Dibuat bingung pikiran Sajaka oleh kedua orang yang ia kenal. Sadina mengatakan alasan dipinjami kemeja Tris karena tersiram minuman. Lalu Tris berdalih bahwa ia menolong Sadina yang terjatuh.
Entah perkataan siapa yang benar. Atau keduanya tidak ada yang benar? Sajaka hanya tak menyangka, sudah berkali-kali Sadina menyembunyikan sesuatu darinya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Namun Sajaka masih belum melihat janji itu akan dipenuhi.
Mungkin karena Sajaka belum paham seutuhnya jalan pikiran Sadina. Sampai sekarang jujur saja dari cara Sadina menatapnya, seperti orang asing. Segala upaya Sajaka agar mereka dekat rasanya hanya percuma.
“Sajaka!”
Teriakan itu tak digubris. Hanya ada langit-langit berwarna putih sebagai latar bayangan yang lamunan Sajaka ciptakan, sementara sekeliling tempatnya berada menjadi sunyi. Dari kejauhan pandangan Sajaka hanya lurus dan kosong.
Kevin menghela napas sabar. Ia sejenak berhenti di ambang pintu ruangan OSIS dan berteriak lagi, "Sajaka!"
Barulah Sajaka menoleh, itupun dengan gerakan lambat. Hari ini Sajaka kelihatan sangat lesu. Dengan tidak bangun dari posisi berbaringnya, Sajaka diam memerhatikan kedatangan Kevin yang menghampirinya sambil membawa laptop. Sajaka tampak tidak terganggu, tidak juga berbicara. Hanya kelopak matanya saja yang berkedip lambat. Saat diajak bicara Sajaka menanggapi dengan sekenanya sembari kembali menatap lurus langit-langit.
“Jaka, lo harus lihat ini.” Kevin bahkan tidak sadar sudah berapa kali ia menghela napas karena kelakuan Sajaka mengabaikannya bicara. "Ka, gue lagi serius ini. Penting banget masalahnya. Bisa kan bengongnya dijeda dulu sebentar? Kalau urusan gue udah beres, nggak akan gue ganggu elu."
“Apaan?" Mata elang Sajaka melirik keberadaan Kevin di samping meja tempatnya berbaring. Terpaksa ia bangun dari pembaringan melihat muka masam sahabatnya.
“Lihat dulu. Penting!”
Sajaka menerima laptop yang diulurkan Kevin. Terpaksa ia melakukan pekerjaan di saat tidak ingin. Kalau tidak, Kevin bisa berisik seterusnya.
"Nah, gitu, dong!"
Kevin terkekeh melihat kekesalan di wajah mengantuk Sajaka. Akhir-akhir ini Sajaka lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Kerjaannya melamun, pernah juga sampai ditegur guru mata pelajaran gara-gara kurang fokus. Saat itu menjadi rekor terbaru Sajaka kena tegur setelah berabad-abad langganan sanjungan.
Bukan cuma guru, semua orang juga bertanya-tanya. Sikap Sajaka terlalu berubah dan membingungkan. Namun, jika menilik dari caranya menghindari Sadina di setiap kondisi apa pun, Kevin mulai menyimpulkan ada masalah di antara mereka. Soalnya Sajaka hanya bucin sama dua hal. Satu, segala tentang ilmu pengetahuan. Kedua, Sadina. Sudah jelas yang bisa membuat Sajaka galau salah satu bucinnya, yaitu Sadina.
Kevin bahkan masih belum percaya Sajaka yang selalu mengesampingkan tentang perasaan bisa segitunya sama seseorang ketika jatuh cinta. Ternyata Sajaka bisa jadi buciners garis keras sampai kehidupannya terpengaruh.
“Ini tentang web yang waktu itu. Gue curiga akibat dari kesebarnya informasi tentang link web-nya jadi banyak orang mengakses ke sana. Bisa aja kan bermula dari ikut-ikutan terus berujung semakin penasaran? Nah, gue ada datanya.” Kevin mulai menjelaskan, meski tanpa ia lakukan itupun, Sajaka sudah memahami laporan di layar laptop itu.
"Ini, makin ke sini makin naik." Kevin menunjukan sebuah grafik yang melesat naik. Dari situ siapa saja bisa menyimpulkan telah terjadi peningkatan.
Sajaka menoleh, raut bingungnya menghadap pada Kevin yang serius menunjukan slide-slide di layar laptop.
“Dapat semua ini dari mana?” Kening Sajaka mengerut dalam. Ya, aneh saja jika sebelumnya Kevin tidak pernah membicarakan hal ini, lalu tiba-tiba datang dengan banyak bukti. Padahal untuk masalah penting begini, Sajaka selaku ketua OSIS perlu mengetahui lebih awal.
“Nyari sendiri. Lo tahu hampir setiap kelas gue ada orang yang bisa diminta info. Ya ini hasilnya. Ini belum semuanya sih. Masih banyak yang belum. Baru beberapa yang baru drop ke gue tadi malem,” jelasnya. Sejenak Kevin menjeda. “Pasti lo mempertanyakan kenapa gue baru bilang, kan?”
“Ini kaitannya sama nyawa soalnya. Di sekolah kita udah ada korban gara-gara web ini. Gue nggak tahu lo diem-diem ngerjain masalah penting ini sendiri.”
“Maka dari itu karena ini hal serius, sebelum laporan gue harus menyelediki dulu. Apalagi gue punya atasan yang nggak gampang percayaan kalo info nggak dibarengi sama fakta,” sarkas Kevin. Ujung matanya melirik Sajaka.
Kena sindir begitu hal biasa bagi Sajaka. Ia cuek saja menjalani apa yang menurutnya benar. Prinsipnya selagi tidak merugikan orang lain ya kerjakan.
“Jadi gimana nih Bapak Sajaka mau menghadapi situasi ini? Mau survey ke lapangan langsung atau laporan ke pembimbing? Takutnya makin hari makin banyak yang gabung. Sedangkan kita nggak tahu juga ini web beneran menyesatkan atau nggak. By the way, lo ada apa sama Sadina?”
“Loh, kok malah bahas Sadina?”
“Nah, kan? Giliran Sadina disebut aja langsung gerak cepat nyahutnya. Dari tadi lo lambat banget reaksinya, Ka.” Kevin geleng-geleng kepala. “Ternyata ketua OSIS kita lagi galau mikirin cewek. Kenapa sih? Lo ditikung?”
Sajaka tahu perkataan Kevin hanya bercanda biasa, bukan bermaksud mengejeknya. Namun saat ini situasinya agak sama dengan yang dikatakan Kevin. Sajaka meringis, apa sekarang ia bisa disebut dengan kena tikung teman sendiri?
“Jangan sok tahu!” Sajaka mendengus keras.
Kevin terkekeh, dengan mengelak begitu malah makin terlihat jelas bahwa Sajaka malu-malu mereka membahas Sadina. Pasti malu, soalnya suara mereka terdengar oleh orang-orang yang berada di ruangan itu. Ditambah Sajaka salah tingkah. Muka dan telinganya saja sampai memerah.
“Udah gue dikirim semuanya ke email. Periksa lagi yang bener, lu kan jago analisis ya. Siapa tahu ada sesuatu yang terlewat dan bisa dijadikan petunjuk tambahan. Soal analisis gini tahu sendiri gue anaknya gampang kesel dan Magetan. Tipe teliti kayak lo bakal bagus banget analisisnya--"
"Iya, iya, iya, iya." Sajaka memotong perkataan bualan Kevin. Cukup dari kedatangannya sambil membawa laptop saja sudah bisa Sajaka tebak anak ini akan memberinya pekerjaan tambahan.
Kevin menyengih, gigi-gigi tampil berbaris. Senang ia mempunyai teman sepintar Sajaka. "Kayaknya kalo gue udah dapat data lagi dari kelas lain, mudah-mudahan sih nggak ya, kita harus ngadain rapat tertutup.”
“Kedengerannya kayak jadi elu yang ketua OSIS bukan gue, Kev.”
Kevin merotasi bola mata, “Itu bukan perintah, tapi saran, Jaka .... Udah, ya? Ikut ke teater nggak lihat latihan? Eh, gue lupa bilang ini, tadi gue lihat Sadina sendirian pergi ke perpustakaan. Kasihan anak orang lo gituin, Jaka.”
“Emang gue ngapain dia? Ada-ada aja, itu mulutnya pasang filter coba.”
“Gitu aja ngegas. Ini cuma ngasih info. Kalo mau bukti ya datang ke sana, lihat sendiri. Emang ada masalah apa kalian?”
“Lo bukannya mau ke ruangan teater ya? Pemeran utama ceweknya adik kelas yang lo bilang cantik itu, ‘kan?” Sajaka mengalihkan perhatian.
Kevin berdecak, jurus Sajaka kalau terdesak pasti mengalihkan begitu. Namun Kevin tidak mudah terkecoh. Sebelum pergi ia teringat sesuatu dan bilang, “Di sekolah ini Sadina cuma deket sama lo aja, Ka.”
Alhasil setelah keberadaan Kevin musnah dari hadapannya sampai beberapa saat kemudian, pikiran Sajaka terganggu. Perkataan Kevin ada benarnya. Iya, Sadina tidak punya teman selain Sajaka di sini. Sekarang Sajaka malah menjauhinya. Sangat sulit berada dalam masa sulit tanpa seorang teman. Sajaka juga tanpa sengaja melihat notifikasi surel masuk dari Kevin. Berkas-berkas yang dikirim Kevin menambah kekhawatiran Sajaka. Bagaimana jika merasa tidak punya teman di dunia nyata, Sadina diam-diam memasuki web itu?
Tanpa menunggu perang batinnya usai, Sajaka bergegas keluar menuju perpustakaan. Ia harus menemui Sadina.