Setelah berhasil lolos dari kafe "Kopi s**u Sepi", kami masih mengenakan seragam oranye menyala itu. Wajah kami seperti pelarian dari acara "Undercover tukang bersih-bersih yang gagal". Tawa kami akhirnya pecah lagi begitu merasa aman di taman mini, tapi cepat-cepat mereda karena menyadari bahwa kami masih terlalu dekat dengan zona bahaya.
"Pertama-tama, kita harus ganti baju," kata Maya, menarik-narik seragam oranye yang kebesaran. "Aku kayak telur dadar berjalan."
"Aku setuju. Tapi uangku ada di kantong celanaku yang asli, dan celanaku itu... masih di gudang kafe tadi, mungkin sudah jadi lap pel," jawabku dengan putus asa.
Maya menghela napas, lalu matanya berbinar. "Aku punya ide. Temanku, Sari, punya lapak di pasar loak dekat sini. Dia pasti mau bantu. Kita bisa ganti baju di sana, dan... kamu bilang tadi butuh pengganti donat? Di pasar loak juga ada kue-kue kiloan yang... katanya enak."
"Kue kiloan? Bu Yetty bakal tahu itu bukan 'Donat Dewa'. Tapi, oke, better than nothing. Ayo."
Kami berjalan agak tertunduk, seragam oranye kami seperti lampu sirene berjalan. Perjalanan ke pasar loak penuh dengan kejadian-kejadian memalukan. Seorang anak kecil menunjuk kami dan berkata, "Ibu, lihat, superhero sampah!" Ibunya cepat-cepat membawanya pergi. Seorang ojek online menawarkan jasa, "Mau anter ke TPA, Bang? Tahu jalur pintas nih."
Sampai di pasar loak, suasana riuh rendah dan bau campuran tanah lembap, minyak goreng, dan barang bekas menyambut kami. Lapak Sari, "Sari Rejeki Second", terletak di pojok, dipenuhi tumpukan baju, celana, dan aksesori aneh-aneh.
Sari, wanita berbadan besar dengan hati lebih besar lagi, langsung terbahak melihat kami.
"Maya! Akhirnya kamu dateng juga bawa oleh-oleh... pria berkumis palsu dan bau vanila?" Sari menyambut.
"Sar, ini darurat. Butuh baju ganti. Dan mungkin... sedikit penyamaran," pinta Maya.
Sari mengangguk-angguk, matanya menyipit penuh selidik. "Dikejar debt collector lagi, ya? Atau mantan?"
"Lebih rumit dari itu. Debt collector, bodyguard, dan mungkin... harga diriku yang hancur," jawabku, mencoba melucu.
Sari tertawa keras. "Aku suka orang ini. Oke, aku punya barang bagus untuk kalian."
Yang Sari berikan kepada kami adalah... sesuatu.
Untukku: Sebuah kemeja Hawaii dengan motif bunga-bunga menyala dan gambar kepala ayam jago di punggung. Celananya celana pendek cargo cokelat muda yang agak kekecilan. "Ini pakaian orang yang tadinya mau jadi penyanyi dangdut tapi pindah haluan jadi pedagang ayam," jelas Sari dengan serius.
Untuk Maya: Sebuah dress vintage bermotif bunga mawar merah jambu yang sangat ketat dan agak pendek, plus sepasang sepatu wedges kulit imitasi. "Ini milik pelanggan yang biasa ikut lomba dangdut. Tapi dia gendut jadi ga muat. Cocok buat kamu, slim!"
Kami saling memandang dengan rasa ngeri. Tapi waktu mendesak. Kami masuk ke belakang lapak yang cuma dipisahkan tirai tipis untuk berganti pakaian.
Ini adalah momen yang canggung, lucu, dan... agak memanas.
"Dengar, Rendra," bisik Maya dari balik tirai. "Aku di sini, kamu di situ. Jangan ngintip ya."
"Aku sibuk berjuang memasukkan kaki ke celana pendek ini, Maya. Aku tidak punya waktu buat ngintip," jawabku, yang bohong. Imajinasiku sedikit liar. Suara gesekan kain dari balik tirai sangat menggoda.
Tiba-tiba, terdengar teriakan kecil Maya. "Aduh! Gawat!"
"Ada apa?" tanyaku khawatir.
"Zipper dress-nya... macet. Nggak bisa naik, nggak bisa turun. Aku terjebak setengah badan!" suaranya panik.
"Serius? Butuh bantuan?"
Diam sejenak. "I... iya. Tapi tutup mata kamu!"
Aku membuka tirai sedikit. Maya berdiri membelakangiku, punggungnya terbuka, resletingnya tersangkut di tengah. Kulitnya halus, lekuk tulang belakangnya terlihat jelas. Aku menelan ludah.
"Aku tutup mata," bohongku lagi, tapi aku berusaha fokus pada resletingnya, bukan pada kulitnya yang membuatku ingin mengusapnya.
"Buruan," desisnya.
Aku mencoba menarik resleting itu dengan hati-hati, tapi ternyata benar-benar macet. Setiap sentuhan jari tak sengaja pada kulitnya membuat kami berdua melompat kecil.
"Kamu harus... tarik lebih kuat," bisiknya, suaranya agak serak.
"Takut sobek bajunya," jawabku.
"Sekarang bukan waktunya untuk gentle, Rendra! Tarik saja!"
Aku menarik dengan sedikit lebih kencang. Krrrrt! Resletingnya naik, tapi kain di sekitarnya agak melar, membuat dress itu semakin ketat membalut tubuh Maya. Dia memekik kecil.
"Sudah! Tapi... aku kayak sosis dibungkus plastik," keluhnya, berbalik. Dan ya, dress itu sangat ketat. Sangat-sangat menonjokan setiap kurvanya. Aku bisa merasa darah mengalir ke dua bagian tubuhku yang berbeda: kepala (buat mikir) dan... bagian lain (buat nggak mikir).
"Kamu... kamu keliatan..." aku tak bisa menyelesaikan kalimat.
"Gendut?" tanyanya cemas.
"...luar biasa," gumamku. Dan aku melihat pipinya memerah.
Melihatku, Maya juga mencoba menahan tawa. "Dan kamu... kayak turis yang tersesat dari pantai Kuta. Lengkap dengan ayam jago di punggung."
Kami tertawa, meski suasana di balik tirai itu panas dan penuh ketegangan seksual yang konyol. Saat itulah, Sari membuka tirai tanpa pemberitahuan.
"Wah! Cocok banget! Tapi keliatannya kalian perlu pendinginan. Minum air dulu," katanya sambil memberikan dua gelas air mineral, matanya berbinar-binar seperti sedang menonton sinetron favoritnya.
Setelah membayar dengan harga teman (dan janji Maya akan traktir makan siang minggu depan), kami meninggalkan pasar loak dengan penampilan baru yang memalukan. Tapi setidaknya, kami tidak lagi memakai seragam oranye.
Masalah berikutnya: dimana kami bisa 'merapat' dan merencanakan langkah selanjutnya dengan tenang? Kantor Maya? Tidak mungkin. Kantorku? Jauh. Rumah kostku? Lebih dekat, dan kos-kosan Bu Marni terkenal sebagai tempat yang 'ramah' pada tamu.
"Ke kosanku aja. Itu dekat. Kita bisa mikir dengan tenang, dan... kamu bisa pakai baju ganti yang lebih wajar," tawarku, tersipu.
Maya mengangguk. "Oke. Tapi janji, kamarmu bukan sarang laba-laba ya."
Kamar kostku yang berukuran 3x3 meter adalah saksi bisu dari hidupku sebagai*** (bujangan) yang berantakan. Saat membuka pintu, aku melihat kekacauan itu: seprai belum rapih, beberapa baju tergantung sembarangan, dan ada poster film action yang sudutnya terlepas.
"Welcome to my... mess," kataku malu.
"Cozy," kata Maya diplomatis, matanya menyapu ruangan dan berhenti pada tempat tidurku yang sempit. "Kita... duduk di mana?"
"Di... kasur saja. Maaf, cuma ada satu kursi, dan itu penuh dengan buku." Aku cepat-cepat mengambil celana dalam yang nyasar dan menyembunyikannya di bawah bantal. Gerakan itu tidak luput dari mata Maya yang langsung tersenyum simpul.
Kami duduk di tepi kasur, berjarak satu kepalan. Suasana tiba-tiba hening. Di ruang tertutup yang kecil ini, kesadaran bahwa kami berdua sendirian mulai menebar aura yang berbeda. Bau parfum Maya yang samar bercampur dengan bau keringat dan vanila dari bajuku yang lama.
"Aku masih pegang ini," kata Maya, memecah keheningan sambil mengeluarkan flashdisk panda dari clutch kecil imitasi pemberian Sari. "Dan kamu?"
Aku mengeluarkan plastik berisi donat hancur dari kantong celana pendek cargo. "Masih ada. Tapi sudah jadi Frankenstein donat."
Kami tertawa kecil. Tawa itu cepat mereda. Pandangan kami bertemu, dan tiba-tiba udara terasa berat.
"Jadi, rencananya..." ucapku, suara agak serak. Aku membersihkan tenggorokan. "Aku harus beli donat pengganti. Kamu harus masukin flashdisk itu ke laptop dan hapus foto... itu."
"Ya," jawab Maya singkat. Matanya tidak lepas dariku. Dia bermain-main dengan ujung dress-nya yang pendek. Gerakan itu menarik perhatianku pada pahanya yang mulus.
"Kamu... kamu pasti mikir ini gila ya," kataku. "Ketemu orang asing, dikejar-kejar, ganti baju aneh-aneh, sekarang di kamar kos orang yang baru dikenal."
"Yang paling gila adalah... aku nggak merasa takut sama kamu," bisiknya. "Aku justru merasa... excited."
Kata itu menggantung di udara. Excited.
Aku tidak berpikir panjang. Atau mungkin, semua darah sudah mengalir ke satu tempat sehingga otakku kekurangan oksigen. Aku mendekat. Dia tidak menjauh. Napasnya sudah bisa kurasai.
"Rendra..." bisiknya lagi, nama di bibirnya terdengar seperti undangan.
Dan saat bibir kami hampir menyentuh...
BRRNG! BRRNG!
Suara dering teleponku yang keras dan bernada lagu dangdut koplo (pilihan yang sekarang sangat aku sesali) memekakkan telinga. Kami berdua melompat terpisah seperti tersengat listrik.
Itu Bu Yetty.
"Dengar, Rendra," sambutnya dengan suara seperti gergaji mesin. "Donatnya dimana? Meeting sudah mulai, dan bos besar dari pusat mau cicip!"
"Bu Yetty, saya... di perjalanan. Ada sedikit hambatan teknis. Tapi donatnya... special edition! Lebih lembut!" kataku sambil menatap bola adonan krim yang hancur.
"Technical problem? Kamu jangan bikin masalah! Balik ke kantor sekarang! Atau kamu mau urus surat peringatan?" teriaknya sebelum menutup telepon.
Sementara itu, telepon Maya juga berdering. Dari raut mukanya, itu adalah bosnya. "Iya, Pak... Saya hampir sampai. Flashdisk? Aman... Saya ada meeting dadakan di luar... Iya, Pak. Segera."
Kami menatap satu sama lain. Dunia nyata, dengan segala tuntutan gila dan bos-bos yang menyebalkan, datang menerjang.
"Kita harus pergi," kata kami berbarengan.
Tapi sebelum berdiri, Maya meletakkan tangannya di tanganku. "Ini belum selesai, ya?"
Aku menggenggam tangannya. "Belum. Ini baru babak pertama."
Dia tersenyum, lalu berdiri. Dress ketat itu membuatnya sedikit kesulitan, dan aku spontan menawarkan tangan untuk membantunya. Saat berdiri, dia ternyata lebih dekat dari yang dikira. Badan kami bersentuhan. Sekali lagi, percikan listrik.
"Kamu butuh baju yang lebih... sopan untuk ke kantor," kataku, melihat dress-nya yang tak meninggalkan banyak untuk imajinasi.
Aku membuka lemari kecilku dan memberikan kaus oblong polos dan celana jeans lama yang mungkin agak longgar untuknya. "Ini aja. Ganti di sini, aku keluar."
Aku menunggu di luar, di lorong kosan yang pengap, sambil mencoba menenangkan pikiran (dan tubuh) yang masih bergejolak. Bayangan Maya berganti baju di kamarku membuatku tersenyum sendiri seperti orang bodoh.
Beberapa menit kemudian, dia keluar. Memakai kaus oblongku yang kebesaran dan celana jeans digulung di bagian kaki. Dia terlihat seperti anak kecil memakai baju orang tuanya, tapi sangat manis. Dia menggendong dress ketat itu di tangan.
"Kita tukeran," katanya, menyodorkan dress itu. "Baju Hawaii-mu aku simpen. Jaminan."
Aku tertawa. "Deal. Sekarang, ayo hadapi dunia. Kamu ke kantormu, aku ke kantorku. Kita... ketemu nanti?"
"Malam ini. Tempat netral. Kafe tadi, tapi kita pesan take away. Jam 8?" usulnya.
"Jam 8. Jangan bawa preman atau bodyguard."
"Ditto. Jangan bawa donat hancur."
Kami berpisah di depan kosan. Dia memanggil taksi online, aku menuju halte angkot. Saat dia akan masuk ke mobil, dia menoleh dan melambaikan tangan. Aku membalasnya, dengan senyum lebar yang tak bisa kupendam.
Perjalanan ke kantor dipenuhi dengan pikiran tentangnya. Senyumannya, tawanya, caranya melihatku, dan... kulit punggungnya yang halus. Aku tersenyum lagi. Bos-bos itu bisa memarahiku sepuasnya. Hari ini, aku merasa seperti pemenang.
Tapi, tentu saja, nasib masih punya kartu lucu (atau kacau) untuk dibagikan. Saat aku turun dari angkot, dua orang yang sangat familiar—dua preman receh pengejarku tadi—sedang berdiri di warung rokok dekat kantorku. Mereka belum melihatku, berkat baju Hawaii dan celana pendekku yang berhasil menyamar.
Aku melipat diri, berjalan cepat ke arah toko kue di seberang untuk mencari 'Donat Dewa' pengganti. Misi penyelamatan masih belum berakhir. Tapi setidaknya, sekarang aku punya alasan untuk bertahan hidup dan menyelesaikan ini semua: sebuah janji di sebuah kafe, jam 8 malam, dengan seorang wanita yang membuatku tertawa dan jantungku berdebar kencang... bahkan lebih kencang dari saat dikejar preman.