Bab 23 Jalan Berdua

1298 Words
“Jaka, ini—“ Sadina kehabisan kata-kata. Binar di matanya cukup mengatakan betapa bahagia ia di bawa ketempat ini. Sajaka tersenyum lebar, “Ini yang namanya Tebing Karaton. Papa aku janji ke kau akan bawa ke sini, ‘kan?” “Kok kamu bisa tahu?” “Rahasia. Yuk, ke sana.” Sajaka sedikit mendorong punggung Sadina maju. “Suka nggak?” Jelas saja Sadina suka. Biasanya ia hanya melihat Tebing Karaton dari kejauhan, dari jendela kamarnya. Sekarang ia menginjakan kaki di tempat ini. Sadina sampai kesulitan berkata-kata untuk menjelaskan bagaimana bahagia dirinya. “Makasih. Pemandangannya cantik banget.” Sebenarnya ucapan terima kasih saja tidak cukup. Ini adalah sebuah kejutan yang indah. Waktu mereka berangkat dari rumah, Sajaka tidak bilang mereka akan ke tempat ini. Sajaka meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi kerja kelompok. Sadina menurut saja karena kebetulan mereka berada dalam satu kelompok di sebuah mata pelajaran. Bukan pergi ke tempat kerja kelompok malah ke sini. Sadina jadi kepikiran, bagaimana dengan tugas kelompok jika mereka tidak hadir? "Tugas kelompok gimana?" Sadina tiba-tiba menoleh ke belakang. Sajaka berdecak kesal, pertanyaan Sadina berhasil merusak setengah mood baik pagi ini. "Tentang tugas kelompok tenang aja, aku udah urus semua. Tugas kamu sekarang jangan mikirin hal lain selain seneng-seneng. Aku nggak mau ya sedikit aja kita bahas yang berkaitan sama sekolah dan belajar. Pokoknya, enggak." Sadina terkekeh, menyetujui ide itu karena kasihan melihat wajah memelas Sajaka. Lalu ia berjalan ke ujung tebing. Dari belakang Sajaka mengikuti dengan langkah pelan sembari memegang kamera merekam Sadina. Mereka lalu berdiri di ujung tebing yang dikelilingi pagar pembatas. Hari masih pagi, tetapi sudah ada beberapa pengunjung yang mengambil foto terbaik di sana. Beberapa pengunjung ada yag nekat berdiri di luar pagar pembatas dan duduk di atas batu di atas tebing. Sadina merinding melihat kelakuan beberapa pengunjung nekat itu. “Kenapa?” Sajaka terkekeh, menyadari Sadina terus memerhatikan pengunjung yang mengambil foto di ujung tebing. Ia mengarahkan kamera pada perubahan raut wajah Sadina. “Takut ketinggian ya?” “Ha? Enggak!" elak Sadina, agak malu soalnya sedang direkam. “Oh iya? Masa? Kok kayak ketakutan gitu?” goda Sajaka. “Aku bukan takut sama ketinggiannya, tapi takut kalau jatuh dari ketinggian. Mereka bisa berani gitu ya duduk di atas batu paling ujung tebing.” Sekali lagi Sadina bergidig ngeri. “Mau aku fotoin? Mumpung pengunjungnya belum terlalu banyak.” Kalau boleh jujur, penampilan Sajaka sekarang ditambah membawa kamera yang dikalungkan pada leher membuat Sadina tercenung. Suara hatinya berkata, mengapa ada seni berwujud manusia di hadapannya? “Kamu duduk di atas pagar pembatas coba.” “Harus banget di atas pagar?” Sadina menunjuk pagar itu dengan kaget. “Iya, di situ. Tapi kalau mau diluar pagar pembatas juga nggak apa-apa.” Sajaka mendongak, tidak jadi memangkap objek fotonya. Lalu ia tertawa karena Sadina jadi cemberut akibat perkataannya barusan. “Nggak, Sadina. Aku cuma bercanda. Nggak apa-apa senyamannya kamu aja mau difoto di mana.” *** “Kamu sering ke tempat ini?” tanya Sadina ketika mereka duduk di atas menara melihat pemandangan dari tempat yang lebih tinggi lagi. Semakin hari beranjak siang, pengunjung tempat ini semakin banyak. Di bawah sana, di tempat favorit mengambil foto sudah tidak lagi estetik karena banyaknya orang. Sajaka lalu mengajak Sadina naik ke salah satu menara habis puas mengambil puluhan foto mereka berdua dan pemandangan sekitar dago dari ketinggian. “Nggak bisa dibilang sering sih, tapi karena tempatnya lumayan deket dari rumah jadi dalam satu bulan mungkin satu kali datang ke sini. Enak aja, liat pemandangan. Tiketnya juga nggak mahal,” jawab Sajaka. “Kadang aku ke sini bareng Kevin, Bagas, atau Tris.” Ketika menyebut nama temannya sesaat Sajaka langsung terdia. Ia berasa ditampar kenyataan lagi. Kalau ada ada kemungkinan satu sahabatnya itu menyukai Sadina. “Kamu, seneng aku ajak ke sini?” “Seneng banget. Mungkin karena udah lama juga aku nggak pergi ke tempat wisata.” “Habis ini mau ke tempat lain lagi nggak?” Sadina menoleh, “Emangnya masih ada tempat wisata lagi di sekitar sini?” “Yah, Sadina. Bener-bener ya kamu tuh. Udah lumayan lama tinggal di daerah dago tapi nggak sadar kalau kota kita itu banyak banger tempat wisatanya. Dari sini kita bisa langsung ke Lembang. Di sana tempatnya wisata.” “Aku kan nggak ada temen di sini, Jaka.” Sadina meringis. Mau tahu daerah tempatnya tinggal bagaimana jika ia tidak punya satu pun di sekolah. Sajaka merutuki diri sendiri dalam hati. Ia lupa harusnya tidak bicara sampai ke arah sana. Satu-satunya teman Sadina sekarang hanya dirinya. Namun Sajaka selalu sibuk dengan urusan organisasi sekolah dan olimpiade. Waktu Sajaka hampir habis di sekolah. Mereka hanya bisa bertemu di rumah dan di sekolah. Itu pun saat disekolah mereka harus pura-pura tidak saling mengenal karena janji Sajaka pada mamanya. Kalau dipikir-pikir, mereka sangat jarang bicara berdua. Karena di rumah pun terkadang Sajaka harus main kucing-kucingan tiap ingin bicara dengan Sadina agar tidak diketahui Selin. Sajaka sudah sangat muak dengan aturan-aturan tidak jelas dari orang tuanya. Makanya kemarin ia nekat menggandeng tangan Sadina di sekolah, duduk di sampingnya, juga pulang bersama. Sajaka rasa sudah cukup aksi pura-pura mereka. Mulai saat ini Sajaka ingin menjalani hidup apa adanya. “Tapi kan ada aku. Kamu bisa minta aku main ke mana aja. Aku bakal dengan senang hati antar kamu.” Sadina percaya cowok di sampingnya ini akan mengantar Sadina ke tempat yang menakjubkan seperti ini tanpa diminta. Sebaik ini Sajaka memperlakukan Sadina. Membuat siapa pun nyaman berada di dekatnya, meski ia tahu segalanya tetapi tidak pernah merendahkan lawan bicara. Bersama Sajaka, kepercayaan diri yang terpendam dalam mulai muncul ke permukaan. Getar ponsel mengalihkan perhatian keduanya. Sadina membuka kunci layar ponsel miliknya. Grup teman online sedang ramai. Sayang sekali Sadina belum bisa bergabung dalam obrolan. “Siapa?” “Ha? O-oh ini, nggak, bukan siapa-siapa. Sampai mana kita ngobrol tadi?” Sadina gugup. Kini Sajaka mulai memahami setiap perkataan Sadina yang sebagian besar punya arti kebalikannya. Barusan sepertinya pesan dari seseorang yang cukup dekat, sebab ada segaris senyum ketika Sadina melihat layar ponselnya meski hanya sebentar. Dugaan Sajaka tiba-tiba melayang pada seseorang. Itu bukan Tris, ‘kan? *** Di sepanjang jalan pulang dari Tebing Karaton, Sadina membenak. Apa sudah boleh percaya seutuhnya pada Sajaka? Selama ini meski banyak melakukan kesalahan dan tidak sesuai harapan, tetapi Sajaka tidak pernah berhenti mendekatinya. Sadina belum tahu mengapa Sajaka bisa begitu. Jika ini hanya untuk sekedar menarik Sadina dalam hubungan pertemanan, rasa-rasanya Sajaka terlalu sabar menghadapi Sadina. “Lagi mikirin apa?” Suara Sajaka menarik kembali kesadaran Sadina ke bumi. Sajaka melihat ke belakang lewat pantulan kaca spion. “Nggak ada,” jawab Sadina salah tingkah. Sebenarnya Sajaka salut sama diri sendiri, bisa sesabar ini menghadapi orang yang tiap ditanya jawabannya “nggak apa-apa”, “bukan apa-apa”, “bukan siapa-siapa”, “nggak ada”, dan masih banyak lagi. Sampai sekarang Sajaka heran dari mana ia bisa tetap tenang bersama Sadina. Jika orang lain yang memperlakukan Sajaka begini, tidak akan pikir panjang pasti ia akan pergi jauh. “Padahal aku berharap kamu lagi mikirin sesuatu.” “Mikirin apa?” Sadina mendekatkan wajah ke pundak Sajaka. Geografi daerah Punclut merupakan perbukitan, sehingga jalan yang dilalui naik-turun. Laju motor Sajaka sengaja pelan. Ini kali pertama bagi mereka menghabiskan waktu berdua. Kalau bisa ia ingin waktu bergerak lambat. “Ya ..., mikirin aku misalnya?” Refleks Sadina memukul punggung Sajaka sampai orangnya mengaduh pura-pura kesakitan. “Aduh ....” “Eh? Maaf, maaf.” Sadina panik. Perasaan pukulannya pelan, tetapi Sajaka mengaduh lumayan keras. Tidak lama terdengar tawa Sajaka yang pecah. Berbaur dengar deru kendaraan lain yang menyalip motor Sajaka. Sadina dibuat heran, mencari dimana letak lucunya. "Sadina?" "Iyaaaaa?" Sadina menyahut malas. "Makasih." "Makasih?" Sadina mendekat lagi. "Makasih udah bikin hari ini cerah." Sajaka tersipu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD