Moza dan Rama sampai di rumah kakek Dirga yang sangat mewah dan megah. Cahaya lampu yang menerangi rumah itu semakin menambah keindahannya. Saat keduanya keluar dari mobil di depan rumah megah itu seorang wanita cantik tinggi berpenampilan seksi elegan juga keluar dari mobil yang lain. Wanita itu segera berjalan mendekati Rama dan Moza. Dengan sedikit berlari dia langsung memeluk Rama dengan wajah sedih. Seakan dia tidak peduli dengan keberadaan Moza yang ada di sampingnya.
“Rama.... Maafkan aku, Sayang.”
“Siapa dia? Sayang-sayang tanpa merasa sungkan padaku. Bagaimanapun aku sekarang adalah istri Rama yang sah. Tidak tau sopan-santun sama sekali,” sahut Moza ketus di dalam hati sambil melirik ke arah wanita cantik tinggi semampai berpakaian seksi minimalis itu. Sepertinya dia
Sementara Rama masih belum mengatakan apapun. Pria itu terlihat berusaha menahan emosinya terhadap wanita cantik yang ada di pelukannya.
“Seharusnya tadi pagi akulah yang menikah denganmu. Tapi aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Maafkan aku, Rama. Maafkan aku.”
Rama melepaskan pelukan Ellea. “Tidak apa-apa Ellea... Semua sudah bisa aku selesaikan dengan baik. Aku pernah mendengar sebuah nasehat. Jangan pernah kamu bergantung pada manusia. Karena kau pasti akan kecewa. Bergantunglah pada Tuhan, Dia akan memenuhi segala kebutuhanmu meskipun kamu tidak minta sekali pun.” Rama menghentikan ucapannya sejenak sambil terus menatap Ellea. Ingin menegaskan bahwa dirinya sudah tidak perlu membutuhkan belas kasihan wanita itu lagi. “Aku sangat bersyukur sekali, Ellea. Bisa mengenal seorang wanita seperti Moza.” Tegas Rama kemudian meraih jemari Moza lalu menggenggamnya dengan erat. Dia angkat sedikit ke atas se-daddanya untuk ditunjukkan pada Ellea. Kemudian dia tempelkan tangan yang menyatu itu ke daddanya. “Dia dikirim Tuhan untuk menolong diriku. Menyelamatkan mukaku. Menyerahkan dirinya padaku dengan suka rela. Mencintaiku dengan tulus. Tanpa aku meminta dia telah memberikan banyak hal sangat berarti padaku.”
Mendengar itu Moza langsung menoleh pada Rama ingin sekali dia memprotes ucapan itu. Karena sangat berbeda dengan kenyataan dan menurutnya dirinya sangatlah murahan.
“Oh ya. Kamu beruntung sekali, Rama. Bisa bertemu dengan gadis seperti dia. Yaah, meskipun bagiku dia terdengar sangat---- maaf, murah sekali,” ucap Ellea lirih di akhir kalimatnya sambil menatap Moza lirih tapi sangat tajam rasanya.
“Hei, jaga bicaramu, ya!” ucap Moza geram sambil menunjukkan telunjuknya.
“Maaf, itu yang bisa kutangkap dari penjelasan suamimu, Moza,” jelas Ellea tersenyum santai dan puas. Dia berharap bisa membuat dua orang di depannya itu saling bersitegang sendiri.
“Tenangkan dirimu, Moza. Hanya manusia rendah saja yang memandang manusia lainnya dengan sebelah mata. Kamu jangan terpancing emosi,” tutur Rama menatap kembali Ellea penuh kebencian. “Ini sudah malam. Kami sangat lelah sekali, Ellea. Kami akan beristirahat dulu. Aku pikir kamu tidak akan bermalam di rumah pengantin baru bukan?” tanya Rama sengaja ingin mengusir Ellea yang sudah membuat dirinya dan Moza mulai terpancing emosi. Kemudian Rama sudah mulai memutar badan ke samping.
“Oh, jadi kamu ingin mengusirku, Rama? Kamu kira aku tidak mengetahui semua yang terjadi di sini,” ucap Ellea dengan tatapan sinis.
“Apa maksudmu?” tanya Rama.
“Jangan pura-pura tidak tau, Rama.”
Moza menatap ke arah Rama. Merasa penasaran juga dengan ucapan Ellea yang terdengar penuh teka-teki.
“Aku benar-benar tidak mengerti.”
“Aku tau kamu gagal di pemilihan CEO di Alrash Corp, Rama. Jadi untuk apa kalian lanjutkan pernikahan pura-pura ini?” tanya Ellea dengan penuh percaya diri.
Moza dan Rama sebenarnya cukup terkejut. Keduanya saling bertatapan. Lalu secara kompak berusaha menunjukkan pada Ellea jika tuduhannya itu tidak benar dengan tertawa terkekeh bersamaan.
“Hahaha.... Dari mana kamu punya pikiran seperti itu Ellea. Pura-pura? Itu tidak benar. Pernikahan kami memang dilakukan secara rahasia. Tapi tidak ada yang pura-pura di sini. Kalau kamu butuh bukti dan surat nikahnya akan kami segera tunjukkan. Ayo, kita masuk ke dalam. Karena tadi sudah dibawa pak Danu pulang surat nikah kami berdua,” jelas Rama kesal.
“Kalian sudah pulang?” tanya seorang wanita tua tapi masih terlihat cantik anggun dan elegan di usianya.
“Nenek.... “ panggil Ellea segera mendekati wanita itu dan memeluknya.
“Apa kabamu, Sayang? Kamu sehat dan baik-baik saja bukan?” tanya wanita itu sambil mengelus pundak Ellea dengan suara penuh kesabaran.
“Aku baik-baik saja, Nek,” ucap Ellea kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum dengan nenek.
“Syukurlah kalau begitu. Nenek turut merasa lega sekarang. Setelah mendengar pernikahan cucu nakal itu, aku hanya memikirkanmu. Tadi aku segera menelponmu. Tapi, ponselmu tidak aktif. Nenek cemas sekali.”
Sementara Rama terlihat kesal melihat adegan mesra antara nenek dan Ellea. Dia pun mengajak Moza untuk pergi ke dalam. “Ayo Moz, kita masuk ke dalam.”
Moza yang sedang fokus memperhatikan dua orang itu terkejut ketika Rama menariknya agak kasar.
“Tunggu, apa kamu tidak ingin perkenalkan Istri barumu padaku?” tanya nenek.
Rama berhenti dan membalas dengan tak kalah sinis ucapan neneknya itu, “oh, aku pikir Nenek tidak ingin mengenalnya.”
Moza menepuk lengan Rama. Kemudian berkata lirih, “jangan bersikap seperti itu sama Nenek.”
Rama menoleh pada Moza. Lalu mengajaknya mendekat. “Sudahlah jangan coba menasehati aku. Kalau kamu mau kenalan sama dia,
“Rama,” panggil Moza dan mengejar Rama yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah hanya melewati belakang neneknya saja.
Moza memberi hormat dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepala juga membungkukkan badannya kepada wanita tua itu. Dalam situasi ini Moza sebenarnya ingin sekali datang mendekati wanita itu dan mencium tangannya. Tapi tatapan dingin nenek membuat Moza mengurungkan niatnya itu. Moza hanya menyapanya saja, “permisi, Nek”
Mendengar itu Rama menoleh ke belakang dan segera kembali menarik Moza.
“Aduh, Rama,” seru Moza sambil mengikuti tarikan Rama yang terlihat emosi.
Sebenarnya Rama bisa memahami sikap neneknya yang tidak setuju dengan pernikahan kilat dan rahasianya tadi pagi. Apalagi dia memilih gadis dalam waktu singkat untuk dijadikan istri, namun Rama tidak suka jika neneknya itu justru seperti memberi dukungan pada Ellea. Padahal wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu setelah ibu kandungnya meninggal, tahu betul jika Ellea kemarin tidak mau mendukungnya di saat Rama mengahadapi masalah besar. Wanita yang hampir setahun ini sanggup memikat hatinya dan membuatnya pensiun jadi playboy itu justru berlalu pergi dengan alasan sibuk dengan karir modelnya saat dia mengajaknya menikah.
Sementara itu nenek dan Ellea saling berpandangan saja. Tapi, tak lama kemudian mereka menyusul masuk.
***
Sampai di dalam rumah Moza hanya bisa berdecak kagum dalam hati. Meski hatinya sedang dirundung sedih, Moza sejenak berhenti seperti tersihir melihat keindahan rumah itu. Klasik modern dan sangat luas dan megah. Rasanya seperti di dalam istana dunia dongeng.
“Selamat datang rumahku Moza. Semoga kamu betah di sini. Tap jika kamu tidak menyukainya, nanti kamu bilang saja, ya. Jangan sungkan-sungkan,” ucap Rama ketika mereka berhenti sejenak di ruang tamu.
“Kamu harus menginap di sini ya, Sayang!” Tiba-tiba suara nenek di belakang membuat Rama dan Moza menoleh. Dilihatnya nenek masuk bersama Ellea.
“Maaf, Nek. Aku akan pulang ke apartemenku saja. Besok aku main lagi ke sini,” tolak Ellea berpura-pura merasa sungkan. Walaupun yang sebenarnya dia memang sangat menginginkan berada di rumah ini. Terutama untuk malam ini. Dia ingin mencari tahu bahwa yang dia yakini saat salah benar adanya. Jika Rama menikah dengan Moza hanya sementara dan pura-pura saja.
“Moza kita masuk ke kamarku saja. Aku sudah tidak sabar denganmu,” ajak Rama dengan sedikit emosi masih menggandeng pergelangan tangan Moza.
Kali ini Moza menurutinya saja. Walau di dalam hatinya dia merasa kurang nyaman dengan sambutan sang nenek. Dia bisa menilai jika nenek Rama tidak menyukai kehadirannya.
Setelah menaiki sebuah tangga yang sangat indah, Moza dan Rama sampai di dalam kamar. Begitu membuka pintu kedua mata mereka langsung melihat pemandangan indah di atas ranjang sudah bertabur bunga dan juga hiasan berbentuk hati.
“Apa ini perintahmu?” tanya Moza dengan raut kurang suka.
“Tentu saja. Aku menyuruh pak Danu untuk mencari jasa yang bisa menyulap kamar ini. Kenapa apa tidak boleh? Walau kita hanya suami-istri kontrak tapi di mata orang-orang kita harus bisa menunjukkan jika hubungan kita ini serius.”
“Tapi apa kamu lupa jika aku baru saja kehilangan Ibuku. Hiasan ini seharusnya tidak perlu. Aku sedang bersedih.”
“Ini sudah aku minta sejak tadi pagi. Karena aku pikir malam ini kita akan menginap di sini sebelum kita berbulan madu besok. Aku tidak tau kalau Ibumu hari ini akan tiada. Maafkanku,” ucap Rama penuh sesal.
Moza terdiam. Tak membalas ucapan itu. Tapi saat Rama berbalik dan akan beranjak pergi, dia segera memeluknya dari belakang. Rama berhenti. Untuk sesaat dia pun terdiam membiarkan Moza menempelkan kepalanya di punggung Rama.
“Maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?”
“Aku tidak tau jika tadi kamu kalah dalam pemilihan CEO di Alrash Corp. Kenapa tadi kamu tidak cerita?”
Perlahan Rama melepaskan tangan Moza yang melingkar di perutnya. Kemudian dia berbalik lagi. Menatap Moza dengan raut serius.
Moza membalas menatapnya penuh penuh kesedihan dan penyesalan.
“Kekasihmu sudah datang. Apa tidak lebih baik aku pergi dari sini? Semuanya telah gagal dan hancur Rama. Kamu tidak berhasil menjadi CEO. Dan Ibuku pun telah tiada sekarang. Orang yang paling ingin aku lindungi di dunia ini.”
“Apa?” tanya Rama cukup terkejut dengan tawaran Moza.