“Kamu mau apa?” tanya Moza. Dirasa jantungnya jumpalitan tidak karuan. “Menurutmu apa? Tentu saja aku mau kamu Moza,” jawab Rama dengan suara lembut, tak mengalihkan tatapannya pada mata Moza. Muka Moza mulai merona bercampur cemas. Ia tahu ini akan sulit untuk dihindari lagi. Cepat atau lambat Rama pasti akan memintanya. Siap atau tidak siap, dirinya tak boleh menolaknya. Moza telah berjanji akan memberikan semuanya jika Rama memang menginginkannya. Tangan Rama mulai bergerak mengusap lembut salah satu lengannya. Ada rasa geli dan nyeri-nyeri sakit. Rasa nyeri diakibatkan tertusuk duri pohon mawar tadi siang. Semua rasa campur aduk jadi satu. Ada sakit, takut dan juga tegang. Moza memejamkan kedua matanya. Sebuah sikap ekspresif yang muncul begitu saja. Tak perlu malu atau pun gengsi

