bc

Tabrak Lari Cintaku

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
confident
sweet
bxg
office/work place
civilian
like
intro-logo
Blurb

Di kota besar, nasib kadang dipertemukan bukan oleh bintang, tapi oleh kejar-kejaran yang kacau.Rendra, karyawan biasa yang terlalu patuh, sedang dalam misi menyelamatkan sekotak Donat Dewa untuk bos galaknya. Maya, wanita karier ambisius, sedang berusaha menyelamatkan flashdisk panda berisi presentasi (dan tanpa sengaja, foto memalukan bos) yang bisa mengubah hidupnya.Masalah mereka sederhana: mereka harus sampai tepat waktu.Masalah yang lebih besar: mereka sedang dikejar.Rendra tanpa sengaja membuat marah trio preman receh. Maya dikejar dua staf keamanan yang dikirim bos paranoidnya. Nasib mempertemukan mereka dalam sebuah tabrakan yang tidak elegan, di tengah trotoar, di antara krim donat yang meletus dan sepatu heels yang patah.Satu-satunya jalan keluar? Bekerja sama. Menyelamatkan diri dengan penyamaran norak sebagai tukang maintenance, menghindari para pengejar yang sama-sama nekat, dan berusaha tidak tertawa melihat keadaan satu sama lain.Di antara lintasan peluru (yang berupa teriakan preman dan sorotan mata bodyguard), hati mereka justru mulai berdetak lebih kencang. Bukan hanya karena lari, tapi karena kebersamaan yang tidak direncanakan dalam kekonyolan total.Akankah misi mereka untuk menyelamatkan donat dan panda berhasil?Dan yang lebih penting, akankah mereka berhasil menyelamatkan diri dari rasa yang mulai tumbuh—di saat yang paling tidak tepat dan paling kocak dalam hidup mereka?---"Tabrak Lari Cintaku" adalah novel komedi romantis yang segar, tentang bagaimana cinta bisa datang saat kita paling kacau. Sebuah kisah tentang pelarian, kerja sama, dan tawa yang tak terduga—bukannya jatuh cinta di bawah bulan purnama, tapi saat berlari dari preman sambil berlumur krim vanilla.Untuk pembaca yang menyukai:· Komedi situasi yang mengocok perut· Romansa yang berkembang secara natural dari chemistry yang lucu· Karakter biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa· Cerita ringan dengan adegan kejar-kejaran kocak ala filmCinta itu memang gila. Tapi kali ini, benar-benar dibarengi kejar-kejaran!

chap-preview
Free preview
Kejar-Kejaran, Siapa Takut?
Hari itu adalah hari di mana alam semesta sepertinya sedang mengocok dadu nasib dengan sangat ceroboh. Aku, Rendra, berlari sekencang-kencangnya menyusuri trotoar di kawasan Kemang, napas tersengal-sengal, dengan satu misi mulia: menyelamatkan sekotak donat premium yang hampir hancur di genggamanku. Bukan sembarang donat. Ini adalah "Donat Dewa" pesanan khusus bosku, Bu Yetty, yang harus sampai di meeting pukul 10 tepat. Pukul 09.55, dan jarak 500 meter lagi. Masalahnya? Sepatu kulitku yang elegan tapi licin itu memutuskan untuk melakukan aksi heroik menginjak kulit pisang (siapa sih yang makan pisang pagi-pagi di Kemang?) dan meluncur seperti kereta api Argo Bromo. Akibatnya, tanpa sengaja aku menabrak seorang bapak-bapak yang sedang asyik menenteng koper kecil. "Maaf, Pak! Darurat!" teriakku sambil melanjutkan lari, tanpa melihat bahwa koper kecil itu terbuka dan isinya—segepok uang mainan Monopoli berhamburan. Bapak itu, yang ternyata preman bayaran dengan wajah pas-pasan, berteriak marah. Dan dua orang "koleganya" yang berdiri di dekat warung kopi langsung mengejar. Aku, yang polosnya minta ampun, baru sadar telah membuat marah orang yang salah. Jadi sekarang, bukan hanya donat yang terancam, nyawaku juga. Di sisi lain kota, atau lebih tepatnya, di ujung jalan yang sama, ada Maya. Dia berlari dengan gaya yang jauh lebih elegan dariku, seperti model yang sedang melakukan jogging stylish, tapi ekspresi mukanya adalah ekspresi seseorang yang baru mencuri singkong dari kebun tetangga. Di tangannya tergenggam erat sebuah flashdisk berbentuk boneka panda yang lucu. Flashdisk itu berisi presentasi kerennya yang akan mengubah nasib kariernya, tapi juga, tanpa sepengetahuannya, menyimpan data rahasia foto selfie bos kantornya yang sedang memakai masker wajah alpukat dan hair-cap bergambar strawberry. Data itu secara tak sengaja tersimpan saat ia meminjam laptop bosnya. Sekarang, dua orang staf keamanan berbadan besar yang dikirim sang bos (yang panik fotonya bocor) mengejarnya, karena mengira Maya adalah mata-mata industri pesaing. Takdir mempertemukan kami di persimpangan kecil di depan sebuah kafe yang overpriced. Aku, dari arah utara, melaju seperti anak panah dengan mata membelalak, donat di satu tangan, dasi terkibas-kibas. Dia, dari arah timur, meluncur dengan heelsnya yang membuatnya seperti bayi jerapah belajar lari, memegang panda seolah-olah itu tabung oksigennya. KRAAK! BUM! Kami bertabrakan bukan dengan elegan. Aku terjatuh dengan donat tertekan di dadaku, membuat krim vanilla meletus dan mengenai dagu dan dasiku seperti ledakan seni modern. Maya terpelanting, flashdisk panda-nya melayang dan mendarat di pot bunga dekat kaki seorang nenek yang sedang minum kopi. Heels-nya yang satu patah, dan yang lainnya nyangkut di lubang drainase. "Aw, aw, aw… donatku!" erangku, lebih sedih melihat krim di baju daripada potensi patah tulang. "Pandaku! Itu nyawaku!" teriak Maya, merangkak ke arah pot bunga. Kami saling memandang sesaat. Aku melihat seorang wanita cantik dengan riasan sedikit luntur dan mata penuh kepanikan. Dia melihat seorang pria berkemeja lengan panjang dengan noda krim di wajah dan wajah yang sama paniknya. Lalu, terdengar teriakan dari dua arah. "Dia itu! Yang nabrak pak Andi!" teriak dua preman dari belakangku. "Jangan biarkan dia kabur! Ambil flashdisk-nya!" teriak dua staf keamanan dari belakang Maya. Dalam sepersekian detik, insting primitif kami yang dipenuhi adrenalin bersatu. Tanpa sepatah kata pun, kami bangkit bersamaan. Aku meraih tangan Maya (yang masih memegang heels patah di tangan satunya), menariknya berdiri. Tanpa pikir panjang, kami berdua masuk menyelamatkan diri ke dalam kafe yang persis di depan kami—kafe bernama "Kopi s**u Sepi" yang ironisnya hari itu sedang ramai. Kami menyusup di antara meja-meja pengunjung yang terkejut, lalu tanpa pikir panjang, menyelinap ke balik pintu yang bertuliskan "PRIVATE". Ternyata itu adalah gudang kecil yang penuh dengan karung kopi dan perlengkapan kebersihan. Kami masuk, menutup pintu rapat-rapat, dan berdiri dalam gelap, berdesakan di antara kemoceng dan ember. Di luar, kami bisa mendengar keributan. "Liat tuh orang masuk sini!" kata suara preman. "Permisi, ada lihat wanita bawa boneka panda?" tanya suara staf keamanan, lebih sopan. "Panda? Di sini cuma ada kucing liar!" sahut suara barista yang terdengar bosan. Dalam kegelapan gudang yang pengap, hanya cahaya remang dari celah pintu, kami terdiam. Napas kami masih terengah-engah. Baru kemudian, kesadaran akan kedekatan fisik ini mulai menyergap. Aku masih memegang tangannya. Tangannya halus, tapi mencengkeram tanganku dengan kuat, seperti cengkeraman orang tenggelam. "Maaf," bisikku, melepaskan genggaman. "Rendra." "Maya," balasnya, suaranya parau. "Kamu dikejar kenapa?" "Aku… masalah donat dan preman," jawabku singkat, merasa itu adalah penjelasan yang sangat konyol. "Kamu?" "Aku… masalah panda dan bos berkrim alpukat," jawabnya, terdengar sama konyolnya. Kami terdiam sebentar, lalu tiba-tiba, tanpa bisa menahannya, kami menahan tawa. Awalnya cekakikan, lalu menjadi tertawa terbahak-bahak yang kami coba tekan agar tidak terdengar. Aku menepuk-nepuk karung kopi, dia memukul pahaku pelan. "Donat? Serius?" desisnya sambil tertawa. "Panda? Lebih serius?" balasku, sambil melihat noda krim di bajuku yang kini juga menempel di lengan bajunya. Suara langkah kaki mendekat ke arah pintu gudang. Kami langsung diam. Hening. Hanya detak jantung kami yang berdebar kencang, bersahut-sahutan. Aku bisa mencium wangi parfumnya yang bercampur dengan sedikit aroma keringat dan… vanilla dari donatku. Pintu didorong. Tapi untungnya ada gerendel dari dalam. Kami menahan napas. "Kunci dari dalam. Mungkin ada kucing," kata suara di luar, lalu pergi. Kami menghela napas lega. Perlahan, mataku mulai terbiasa dengan gelap. Aku melihat wajahnya yang ternyata sangat manis, dengan hidung mancung dan mata berbinar, meski sekarang penuh kelelahan. Dia melihatku, lalu matanya tertuju ke daguku. "Kamu… punya krim di dagu. Seperti janggut Santa Claus yang gagal," bisiknya, tersenyum. "Kamu punya glitter eyeshadow yang lari ke pelipis. Seperti bintang jatuh yang nyasar," balasku. Kami tertawa lagi, pelan. "Jadi, gimana rencananya, Robin Hood Donat?" tanyanya, mencoba mengatur napas. "Pertama, selamatkan panda. Kedua, cari jalan keluar tanpa ketemu preman atau bodyguard alpukat. Ketiga…" perutku keroncong keras. "...cari pengganti donat." "Atau kita bisa bertukar masalah," usulnya. "Aku yang urus premanmu dengan sedikit bujukan, kamu yang urus bodyguard-ku dengan… eh, dengan krim donat di muka?" "Deal. Tapi bujukannya jangan pakai heels patah itu ya," kataku, menunjuk sepatunya. Dia mengangkat heels yang patah itu. "Ini senjataku. Siapa tahu bisa jadi pedang cahaya." Kami mulai merencanakan pelarian. Dari celah pintu, kami lihat kafe mulai sepi. Dua preman tampak mondar-mandir di luar jendela. Dua staf keamanan duduk di meja terdepan, pesan kopi sambil mata awas. "Ada pintu belakang?" tanya Maya. Aku mengintip lebih jauh. "Ada. Tapi dekat dapur. Dan ada tukang cuci piring yang lagi break merokok." "Bagaimana kalau kita menyamar?" usul Maya tiba-tiba, matanya berbinar nakal. Dia melihat sekeliling gudang. Matanya berhenti pada sebuah rak. Di sana ada beberapa atribut: topi sinterklas, kumis palsu, dan… dua set seragam tim maintenance kafe berwarna oranye terang. "Ini pasti untuk acara natal mereka yang telat," gumamku. Lima belas menit kemudian, pintu gudang terbuka. Keluar dua orang teknisi maintenance dengan seragam oranye menyala, topi yang menutup sebagian wajah, kacamata besar, dan membawa peralatan seadanya: aku membawa kemoceng dan obeng, Maya membawa ember dan penyemprot bunga. Kumis palsu menghiasi wajahku, sedangkan Maya memakai bandana menutupi rambutnya. Kami berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha tampak sibuk. Melewati meja para staf keamanan yang bahkan tidak melirik. Hampir saja sampai di pintu belakang dekat dapur, saat tiba-tiba… "Eh, Kang! Toilet kedua keblokir lagi nih!" teriak si barista yang bosan tadi. Kami membeku. Lalu, dengan sikap paling profesional yang bisa kami kumpulkan, aku memberi isyarat 'oke' dengan jempol, dan berbelok ke arah toilet, menjauhi pintu belakang yang merupakan jalan kebebasan. Sangat tidak sesuai rencana. Di depan toilet, ternyata ada antrian. Dan siapa yang ada di antrian? Dua preman yang mengejarku! Salah satunya sedang mengetuk-ngetuk pintu toilet dengan kesal. Kami berdiri di belakang mereka, berusaha mengecil. Hatiku berdebar kencang. Aku melirik Maya. Di balik kacamata besarnya, matanya melotot penuh teror. Tiba-tiba, preman yang satunya menoleh. Matanya melihat seragam oranye kami. Lalu, melihat ke ember Maya. Di dalam ember, tanpa sengaja, tadi kami menaruh flashdisk panda dan sisa donat yang hancur (karena sayang untuk dibuang). "Loe, maintenance ya?" tanyanya kasar. "Gue mau nanya, tadi liat orang lari bawa koper nabrak gue nga?" Aku menggeleng, sambil mengubah suara jadi serak. "Nggak, Pak. Kami baru dateng." Dia mengangguk, lalu pandangannya tertuju ke ember. "Itu donat?" Maya, dengan reflek yang luar biasa, menjawab dengan suara serak juga (lebih mirip suara nenek-nenek), "Iya, Pak. Sampah dari tadi. Mau dibuang." Preman itu mengerutkan kening. Tapi lalu temannya berteriak, "Ayo, toiletnya kosong!" dan mereka masuk ke dua toilet yang tersedia. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung meluncur ke pintu belakang, melewati tukang cuci piring yang sedang asyik video call, dan akhirnya… KELUAR! Udara segar (atau setidaknya udara Jakarta) menyambut kami. Kami terus berjalan cepat, menyusuri gang kecil, sampai merasa aman. Setelah sampai di sebuah taman mini yang sepi, kami duduk di bangku, melepas topi dan kacamata, dan akhirnya bisa bernapas lega. "Kita… berhasil?" tanya Maya, masih tidak percaya. "Kayaknya iya," jawabku, melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda pengejar. Dia mengeluarkan flashdisk panda dari saku seragam oranye. Aku mengeluarkan sisa donat yang sudah berupa adonan krim dan tepung. Kami saling pandang. "Donat Dewa-ku hancur," kataku, putus asa. "Presentasi pentingku tertunda," katanya, sama putus asanya. Tapi kemudian, dia mengambil sedikit adonan donat yang masih bisa dimakan dari bungkusnya, mencicipi. "Ini… enak juga sih." Aku tersenyum. "Dibuat dengan keringat dan teror, bahan rahasianya." Dia tertawa. Lalu tiba-tiba wajahnya serius. "Rendra, terima kasih. Sudah menarik tanganku tadi. Aku mungkin sudah ditangkap kalau bukan karena tabrakan kita." "Aku juga, Maya. Tabrakan terbaik dalam hidupku," kataku, dan langsung merasa itu adalah kalimat yang sangat cringe. Tapi dia hanya tersenyum, sedikit tersipu. Senyumnya indah, bahkan dengan glitter yang berantakan. "Jadi… sekarang gimana? Preman dan bodyguard mungkin masih cari kita," tanyanya. Aku berpikir sejenak. "Aku harus melapor ke bosku dengan donat yang sudah menjadi kue keringat. Kamu harus ke kantor dengan panda penyelamat." "Atau…" dia menyelanya, "kita cari tempat dulu untuk bersih-bersih. Kita berdua seperti keluar dari perang makanan. Lalu… mungkin kita bisa bantu satu sama lain? Aku punya teman yang jual donat enak dekat sini. Kamu punya skill untuk menyelamatkan flashdisk dari krisis?" Mataku berbinar. "Setuju. Tapi… kita masih pakai seragam oranye lho." Kami saling memandangi seragam kami yang norak, lalu tertawa lagi. Tertawa lepas, melepas semua ketegangan. Di tengah kekonyolan situasi, kejar-kejaran absurd, dan penyamaran yang kacau, ada sesuatu yang hangat mengembang di antara kami. Mungkin ini awal dari bencana lain, atau mungkin awal dari sesuatu yang lucu dan indah. Tapi satu hal yang pasti: ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah pertemuan yang diawali tabrakan, diwarnai krim donat, dan diselamatkan oleh seragam maintenance oranye. "Oke, partner dalam krim," kataku, berdiri dan mengulurkan tangan. "Mari kita atasi kekacauan ini." Dia menggenggam tanganku. "Let's go, partner dalam panda." Dan di sanalah, di sebuah taman kecil di Kemang, dua orang asing yang dikejar oleh masalah mereka masing-masing, kini berjalan berdampingan. Masih dengan seragam oranye, dan hati yang mulai berdebar bukan hanya karena dikejar, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih manis dari krim donat, dan lebih berharga dari flashdisk panda.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.2K
bc

Eat Me, Daddy!

read
17.9K
bc

Nona-ku Canduku

read
101.1K
bc

BRIANNA [Affair]

read
131.3K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
2.7K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
54.3K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
150.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook