Prasangka?

1220 Words
Ruangan itu beraroma kopi arabika dan buku-buku lama, sebuah oase ketenangan di tengah bisingnya kota yang tak pernah sepi di setiap jamnya. Namun, bagi Praditya, ruangan milik sahabat sekaligus psikiaternya, dr. Rayan Mahesa, terasa seperti ruang interogasi bagi nuraninya sendiri. Praditya duduk bersandar di kursi kulit cokelat, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit. "Kau terlihat lebih kacau dari biasanya, Pradi. Padahal bisnismu sedang di atas angin," buka Rayan sembari mencatat sesuatu di tabletnya. "Atau ini soal... Widya?" Praditya mendengus sinis. "Widya bukan masalah. Dia hanya gangguan yang sudah terprediksi. Masalahnya adalah... aku sudah menikah, Rayan." Rayan menghentikan gerakannya. Ia melepas kacamata dan menatap Praditya tajam. "Menikah? Dengan siapa? Widya? Bukannya acaranya masih bulan depan?" "Bukan dia. Amindita. Sekretarisku," jawab Praditya parau. Praditya kemudian menceritakan segalanya—tentang hutang dua belas miliar, tentang desakannya, hingga akad nikah yang terjadi secara mendadak di penthouse-nya seminggu yang lalu. "Ini bukan sekadar sekretaris with benefit seperti yang sempat terlintas di otak kotor kawan-kawan kita. Ini pernikahan sah. Dia istriku." Rayan menyandarkan punggung, menarik napas panjang. "Dan bagaimana reaksimu? Apakah 'masalah' itu masih ada?" Praditya terdiam sejenak. Tangannya mengepal. Trauma masa kecil saat melihat ibunya dikhianati oleh ayahnya sendiri, ditambah pengkhianatan Widya yang diketahuinya bermain di belakangnya, telah menciptakan tembok es yang membekukan hasratnya selama bertahun-tahun. Ia merasa "mati" sebagai pria. "Seminggu ini kami belum benar-benar tidur bersama dalam arti yang sesungguhnya. Aku belum berani mencoba... atau lebih tepatnya, aku takut melihat diriku gagal lagi," aku Praditya dengan suara rendah, harga dirinya terluka hanya dengan memgingatnya dan saat ini harus menjabarkannya. "Tapi ada yang berbeda," lanjut Praditya, matanya berkilat. "Hanya dengan melihatnya memakai pakaian kerja yang tertutup, memakai pakaian yang bahkan tak terbuka di dalam rumah atau mencium aroma tubuhnya saat dia mengantar kopi, sehabis mandi. Aku merasakan denyut yang sudah lama hilang. Bahkan kemarin saat di dapur, saat aku menyentuhnya, sebenarnya tidak sengaja... aku merasakannya, Ray. Sesuatu dalam diriku bereaksi sangat hebat. Sesuatu yang bahkan tidak pernah bangkit saat Widya menelanjangi dirinya di depanku." Rayan mengangguk-angguk paham. "Itu karena Amindita adalah anomali dalam sistem pertahananmu. Kamu merasa memilikinya secara sah, jadi alam bawah sadarmu mulai melepas trauma itu sedikit demi sedikit. Tapi ingat, Pradi, kamu menikahinya dengan cara yang... tidak biasa. Ada paksaan di sana." "Aku tidak peduli," potong Praditya posesif. "Dia istriku. Dia obatku. Aku tidak akan membiarkan pria lain—terutama si Adnan itu—mendekatinya." "Kau cemburu?" Rayan terkekeh. "Seorang Praditya Ararya yang dingin bisa cemburu pada sekretarisnya sendiri?" "Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku," sahut Praditya tajam. Ia bangkit dari duduknya, merapikan jasnya yang tak berkerut. "Aku akan membuktikannya malam ini. Aku akan memastikan apakah dia benar-benar satu-satunya penawar untuk kutukan ini." Praditya melangkah keluar dari ruangan Rayan dengan tekad yang baru. Namun, di balik itu, ada rasa takut yang menghantui—apakah ia mencintai Amindita, atau ia hanya mencintai fakta bahwa Amindita adalah kunci untuk kejantanannya yang hilang? "Pradi, tunggu!" Praditya terhenti di ambang pintu. Pegangan tangannya pada gagang pintu kayu ek itu mengeras hingga buku-bukunya memutih. Ada apa lagi? Rayan menyesap kopinya, matanya menatap tajam punggung sahabatnya itu. "Lalu, apa kamu tidak berpikir jika suatu hari nanti keluargamu tahu tentang istrimu? Dan apa kamu akan menjadikan dia hanya sebagai pelampiasan—hanya sebagai istri sirimu selamanya, Pradi?" Pertanyaan Rayan menghantam tepat di titik buta yang selama ini berusaha ia abaikan dengan keangkuhannya. Benar-benar pertanyaan telak yang jujur saja Praditya tak pernah memikirkan hal itu. Praditya tidak langsung berbalik. Ruangan itu mendadak terasa senyap, menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran skenario yang ia susun. Bayangan wajah ibunya, Nyonya Gayatri yang sangat menjunjung tinggi kasta dan kehormatan keluarga Aryatama, terlintas di benaknya. Jika ibunya tahu ia menikahi seorang sekretaris dari kalangan biasa—terlebih dengan status siri—badai besar akan menghancurkan segalanya. "Keluargaku tidak akan tahu jika aku tidak mengizinkan mereka tahu," sahut Praditya, suaranya rendah namun penuh dengan nada otoriter yang dipaksakan. "Dunia tidak berputar di bawah telunjukmu, Pradi," balas Rayan tenang, ia bangkit dan mendekati Praditya. "Kamu mengenakan cincin di jarinya, tapi kamu menyembunyikannya dari dunia. Kamu mengikatnya dengan agama, tapi kamu membiarkannya dihina oleh tunanganmu sendiri di depan umum. Apa itu yang kamu sebut menjaga?" Praditya berbalik dengan kilat amarah di matanya. "Aku menyelamatkan ayahnya! Aku melunasi hutang yang bahkan tidak akan bisa ia bayar seumur hidupnya. Dia mendapatkan perlindunganku, Rayan. Itu sudah lebih dari cukup untuk wanita di posisinya." "Itu egomu yang bicara, bukan hatimu," Rayan menggeleng. "Trauma masa kecilmu karena dikhianati dan melihat ibumu menderita, membuatmu takut untuk mengakui perasaan. Kamu takut jika kamu menganggapnya istri yang sesungguhnya, kamu akan menjadi lemah seperti ayahmu dulu. Jadi kamu memilih untuk menganggapnya sebagai 'obat'. Tapi ingat, obat pun bisa habis, dan pasien bisa menjadi sangat ketergantungan." Praditya terdiam. Kebimbangan itu ada, tersembunyi jauh di balik lapisan kesombongannya. Ia takut. Takut bahwa Amindita bukan sekadar penawar bagi gangguan fisiknya, melainkan penguasa baru bagi hatinya yang sudah lama ia kunci rapat. Namun, egonya yang setinggi langit segera mengambil alih kendali. "Dia adalah kepemilikanku, Rayan. Dan aku tidak butuh restu siapa pun untuk itu," ucap Praditya dengan keangkuhan yang mutlak. "Soal Widya, dia hanyalah pion di papan catur bisnisku. Amindita tahu posisinya sejak awal. Dia setuju dengan kesepakatan ini." "Setuju karena terpaksa, Pradi. Ada perbedaan besar antara 'bersedia' dan 'tidak punya pilihan'," sindir Rayan halus. Praditya tidak menanggapi lagi. Ia memakai kacamata hitamnya, kembali mengenakan topeng pria dingin tak tersentuh yang selama ini ia banggakan. "Aku pergi. Aku punya janji yang harus diselesaikan malam ini di penthouse." Ia melangkah keluar, menutup pintu ruangan Rayan dengan debuman keras. Di dalam lift, Praditya menatap pantulan dirinya di dinding logam yang mengkilap. Pertanyaan Rayan terus berdenging di kepalanya seperti lebah yang mengganggu. Istri siri? Pelampiasan? Ia mengepalkan tangannya. Baginya, Amindita adalah anomali yang harus ia kuasai sepenuhnya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada ketakutan bahwa suatu hari nanti, wanita itu akan lelah menjadi rahasia, dan saat itu terjadi, Praditya tidak yakin apakah ia sanggup melepaskannya. Rayan menatap pintu yang tertutup itu dengan helaan napas berat. Ia kembali duduk, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang terasa mendadak lebih dingin. Di depannya, catatan medis Praditya masih terbuka, namun fokusnya kini beralih pada sosok yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung—Amindita. "Kamu bermain dengan api, Pradi," gumam Rayan pelan. Ia memijat pelipisnya, membayangkan posisi Amindita. Seorang wanita yang terjepit di antara hutang keluarga dan obsesi seorang pria yang memiliki segalanya kecuali pengendalian emosi. Rayan merasa prihatin, ia tahu benar betapa berbahayanya menjadi "pusat semesta" bagi pria seperti Praditya. Praditya tidak akan mencintai dengan lembut. Dia akan mencintai dengan cara mengurung, memiliki, dan mendominasi. "Wanita itu... Amindita... dia bukan sekadar obat. Dia manusia dengan perasaan, bukan pion di papan caturmu," monolog Rayan, suaranya menggema di ruangan sunyi itu. Harapannya pada Praditya hanya satu. Agar sahabatnya itu segera sadar sebelum tembok keangkuhannya runtuh dan menghancurkan wanita yang justru menjadi penyelamat jiwanya. Rayan takut jika Praditya terus menganggap pernikahan ini sebagai transaksi, maka suatu saat nanti, saat ia benar-benar jatuh cinta, ia hanya akan menemukan Amindita yang sudah berubah menjadi sekam—kering dan mati rasa akibat perlakuannya sendiri. "Semoga egomu tidak membunuh satu-satunya alasan yang membuatmu merasa hidup kembali, Sahabatku." Rayan menutup catatan itu perlahan, menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan awal dari sebuah tragedi atau mungkin sebuah penebusan yang sangat menyakitkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD