satu pencapaian

2070 Words
Dongeon tower 7 Pasang surut dalam kehidupan jelas tidak ada yang tahu. Terkadang kita ada di bawah, dan kadang bisa naik secara tiba-tiba, dan banyak yang akan merasa lupa saat mereka ada di atas, hal itu membuat mereka menjadi congkak dan lupa saat bagaimana mereka sulit untuk merangkak naik. Usaha mereka hanya akan digunakan sebagai kesombongan yang ada, dan percayalah, akan ada masa di mana mereka akan jatuh, sejauh-jauhnya. Kabar tentang bos belalang sembah yang menjadi salah satu bos tersembunyi tersebar ke seluruh penjuru lantai. Memang setiap ada satu penaklukan akan ada pengumuman yang di masuk ke notif mereka. Lalu beruntungnya lagi. Mereka hanya mendengar nama yang memiliki kontribusi tinggi tanpa ada foto di dalamnya. "Kenapa kau tersenyum?" Alea menggeleng pelan, dia masih menatap layar hologram tentang info yang saat ini tengah ber dari, bos tersembunyi yang sudah memakan banyak korban berhasil dikalahkan, dan mereka semua heboh dan penasaran siapa yang mengalahkan bos itu. Karena bagaimanapun, saat bos terakhir sembunyi itu di kalahkan, maka akses untuk mendapat sumber daya tambahan terbuka. Banyak pendatang yang akan menuju ke sana untuk mencari bahan yang mereka butuhkan untuk membuat item yang mereka butuhkan. "Apa kau senang karena berhasil mengalahkan monster itu?" "Tentu saja aku senang. Apa lagi saat melihat bagaimana kemampuanmu yang baik hampir dua kali lipat, hanya orang bodoh yang tidak senang mendapat berkah seperti ini?" "Kan sudah aku katakan aku ini kuat, kau saja yang tidak percaya." "Ya tentu saja sekarang aku percaya, terlebih aku sudah tahu bagaimana cara menggunakan mu, ini sungguh luar biasa kau tahu?" Alea terus saja merasa senang dengan kekuatan baru yang dia dapatkan. Apalagi saat Alea mengaktifkan Augus dia akan mendapatkan peningkatan statistik yang luar biasa, dia seolah naik level rank B yang mana dapat menaklukkan Raid tingkat C. "Aku sudah tahu. Jadi tidak usah sok memberitahuku, apalagi ini kemampuanku sendiri." "Aku jadi ingin mencoba memainkan kemampuanmu, sistem bilang kemampuan mu akan naik saat kau melahap material yang cukup dan memiliki level lebih tinggi dari mu." "Tentu saja." Alea mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya, sepertinya dia akan mengambil beberapa material penting yang ada di tempat ini sebelum yang lain datang dan berburu item yang. Menjual material tentu saja bisa menghasilkan uang dan dia bisa menjalankan tujuannya dengan cepat. Alea segera mengeluarkan peralatan menggali dari cincin ruang miliknya. Lama bekerja sebagai pembersih Raid tentu saja membuat dirinya memiliki alat seperti itu, dan kini dia tidak menyesal karena pernah melakukan pekerjaan yang mereka bilang rendah. Kini dia bisa memanfaatkan kemampuannya. "Untuk apa kau mengumpulkan material? Bukankah kau sudah memiliki senjata super keren seperti diriku?" "Memang aku sudah memiliki senjata, tapi aku juga butuh uang, aku butuh banyak uang untuk mengerjakan keinginanku sejak dulu. Menjadi pemburu lantai tentu saja tidak akan membuatku lupa dan aku memiliki tujuan di tempat ini." "Apa?" "Kau akan tahu setelah ini." Alea terus menggali. Mencari batu material yang terbilang langka dan memiliki harga jual yang lumayan mahal. Beberapa kantung material akan membuat dirinya mendapat banyak uang. Beruntung juga dia mengambil cincin ruang milik dua pemburu tadi, jika tidak, saat ini Alea pasti akan kebingungan membawa semua barang ini. "Mau berapa lama lagi kau akan mengambil material itu?" "Sebentar lagi setelah aku siap kita akan keluar dari tempat ini." "Terserah kau saja." Alea tak menjawab, dia kembali fokus dengan pekerjaannya, dia harus menikmati hasil buruannya ini. Anggap saja hadiah setelah dia berusaha mempertahankan nyawa untuk mendapatkan semua ini. "Aku merasakan ada kekuatan item di dalam monster belalang itu, jangan terlena dengan uang dan melupakan item penting di sana." Ah iya, Alea hampir saja melupakan drop item dari monster yang dia kalahkan, bodoh, padahal item itu termasuk penting untuk dia ambil dan manfaatkan. Alea bergerak pada mayat monster itu, lalu terdiam sebentar di hadapan monster berukuran besar itu. "Bagaimana cara mengambilnya?" Gumang Alea yang kebingungan, karena bagaimanapun ini kali pertama dirinya mengalahkan monster dan mengambil drop itemnya seorang diri. "Mana ku tau, coba saja kau dah tubuhnya dan lihat apa item yang ada di dalamnya." "Aku tidak memiliki senjata untuk itu." "Maka tinggalkan saja." "..." Alea terdiam sembari menatap cincin yang melingkar di jari manis kanannya. "Jangan memikirkan hal yang menjijikkan seperti itu." "Ayolah. Aku tidak memiliki senjata sekarang, dan hanya kau saja yang aku miliki." "Jangan coba-coba!" Alea tak mendengarkan, dia mengubah bentuk Augus menjadi sebuah pedang kembali, lalu menebas monster itu di bagian depan. "Sialan kau! Ini menjijikan sialan!" "Diam lah, kau akan lebih berguna jika seperti ini." Lalu saat tubuh belalang sembah itu terbuka, Alea bisa melihat aura dari sebuah item yang ada di dalam tubuh itu. "Sebuah core?" Ucap Alea setelah melihat core. Atau inti dari monster yang memiliki harga jual mahal, tapi item seperti itu akan menimbulkan banyak masalah saat dia memasangnya di pasar lelang. Apalagi keberadaan dirinya sebagai orang yang mengalahkan monster akan terbaca oleh media, dan itu akan membuat dirinya dalam posisi sulit. "Aku penasaran. Apa kau masih bisa menyerap inti core sekecil ini?" Tanya Alea pada Augus. "Tentu saja, inti core adalah sumber kekuatan. Dan itu adalah makanan utamaku." "Kalau begitu makanlah." "Tunggu? Apa kau serius?" "Tentu saja, toh untuk apa aku simpan benda semahal ini. Jika ini berguna untukmu lalu untuk apa aku menyimpannya?" "Itu bisa kau jual dengan harga mahal." "Aku tahu. Hanya saja menjual barang seperti ini hanya akan mempersulit pergerakan kita, aku ingin bergerak sendiri dan terus berkembang, aku akan menyelesaikan semua lantai dengan tanganku dan kemampuanku sendiri." "Kau gila." "Memang. Dari pada aku di khianati, lebih baik aku bergerak sendiri." "Terserah kau saja?" Ucap Augus dengan nada heran. Dia tak habis pikir dengan tingkah Alea yang seolah bertindak tanpa memikirkan hal kedepan. Alea menggerakkan inti core itu dan mendekatkan pada Augus, lalu perlahan Augus menyerap inti core itu dan selesai. [Sistem : Augus mendapat poin kontribusi tambahan, poin statistik Augus bertambah 2%] Yah seperti itulah seharusnya, semakin berkembang Augus maka semakin kuat dirinya. Dia akan mengandalkan Augus mulai sekarang. "Core yang memiliki energi cukup kuat, aku agak kenyang dengan memakan satu core itu." Alea tersenyum kecil. "Maka kita akan berburu banyak core lagi setelah ini." "Apa yang kau rencanakan?" "Membuatmu kuat dan mengandalkan kekuatanmu untuk bertahan dan menaklukkan semua lantai." "Kau gila." "Tentu saja, aku memang gila, tapi aku tidak akan lupa dengan diriku dan tujuan kenapa aku berada di lantai ini." "Terserah kau saja!" "Baiklah, saatnya kita keluar dari tempat ini." Ujar Alea sembari melangkah masuk kedalam gue. "Bukankah kau salah arah, pintu keluar ada di belakangmu bodoh." "Oh ayolah. Apa kau pikir Kita akan keluar begitu saja? Tentu saja tidak. Aku mendapat hadiah tambahan karena berhasil mengalahkan monster belalang sembah tadi, aku mendapat sebuah peta yang menuntun kita keluar dari gua melalui jalan yang lain." "Kau serius? Bahkan kita tidak tahu monster seperti apa yang ada di dalam sana." "Jika tidak tahu. Maka kita akan mencari tahunya sekarang." Alea tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia akan menjajah tempat ini, mencari sesuatu yang baru untuk meningkatkan kemampuan Augus, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia terus saja melangkah. Menyusuri lorong gelap di hadapannya, lalu saat setengah perjalanan dia di hadang oleh sekumpulan monster tingkat D. Dua tingkat di bawah statistiknya yang sekarang. Mungkin jika dulu saat dirinya belum mendapatkan kekuatan ini dia akan sedikit kerepotan untuk melawan monster tingkat D, tapi sekarang. Mereka bukanlah apa-apa. "Bagaimana dengan ini corenya?" Tanya Alea saat memberikan satu inti core terakhir yang dia dapat dari monster yang dikalahkan. "Tidak seenak tadi, tapi lumayan lah." Alea mengangguk pelan. Sepetinya dia membutuhkan banyak inti core kecil untuk meningkatkan kemampuan Augus. Jika tadi dengan core bis monster bisa menaikan kemampuan 2% tapi sekarang, Alea harus berjuang keras untuk mendapatkan core yang lebih kuat lagi. "Sepertinya, lebih baik aku menjual inti core dari monster kecil ini dan memberimu makan dengan inti core yang lebih besar." "Menjual untuk membeli. Apa ini di sebut pertukaran?" "Anggap saja seperti itu, dari pada terlalu lama meningkatkan kemampuanmu, dan kau juga tidak akan kenyang dengan core kecil seperti ini. Lebih baik kita jual saja dan membeli core class bos." "Terserah kau saja." "Baiklah sudah kita putuskan sekarang." Alea kembali menjelajahi goa itu dan kembali membasmi seluruh monster yang menghadang dirinya, hingga saat dia sampai di titik akhir, Alea terdiam sejenak, apalagi saat melihat pintu besar di hadapannya. "Kau merasakan apa yang aku rasakan?" Tanya Augus yang sejak tadi memilih dia. Alea mengangguk pelan, dia yakin tekanan dan pintu yang terpahat dengan tulisan kuno itu adalah pintu di mana ruangan bos berada. Baru kali ini Alea bisa menemukannya dengan mudah. Padahal jika dulu, dia harus melalui banyak Raid untuk bisa mencapai tempat ini, tapi sekarang. Dia bisa dengan mudah masuk dan menuju tempat ini tanpa harus bersusah payah seperti dulu. "Aku merasakan kekuatan yang sangat hebat di dalam sana, aku sendiri bahkan sampai merinding untuk melihatnya." "Kita pergi sekarang." Ucap Alea. "Keputusan yang tepat." "Tentu saja, aku akan menandai tempat ini dan akan kembali saat kemampuanmu naik dengan pesat, aku akan menjadi orang yang akan menyelesaikan lantai ini seseorang diri dan mendapatkan hak istimewa di lantai berikutnya." "Kau yakin?" "Kesempatan tidak akan datang dua kali. Dan aku yakin dengan pilihanku." "Terserah kau saja." Alea tersenyum, sepertinya dia akan bergerak dan berburu beberapa monster lagi untuk mendapatkan uang dan bisa membeli beberapa core tingkat bos untuk meningkatkan kemampuan Augus. Hanya saja tempat ini tidak bisa menjadi tempat berburu karena kebangkitan monster hanya akan terjadi satu kali dua puluh empat jam. Jadi lebih baik dia segera keluar sebelum ada orang yang menyadari keberadaanya. Alea berlari menuju pintu keluar, lalu tersenyum puas saat melihat mulut gua. Hanya saja, dia langsung menyingkir dan sembunyi di sisi gua saat melihat satu kelompok pemburu masuk kedalam. Sepertinya kabar beredar dengan cepat, membuat tempat ini langsung di datangi oleh beberapa orang. "Kita terlambat." Ucap Alea sembari berusaha menyembunyikan diri. Sebisa mungkin dia harus menyembunyikan dirinya dari mereka yang datang. "Memang kenapa jika mereka tau." "Maka kita akan sulit untuk berburu setelah ini." Karena Alea percaya setelah keberadaanya di ketahui, maka akan banyak orang yang mendatanginya dan meminta bergabung satu kelompok dengan dirinya. Alea yakin, akan banyak penjilat yang datang pada dirinya setelah mereka menyadari keberadaanya. Alea memilih diam, memperhatikan mereka yang masuk ke dalam gue. Dia berharap hanya kelompok ini saja yang langsung mendatangi tempat dirinya berada. "Aku penasaran siapa orang yang sudah mengalahkan bos tersembunyi di Raid ini." "Bukan hanya kau, aku juga penasaran, apalagi nama pemburu itu masih terdengar asing. Aku yakin dia pemburu bayangan yang hanya bergerak seorang diri." "Solo player?" "Bisa jadi, siapa lagi orang gila yang menyerang monster bos seorang diri. Jika itu aku. Mungkin aku akan mati dengan cepat." "Kau benar, Aku harap kita bisa melihat siapa sosok itu dan mengajaknya masuk ke dalam serikat kita." "Semoga saja dia belum pergi dari tempat ini." Alea masih diam sembari mendengarkan ucapan orang yang berjalan melewati dirinya. Dia beruntung karena saat ini rank nya masih di tingkat F, dan hal itu membuat keberadaanya tidak di ketahui oleh pemburu tingkat D seperti mereka. Tak lama setelah mereka berlalu, Alea mengintip dan memastikan apakah ada orang lain yang datang ke tempat ini, saat dirasa aman, dia langsung berlari keluar dari pintu gua dan berjalan kearah kiri, di mana menuju ke arah hutan larangan, dia yakin tidak akan ada orang di sana, dan membuat dirinya aman dari serangkaian orang-orang itu. Dia bernapas lega, setidaknya dia akan aman saat berjalan pulang ke pusat kita. Walau harus melewati hutan larangan dan dia yakin akan bertemu dengan beberapa monster yang menghadang, tapi dengan kemampuan Augus dia bisa saja mengatasi semua itu. Dan mengumpulkan banyak ini core untuk dia jual. Sembari menyelam minum air, sepertinya satu pribahasa itu cocok untuk dirinya sekarang. "Kau tahu. Aku tidak terlalu suka saat kau menyembunyikan keberadaan mu dan kemampuan mu yang sekarang." "Kenapa?" "Kau kuat. Kau memiliki talenta. Dan kau memiliki kemampuan yang bisa di katakan luar biasa, tapi kenapa, kenapa kau malah menyembunyikannya?" "Bukankah sudah ku katakan tadi, aku tidak igi terganggu dengan beberapa penjilat yang akan datang dan mengajak kita bergabung, mereka hanya akan memanfaatkan keadaan dan terus membujuk kita bergabung dengan mereka. Itu membosankan." "Tapi tanpa mereka kau tidak bisa bergerak." Sore paham dengan hal itu, tapi dia sudah memiliki rencana lain, ada orang yang akan datang kepadanya setelah ini. Orang yang sudah mengetahui namanya dan beberapa orang yang pernah bertempur bersamanya. Dia akan memilih salah satu di antara mereka untuk membantunya dalam segala hal. Dan mungkin dia akan bergabung dengan salah satu orang yang bisa dia percaya setelah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD