Dongeon tower 5
Dunia itu kejam. Apalagi saat sekarang dimana semua membutuhkan kekuatan, mereka yang kuat akan berkuasa, lalu yang lemah, hah, jangan berharap untuk bisa naik keatas tanpa kemampuan yang memadai.
Katanya, masih ada orang baik di antara mereka yang kuat dan ada orang yang berwibawa di antara mereka yang congkak, apakah itu nyata? Sayangnya, hanya ada satu di antara ribuan orang yang memiliki kekuatan yang bersikap ramah dan mengerti kepada mereka yang ada di bawah.
Mungkin mereka pernah merasa ada di posisi paling bawah dan merangkak untuk naik. Maka saat sudah berada di atas merek tidak akan pernah lupa dengan apa yang mereka rasakan.
Tapi sayangnya, banyak diantara mereka yang melupakan bagaimana menderitanya saat berada di bawah, dan terlena dengan nikmat saat mereka ada di atas. Merasa segalanya hanya milik mereka sendiri tanpa ada yang berani mengganggu ataupun menginjak harga diri mereka.
Memang. Seperti itu lah dunia, tidak ada yang akan menghormati tanpa ada derajat dan kekuasaan yang ada. Dan Alea adalah orang yang sudah muak dengan hal yang berbau dengan kekuasaan.
Terbukti beberapa saat lalu dia sudah merasakan sendiri bagaimana menjadi umpan dari seorang yang sudah memanfaatkan dirinya. Bertingkah sok peduli dengan orang yang lemah , tapi nyatanya hanya menjadikan sebuah umpan untuk kepentingannya sendiri.
Sekarang entah kemana pria tadi. Sojin sialan, pria sialan, dia akan mengingat nama itu dan membalaskan dendam orang-orang yang sudah dia manfaatkan.
Alea menghembuskan napas berat, baru saja dia mendapatkan staminanya kembali setelah kesembuhannya dan setelah mendapat berkah dewa.
Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya, setelah sekian lama dirinya tertundas dan hanya menjadi seorang yang tak berguna dalam setiap regu p*********n. Kini, Alea bisa membuktikan diri dengan kemampuan yang dia miliki.
Dia mengedarkan pandangannya, menatap dua orang yang tergeletak tak bernyawa dengan luka sayat yang cukup parah. Jika saja mereka tidak percaya dengan omong kosong yang Sojin berikan, mungkin saat ini mereka masih bisa menikmati indahnya hidup di luaran sana. Sayangnya mereka semua hanyalah korban dari mulut manis tapi memiliki bisa yang cukup mematikan dari Sojin.
"Apa kau marah?"
"Diam lah, aku masih berusaha mengendalikan diriku. Kau tahu rasanya baru saja mendekati kematian dan tiba-tiba kau hidup lagi?"
"Ya ... Aku pernah merasakan hal itu. Bukankah itu menyenangkan?"
"Tidak semua yang kau pikir gila itu menyenangkan, aku sendiri bahkan merasa mual saat membayangkan itu."
Alea berusaha berdiri, dua bertopang pada dinding gua yang ada di belakangnya, tempat dirinya bersandar untuk mengumpulkan tenangnya, dia melirik lengan kiri yang tersemat sebuah cincin berwarna hitam. Dialah Agus bentuk ego yang dia miliki, sebuah pedang hitam dengan kemampuan yang luar biasa.
Alea berdiri sebentar, dia memeriksa status dirinya sendiri. Ada sedikit peningkatan di poin mana dan intelektual miliknya, laku stamina yang dia miliki juga naik dengan signifikan. Sayangnya, poin kontribusi untuk menaikkan levelnya masih terkunci dengan logo gembok yang membuat dirinya mendesah pasrah.
"Apa ada masalah?"
"Tidak."
"Katakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu."
"Lupakan. Aku hanya melihat status ku saja."
"Kau mendapatkan job baru?"
Tunggu, Alea bahkan tidak menyadari jika dirinya saat ini mendapat sebuah job baru yang terlihat di sudut kiri statusnya. Dia menyentuh bagian itu lalu muncul penjelasan di hadapannya.
"Utusan dewa?"
"Sudah ku duga, kau salah satu orang beruntung yang bisa memiliki job itu, bukankah dengan ini kau bisa berkembang dengan cepat?"
"Aku tidak yakin."
"Kenapa?"
"Kau tahu? Bahkan bar kontribusi ku saja masih terkunci, sudah tiga tahun berselang tapi ini tidak pernah terbuka."
"Dan itu alasan kenapa kau masih ada di level satu?"
"Seperti itu lah." Ucap Alea bergumang sebentar. "Tunggu dulu?!" Alea mengingat hal yang sedikit aneh saat ini.
"Kenapa kau tiba-tiba saja ramah denganku, kemana perginya ego sombong yang selalu mengeluh tentang semua hal dan terus saja mengatai ku bodoh?" Ayah iya Alea mengingat hal itu sekarang, dia ingat dengan jelas bagaimana tadi Augus mengatai dirinya bodoh dan terus memekik tidak senang dengan nama yang akrab pilih, lalu kemana perginya sosok itu.
"Ah ... Tidak bisakah kau melupakan hal itu?"
"Maksudmu?"
"Itu, aku hanya tidak ingin ada pertengkaran di antara kita. Bukankah kita rekan sekarang?"
"Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh dengan sikapmu, apa kau takut jika aku akan membungkam mulutnya itu?"
"Ya ... Ya salah satunya itu."
"Salah satunya?" Tanya Alea sedikit bingung.
"Ah lupakan, bisakah kita melupakan hal itu sejenak, dan berpikir bagaimana caramu keluar dari tempat ini?"
Benar, Alea hampir saja melupakan hal itu, dua masih terperangkap dalam gua ini, Bahkan pintu masuk yang dia lewati tadi terkunci, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Aku merasa ada sebuah energi kuat di sekitar sini."
"Kau juga merasakannya?" Tanya Alea pada Augus. Memang sejak tadi dia merasakan sebuah energi yang begitu kuat terpancar dari arah berlawanan pintu masuk. Tepatnya di dalam lorong yang ada di mulut gua menuju ke ruang yang lebih dalam lagi.
"Aku berpikir lebih baik kita menghindari energi itu." Ucap Augus, dia merasa ada sesuatu yang aneh dari energi yang te pancar itu, seolah memberikan suasana tak nyaman untuk dirinya.
"Jika kita tidak melihatnya, bagaimana kita akan tahu dan keluar dari tempat ini."
"Tapi, kau belum sanggup untuk menerima kemungkinan yang terburuk nantinya."
Alea terdiam sejenak, dia memeriksa kembali statusnya, mematikan apakah kemampuan buang dia dapat sebelum dirinya sekarat tadi bisa dia gunakan kembali.
Dia mencoba membaca skill yang ada, lalu agak sedikit tercengang saat melihat beberapa skill baru masuk ke daftar skill yang dia gunakan. Tunggu, bukankah ini berlebihan untuk level yang dia miliki sekarang, lalu dia melihat skill berkah dewa, di mana skill akan aktif jika HP pengguna berada di bawah 15% dan semua status dirinya naik sepuluh persen, bukankah ini keuntungan yang luar biasa.
Sungguh. Sepertinya dia memang mendapat sebuah berkah dari para dewa yang gila dengan sebuah kesenangan.
"Menurutmu apa yang akan terjadi jika kita masuk dan memastikan apa yang ada di dalam sana?" Tanya Alea yang masih membaca dan mempelajari skill yang dia miliki sekarang.
"Aku tidak yakin, apalagi aku baru bangkit dan masih sangat lemah. Aku tidak bisa banyak membantu."
"Tapi aku melihat skill milikmu di sini, kau ternyata memiliki beberapa skill yang bisa diandalkan."
"Aku memang bisa diandalkan sejak lama, beruntung kau bisa memiliki aku."
"Heh, akhirnya sifat congkak mu muncul juga."
"Lupakan."
Alea terkekeh pelan. Dia masih membaca beberapa skill milik Augus, dan beberapa debuff yang dia dapatkan saat menggunakan skill itu dalam jangka berulang kali.
"Acient sword dragon, bisa menciptakan sebuah tebasan hitam yang mampu menyerap apa saja yang dikenainya. Stays pengguna tidak ada. Mana yang di perlukan 70 setiap penggunaan. Stamina yang di butuhkan 120." Alea bergumang sebentar, sedangkan Augus hanya diam dan merasa ada sesuatu perbedaan ketika dirinya melakukan kontrak dengan pria ini.
Dia merasa ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya, dan itu tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Tunggu dulu. Aku bahkan belum melihat statistikku, apakah skill ini bisa aku gunakan." Alea kembali bergumang. Dia masih terus mempelajari kekuatan baru miliknya. Lalu melihat poin stamina dan poin mana yang hanya sedikit di sana.
Alea menghela napas pelan saat melihat betapa lemahnya dia sekarang. "Sepertinya kita tidak memiliki harapan."
"Kenapa?"
"Aku terlalu lemah untuk menggunakan kekuatan mu. Bahkan statistik mana dan stamina yang aku miliki tidak cukup untuk menggunakan skill mu."
"Jadi? Apa yang akan kau lakukan sekarang."
"Entahlah." Alea tak memiliki harapan lagi. Jika dia bisa memilih mungkin dia akan mencari jalan lain, seandainya saja ada jalan lain yang bisa dia lalui, sayangnya, satu-satunya jalan hanyalah melewati lorong yang tertuju langsung pada sumber energi itu.
Tubuhnya kembali merosot, dan terduduk di atas tanah, dia bersandar pada dinding gua dengan wajah mendongak. "Andai saja aku tidak menyedihkan seperti sekarang. Mungkin aku tidak akan mati konyol seperti sekarang."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kau tahu, aku sudah hampir tiga tahun menjadi orang yang menyedihkan, bertahan hidup dengan menjadi seonggok sampah, dan bahkan aku harus mengemis hanya untuk bisa makan."
Alea kembali mengingat masa hidup yang begitu menyedihkan, di mana dia harus menjadi bagian pembersihan setiap area p*********n untuk mendapat sumber daya dari lantai yang baru saja mereka taklukan, menjadi umpan dan benteng pertahanan walau dirinya begitu lemah, hanya untuk mengulur waktu untuk petualang kelas atas.
Yah, semua dia lakukan hanya untuk bisa bertahan hidup dan memiliki kehidupan yang layak. Dia mendapat berkah untuk memasuki menara saat keajaiban munculnya sebuah menara yang saat ini menjadi sebuah harapan untuk umat manusia. Namun selama tiga tahun itu juga, Alea sama sekali tidak bisa berkembang.
"Mencoba bertahan menjadi umpan dan berakhir menyedihkan seperti sekarang ini." Sebenarnya Alea ingin mengakhiri hidupnya sekarang, tapi sepertinya dewa tidak ingin melihat dirinya berakhir dan terus menjadikan dia sebagai bahan mainan mereka. Apakah serendah itu hidupnya.
"Kau tahu?" Augus membuka suara dengan nada yang terdengar sedikit ragu. "Sepertinya kita bisa melihat bagaimana kemampuanmu sekarang setelah mendapat sebuah berkah." Augus terdiam sejenak. "Kenapa kita tidak mencoba masuk dan melihat sejauh mana kau berkembang?"
"Aku tidak yakin."
"Tenang saja, saat ini kau sudah memiliki aku, pedang hitam yang akan menjadi senjata terkuat yang kau miliki."
"Jangan bercanda. Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan mu." Ujar Alea sembari terkekeh pelan, dia tahu Augus hanya berusaha menghibur dirinya.
"Lalu, apa kau akan diam saja dan mati di tempat ini?"
Benar saja, Alea hampir melupakan hal itu. Mati konyol tanpa melakukan apa-apa, atau lebih baik mencoba walau dia sendiri tidak tahu hasilnya akan seperti apa.
"Lebih baik mencoba dan kita lihat hasilnya, jika kau mati, maka kau akan mati dalam kondisi berjuang, kalau aku hancur, maka aku tidak akan masalah. Setidaknya aku hancur untuk melindungi mu."
Alea terkekeh pelan mendengar kata-kata dari ego yang dia sendiri tidak tahu berbentuk seperti apa, memiliki rupa dan kehidupan sepeti apa sebelum mereka bertemu. Yang Alea tahu. Augus adalah sebuah pedang dan kekuatan yang baru saja dia dapatkan.
"Jadi kau mau bertaruh untuk ini."
"Tentu saja, terlebih aku penasaran dengan energi kuat ini. Jika saja aku bisa menyerap energi ini, mungkin aku bisa berkembang dengan pesat."
"Hoho, jadi inilah tujuanmu?" Ucap Alea melirik kearah ujung goa.
"Tentu saja. Lagipula saat aku bertambah kuat, kau akan di untungkan dengan itu."
"Baiklah, kita lihat saja apa yang ada di dalam sana."
"Aku siap!"
Alea beranjak dari sana, untuk sebuah Raid, lantai, dan dongeon rahasia, dia hampir pernah memasuki tempat seperti itu satu persatu, hanya saja saat itu dirinya masih terlalu lemah dan hanya menjadi pemeran pembantu dalam setiap p*********n. Tapi sekarang.
Dia berjalan pelan dengan mata yang melihat kearah sekitar.
"Apa kau pikir dua orang itu membawa sebuah item yang setidaknya bisa berguna untuk kita nanti?" Tanya Alea saat melihat dua rekannya tadi, untuk segi armor dan weapon sepetinya tidak ada yang bisa di harapkan, benda yang mereka bawa terlihat sudah hancur berkeping-keping.
"Apa kau ingin memungut sampah dari orang yang sudah mati?"
"Kenapa tidak?"
"Bukankah itu tidak sopan dan melanggar etika?"
"Setidaknya item yang mereka miliki akan lebih berguna saat kita gunakan. Dari pada terbuang percuma di sana."
"Tapi ...."
"Sudahlah, lebih baik kita periksa saja apa yang mereka bawa."
Augus mendengkus kecil. "Terserah kau saja?" Lalu membiarkan Alea memeriksa barang yang mereka bawa. Tujuannya tentu saja cincin penyimpanan yang mereka miliki, itu bisa berguna saat ada di tangannya, setidaknya walau merek tidak menyimpan benda penting di dalam sana, Alea bisa menggunakan benda itu untuk menjadi penyimpanan cadangan yang dia miliki.
Ah, iya di dalam menara. Semua hal yang tidak mungkin terjadi di luar menara akan sangat mungkin terjadi. Seperti halnya skill, kekuatan dan kemampuan yang bisa mereka gunakan di dalam lantai, hanya saja ada tempat tertentu yang khusus menyegel kekuatan mereka dan tak bisa di gunakan begitu saja. Tempat itu biasanya di sebut dengan tempat peristirahatan, atau tempat netral. Di mana para pemburu tidak bisa saling melukai satu sama lain di sana.
Alea memakai dua ring tadi di tangan kirinya, lalu memeriksa apakah ada sebuah item di dalam ruang penyimpanan mereka.
"Kau mendapatkan benda yang bagus?" Tanya Augus yang sepertinya penasaran juga dengan apa yang didapatkan oleh Alea.
"Tidak ada, hanya beberapa potion mana dan penyembuh saja."
"Tidak ada weapon, ataupun item yang bisa di gunakan?"
"Tidak ada, hanya ada tingkat dan pedang tumpul di sini. Di jual pun tidak ada harganya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan."
Alea terdiam sejenak, lalu dia berpikir sesuatu yang mungkin bisa membuat dua pemburu ini tenang. Dia mengeluarkan tingkat sihir dan juga pedang milik dua pemburu itu. Lalu meletakkan di sebelah merek, setelahnya dia berlutut di sana.
Menangkup dua tangan di depan d**a untuk berdoa sebentar.
"Semoga tuhan menerima kalian." Ucap Alea pelan dan beranjak dari sana.
"Kau masih tahu cara menghargai orang-orang."
"Tentu saja, kau pikir aku monster buang tega membiarkan mereka begitu saja."
"Ku kira kau hanya akan mengambil keuntungan saja."
"Aku tidak seperti itu!" Dengkus Alea lalu berlalu dari sana. Dia berdiri sejenak, sepertinya pertarungan antara hidup dan mati akan dia lakukan sebentar lagi. Entah apakah dia akan selamat dan keluar hidup-hidup dari sini. Atau malah akan mati mengenaskan di dalam goa ini.