Keesokan harinya adalah hari Jumat. Sepanjang kerja, SMS kami tidak putus.
Maya (10.17): Aku masih mencium bau bumbu mie di rambutku.
Rendra (10.19): Aku masih mendengar suara Bu Marni di telingaku.
Maya (10.22): Jam 7 malam masih berlaku? Restaurant "Bistro Lavender"? Aku yang traktir, ganti rugi baju kuningku.
Rendra (10.23): Kamu traktir? Aku yang harusnya, atas insiden sambal. Tapi deal. Jam 7. Bistro Lavender.
Aku menghabiskan sore dengan perasaan campur aduk antara grogi dan semangat. Ini kencan pertama kami yang direncanakan, tanpa pengejaran, tanpa penyamaran. Hanya dua orang yang saling tertarik, mencoba melakukan hal yang normal. Tentu saja, dengan track record kami, "normal" adalah konsep yang relatif.
Pukul 18.55, aku sudah berdiri di depan Bistro Lavender, restoran kecil dengan suasana romantis dan cahaya temaram. Maya datang tepat waktu, mengenakan dress biru navy yang elegan namun sederhana, membuatku terpana.
"Kamu tampak... luar biasa," kataku, mencium pipinya (berani sedikit setelah ciuman pipi semalam).
"Kamu juga. Akhirnya pakai baju tanpa gambar ayam," balasnya, matanya berkedip.
Malam itu dimulai dengan sempurna. Percakapan lancar, makanan enak, anggur merah yang hangat. Kami tertawa, bercerita, dan ada banyak sentuhan kecil di atas meja—jari-jari yang nyaris bersentuhan, kaki yang sesekali bersenggolan di bawah meja. Ketegangan sensual yang terbangun sejak pertemuan pertama mengalir di antara kami, tapi kali ini lebih halus, lebih dewasa. Atau itu yang kami kira.
Masalah mulai muncul saat aku membayar (setelah sedikit "perebutan" yang berakhir dengan kompromi: dia bayar makan, aku bayar wine). Saat kami berdiri untuk pergi, langkah Maya sedikit goyah. Dia tersenyum malu.
"Wine-nya... lebih kuat dari yang kukira."
"Aku antar kamu pulang," tawarku segera.
Dia mengangguk. Di dalam taksi, dia duduk lebih dekat daripada yang diperlukan. Kepalanya hampir menyandar di bahuku. Aromanya, campuran parfum dan anggur, memabukkan.
"Rendra," bisiknya saat taksi meluncur. "Aku... belum mau pulang ke apartemen. Sepi."
Jantungku berdebar kencang. "Kamu mau minum kopi dulu? Atau..."
Dia menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca tapi penuh kesadaran. "Aku ingin waktu lebih lama denganmu. Tapi aku tidak ingin di kamar kosmu yang... penuh kenangan bumbu mie dan teriakan Bu Marni."
Aku memahami. Sebuah ide (mungkin bodoh) muncul. "Bagaimana dengan... hotel? Yang dekat sini. Hanya untuk ngobrol, minum air putih, dan... kamu bisa istirahat sampai kepala enakan."
Itu terdengar seperti alasan yang sangat transparan. Tapi Maya mengangguk perlahan. "Oke. Tapi hanya untuk ngobrol dan air putih."
"Janji," kataku, sambil berbisik pada diri sendiri bahwa aku adalah seorang munafik yang penuh harapan.
Hotel yang kami masuki adalah hotel bintang tiga yang biasa saja. Lobi-nya sepi. Resepsionis muda melirik kami dengan ekspresi datar, sudah terbiasa dengan pasangan yang datang larut malam. Proses check-in berjalan canggung. Saat diminta KTP, Maya mengobrak-abrik tasnya dengan panik.
"KTP-ku... kayaknya ketinggalan di apartemen. Aku pakai passport, boleh?" tanyanya pada resepsionis.
"Apa saja yang ada foto, Bu."
Maya akhirnya mengeluarkan passport. Halaman fotonya adalah foto lama dengan rambut dipotong sangat pendek seperti anak laki-laki. Aku melihatnya dan tidak bisa menahan senyum.
"Jangan lihat!" gerutunya, mencoba menutupi foto itu.
"Lucu," bisikku.
"Garing," balasnya, tapi senyum kecil mengembang di bibirnya.
Kami mendapat kunci kamar 408. Perjalanan di lift penuh dengan keheningan tegang. Hanya kami berdua. Bayangan cermin di lift memperlihatkan diriku yang berdiri kaku dan Maya yang memandang lurus ke depan, tapi telinganya memerah.
Kamar hotel itu standar: satu ranjang king size yang terhampar bak lautan, satu sofa kecil, televisi, dan kamar mandi kaca buram. Saat pintu tertutup, suara klik dari kunci elektronik itu terdengar sangat keras.
Suasana langsung berubah. Kenyataan bahwa kami sekarang sendirian, di sebuah kamar hotel, dengan satu ranjang besar, menciptakan gelombang kesadaran baru yang sangat kuat.
"Air putih," kata Maya tiba-tiba, suaranya serak. "Kamu bilang ada air putih."
"Ya, pasti." Aku membuka mini bar dan mengambil dua botol air mineral. Tangan kami bersentuhan saat aku menyerahkan botolnya. Sentuhan itu terasa seperti kejut listrik. Dia cepat menarik tangannya.
Kami duduk di sofa kecil yang sempit, berjarak beberapa sentimeter. Tidak nyaman. Kami minum air dengan serius, seperti sedang menjalankan tugas.
"Ini... aneh, ya?" ucapku, memecah kebisuan.
"Sangat aneh. Di jalan kita bisa tertawa natural. Di sini rasanya seperti... audisi untuk sesuatu," jawab Maya, tersenyum getir.
"Audisi untuk apa?"
Dia menatapku, lalu ke ranjang, lalu kembali padaku. "Kamu tahu untuk apa."
Udara terasa semakin panas. Aku memberanikan diri untuk meletakkan tanganku di atas tangannya yang sedang memegang botol air. Dia tidak menariknya.
"Kita tidak harus terburu-buru, Maya. Kita bisa benar-benar hanya ngobrol."
"Tapi aku tidak ingin hanya ngobrol," katanya dengan jujur, matanya membesar seolah terkejut dengan kejujurannya sendiri. "Aku ingin... lebih. Tapi aku juga gugup. Ini... pertama kalinya aku seperti ini. Dengan seseorang yang baru kukenal, di hotel." Dia menghela napas. "Aku merasa seperti karakter di film yang buruk."
Aku tertawa pelan. "Kita berdua adalah karakter di komedi yang kacau. Ingat, kita bertemu karena dikejar orang."
Itu mencairkan suasana. Dia tersenyum. "Iya. Jadi mungkin kita tidak perlu berusaha jadi normal atau seperti di film romantis. Kita bisa jadi... kita sendiri. Yang canggung dan kikuk."
"Setuju," kataku. Lalu, dengan gerakan yang lambat, aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Kulitnya halus. Dia menutup matanya, bersandar pada sentuhanku.
Aku menciumnya.
Ini bukan ciuman yang penuh gairah seperti di film. Ini ciuman yang pelan, penuh pertanyaan, dan sedikit gemetar. Bibirnya lembut, sedikit beraroma anggur. Tangannya naik, memegang pergelangan tanganku. Kami saling menyesuaikan, menemukan ritme. Dan perlahan, ketegangan mulai meleleh menjadi kehangatan.
Kami berpisah untuk bernapas, dahi kami saling bersentuhan.
"Itu... bagus," bisiknya.
"Ya," jawabku singkat. Lalu aku menciumnya lagi, lebih percaya diri.
Dari ciuman, tangan kami mulai menjelajah dengan malu-malu. Tanganku meraba punggungnya, merasakan resleting dressnya. Tangannya membuka kancing kemejaku satu per satu, jari-jarinya dingin dan gemetar menyentuh kulit dadaku.
"Kamu yakin?" tanyaku di sela-sela ciuman.
"Yakin. Tapi... perlahan. Aku masih canggung."
Kami berdiri, tanpa melepaskan bibir, dan bergerak pelan ke arah ranjang. Pinggangku menabrak sudut meja kecil.
"Aduh!"
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Baik. Lanjutkan."
Kami sampai di tepi ranjang. Kami duduk, lalu berbaring, masih berpakaian lengkap. Ciuman semakin dalam, tangan semakin berani. Tanganku meraba pahanya yang halus di bawah dress. Napasnya semakin berat di telingaku.
Lalu, saat aku mencoba membuka resleting di punggungnya dengan satu tangan (seperti di film), resleting itu macet lagi.
"Tidak mungkin," geram Maya, memecah suasana.
"Kita dan resleting," kataku, tertawa terengah-engah. Aku mencoba lagi, tapi tetap macet. "Sepertinya ini kutukan."
"Biar aku," katanya. Dia berbalik dan meraba resletingnya sendiri. Beberapa saat berjuang, akhirnya dia mendesah frustasi. "Aku tidak bisa! Terjebak lagi!"
Kami akhirnya duduk di tepi ranjang, dress Maya terbuka sebagian di punggung, kemejaku terbuka di depan, dalam situasi yang sangat konyol.
"Ini lucu," kataku, menggeleng.
"Ini memalukan," sahutnya, tapi dia juga tersenyum.
Aku melihat ke sekeliling. "Mungkin ada gunting di laci."
"Jangan gunting! Dress ini favoritku!" protesnya.
Akhirnya, setelah perjuangan epik selama lima menit yang penuh dengan tawa dan gerutuan, resleting itu akhirnya terbuka. Dress itu melorot dari bahunya. Dia memandangku, malu tapi berani.
Sekali lagi, kami tenggelam dalam ciuman. Kali ini, pakaian mulai benar-benar terlepas. Tapi setiap langkah diwarnai dengan kecanggungan kami sendiri.
Adegan Canggung 1: Bra dengan Pengait Rumit.
Bra Maya memiliki pengait di depan yang menurutku sederhana. Ternyata, itu adalah puzzle mekanis tingkat lanjut. Aku mengutak-atiknya dengan gagal, sementara Maya berusaha membantu dengan tangan yang juga gemetar.
"Arahnya ke kiri, bukan ke kanan!" bisiknya.
"Kenapa dibuat serumit ini?" keluhku.
Adegan Canggung 2: Celana yang Terjebak.
Saat mencoba melepas celanaku, ternyata ujungnya tersangkut di sepatu yang belum sepenuhnya terlepas. Aku harus melomhat-lompat dengan satu kaki sambil mencoba menjaga keseimbangan. Maya menahan tawa sambil mencoba membantu, yang justru membuatku hampir terjungkal ke lantai.
Adegan Canggung 3: Kondom yang Hilang.
Saat akhirnya kami hampir telanjang dan segalanya terasa semakin panas, aku teringat sesuatu yang penting. "Aku... punya perlindungan. Di dompet."
Aku meraih celana dan mengobrak-abrik dompet. Ternyata, bungkusnya sudah sangat tua, kertasnya kusam, dan tertanggal bertahun-tahun lalu (masa sebelum pandemi). Kami memandangi bungkus usang itu.
"Ini... masih aman?" tanyanya ragu.
"Aku tidak yakin. Ini seperti barang museum."
Kami menatap satu sama lain, lalu tawa yang tidak tertahankan meledak. Kami tertawa terpingkal-pingkal, telanjang sebagian, di atas ranjang hotel, dengan bungkus kondom lawas sebagai puncak kekonyolan.
"Ini tidak seperti di film, ya?" katanya, masih terisak-isak tertawa.
"Ini lebih baik dari film," jawabku jujur, menariknya ke dalam pelukan. "Ini nyata. Dan lucu."
Tawa itu, alih-alih menghilangkan gairah, justru membuat kami merasa lebih nyaman, lebih dekat. Ketegangan canggung itu berubah menjadi keintiman yang hangat dan menyenangkan. Kami akhirnya berbaring berpelukan, tertawa dan bercerita tentang pengalaman kencan buruk kami yang lain, tanpa tekanan untuk melanjutkan apa pun.
Beberapa saat kemudian, dalam keheningan yang nyaman, Maya membalikkan badan dan menatapku. "Kamu tahu, kita tidak harus melakukan semuanya malam ini. Momen ini... tertawa seperti ini... sudah sangat spesial."
Aku mengecup keningnya. "Aku setuju. Tapi... bolehkah aku tetap menciummu?"
"Silakan."
Malam itu tidak berakhir dengan hubungan seks yang penuh gairah seperti adegan film. Malam itu berakhir dengan kami berdua tertidur dalam pelukan, masih mengenakan sebagian pakaian dalam, dengan selimut yang menyelimuti kami. Terkadang, kami terbangun dan berbagi ciuman lembut, atau sekadar memeluk erat.
Itu adalah malam yang penuh dengan hasrat yang tertahan, kecanggungan yang disengaja, dan tawa yang menyembuhkan. Dan itu sempurna dalam ketidaksempurnaannya.
Saat matahari pagi menyusup melalui celah gorden, aku terbangun dengan Maya masih dalam pelukanku. Dia membuka matanya dan tersenyum.
"Selamat pagi. Kencan kita... aneh," katanya.
"Tapi aku tidak akan menukarnya dengan apa pun," jawabku.
Kami memesan sarapan ke kamar, makan di atas ranjang, dan tertawa mengingat kembali petualangan kami semalam. Dunia di luar kamar hotel 408 sepertinya jauh dan tidak penting.
Hanya kami, komedi kikuk kami, dan sebuah awal yang indah dari sesuatu yang bisa menjadi sangat serius—atau setidaknya, terus menjadi sangat lucu.