Tiga hari setelah pertemuan dengan Bu Yuni, Maya merasa hidupnya mulai tenang. Rendra rutin datang dengan donat setiap pagi. Mereka makan siang bersama hampir setiap hari. Malam-malam diisi dengan nonton film atau sekadar ngobrol di sofa. Sari bilang ini "masa indah sebelum badai". Maya bilang Sari terlalu dramatis. Tapi ternyata Sari benar. --- Kamis sore, kantor Maya. Maya sedang menyelesaikan laporan ketika ponselnya berdering. Nomor asing. Lagi. "Halo?" "Halo, Maya?" Suara perempuan. Tidak dikenal. Tapi ada nada familiar yang membuat Maya tegang. "Iya. Siapa ini?" "Ini Wulan. Temannya Rendra." Maya diam. Jantungnya berdetak cepat. "Teman? Teman apa?" Diam di seberang. Lalu Wulan berkata, "Teman... dekat." Maya mengepalkan tangan. "Maksud kamu?" "Maksud aku... aku sama R

