Amindita merasa dunianya seolah berputar. Berada di atas meja rias dengan posisi terkunci oleh tubuh tegap Praditya membuatnya kehilangan kata-kata. Ia mencoba mencari celah untuk bicara, namun setiap kali ia membuka mulut, tatapan Praditya seolah menghisap seluruh keberaniannya. "Pradi, ini... ini sudah malam. Kamu harus istirahat, besok ada meeting pagi," bisik Amindita terbata, mencoba mengalihkan pembicaraan meski ia tahu itu alasan paling konyol yang pernah ia buat. "Aku memang sedang mencari istirahatku, Dita. Tapi bukan dengan tidur," jawab Praditya dengan suara yang serak dan rendah, sarat akan gairah yang sudah tak terbendung lagi. Praditya tidak memberi ruang untuk Amindita menghindar lagi. Ia menangkup wajah Amindita dengan kedua tangannya, lalu menunduk untuk menyatukan bibi

