Semangat Laura

1209 Words
Hari pertama menjadi babu Dominus, Laura terpaksa berbohong kepada papa-nya untuk menginap di rumah Selly. Kenapa? Karena Dharma menyuruhnya tidur di rumah laki-laki itu. Rumah besar dan bertingkat empat, terlalu mewah, tapi hanya Dharma dan pembantu saja yang menempatinya. Orang tua laki-laki itu entah kemana, Laura tidak berani bertanya. Sikap dingin dan aura musuh yang Dharma pancarkan benar-benar membuat Laura tidak berani berkutik. Masalahnya dia ada di teritorial Dharma, kalau sampai diapa-apain, pasti tidak akan ada yang tahu. Kalau di luar, Laura pasti berani kok, memeluk Dharma sembarangan saja Laura berani! "Bersihin kamar mandi gue, siapin air hangat sekalian di bathtub!" Dharma memerintahkan itu sembari melepas seragam atasannya. Dengan santai dia menunjukan d**a telanjang dengan kotak enam di bagian perutnya itu kepada Laura. Laura yang melihat segera berbalik dan berlari ke pintu berkaca samar yang ada di kamar Dharma. Kamar laki-laki itu mirip seperti kamar hotel bintang lima, bahkan lebih mewah. Kamar mandinya saja sangat luas, seukuran kamar orang biasa empat kali tiga meter. Mulut Laura hampir menganga saat menatap keadaan kamar mandi yang jauh dari kata kotor. Bahkan dia sampai kebingungan mencari celah untuk membersihkan sesuatu. Maksud Dharma apa coba? Kamar mandi Dharma itu wangi, alat mandi dan juga handuknya saja tertata rapi, lalu apa yang harus dibersihkan? Lantainya juga kering dengan keadaan bersih seperti baru. Kacanya apalagi, pantulan wajah Laura terlihat jelas, tidak ada kotoran sama sekali di sana! Dengan malas, Laura membuka pintu kaca samar itu dan menatap Dharma. Dia sedang tengkurap dengan kaos hitam dan boxer senada, matanya fokus menatap film action yang suaranya begitu keras terdengar di telinga Laura. "Dharma! Dharma!" panggilnya dengan teriakan keras. Dharma meliriknya. Laki-laki itu menggerakkan jari telunjuknya, menyuruh Laura mendekat. "Kamar mandi lo kelewatan bersih, gue nggak tahu harus ngapain," ucapnya jujur. "Siapin air hangat aja gih, gue gerah!" Laura mendengus, gadis itu berbalik berniat kembali ke kamar mandi Dharma. "Sekalian kasih sabun yang warna cokelat. Oiya, lilin aroma coklat juga dinyalain tiga di sekitar bathtub!" Laura berhenti, mengangguk dengan senyum paksa. *•*•*•*•*•* Laura mendesah lelah memunguti baju-baju yang tersebar di lantai kamar Dharma. Laki-laki itu sedang berendam dan menyuruh Laura membersihkan kamarnya. Dongkol dan ingin memakai adalah perasaan Laura saat ini. Gadis itu jelas melihat kamar yang rapi bak kamar hotel saat masuk ke sini, tapi begitu selesai menyiapkan air mandi, dia mendapati kamar bak kapal pecah! Dharma sengaja mengeluarkan seluruh bajunya dan menyebarkan ke seluruh penjuru kamar, belum lagi rak buku yang tadi tertata juga kini sudah hancur rata. Laki-laki itu memang brengs*k! Mentang-mentang anak pemilik sekolah dan kaya raya jadi begini! Selesai memunguti baju-baju itu dan meletakkan baju-baju di satu tempat yang sama, Laura mulai duduk di lantai dan melipat satu persatu baju Dharma. Beberapa baju yang terkesan mahal dan bagus pun dia gantungkan di lemari pakaian yang mentok sampai ke langit-langit kamar. Ada empat pintu lemari dengan dua pintu terbuat dari cermin. Satu jam sudah dia membersihkan baju-baju Dharma, dan itu baru selesai separuh. Masih banyak yang belum tertata! "Lambat!" ucap Dharma, laki-laki itu keluar hanya dengan handuk kimono yang melekat di tubuhnya. Laura menjerit, gadis itu melemparkan satu kos yang sedang dia lipat ke arah Dharma, meski nyatanya baju itu mendarat jauh di depan Dharma. "Lo tuh nggak ada attitude-nya, ya?!" Laura menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. Terdengar Dharma tertawa, laki-laki itu entah melakukan apa, yang jelas Laura tidak berani membuka matanya. "Polos bener," gumam Dharma yang masih Laura dengar. Jika ditanya makhluk aneh kedua di Hario's itu siapa, jawabannya Dharma, karena posisi pertama ditempati oleh Liam tercinta. *•*•*•*•*•*•* Pagi ini Laura sudah di suruh membawa enam tas milik anak-anak Dominus. Tasnya memang tidak banyak berisi barang, hanya tas Gama dan Dharma saja yang berat. Namun, tubuh sekecil Laura membawa enam tas plus satu tas miliknya adalah sesuatu yang berat. Buktinya, langkah kaki gadis itu yang terlihat kepayahan, oleng dan tertatih. "Lama banget lo!" Gama menatap Laura dengan tajam, gadis itu tertinggal jauh di belakang mereka. Laura, gadis berambut kucir kuda itu mendengus. Matanya menatap tajam pada Gama yang terlihat mengejeknya. "Mata lo buta? Lo lihat, gue bawa barang-barang nggak berguna ini?!" "Lo mikir barang-barang kita nggak berguna?!" Gama menggeram. Felix, Matt, Haidar, Frans, dan Dharma berbalik memperhatikan mereka. "Kenapa sih?" Matt yang jarang berbicara itu bertanya. Dharma yang paham situasi karena sedari tadi telinganya terpasang mendengar keduanya pun menarik Gama mundur. "Bawain aja, nggak usah bacot!" katanya kemudian menarik Gama menjauhi Laura. Mereka mengikuti Dharma dan Gama, meninggalkan Laura sendirian dengan perasaan kesal. Dia padahal ingin membalas perkataan Gama tadi, tapi gara-gara Dharma dia gagal! "Barang lo emang nggak guna buat gue, sialan!" ucap Laura sebelum akhirnya menyusul langkah kaki mereka berenam. Gara-gara ini, dia jadi tidak bisa menunggu si dingin Liam berangkat sekolah. Bahkan sepertinya harapan Laura untuk menaklukkan Liam harus pupus. Bodoh! Memang harusnya jangan diterima, 'kan jadi merugikan diri sendiri. Sudah jadi babu, misi gagal pula! *•*•*•*•*•* "Liam!" Laura mendudukkan dirinya. Bel berbunyi beberapa menit lalu dan dia baru bisa lepas dari Dominus. Mumpung guru belum masuk, hal pertama yang Laura lakukan adalah mendekati Liam. Tanpa meletakan tasnya, Laura langsung duduk di kursi kosong sebelah Liam. Teman-temannya? Mereka masih banyak yang melirik-lirik Laura meski tidak secara terang-terangan mengatakan kalimat cibiran. Mereka sepertinya lebih menjaga lisannya, mungkin karena Liam kemarin menolongnya? "Liam, pegel banget punggung gue ... masa tadi gue disuruh bawain tas mereka?!" Mampus. Liam malah menutupi kedua telinganya dengan earphone. Selalu saja begitu. Ets, tapi Laura pantang mundur. Dia masih saja optimis dan melanjutkan kalimatnya. Kenapa? Karena Laura pernah pakai earphone dengan suara musik keras, dia masih bisa kok mendengar obrolan teman-temannya. "Liam, semangatin gue kek ... masih enam hari lagi nih!" "Astaga, Liam, lo hari ini ganteng banget!" pekiknya tiba-tiba. Jelas suaranya keras sampai Selly saja menatapnya. Dia meringis, lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa. Mulutnya kembali terbuka sambil menatap wajah Liam yang terpejam dengan kepala bersandar pada dinding di sebelahnya. Dari samping damage Liam itu wow banget! Hidungnya mancung, rasanya Laura ingin bermain perosotan di sana! "Sumpah, kegantengan lo nambah empat puluh lima persen dari sembilan puluh persen gara-gara nolongin gue!" "Eh, tapi empat lima tambah sembilan puluh itu jadi seratus tiga lima," gumamnya. Dia pun meringis saat Liam masih memejamkan mata. Kepo sih lagu apa yang Liam dengar. Jadilah dia menarik satu earphone milik Liam dan memakainya. Sialan. Laura mengumpat dalam hati. Liam itu bener-bener spesies unik di sekolah ini. Laura yakin, sangat yakin! Kalian tahu apa yang Laura dapat dari earphone Liam? Hening. Laki-laki itu hanya memasangnya di telinga tanpa musik. Jangan-jangan selama ini Liam begitu hanya agar dirinya diam?! Wah, sialan! Laura hampir memaki, tapi suara guru yang di depan membuatnya urung. Begitu guru mengucapkan selamat pagi dan menulis sesuatu di papan, Laura segera menempelkan bibirnya di pipi Liam sambil membisikan sesuatu. Setelahnya, Laura pergi, meninggalkan Liam yang sudah membuka matanya dan menatap punggung gadis itu dengan tajam dan tidak terbaca. "Ini hadiah karena lo bikin gue kesel!" Itu adalah kalimat yang Laura bisikan untuk Liam. Dia memang gila, melakukan aksinya di saat ada guru di depan sana! *•*•*•*•*•*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD