Amindita mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegugupan yang masih bersarang di dadanya. Suara gemericik air yang membilas piring-piring terakhir menjadi satu-satunya melodi di dapur mewah itu. Di penthouse dua lantai ini, Praditya memang sengaja tidak mempekerjakan ART yang menetap, ia sangat menjaga privasi, terutama soal kondisinya. Pelayan hanya akan datang pada jam-jam tertentu saat diperintahkan untuk membersihkan rumah atau menyetok bahan makanan. Setelah memastikan dapur kembali bersih, Amindita berdiri mematung sejenak. Ia menatap tangga melingkar yang menuju ke lantai dua—ke arah kamar utama. Dada Amindita kembali berdetak cepat, lebih kencang dari sebelumnya. Perkataan Praditya saat makan malam tadi masih terngiang jelas di telinganya, seperti kaset rusak yan

