1 : Prolog
Sendiri itu bukan hal sulit untuk seorang pria namun bagi seorang pria berumur 30 tahun dengan seorang anak perempuan berumur 5 tahun sangatlah sulit. Arya bukan tak ingin mencari ibu baru untuk anaknya Safura hanya saja dia sedang tak ingin menjalin cinta dengan siapapun hingga ayahnya turun tangan.
"Kapan kau akan menikah lagi? Safira butuh sosok seorang ibu." Suara bariton khas laki-laki itu menenuhi ruang kantornya.
"Aku sedang tak ingin. Mencari seseorang yang cocok denganku itu sangat sulit." Jawab Arya sambil meminum wine tepat dihadapan Wiliam.
"Aku tak akan menyerahkan perusahaan ini jika kau tak menikah lagi." Wiliam berucap tegas sambil menatap mata Arya dengan tajam.
"Aku tidak peduli, lagian aku tak terlalu menginginkannya." Arya berucap santai sambil menyinggungkan senyuman, ayahnya sendiri.
Dia menantang Wiliam marah dengan sikap anaknya yang tak pedulian itu, ia mengambil botol anggurnya dan membantingnya ke sembarang arah dengan mata yang masih menatap lekat pada anak pertamanya itu.
"Kau menantangku?" Ucap Wiliam diakhiri kekehan diakhir. Tak ingin bertengkar dengan sang ayah, Arya berdiri dari duduknya, ia akan mengalah kali ini.
"Baiklah ayahku, beri aku waktu 30 hari untuk mencari istri baru. Lewat dari itu terserah mau kau apakan anakmu ini." Ucap Arya sembari berdiri dan pergi dari ruangan ayahnya tanpa permisi, mood nya benar-benar jelek saat ini.
Arya kembali ke ruangannya, sungguh ia sudah cukup puas dengan menjabat sebagai CEO perusahaan Adiksi corp namun Wiliam memaksanya untuk meneruskan perusahaan itu dan memberi sebuah syarat agar Arya menikah.
"Ahh... aku sungguh lelah dan muak dengan semua ini." Arya memutar kursinya malas, sudah cukup terbebani dengan pekerjaan sekarang ditambah mencari istri.
Arya sama sekali tak punya waktu untuk itu.
"Sekertaris !!!" Panggil Arya pada sekertarisnya.
"Ya, tuan?" Sahutnya sembari mendekat ke arah Arya.
Arya diam sejenak, ia ragu untuk bertanya pada sekertarisnya mengenai wanita. Tak mungkin juga dia libur sebulan penuh demi mencari calon istri sampai mengabaikan pekerjaan nya.
"Apa jadwalku selanjutnya?" Arya berhenti memutar kursinya dan menatap sekertarisnya, ia menunggu jawaban dari sekertarisnya yang tengah melihat jadwal kerjanya kali ini.
"Tidak ada tuan, kita tidak memiliki jadwal pertemuan atau rapat untuk hari ini." Sekertaris itu tersenyum ramah.
"Hmm.. baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Sekertaris itu kemudian pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
"Hmm.. baiklah, kita lihat nanti saja." Arya menyibukan dirinya lagi dengan pekerjaan.
Hari minggu adalah hari yang cocok untuk istirahat, Arya hanya ingin tidur dan tak ingin bangkit dari kasurnya. Beberapa kali meregangkan badan, Arya ingin bermalas-malasan pagi ini tapi ponselnya terus berdering memperlihatkan nama yang sama. Sangat menggangu.
"Arya, jadi kan kita kencan? Aku sudah berdandan dengan cantik hanya untukmu."
"Hallo Nara, kayanya ga bisa, lagi banyak urusan udah ya."
-tut-
Arya menutup telponnya secara sepihak. Anak pertama dari Wiliam Adiksi ini sebenarnya banyak digebet oleh wanita hanya saja dia lebih senang bermain-main tanpa ada niat memberikan hubungan yang lebih jelas karena diantara mereka semua ia merasa tidak terlalu cocok.
"Ayah!!!" Putri kecil Arya muncul dari ambang pintu kamar, ia berlari sambil membawa sebuah undangan ditangan dan memeluk ayahnya sayang.
"Apa yang kau bawa nak?" Arya mencium pipi anaknya, Safira memberikan undangan itu pada ayahnya. Arya membuka undangan pernikahan itu.
"Oh... tante Diana yang nikah ya." Arya memberitahu anaknya.
"Ayah kapan nikah? Safira pengen punya mamah."
Safira memandang wajah ayahnya dengan tatapan sedih, Arya tersenyum simpul. Nyatanya anak kesayangan-nya ini sangat membutuhkan sosok ibu.
"Sayang, Ayah lagi usahain cari mommy buat kamu nak. Sabar ya sayang!!" Ucap Arya mencoba memenangkan anaknya, ia baru tau bahwa Tasya sangat ingin memiliki seorang ibu.
"Malam ini Safira mau kan temenin ayah ke nikahan tante Diana?" Arya tersenyum manis dan Safira mengangguk lucu, anaknya terlihat sangat senang.