"Lama Psikhe menunggu suaminya. namun Eros tidak lagi datang. Psikhe pun meninggalkan istananya dan menemui kakak-kakaknya. Psikhe menceritakan tentang kepergian suaminya dan langsung pergi lagi menjelajahi Yunani mencari keberadaan suaminya."
"Setelah mendengar bahwa suami Psikhe adalah dewa dan kini telah meninggalkan Psikhe, kakak-kakak Psikhe pun pergi ke bukit berbatu dan berharap akan dibawa ke istana sang dewa. Zefiros memang datang membawa mereka tetapi bukan ke istana melainkan ke jurang, dia lalu menjatuhkan mereka di sana sampai mati."
"Psikhe terus berjalan hingga ia memasuki Kuil Demeter. Di dalam kuil itu terdapat banyak biji-bijian berceceran sehingga kuil itu nampak berantakan. Sambil bersedih Psikhe mengumpulkan biji-bijian itu sehingga kuil itu tidak lagi berantakan."
Elena bercerita serius sekali, sesekali dia akan menatap kedua mataku, sekadar memastikan apakah aku masih menaruh perhatian padanya, lalu dia kembali menatap buku bergambar yang ia pegang erat-erat.
Rasanya cerita yang Elena baca itu tidak ditujukan untuk anak-anak. Karena gaya berceritanya seperti cerita orang dewasa dan ilustrasinya tak segan-segan memperlihatkan dua sejoli yang bermesraan di antara dedaunan.
Namun, Elena tak memperhatikan hal itu—atau mungkin dia tak ingin ambil pusing?
Entahlah, lagipula itu hanya sebuah cerita.
"Aku mau pipis," ucap Elena tiba-tiba sambil meletakkan bukunya di tanah. Tanpa peringatan, wajahku memerah dengan sendirinya. Elena adalah gadis yang blak-blakan dan cerewet, itu jika sudah lama saling kenal dengannya.
Walau begitu, aku masih tak mengerti kenapa aku merona hanya karena Elena mengatakan keinginan buang air kecilnya.
"Aaron, temanin!" rengek Elena. Gadis itu menginjak-injak tanah dengan penuh semangat, sebelah tangannya memegangi celana dan sebelahnya lagi naik dan menggapai udara. Ia tak tahu jika gerakan itu bisa membuat rasa buang air kecilnya semakin meningkat.
"Ke semak-semak sana," usulku tanpa pikir panjang, dan langsung dihadiahi tatapan marah oleh gadis cilik itu. Ah, manis sekali.
"Sebaiknya kita pulang dulu." Aku memberi usul yang benar kali ini, sebab Elena langsung menyetujuinya. Dia bergegas kembali ke sisiku dan mengambil buku yang sebelumnya ia letakkan begitu saja di tanah.
"Nanti kita lanjutkan ceritanya, ya," ucap Elena sambil memeluk lenganku. Kami lantas berjalan beriringan, pulang dan menyelusuri jalan menuju rumah Elena yang jaraknya lebih dekat dengan tempat santai kami sebelumnya.
Aku dan Elena memang berteman akrab sejak masih balita, mengingat betapa lengketnya gadis ini yang selalu menempel padaku seolah kami adalah anak kembar yang tak bisa dipisahkan. Kami akan mencari keberadaan satu sama lain dan akan uring-uringan karena tak bertemu dalam waktu lama.
Kami akan selalu bersama. Sejak beberapa tahun lalu, bahkan di masa depan nanti.
Elena anak perempuan yang paling mencolok di desa kami. Rambut pirang bagaikan emas yang disirami cahaya matahari miliknya terasa begitu halus ketika menyentuh permukaan kulitku.
Dia mendapat warna rambut alami itu dari orang tuanya yang juga memiliki rambut pirang yang terawat dengan baik. Hanya saja, keduanya memiliki rambut pirang yang lebih muda, berbanding terbalik dengan Elena yang warna rambutnya hampir menyerupai kuning keemasan.
Elena adalah satu-satunya gadis yang kukagumi. Tak ada gadis di desa kami yang secantik dirinya. Aku bisa menjamin jika Elena besar nanti, dia bisa menjadi seorang super model terkenal dan aku akan menjadi manajernya!
Jadi seorang manager dari model profesional berarti banyak uang. Banyak uang berarti kaya raya! Ah, aku tak sabar menunggu masa-masa itu. Aku pastikan untuk membeli pabrik cokelat yang ada di Rusia dengan uang yang tak habis-habis!
Kuharap saat itu tinggi badanku juga ikut bertambah.
***
"Demeter melihat apa yang dilakukan Psikhe. Sang dewi pun berbicara padanya, "Kau pantas mendapatkan kebahagiaan wahai gadis cantik. Jika kau mencari Eros, maka sebaiknya kau menemui Ibunya, Afrodit sang dewi kecantikan, dan berdoa memohon maaf," ucap Dementer penuh ketulusan."
Saat ini aku sedang bersama Elena di teras depan rumahnya. Tadi, setelah kami tiba di rumah kayu berwarna putih, Elena langsung masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, meninggalkanku seorang diri berdiri di depan pintu sambil menenteng buku cerita bergambar miliknya.
Tak lama kemudian, Elena muncul dengan ekspresi wajah yang terlihat lega. Aku tersenyum melihatnya, itulah ekspresi orang-orang yang telah menuntaskan panggilan alam yang mendesak. Elena lantas menyuruhku duduk di kursi yang sudah disediakan di teras itu.
Dan inilah yang kami lakukan, melanjutkan cerita yang sebelumnya terhenti karena Elena yang mendesak ingin segera pergi ke toilet.
"Aaron, lihat. Di sini Psikhe cantik sekali!"
Aku mendekatkan wajah dan menatap gambar yang ditunjuk gadis kecil itu. Seorang gadis berambut cokelat gelap dan mengenakan gaun tipis warna merah muda selutut tengah bersimpuh di depan seorang wanita—yang kuyakini sebagai Dementer.
Matanya berkaca-kaca, tapi memperlihatkan raut kebahagiaan dan rasa terima kasih yang besar. Sangat cantik, hidungnya mancung dan kulitnya putih bersinar. Bahkan ilustrasinya saja sudah menawan.
Aku kembali menaruh perhatian kepada Elena. Menatap sahabatku yang juga tak kalah mengagumkan seperti sosok dalam buku cerita itu. Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan mungil. Aku adalah satu-satunya pengagum rahasia Elena, setidaknya aku tak pernah mendengar teman-teman yang lain membicarakan gadis di sampingku ini, sehingga aku merasa tak memiliki saingan. Haha.
"Coba lihat lagi, Psikhe sangat senang mendapat perhatian dari Demeter, maka ia segera menuju Kuil Afrodit. Di sana, Afrodit yang masih kesal dengan Psikhe menemuinya. Gadis itu meminta maaf kepada Afrodit. Namun sang dewi berkata bahwa untuk menebus dosanya, ia harus berhasil melakukan tugas-tugas yang akan Afrodit diberikan. Psikhe pun setuju."
"Sebagai tugas pertama, Afrodit telah menyiapkan setumpuk tinggi biji-bijiann yang terdiri dari tiga jenis biji. Psikhe ditugaskan untuk memisahkan ketiga biji-bijan itu ke dalam tumpukan yang berbeda sebelum malam berakhir."
Ekspresi wajah Elena saat mencapai paragraf baru pada cerita itu selalu berubah-ubah. Kali ini, gadis kecil itu memasang wajah muram. Dia memang pandai mengekspresikan emosinya.
"Dengan putus asa Psikhe melakukan tugas yang mustahil itu. Tapi tiba-tiba datanglah sekoloni semut yang kemudian ikut membantu Psikhe. Dengan bantuan semut-semut, tugas mustahil itu pun akhirnya berhasil ia selesaikan sebelum pagi."
Wajahnya seketika berseri-seri saat Psikhe dalam cerita ditolong segerombolan semut.
"Afrodit yang melihat keberhasilan Psikhe menjadi sangat kesal. Tugas berikutnya adalah Psikhe harus mengambil wol, dari domba-domba emas yang merumput di pinggir sungai."
"Ketika Psikhe menuju tempat tersebut, ia dihentikan oleh sekelompok nimfa yang memperingatkannya, "Wahai gadis cantik! kamu jangan mendekati domba domba itu! mereka sangat ganas! yang perlu kamu lakukan hanyalah menunggu hingga siang hari ketika matahari bersinar terik. Mereka akan berteduh di bawah pohon itu."
"Psikhe mengerti apa yang harus ia lakukan. ia berterima kasih kepada para nimfa dan pergi mengamati para domba emas."
"Ketika domba-domba itu selesai berteduh. Wol emas mereka tersangkut di batang pohon dan semak-semak tempat mereka berteduh. Psikhe pun tinggal mengambil wol-wol itu dari sana."
Elena membalik halaman demi halaman buku dengan hati-hati, seolah tak ingin merusak atau menimbulkan lecet pada buku barunya, tapi aku bisa melihat tangan gadis itu yang gemetar karena menahan semangat yang ia rasakan sejak awal membaca.
"Semakin Psikhe berhasil, semakin sulit pula tugas yang diberikan oleh Afrodit. Psikhe harus mengambil air mematikan dari sungai Stix. Dia mengira kali ini dia akan mati, namun tiba-tiba datang seekor elang kiriman Zeus yang mengambilkan air itu untuknya."
"Afrodit jadi makin kesal, dan untuk tugas terakhir Afrodit berkata, "Karena kau, putraku Eros menjadi nakal. Dia menjadi tidak penurut lagi. Aku sampai stres memikirkannya, dan kecantikanku pun berkurang. Sekarang kamu harus pergi ke dunia bawah, temui Persefone dan mintakan kepadanya sedikit kecantikannya," ucap Afrodit dengan nada sinis."
Elena menjeda ceritanya sejenak, ia lalu mempersempit jarak di antara kami, agar memudahkanku melihat ilustrasi pada buku di tangannya dengan lebih jelas.
"Psikhe bingung bagaimana memasuki dunia bawah dan kembali hidup-hidup. Psikhe berpikir tak ada lagi yang bisa dia lakukan, dia pun naik ke menara dan berniat bunuh diri. Tetapi begitu sampai di menara, bangunan tersebut malah berbicara pada Psikhe dan memberitahunya cara melaksanakan tugasnya."
"Setelah mendapat petunjuk, Psikhe akhirnya masuk ke dunia bawah. Ia mengikuti jalan yang diberitahukan oleh sang menara. Psikhe Membayar Kharon satu koin untuk mengantarnya menuju gerbang dunia bawah. Psikhe Melemparkan satu roti pada Kerberos sehingga ketiga kepala mereka berebutan memakannya. ia juga menolak berbagai permintaan yang diajukan oleh para arwah disana."
"Ketika sampai di istana Hades, Psikhe melakukan tugasnya yaitu meminta kotak kecantikan pada Persefone. Sesuai petunjuk yang dia dapat, Psikhe menolak untuk duduk di kursi, dan dari semua makanan yang ada di atas meja, dia hanya memakan roti."
"Persefone mengambil sebuah kotak dan memberikannya pada Psikhe. Setelah mendapat kotak itu, Psikhe keluar dengan hati-hati dari dunia bawah, dia memberi lebih banyak kue pada Kerberos dan membayar lagi pada Kharon. Pada akhirnya Psikhe berhasil sampai di dunia atas."
"Namun sekali lagi Psikhe merasa penasaran. Dia ingin mendapatkan sedikit kecantikan dari kotak yang dia bawa. Dia berpikir tentu nanti Eros akan senang kalau dia menjadi lebih cantik. Psikhe melupakan peringatan dari sang menara dan membuka kotak itu. Begitu Psikhe membukanya, kutukan tidur langsung keluar dari kotak itu dan membuat Psikhe tertidur abadi."
Warna merah menjalar dari hidung ke pipi hingga telinga Elena, ia menggigit bibir bawahnya perlahan. Itu adalah kebiasaan buruk sahabatku ketika mencoba menahan desakan air mata.
"Sementara luka pada bahu Eros telah sembuh dan Eros sendiri telah memaafkan Psikhe bahkan Eros kini sangat merindukan istrinya itu."
"Eros mencari Psikhe dan menemukannya sedang tertidur dalam kutukan. Eros mengumpulkan kutukan itu dan memasukannya lagi ke dalam kotak. Eros lalu menicum bibir Psikhe.
"Berkat ciuman dari seorang dewa, Psikhe akhirnya bisa terbangun lagi, dan dia sangat bahagia melihat suaminya. Eros lalu terbang ke hadapan Zeus dan memohon supaya Psikhe dijadikan abadi. Zeus setuju dan menyuruh Hermes membawa Psikhe ke Olimpus. Begitu sampai di Olimpus, Psikhe diberi minuman para dewa, ambrosia, dan menjadi abadi. Kini Eros dan Psikhe bisa bersama dalam kebahagiaan."
Kami tiba di halaman terakhir dan Elena membaca satu-satunya paragraf di sana.
"Eros and Psikhe menikah dan memiliki anak bernama Hedone ("kesenangan"). Afrodit sendiri telah memaafkan Psikhe bahkan dia ikut menari dalam pesta pernikahan mereka."
"SELESAI!" Elena menutup bukunya sampai menimbulkan bunyi benturan yang keras, ia lalu menatap kedua mataku. Aku sampai memundurkan tubuh karena kami terlalu dekat.
"Cerita yang bagus sekali 'kan, Aaron?!"
"Aku senang bisa membacakan cerita ini untukmu, nanti kapan-kapan aku cerita lagi, yah!"
Aku tertawa melihat tingkah Elena, dia terlalu menggemaskan, membuatku tak tahan ingin memeluknya, tapi kata Ibu tak boleh memeluk gadis sembarangan, nanti akan ada kehamilan dan ada bayi dalam perutnya. Aku tak ingin itu terjadi.
Aku berdiri seraya menepuk-nepuk celana panjangku, lalu mengajak gadis itu pulang ke rumah.
Elena masih duduk bersandar pada pohon yang sebelumnya menjadi tempat bernaung kami. "Aaron," panggilnya. Aku menoleh dan menatap ke bawah, tepatnya pada Elena yang masih memeluk erat bukunya.
"Kau tak akan ... menjauhiku, 'kan?"
Aku terhenyak mendengar kalimatnya. "Mana mungkin aku menjauhimu, Elen," balasku cepat. Aku segera beranjak, berjalan beberapa langkah di depan gadis itu. "Cepatlah, sebentar lagi makan siang."
Hening. Aku tak merasakan adanya pergerakan Elena di belakang, dia tak beranjak dari tempat duduknya. Dia tak mengikutiku, tapi beberapa saat kemudian, suara lirih Elena membuatku berhenti melangkah.
"Kau tak akan melupakanku, 'kan?"
Pertanyaannya itu ... menimbulkan perasaan sesak dalam dadaku.
"Aaron, janji ya jangan melupakanku." Aku menoleh, dan yang kudapati adalah Elena yang terlihat kesepian.
"Kalau Aaron sampai melupakanku, aku nangis, nih!" Elena tertawa, memperlihatkan tawa yang memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
Meski terlihat bahagia, aku yakin tawa Elena merupakan tawa yang menyimpan banyak kesedihan.