Bab 19 Masalah Baru

1157 Words
Perasaan Sadina menjadi kosong usai panggilan telepon dari Deral berhenti. Dalam pembicaraan mereka hanya ada nama orang lain, yakni Haradisa. Kekosongan yang Sadina rasa ini kemungkinan besar karean Deral masih belum menjelaskan alasan ia mengantarnya kembali ke rumah Keluarga Argajaya. Masih terbayang juga raut kecewa kakaknya saat pergi meninggalkan rumah ini. Sadina mendengar deru mesin motor berhenti di depan teras. Itu motor Sajaka. Dia baru pulang dari rumah temannya. Sadina tahu cowok itu dari mana karena tadi Sajaka yang bilang. Sejak Sadina kembali ke rumah ini, sikap Sajaka juga agak aneh. Sajaka telah duduk di kursi samping tempat biasa Sadina duduk. Tersenyum begitu Sadina datang. Sadina balas tersenyum, tetapi begitu melihat banyaknya menu makanan di meja makan, juga kehangatan pembicaraan antara Selin dan Deka dengan putra mereka, pikiran Sadina malah melayang pada Deral. Sekarang kakaknya di rumah sendirian. Makan apa Deral malam ini? Ketika beberapa hari kemarin tinggal bersama Deral, mereka sering membeli makanan dari luar. Apa malam ini Deral membeli nasi goreng depan komplek lagi atau masak sendiri? Sadina terus kepikiran. Ditambah di luar sedang hujan. Kemungkinan Deral malas keluar rumah untuk membeli makanan. Di telepon tadi Sadina lupa menanyakan Deral sudah makan atau belum. "Sadina?" tegur Selin menyadari gadis itu belum menyentuh makanan di meja. Makanan di atas piringnya masih utuh. "I-iya, Tante?" Sadina terkejut perhatian semua ornag tengah tertuju padanya. "Ada apa? Kok nggak dimakan?" tanya Selin dengan lembut. "Sadina baik-baik aja, kan?" Sadina tergugup. "Maaf, Tante. Sadina baik-baik aja kok." Lalu menyuap makanan. Itu semua semata-mata agar mereka berhenti mengkhawatirkannya. Masakan Selin selalu enak, tetapi malam itu perasaan Sadina tidak begitu menikmatinya. Usai makan malam yang hambar itu, Sajaka mencegat Sadina di pintu dapur ketika sedang membereskan piring kotor. “Kita perlu ngobrol,” kata Sajaka sembari menyimpan piring bekas makannya di wastafel. Cowok itu segera begitu mendengar seseorang mendekat. Di rumah Keluarga Argajaya ada kebiasaan mencuci piring sendiri. Sadina habis mencuci piring bekas makan dirinya, segera naik ke lantai dua. Sajaka memintanya menunggu di balkon. Ternyata di sana belum ada siapa-siapa. Tidak berselang lama penantian Sadina tiba. Sajaka akhirnya muncul di balkon, kemudian berdiri di samping Sadina bersandar pada besi pembatas. Malam itu bintang bertebaran di langit. Musim panas membuat udara pada malam hari jadi lebih dingin. Terlebih perumahan mewah mereka terletak di dekat hutan lindung. “Ada apa?” Sadina memecah hening. Menatap dari samping wajah Sajaka. Sadina berusaha menduga-duga apa yang akan dibicarakan Sajaka kali ini. “Kayaknya kamu nggak senang kita ngobrol sekarang.” “Bukan gitu ...." Sadina menghela napas. "Aku cuma agak heran aja kamu ngajak ngobrol di sini. Soalnya beberapa hari ini meski kita ada di kelas yang sama, kita nggak ngobrol. Tapi tadi bukannya kita belum lama.ya ngobrol di teras rumah?” “Masih banyak yang mau aku bicarakan tapi keburu Mama datang. Kita selalu nggak leluasa ngobrol di depan mereka." "Hm." Sadina setuju dengan hal itu. Setiap ada orang tua Sajaka, mereka jadi canggung. "Aku nggak tahu ya ini kamu menganggapnya masalah atau bukan, tapi buat aku pribadi ini masalah serius. Soal ponsel kamu yang rusak dan kamu bohong.” Sadina diam mendengarkan, tak tampak tanda-tanda akan menanggapi. “Serius aku nanya, Sadina. Apa yang terjadi sebenarnya? Nggak mungkin kan ponsel kamu rusak tiba-tiba?” “Kan nggak ada yang bisa menebak musibah kapan datang dan bagaimana kejadiannya, Jaka .... Udah gitu aja, apes, ponselku rusak,” dalih Sadina berusaha tidak terlihat gugup. Jemarinya meremas erat ujung baju tidurnya. “Kok aneh kejadiannya barengan sama waktu kamu diantar Tris? Pulang-pulang juga kamu pakai kemeja dia. Ada apa sama kalian? Aku baru tahu kalian sedekat itu ternyata.” Sajaka terdengar seperti telah dikhianati. Kening Sadina mengerut. Ingatannya terlempar pada hari pentas seni. Tris menyelamatkannya dari gudang. Sahabatnya Sajaka itu sati-satunya orang yang mengetahui alasan ponsel Sadina rusak. Soal kemeja itu juga, Sadina lupa belum mengembalikannya pada Tris. “Aku nggak sedekat itu sama Tris. Dia cuma bantuin aku—“ Sial. Sadina segera merapatkan bibir. Hampir saja ia mengatakan bahwa hari itu dirinya tidak bisa datang menonton penampilan Sajaka di panggung pentas karena dikerjai oleh Davia dan teman-temannya. “Bantuin apa?” Sajaka makin curiga. Pasalnya Tris juga enggan membicarakan mengapa mereka bisa pulang bersama. Kata Tris lebih baik Sajaka bertanya langsung pada Sadina. Justru pernyataan Tris yang begitulah semakin membangkitkan bara api dalam jiwa Sajaka. Ia merasa dua orang ang dikenalnya ini sedang main belakang. Sajaka panas tiap memikirkan semuanya. Terlalu banyak hal-hal tak masuk akal yang mengakibatkan ia memikirkan yang tidak-tidak. “Bantuin ..., ya bantuin. Hm ..., waktu itu nggak sengaja aku nabrak orang. Minuman orang itu tumpah ke seragam aku. Kebetulan Tris lewat, terus dia bantuin aku dengan ngasih pinjem kemejanya. Dia bilang kemungkinan kamu belum pulang, jadi ngajak aku bareng ke parkiran. Ternyata kamu udah pulang duluan.” Diam-diam Sadina menelan salivanya kasar. Entah dari mana semua cerita karangan itu. Begitu saja mengalir dari mulutnya. Yang masih membuatnya deg-degan adalah tatapan Sajaka. Cowok ini seolah sedang melakukan scan kejujuran lewat matanya. “Lain kali jangan pulang sama orang asing tanpa sepengetahuan aku lagi. Aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa. Sebisa mungkin menyempatkan waktu buat menghubungi aku.” Refleks Sadina mengangguk. Jujur, kilat mata Sajaka berubah menakutkan. Sadina sampai tak ingin membuatnya tambah kesal. “Ngerti?” “I-iya.” Karena ketakutan Sadina rasa hampir mati. Ia baru bernapas lega setelah Sajaka melangkah kembali ke dalam rumah. *** Petikan gitar dan pukulan stik drum terdengar sampai radius beberapa meter. Pulang sekolah menjadi waktu paling ditunggu bagi anggota club. Hari itu hari Kamis jadwal latihan Club Teater. Pintu teater yang terbuka mengakibatkan bising dalam ruangan itu terdengar dari luar. Dalam ruangan itu anggota The Lost Island tengah memainkan lagu-lagu terbaru. Langkah Sajaka langsung tertuju pada seseorang yang tengah membetulkan senang gitar. Tris sontak mendongak kala paper bag mendarat keras di hadapannya. Sajaka berdiri dengan angkuh membalas tatapan heran Tris. Baru kali ini Tris melihat Sajaka semarah ini pada dirinya padahal ia tak mengerti telah berbuat salah apa. “Kenapa lo?” Tris membuka paper bag itu. Pada detik di mana ia melihat kemeja kotak-kotak yang sangat ia kenali, saat itulah Tris paham Sajaka marah karena apa. “Nggak kenapa-kenapa, cuma balikin barang yang dipinjem Sadina.” Nada bicaranya sinis. “Makasih  udah bantuin dia, tapi gue baru tahu lo bisa sepeduli ini sama orang yang akrab?” “Ya ..., nggak peduli-peduli banget sih, biasa aja. Gue cuma kasihan bajunya kotor habis jatoh. Enggak enak aja kalo dia keluar dengan penampilan kayak gitu. Kita kan nggak asing-asing banget juga. Beberapa kali kita ketemu di rumah lo, dan kita saling tahu nama meski nggak pernah kenalan—“ “Sadina jatoh?” Sajaka menyela kalimat Tris. Tris mengangguk ragu. Masih ingat betul bagaimana Sadina dengan matanya yang berkaca-kaca memintanya agar tidak menceritakan perlakuan Davia dan teman-temannya. “Hm.” Sementara hati Sajaka berkecamuk lagi. Padahal ia sudah percaya Sadina mengatakan bajunya ketupahan minuman orang lain, tapi perkataan Tris malah membuatnya bertanya-tanya siapa yang berbohong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD