Janji Kafe, Ketidaksengajaan, dan Kejutan Berantai

1458 Words
Kantor berjalan seperti biasanya: penuh drama. Bu Yetty hampir meledak melihat "Donat Dewa Special Edition" yang sebenarnya adalah donat toko kue biasa dengan taburan gula halus ekstra yang aku usap-usap sendiri agar terlihat premium. Tapi, entah karena kebodohan atau berkah dari semesta, bos besar dari pusat ternyata alergi gluten dan justru senang melihat aku membawa alternatif kue mangkuk yang tidak direncanakan. Aku selamat. Surat peringatan menguap. Kemenangan kecil. Sepanjang hari, pikiranku melayang ke Maya. SMS pertama kami (setelah bertukar nomor dengan malu-malu di depan kosan) berisi teks yang sangat formal: Maya (13.45): Presentasi berjalan. Panda selamat. Foto alpukat telah terhapus. Badai berlalu. Terima kasih untuk jeans-nya. Rendra (13.47): Donat diterima. Perang usai. Kaus oblong itu... cocok. Maya (13.49): Itu bau parfummu. Aroma kayu dan... krim donat yang membandel. Rendra (13.52): Maaf. Kamu masih pakai bajuku? Maya (13.55): Mungkin. Atau tidak. Jam 8 masih berlaku? Rendra (13.56): Aku akan ada di sana bahkan jika kafe itu terbakar. Cuitan singkat itu saja membuat jantungku berdegup kencang sepanjang rapat sore. Pukul 18.30, aku sudah mandi dua kali, memilih baju dengan hati-hati (kemeja sederhana, celana chino, no Hawaiian prints), dan menyemprotkan parfum di titik-titik strategis. Aku juga diam-diam membereskan kamar kos, menyembunyikan tumpukan kaus kaki, dan mengganti seprai. Untuk apa? Aku tidak berharap apa-apa, tapi... siapa tahu. Pukul 19.55, aku sudah duduk di Kafe "Kopi s**u Sepi". Ironisnya, kini benar-benar sepi. Aku memilih sudut paling dalam. Saat jarum jam tepat di angka 8, pintu kafe terbuka. Maya masuk. Dia tidak memakai kaus oblongku lagi. Dia mengenakan sundress kuning sederhana yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sopan namun menggoda, rambutnya tergerai, dan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Dia membawa sebuah tas kain kecil. "Kamu tepat waktu," katanya, duduk di seberangku. Matanya berbinar. "Kamu juga. Dan kamu... keliatan berbeda. Dalam arti baik," gumamku, tiba-tiba merasa kemejaku agak sempit di bagian kerah. "Aku pulang ke apartemenku sebentar. Ganti baju. Dan... mengembalikan ini." Dia mengeluarkan kaus oblongku dari dalam tas, terlipat rapi. Aku menerimanya. Kaus itu masih membawa wangi lembutnya, campuran parfum bunga dan sesuatu yang khas Maya. "Terima kasih. Aku bawakan ini." Aku menyerahkan plastik berisi baju Hawaii dan celana cargo. "Sebagai jaminan, seperti katamu." Kami tertawa. Pelayan datang, dan kami memesan dua latte dan satu slice cheesecake. Percakapan mengalir dengan mudah. Kami bercerita tentang pekerjaan, hobi konyol (ternyata dia suka menonton video ASMR orang memotong sabun, sementara aku kolektor sendok dari tempat-tempat yang bahkan tidak terkenal), dan tentu saja, menertawakan kembali petualangan absurd kami pagi itu. "Kamu tahu, saat resletingku macet... itu momen paling memalukan sekaligus paling..." dia berhenti, menatap cangkirnya. "Paling...?" desakku penasaran, tubuhku condong ke depan tanpa sadar. "Paling... intimate yang pernah aku alami dengan orang asing," bisiknya, wajahnya merona. "Aku juga merasakan hal yang sama," jawabku jujur. "Aku harus berkonsentrasi ekstra keras pada resletingnya, bukan pada... hal lain." Dia tersipu makin dalam. "Rendra... Aku senang kita ketemu." "Aku juga, Maya. Aku..." Tiba-tiba, teleponnya berdering. Dari ekspresinya, itu penting. "Maaf, ini adikku. Sebentar ya." Dia menjawab, dan wajahnya berubah. "Apa? Sekarang? Di UGD? Oke, oke, aku segera ke sana!" Dia berdiri, panik. "Maaf, Rendra. Adikku kecelakaan kecil, dia di UGD dekat sini. Aku harus..." "Aku ikut," kataku langsung, tanpa pikir panjang. "Kamu sedang panik, tidak boleh sendirian." Dia melihatku, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih." Kami buru-buru membayar dan naik taksi ke rumah sakit. Perjalanan dalam taksi yang gelap dan sempit menciptakan kembali kedekatan fisik kami. Pahanya menyentuh pahaku. Bahu kami bersentuhan. Setiap guncangan taksi membuat kami semakin berdekatan. Aromanya memenuhi kabin. Napasku sedikit tersendat. Di UGD, ternyata adiknya hanya keseleo pergelangan kaki setelah jatuh dari sepeda. Tapi karena shock, dia menelepon Maya dengan dramatis. Setelah memastikan adiknya baik-baik saja dan menunggu suaminya datang, kami pun bisa keluar. "Maaf ya, sudah mengacaukan malam kita," kata Maya lelah saat kami berdiri di halte bus yang sepi, menunggu kendaraan. "Jangan khawatir. Keluarga itu penting." Aku berhenti sejenak. "Tapi... kita belum makan malam. Kamu lapar?" Dia mengangguk. "Lapar. Tapi restoran pada tutup." "Aku punya mie instan dan telur di kosan. Dan... itu dekat sini," tawariku, hati berdebar kencang. Mengajak wanita ke kamar kos untuk kedua kalinya dalam sehari? Itu terdengar... tidak benar. Tapi suasana sudah berbeda. Maya menatapku. Ada pertimbangan, keingintahuan, dan kelelahan di matanya. "Oke. Tapi hanya untuk mie instan ya. Aku janji." "Sepakat. Hanya untuk mie instan." Kembali ke kosan, lampu lorong yang remang-remang membuat suasana terasa intim. Saat aku membuka pintu, usahaku membereskan kamar terbayar. Kamar terlihat rapi, dan aroma pengharum ruangan ringan menyambut. "Wah, sudah dirapihin," komentar Maya, tersenyum kecil. Dia duduk di satu-satunya kursi, sementara aku beraksi di induction cooker kecil di lantai, merebus air dan mie. Proses memasak mie instan untuk dua orang di kamar 3x3 meter ternyata adalah sebuah opera komedi sensual tersendiri. Adegan 1: Persinggungan di Depan Kompor. Aku berjongkok memasak. Maya ingin membantu, berjongkok di sebelahku. Ruang yang sempit membuat bahu dan lengan kami terus bergesekan. Saat aku mengaduk mie, lenganku menyentuh payudaranya yang lembut. Kami berdua melompat. "Maaf!" kataku cepat. "Gak apa-apa... ruangnya sempit," bisiknya, suaranya parau. Adegan 2: Bumbu yang Tumpah. Saat membuka bumbu mie, tanganku gemetar (entah karena apa). Sachet sambal terlepas dan sebagian menyemprot ke baju dress kuning Maya, tepat di area... d**a. "Aduh!" teriaknya. "Aduh, maaf! Aku bersihkan!" Tanpa berpikir, aku mengambil tisu dan mengusap noda itu. Tisu menyentuh kain tipis dressnya, dan di bawahnya... Aku segera menarik tangan seperti tersetrum. Kulitku terasa terbakar. "Sudah, sudah, aku saja," kata Maya, wajahnya merah padam. Dia mengambil tisu dan berusaha membersihkannya sendiri, gerakannya justru semakin menarik perhatian pada area itu. Aku memalingkan muka, merasa seperti remaja bodoh. Adegan 3: Makan di Kasur yang Sempit. Kami akhirnya makan, duduk bersila di lantai beralas karpet tipis, dengan mangkuk di pangkuan. Setiap gerakan, kaki kami bersentuhan. Suapanku hampir tumpah ketika kakinya tanpa sengaja menyentuh betisku. "Mie nya enak," komentarnya, mencoba mencairkan keheningan tegang yang dipenuhi percikan listrik. "Bumbunya... pedas," jawabku, tapi yang pedas sebenarnya adalah seluruh situasi ini. Setelah makan, aku mengumpulkan piring. Saat aku berdiri, kakiku tersandung kabel charger dan tubuhku oleng. Maya dengan reflek menangkap tanganku untuk menahanku. Hasilnya: aku terjatuh ke arahnya, dan kami berdua terguling pelan ke kasur. Posisi kami sekarang: Aku di atasnya, menahan berat badanku dengan kedua tangan di samping kepalanya. Wajah kami hanya berjarak sentimeter. Napasnya hangat menerpa wajahku. Matanya membesar, lalu berbinar. Dadanya naik turun dengan cepat, menyentuh dadaku. "Maaf," gumamku, suaraku serak. Tapi aku tidak bergerak. "Gak apa-apa," bisiknya. Tangannya yang tadinya memegang lenganku, kini pindah ke bahuku. Sentuhan itu seperti api. Kami saling memandang. Segala logika, janji 'hanya mie instan', larut dalam keinginan yang sudah menumpuk sepanjang hari. Aku perlahan menurunkan kepalaku. Dia tidak menghindar. Bibir kami hampir... TUK TUK TUK! Pintu diketuk dengan keras. "Rendra! Kamu ada tamu perempuan lagi? Listrik kamarmu lonjakan tadi, jangan pakai kompor dan AC barengan! Itu meteran ibu yang rugi!" teriak suara Bu Marni, pemilik kos, dari balik pintu. Kami berdua menjauh secepat kilat, seperti dua anak SMA yang ketahuan. Maya tertunduk, menyisir rambutnya yang buyar dengan tangan gemetar. Aku berjalan ke pintu dengan kaki sempoyongan. "Iya, Bu Marni! Maaf, Bu! Gak akan lagi!" kataku melalui pintu yang tertutup. Setelah langkah Bu Marni menjauh, kami saling memandang. Dan kemudian, tawa itu meledak. Tawa lepas, malu, gugup, dan bahagia. "Kita... sangat payah dalam hal ini, ya?" kata Maya sambil terpingkal-pingkal. "Juara dunia dalam hal diganggu saat momen penting," sahutku, ikut tertawa. Setelah tawa mereda, Maya berdiri. "Aku... mungkin harus pulang. Ini sudah larut. Dan... kita butuh tempat yang lebih baik dari ini." Matanya mengatakan lebih dari kata-katanya. Aku mengangguk. "Aku antar kamu ke taksi." Saat dia berdiri di depan kosan, menunggu taksi online, aku memberanikan diri. "Maya, besok... makan malam? Di restoran beneran? Dengan meja dan kursi yang tidak bikin kita jatuh?" Dia tersenyum, manis sekali. "Aku mau. Tapi janji, tidak ada preman, tidak ada bodyguard, tidak ada resleting macet, tidak ada mie instan, dan tidak ada Bu Marni." "Deal," kataku. Taksi datang. Sebelum masuk, dia berdiri di hadapanku. Kali ini, tidak ada yang mengganggu. Dengan lembut, dia mencium pipiku. Bibirnya yang lembut menyentuh kulit, meninggalkan sensasi hangat yang menyebar ke seluruh tubuhku. "Selamat malam, Rendra. Terima kasih untuk malam yang... tidak biasa ini." "Selamat malam, Maya. Mimpi indah." Aku menonton taksinya hilang di ujung jalan. Pipiku masih terasa hangat. Kembali ke kamar, aroma parfumnya masih tersisa di baju dan seprai. Aku tersenyum seperti i***t. Malam ini tidak berakhir seperti yang dibayangkan atau ditakuti. Tapi mungkin, justru karena semua kejadian konyol, malu-malu, dan sensual yang gagal itulah, segalanya terasa sempurna. Kami bukan sedang bermain dalam film romantis dewasa. Kami berada dalam komedi romantis kami sendiri, di mana setiap momen hampir ciuman dihancurkan oleh dering telepon, bumbu mie, atau teriakan pemilik kos. Dan anehnya, aku tidak akan mengubahnya untuk apapun. Karena esok adalah janji. Janji untuk sebuah kencan yang normal. Atau setidaknya, berusaha untuk normal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD