Bimbang

1476 Words

Kamar itu seolah terbakar oleh atmosfer yang pekat. Praditya sudah berada di atas Amindita, napasnya memburu berat, sementara miliknya yang sudah mencapai puncak ketegangan teracung sempurna, siap untuk menyatukan dua raga yang selama ini hanya terikat kontrak dingin. "Aku akan pelan, Sayang... percayalah," bisik Praditya serak. Meskipun sisi dominannya masih sangat terasa, jemarinya yang mengelus pipi Amindita menunjukkan sisi lembut yang jarang ia perlihatkan pada dunia. Amindita hanya mampu mengangguk pasrah, kedua tangannya meremas seprai sutra di bawahnya, matanya terpejam saat merasakan kehadiran Praditya yang semakin mendesak. Namun, tepat saat kulit mereka bertemu dalam penyatuan yang paling intim, sebuah kilatan memori hitam tiba-tiba menghantam benak Praditya layaknya petir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD