul yang menggemaskan akan terlihat, siapa saja yang memandanginya akan terpesona akibat melihat kecantikan alami yang sudah ia miliki sejak dini.
Selama ini, aku selalu berpikiran bahwa aku telah dipaksa untuk mendapatkan kembali ingatan-ingatanku yang hilang itu, meski sudah beberapa kali kucoba, tapi aku tetap tak bisa mengingatnya.
Pada akhirnya aku terlambat menyadari bahwa selama itu aku telah melupakan Elena. Aku tak menyangka bisa melupakannya secepat itu, dan melupakan janji yang kubuat, bahwa aku akan selalu mengingatnya.
Mengapa aku sampai bisa melupakan senyum yang indah itu?
Elena, maaf. Sungguh, maafkan aku.
Aku minta maaf karena sudah melupakanmu, tapi jangan takut, aku akan pastikan kita akan segera bertemu lagi.
Entah bagaimana caranya, aku akan mengusahakannya.
Aku rindu padamu, Elena. Jaga dirimu baik-baik.
***
Ketika membuka mata, yang pertama tertangkap oleh kedua retinaku adalah langit-langit kamar yang dicat warna putih. Aku coba mengubah posisiku menjadi duduk, sembari memegangi kepalaku yang terasa sakit.
Rasa sakit itu menghantamku secara tiba-tiba, sesaat setelah aku duduk dan menyandarkan punggungku ke sandaran tempat tidur yang terbuat dari kayu. Ranjang itu sedikit berderit ketika aku bergerak di atasnya.
Aku merasa tak asing dengan situasi ini. Seperti ... sebelumnya aku juga pernah mengalaminya, berbaring di ranjang dan saat membuka mata menatap langit-langit kamar, tapi entah kapan dan karena apa. Aku lupa.
Rasa sakit di kepala mulai merambat pada mata. Aku terpaksa harus mengedipkan mata berulangkali, mengenyahkan bayangan hitam yang muncul bersamaan dengan sakit yang seakan meremas-remas kepala.
Aku mengangkat kedua tangan lali memperhatikannya lamat-lamat. Ada perasaan asing yang kurasakan saat memandangi tangan kurus dengan jari-jemari yang panjang itu. Seperti ada yang terlewatkan.
Aku tak bisa mengingat dengan jelas apa yang kulihat tadi di alam mimpi. Padahal seharusnya aku bisa mengingatnya, karena kurasa itu bagian dari sesuatu yang penting. Ah, bahkan ini belum ada beberapa menit sejak aku membuka mata, mungkin ... sedikit lebih cepat dari itu, tapi aku sudah tak bisa mengingat apa pun tentang mimpinya.
Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekitar, rasa sakit di kepala sudah sedikit reda.
Aku diamkan posisiku seperti sebelumnya, yaitu duduk dengan kaki berjuntai di pinggir ranjang selama beberapa saat, sembari mencoba menjernihkan pikiran. Kadang saat bangun dari tidur, seseorang akan terlihat linglung. Aku pun demikian, jadi kuteruskan saja.
Selama duduk aku mencoba mengingat kembali sesuatu yang kulihat dalam tidur tadi. Samar-samar aku bisa mengingat sebuah nasihat yang kudengar entah dari siapa, tentang ketika seseorang terbangun dari tidur, roh dalam tubuh kita masih belum terkumpul sepenuhnya. Itu karena saat tidur, jiwa kita melayang-layang dan pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu yang diinginkan di dalam mimpi, atau melihat sesuatu yang baru.
Oleh karena itu, umumnya seseorang akan diam di tempat dengan pandangan kosong serta tubuh yang tak bisa menjaga keseimbangan. Seperti orang linglung. Sebab jiwa mereka masih belum kembali seutuhnya ke tubuh dan mengisi semua persendian.
Pandanganku masih saja berkunang-kunang, ditambah rasa sakitnya kembali terasa, tapi kali ini terasa membekas di pelipis sebelah kiri.
Aneh, aku merasa pernah mengalami situasi ini sebelumnya. Apa ini Déjà vu? Fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu?
Ah, aku seperti pernah mendengar penjelasan ini di suatu tempat. Tentang Déjà vu yang merupakan suatu perasaan bahwa kita telah mengetahui dan mengingatnya kembali.
Aku yang tak ambil pusing tentang hal itu, lantas bangkit dari ranjang setelah mendapatkan kesadaran, tapi begitu berpijak pada lantai, aku langsung terjatuh dengan keras.
"Adu-duh-duh." Rasanya seperti kakiku terkilir. Aku yang masih merasa ngantuk pun jadi segar dibuatnya. Tanganku tak sengaja menyentuh kaki kiri, tiba-tiba ada perasaan menyengat begitu kusentuh bagian telapaknya. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuknya dari dalam, lalu berangsur-angsur berubah menjadi rasa geli yang membuatku tak nyaman.
Sudah jatuh, kaki kesemutan pula. Parahnya saat kesemutan, bagian tubuh itu akan mati rasa.
Sambil menunggu mati rasanya hilang, aku melihat ke arah pintu, dalam hati bertanya-tanya, ke mana perginya Ayah dan Ibu? Padahal saat aku sakit dulu, mereka akan menghambur masuk ke dalam kamar dan menangis seraya memelukku erat. Lalu aku mengatakan hal aneh di depan mereka. Anehnya aku sudah melupakan kejadian saat itu.
Tunggu, kenapa aku tak bisa mengingat apa yang terjadi? Kenapa aku sampai bisa melupakannya?
"Ah! Ke-kepalaku!"
Sakit pada kepalaku yang kukira sudah menghilang, kini kembali menghantam. Padahal aku sudah lega sebab kakiku tak lagi kesemutan.
Kini aku berhadapan rasa sakit yang hebat. Aku mengerang, rasanya seperti ada yang memukul-mukulnya dari dalam, tenggorokanku terasa kering, leher belakangku terasa kaku.
Rasanya seperti menjadi Spinx. Kau tahu?
Sphinx itu memiliki tubuh singa dan kepala manusia.
Sphinx, dalam tradisi Yunani, memiliki paha singa, sayap seekor burung besar, dan wajah dan p******a seorang wanita. Dia adalah berbahaya dan kejam, mereka yang tidak bisa menjawab teka-teki nya mengalami nasib yang khas dalam cerita mitologis seperti mereka melahap utuh dan mentah, dimakan oleh rakasa kelaparan.
Berbeda dengan sphinx Yunani yang perempuan, sphinx Mesir biasanya digambarkan sebagai seorang pria (androsphinx). Selain itu, sphinx Mesir dipandang sebagai dermawan kontras dengan versi Yunani jahat dan dianggap sebagai wali sering mengapit pintu masuk ke kuil.
Teka Teki Sphinx adalah Apa yang Berjalan menggunakan empat kaki di pagi hari, dengan dua kaki pada siang hari, dan pada tiga kaki di malam hari?
Meski pertanyaan itu membuat banyak korban berjatuhan, ternyata ada jawaban teka-teki Sphinx ini. Jawabannya adalah seorang manusia, manusia merangkak sewaktu bayi menggunakan 2 kaki dan 2 tangan menjadi empat alat berjalan, berjalan dengan dua kaki sebagai orang dewasa, dan berjalan dengan tongkat di usia tua.
2 kaki, 1 tongkat = 3.
Tentu saja, pagi siang, dan malam adalah metafora untuk waktu dalam hidup (seseorang). Metafora seperti ini adalah umum di teka-teki. Dia yang bisa memecahkan teka-teki dari Sphinx ini adalah Odisseus, dan Sphinx hancur sendiri karenanya.
Ini tak seperti cerita Ifis dan Lanthe
Dahulu di Kreta, ada seorang pria bernama Lidgos yang begitu mendambakan seorang anak lelaki. Ketika istrinya, Telethusa, hamil, Lidgus bersumpah bahwa jika istrinya melahirkan bayi perempuan maka dia akan membunuh bayi itu.
Sumpah suaminya sangat membuat Telethusa gusar, tetapi Dewi Lo muncul dalam mimpi Telethusa dan memberitahu cara menyelamatkan bayi perempuannya.
Telethusa akhirnya melahirkan bayi perempuan, dia lalu menyuruh pembantunya memberitahu suaminya bahwa bayinya laki-laki. Lidgus sangat gembira dan menamainya Ifis. Ifis kemudian dibesarkan sebagai seorang lelaki, hanya ibu dan pembantunya yang tahu bahwa dia sebenarnya adalah seorang perempuan.
Ketika Ifis berusia tiga belas tahun, ayahnya hendak menikahkannya dengan Lanthe, seorang gadis cantik. Ifis dan Lanthe bertemu dan kedua perempuan itu saling jatuh cinta. Tetapi, menjelang hari pernikahannya, Ifis mulai khawatir, bagaimana mungkin dia bisa membina keluarga dengan seorang perempuan?
Sementara Telethusa sangat takut rahasianya terbongkar sehingga dia terus-menerus menunda pernikahan Ifis dengan berbagai alasan, misalnya, pura-pura membuat Ifis sakit. Tetapi pernikahan akhirnya tak bisa ditunda-tunda lagi. Telethusa dan Ifis sangat takut, mereka lalu berdoa pada dewi Isis. Sang dewi pun menjawab doa mereka.
Pada hari pernikahan, Ketika Ifis berjalan menuju altar pernikahan, dewi Isis mengubahnya menjadi seorang pria. Maka Ifis dan Lanthe bisa menjadi suami-istri dan rahasia Telethusa tetap terjaga.
Benar-benar happy ending untuk mereka ....