Lantai penthouse yang biasanya sunyi itu kini sedikit bernyawa dengan suara denting peralatan dapur. Amindita bergerak lincah kesana kemari di area dapur bersih yang didominasi dengan marmer berwarna gelap, mengeluarkan satu per satu bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu yang menjulang tinggi.
Sudah tiga hari ini ia menghuni kediaman megah milik Praditya seorang diri. Pria itu tampaknya sedang sangat sibuk—atau mungkin sedang menghabiskan waktu dengan tunangannya—dan jujur saja, Amindita merasa sangat lega. Intensitas pertemuannya dengan sang bos di kantor sudah cukup menguras energi, dan ia merasa ngeri membayangkan jika harus terjebak berdua saja di ruang tertutup ini tanpa ada batas profesionalitas.
"Lebih baik begini. Dia dengan dunianya, dan aku bisa bernapas di sini tanpa harus merasa seperti tahanan lapas," monolog Amindita pelan sembari menata bahan makanan di atas meja dapur. Bersiap untuk merubahnya menjadi makanan.
Amindita memutuskan untuk memasak menu yang akrab di lidahnya guna mengusir rasa canggung di rumah asing ini. Ia menyiapkan beberapa hidangan yang menggugah selera.
Tumis Cumi Cabai Hijau. Potongan cumi segar yang dimasak dengan irisan cabai hijau besar, tomat kuning, dan bumbu aromatik yang harumnya mulai memenuhi ruangan.
Tahu Goreng dan Sambal Ulek. Dengan bahan tahu kuning yang digoreng garing, disajikan di atas cobek batu berisi sambal terasi yang pedasnya nendang. Wah itu sudah masuk di dalam benak Amindita.
Jamur untuk dia jadikan jamur krispi. Sebagai pelengkap, ia menggoreng jamur tiram dengan balutan tepung bumbu yang sangat renyah.
Membayangkan deretan makanan itu, Amindita tersenyum tipis. Setidaknya, perutnya akan dimanjakan malam ini.
Amindita bergerak ke sana kemari dengan santai. Malam ini ia sudah mengganti pakaian kantor yang mencekik leher dan formalnya dengan mengenakan setelan piyama berbahan satin berwarna putih gading dengan motif checkerboard halus yang memantulkan cahaya lampu redup penthouse.
*Atasan piyama berlengan pendek dengan kerah terbuka itu membuatnya merasa bebas bergerak. Tak merasa gerah karena aktifitasnya. Celana pendek senada memperlihatkan kaki jenjangnya yang biasanya tersembunyi di balik rok panjang atau busana formalnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai berantakan, dan wajahnya bersih tanpa polesan make-up sedikit pun.
Ia tampak begitu mungil dan kontras di tengah kemewahan penthouse yang maskulin ini. Sambil memegang segelas air putih, ia mengecek kematangan tumis cuminya. Amindita merasa untuk sejenak, ia bisa melupakan statusnya sebagai "istri rahasia" yang dibeli.
Namun, ketenangannya mendadak terusik. Suara sensor pintu masuk yang berbunyi tit-tit-tit diikuti denting pintu terbuka membuat jantung Amindita seolah berhenti berdetak.
Langkah kaki sepatu kulit yang berat menggema di lorong masuk. Sosok Praditya berdiri di sana, masih dengan setelan jas lengkap yang sedikit berantakan, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya menyapu meja makan yang penuh makanan, lalu berhenti lama pada sosok Amindita yang hanya mengenakan piyama pendek di depannya.
"Baunya harum sekali," suara berat Praditya memecah keheningan.
Amindita berdiri mematung di dekat meja dapur, tangannya masih memegang sendok sayur seolah itu adalah senjata pelindung. Kehadiran Praditya yang tiba-tiba merusak zona nyaman yang baru saja ia bangun selama tiga hari terakhir.
"Kok pulang?" tanya Amindita spontan. Suaranya sedikit melengking, reflek dengan detak jantungnya yang sudah berpacu tidak karuan.
Praditya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat satu alisnya sembari melempar kunci mobil ke atas meja marmer. Matanya menyapu penampilan Amindita yang jauh dari kata formal—piyama pendek satin yang membalut tubuh ramping itu benar-benar mengganggu konsentrasinya.
"Kenapa nggak pulang ke mansion Tuan Mahendra saja?" cecar Amindita lagi, mencoba menutupi kegugupannya.
"Kamu mengusirku?" Praditya melangkah maju, tangannya bergerak lincah melepas simpul dasi sutranya dan membiarkannya tergantung lepas di kerah kemeja.
"Nggak kok, c*m—cuma tanya aja," elak Amindita sembari memundurkan langkah hingga pinggulnya membentur tepian konter dapur.
Praditya kini sudah berada tepat di depan Amindita. Jarak mereka begitu tipis hingga aroma parfum kayu cendana milik pria itu bercampur dengan harum tumisan cumi.
"Kamu tidak lupa kan ini rumah milik siapa, Amindita?" tanya Praditya rendah.
Tanpa rasa malu, Praditya mulai membuka satu per satu kancing kemeja putihnya, memamerkan kaus dalam yang membungkus d**a bidangnya. Amindita segera membuang muka, wajahnya memanas.
"Aku lapar. Siapkan makan malam untukku," perintah Praditya, suaranya kini terdengar seperti tuan tanah yang tak mau dibantah.
Amindita mendengus jengkel. Sifat otoriter pria ini tidak pernah berubah, baik di kantor maupun di rumah. Dengan gerakan kasar, ia mengambil piring dan menyendokkan nasi hangat untuk Praditya.
"Makanannya cuma ini, Tuan. Kalau tidak suka, silakan pesan online saja," ketus Amindita. Ia sengaja tidak menggunakan bahasa formal karena merasa ini bukan di kantor.
Cup!
Sebuah kecupan singkat namun tegas mendarat di bibir Amindita, menghentikan kalimatnya seketika. Amindita mematung, matanya membelalak.
"Panggilan pertama. Aku sudah bilang jangan panggil aku 'Tuan' di sini," desis Praditya dengan tatapan penuh peringatan.
Amindita menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang mulai kacau. "Tapi... Tuan, Anda tidak bisa seenaknya—"
Cup!
Untuk kedua kalinya, bibir Praditya membungkamnya. Kali ini sedikit lebih lama, menghisap bibir bawah Amindita hingga wanita itu mencengkeram pinggiran piring dengan erat.
"Panggilan kedua," bisik Praditya tepat di depan wajah Amindita. Napasnya yang hangat terasa begitu intim. "Masih mau mencoba yang ketiga?"
Amindita merasa harga dirinya diinjak-injak, namun gairah yang disulut Praditya juga mulai membakar kesadarannya. "Anda benar-benar keterlaluan, Tu—"
Belum sempat kata itu selesai terucap, Praditya sudah mencondongkan tubuhnya lagi. Namun kali ini, Amindita yang bergerak lebih cepat. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Amindita mengangkat telapak tangannya dan membungkam bibir Praditya sebelum pria itu sempat menciumnya untuk ketiga kalinya. Benar-benar orang ini ya...
Telapak tangan halus Amindita menekan bibir tebal Praditya. Mereka saling menatap dalam keheningan yang mencekam. Mata elang Praditya tampak berkilat, bukan karena marah, melainkan karena tantangan yang diberikan Amindita justru menyulut sesuatu yang lebih besar dalam dirinya.
"Cukup," bisik Amindita di balik tangannya yang masih membungkam mulut suaminya. "Makan saja makanan Anda, atau saya akan membuang semuanya ke tempat sampah."
Praditya tidak melepaskan tangan Amindita, ia justru menjilat telapak tangan wanita itu sekilas, membuat Amindita menarik tangannya dengan perasaan geli sekaligus bergidik. Praditya menyeringai tipis, sebuah seringai kemenangan yang sangat menyebalkan.
"Duduklah. Temani aku makan, Istriku," ujar Praditya sembari menarik kursi, seolah drama ciuman tadi hanyalah hidangan pembuka yang ringan baginya.
Amindita menarik kursi dengan gerakan kaku, duduk tepat di hadapan Praditya yang kini sudah menanggalkan kemejanya, menyisakan kaus dalam putih yang melekat ketat di tubuh atletisnya. Sebelum mulai menyantap hidangan, Amindita merasa gerah. Uap dari tumis cumi dan ketegangan di ruangan itu membuat tengkuknya berkeringat.
Tanpa sadar, ia mengangkat kedua tangannya, mengumpulkan rambut hitam panjangnya, lalu menggelungnya asal ke atas kepala. Gerakan itu mengekspos leher jenjangnya yang putih bersih dan lekukan bahunya yang halus di balik piyama satin tipis itu.
Di seberang meja, Praditya membeku. Matanya terpaku pada gerakan tangan Amindita. Ia menelan ludah dengan susah payah saat melihat beberapa helai rambut halus jatuh di tengkuk istrinya.
Di bawah meja, ia merasakan sensasi panas yang tidak asing—sesuatu yang selama ini mati rasa, kini berkedut hebat, menagih perhatian.
"Sial, kenapa harus sekarang?" batinnya. Reaksinya terhadap Amindita begitu instan dan primitif.
"Kenapa diam saja? Katanya lapar," sindir Amindita tanpa menatapnya. Ia mulai menyuap nasi dengan tenang.
Praditya berdeham, mencoba menguasai dirinya yang mulai goyah. Ia mengambil sesendok tumis cumi dan mencicipinya. "Lumayan. Setidaknya kau lebih berguna di dapur daripada di depan Widya tadi siang yang hanya bisa diam seperti patung."
Amindita mendongak, matanya berkilat jengkel. Teringat akan kejadian dimana lagi-lagi Widya datang ke kantor atasannya yang juga suami rahasianya.
"Saya diam karena saya tahu posisi saya, Praditya. Lagipula, bukankah itu yang Anda mau? Sekretaris yang penurut di depan umum?"
"Penurut?" Praditya terkekeh sinis. "Di depan umum mungkin iya. Tapi di rumah ini, kau lebih mirip kucing liar yang siap mencakar."
"Itu karena pemilik rumahnya tidak tahu cara bersikap sopan," balas Amindita telak.
Suasana makan malam itu penuh dengan denting sendok yang beradu dan sindiran tajam. Namun, Praditya tampaknya tidak ingin membiarkan Amindita menang dalam adu mulut ini. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Amindita dengan tatapan yang mendalam dan gelap.
"Makanlah yang banyak, Dita. Karena setelah ini, aku akan menagih hakku yang tertunda seminggu ini."
Uhukk! Uhukk!
Amindita langsung tersedak hebat. Butiran nasi terasa menyangkut di tenggorokannya akibat pernyataan frontal pria itu. Wajahnya memerah padam, antara sesak napas dan rasa malu yang luar biasa.
Dengan gerakan santai dan sangat tenang, Praditya menuangkan air putih ke dalam gelas kristal, lalu mengulurkannya pada Amindita. Ia bahkan bangkit berdiri, memutari meja, dan membantu menepuk-nepuk punggung Amindita dengan lembut—namun sentuhannya terasa membakar kulit yang dilapisi oleh piyama itu.
"Pelan-pelan, Istriku. Tidak perlu sesemangat itu menyambut permintaanku," bisik Praditya tepat di telinganya.
Amindita segera menyambar gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Napasnya masih memburu. "Anda... Anda bercanda, kan? Tadi siang Anda baru saja bermesraan dengan Widya, dan sekarang Anda bicara soal 'hak'?"
Praditya menarik kursi di samping Amindita, mengurung wanita itu dengan lengannya yang kekar di sandaran kursi. "Aku tidak pernah bercanda soal apa yang sudah menjadi milikku, Amindita. Widya adalah bagian dari bisnis, tapi kamu..."
Ia menjeda kalimatnya, jemarinya perlahan menyentuh leher Amindita yang terekspos karena gelungan rambut tadi. "Kau adalah kenyataan yang harus kubuktikan malam ini. Seperti yang kubilang, jangan buat aku menyesal telah memanggil penghulu."
Amindita merinding. Ia bisa merasakan reaksi tubuh Praditya yang begitu nyata di dekatnya. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit, dan aroma masakan tadi kalah telak oleh aroma maskulin Praditya yang kini mendominasi seluruh inderanya.
---