Hari itu Sajaka tidak melepaskan Sadina jauh dari jangkauannya. Tanpa bilang apa-apa ia pindah ke tempat duduk di samping Sadina, di bangku paling belakang. Kontan kelakuan Sajaka bikin geger anak-anak kelas. Mereka terkejut mengapa Sajaka mau berdekatan dengan anak baru yang tidak punya teman itu. Acara bisik-bisik yang terlalu jelas itu, membuat Sadina terganggu. Ia sungguh tidak nyaman dengan tatapan merendahkan dari hampir semua orang di sekitarnya. Namun sangat dikesalkan, penyebab dari kekacauan ini malah terlihat biasa saja. Malah terkesan tidak peduli.
Padahal sebetulnya dalam kepura-puraan, Sajaka mengetahui keadaan sekitar membuat Sadina tidak nyaman. Ditambah terlihat jelas mencoba menghindarinya. Sadina menggeser kursi hingga melempel ke tembok. Sengaja menciptakan jarak di atas meja dengan menarik semua alat tulisnya mendekat.
Sajaka tidak menyerah, saat jam pulang sekolah biasanya ia akan pergi ke ruang OSIS atau datang ke club teater terlebih dulu. Hari itu Sajaka enggan pergi kemana-mana selain menunggui Sadina mengerjakan piket kelas. Ia juga ikut membantu Sadina membersihkan kelas. Jika dilihat-lihat, malah Sajaka tidak membiarkan Sadina bekerja.
"Besok jadwal piket aku. Jadwal kamu kemarin." Sadina kesal dilarang bergerak dari kursi yang sengaja ditaruh di tepian kelas selama Sajaka dan anak lainnya membersihkan ruangan.
"Diem!"
Teman satu kelompok piket dengan Sadina kompak menoleh. Interaksi dua orang ini seperti sudah akrab lama. Mereka yang baru mendengar ini bertanya-tanya dari kapan Sajaka dekat dengan si anak baru yang penyendiri itu sedangkan selama ini mereka tidak pernah terlihat bicara di dalam kelas. Apa mereka sudah kecolongan momen, sehingga baru menyadari ini?
"Biarin aja kenapa, Din. Sajaka emang berbakat jadi kang bersih-bersih," canda Kevin, tak ayal mengundang kekehan kecil yang lain.
Sedangkan Sajaka cuma mendengus sambil terus menaik-naikan kursi ke atas meja. Sesekali menoleh ke depan kelas seolah memastikan Sadina tetap di sana. Diam-diam ia tersenyum melihat kekesalan Sadina. Gadis itu makin terlihat imut ketika cemberut.
Sebenarnya kaki Sadina gatal ingin berdiri dari kursi. Ia tak bisa berdiam diri begini. Situasinya sekarang seperti Sadina sedang mem-bossy teman satu kelompok. Mungkin mereka bisa tersenyum dan bilang tidak keberatan karena ada Sajaka. Sadina tahu betul, sejak awal kedatangannya sebagai murid baru di sekolah ini, mereka kurang menyukainya. Entah bagaimana Sadina menghadapi tugas piket minggu depan. Yang lebih parah, entah bagaimana esok jadinya. Melihat interaksi ia dan Sajaka pasti orang-orang ini akan menceritakan ke anak lain. Bukannya Sadina menuduh, tetapi kemungkinannya selalu ada. Sadina menghela napas gusar.
Ia telah menggigit bibir bagian dalamnya dengan perasaan gelisah. Sepatunya agak memantul-mantul di lantai sehingga menimbulkan getaran pada kursi yang ia duduki. Tetap saja ketakutan-ketakutan bermunculan dalam bayangannya.
Seseorang memerhatikan kegelisahan Sadina di ambang pintu. Semua orang termasuk Sadina tidak menyadari kedatangannya.
"Eh, Tris?" Sampai akhirnya Kevin melambaikan tangan, menjadi yang pertama menyadari keberadaan Tris. Kevin langsung tahu maksud kedatangan Tris ke kelasnya. Mereka akan pergi bersama ke suatu tempat. "Bentar, Tris. Piket dulu!"
"Santai." Biasa, Tris menjawab dengan gaya datar. Si dingin kaya raya itu masih berdiri di ambang pintu. Namun tatapannya tertuju pada Sadina. Mereka saling bertatapan dalam beberapa saat, sampai Sadina memutusnya lebih dulu.
Tris berdeham pelan sembari melangkah masuk ke dalam ruangan. Mendadak atmosfer di sekitarnya berubah. Anehnya perubahan atmosfer canggung seperti hanya antara ia dan Sadina saja. Tris berusaha bersikap wajar. Menyembunyikan gepalan kedua tangan ke dalam saku hoodie. Ia berdiri di depan kelas memerhatikan para siswa yang melaksanan jadwal piket besok. Sementara Sadina duduk di atas kursi tak jauh dari Tris. Mereka terjebak dalam bisu dalam jarak lima ubin lantai.
Dari kejauhan Sajaka menangkap kecanggungan kedua orang di depan kelas. Terlalu jelas terlihat bahwa telah terjadi sesuatu antara mereka. Lantas kedua alis Sajaka mengerut. Merasakan keganjalan cukup besar dan tidak terima dengan pemandangan di depan itu.
"T-tris?" Walau takut, Sadina mendongak.
Tris hanya balas menoleh. Dirinya tidak pernah punya kemamuan mencairkan suasana dengan siapapun. Namun kali ini Tris tak tahan berdiam diri di dekat Sadina. Rasanya sangat ingin ia berlari keluar ruangan, agar bisa bernapas lega. Tidak bisa dipungkiri ia berdebar-debar sekarang.
Agak lama tatap mereka kembali beradu. Lebih tepatnya Tris menunggu perkataan lanjutan dari gadis bermata lucu ini. Entah mengapa dari awal pertemuan mereka, Sadina mengingatkan Tris pada kucing peliharaan ibunya di rumah. Terutama mata Sadina, mirip tatapan lembut anak kucing yang penasaran terhadap sesuatu.
Lama-lama saling bertatapan, Sadina mendadak bisu. Lidahnya kelu dan kalimat-kalimat yang telah terangkai dalam kepala hanya berakhir bergelantungan.
Tris yang tidak sabaran jadi kesal jadinya. "Apa?"
Selanjutnya Tris merasa bersalah ketika reaksi Sadina agak tersentak begitu ia bertanya balik. Padahal cara ia bicara biasa saja. Mengapa kelihatannya seakan habis membentak Sadina? Apa barusan ia membentak ya?
Tris bingung sendiri.
"Ng ... i-itu .... Kemeja kamu maaf baru dikembaliin." Habis mengatakan itu Sadina buru-buru menunduk. Kalau gugup berlebihan pipinya akan berubah merah. Ia tidak ingin kalau Tris melihatnya begitu. Memalukan.
"Makasih, Tris," lanjut Sadina lagi pelan.
"Oh, itu," respons Tris cuek kembali memandang ke arah lain. Padahal tidak ada hal menarik perhatian dalam ruangan itu. Ia hanya berupaya menyembunyikan kedutan di ujung bibir. Entah mengapa saraf-saraf di sekitar wajah memaksanya tersenyum. Ada juga gejolak aneh seperti ada ribuan makhluk bersayap dalam perut. Juga kalau boleh diibaratkan bagai letusan kembang api di malam tahun baru. Terasa meriah tanpa alasan.
Sialnya Tris harus menyembunyikan segala ekspresi yang mewakili itu semua. Tris menggigit bibir bagian dalam. Sesekali ia melirik jam di tangan dan menegok ke arah pintu terbuka. Pura-pura melihat para anggota Club Basket bermain di lapangan.
Di sisi lain Sajaka semakin sadar gestur Tris semakin canggung. Ini kali pertama baginya melihat Tris sekikuk itu berdiri di dekat cewek. Tris selalu cuek. Terkadang Sajaka berpikir kapan dan siapa yang bisa membuat Tris berdebar. Setelah mengetahui jawabannya sekarang, rahang Sajaka gemertak. Tris berdebar berada di dekat Sadina? Tapi mengapa?
Tris tidak seperti dalam dugaannya, 'kan? Tatapan tajam Sajaka terus memerhatikan kedua orang di depan kelas. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram kuat kaki kursi, lalu setengah melemparnya ke atas meja. Sontak kelakuannya itu mengundang kekagetan semua orang. Suara begitu keras mengagetkan mereka.
"Lo ada masalah hidup apa sih?" Kevin berkomentar.
Sajaka tidak menanggapi lebih memilih melempar kursi lain ke atas meja lagi. Kevin berdecak sembari geleng-geleng kepala. Ia baru sadar pada kemungkinan alasan Sajaka begitu marah karena pemandangan di depan. Sebenarnya Kevin belum mencari tahu apa yang terjadi antara Sajaka dan Sadina. Beberapa hari terakhir Sajaka selain menjaga jarak dengan Sadina, pada Tris juga. Hari ini malah Sajaka protektif pada Sadina. Kevin mengendikkan bahu, bingung dengan drama mereka. Namun satu yang pasti, habis ini ia harus mengintrogasi Tris. Menanyakan apa si anak tunggal kaya raya terlibat dengan kisah cinta sahabat mereka atau tidak.
***
"Aku nggak suka kamu deket-deket sama Tris," seloroh Sajaka.
Sadina menoleh. Di tatapnya Sajaka dari samping. Sangat jelas Sajaka tengah menahan amarah. Kekesalannya terlampiaskan pada caranya menggenggam erat jemari Sadina. Mereka berjalan melewati lorong. Di mana para anggota paskibra yang akan latihan sore itu berkumpul.
Bisik-bisik mereka membicarakan Sadina dan Sajaka sempat terdengar. Sadina meringis, kali ini ia tidak mengerti kesalahannya apa lagi.
"Aku bilang nggak suka kamu dekat-dekat Tris, Sadina. Kenapa kamu diam aja?" Sajaka berhenti mendadak sehingga tanpa antisipasi Sadina menubruk lengannya. "Ngomong apa tadi kalian?"
"N-nggak ngomong apa-apa kok." Suara Sadina bergetar takut.
Tatapan tajam Sajaka menggelap. Dari jarak sedekat itu terlihat jelas rahang Sajaka mengeras. Sadina menelan salivanya kasar. Tak pernah mengira Sajaka akan seperti ini.
"Aku cuma ... cuma ngucapin makasih ke Tris karena udah bantuin aku waktu itu. Udah itu aja. Kita nggak deket jadi nggak ada obrolan lain."
"Kalo kalian deket berarti kamu punya bahan obrolan sama dia, gitu?"
Sadina melangkah mundur, tetapi tangan mereka yang bertautan mencegahnya pergi. Hampir menangis Sadina melirih, "Sajaka ...."
Detik itu pula kegelapan di mata Sajaka lenyap. Cowok itu memejamkan sejenak sebelum mengembuskan napas kasar. Rasa bersalah langsung menyerang begitu melihat genangan di ujung mata Sadina hampir menetes.
Sajaka kembali teringat dengan perkataan antara Sadina dan Tris tentang kejadian di balik kemeja itu. Keduanya memberikan jawaban yang berbeda. Di sisi lain Sajaka ingin mempercayai perkataan Sadina saja karena takut kehilangan. Sisi lainnya Sajaka mereka kedua orang ini tengah berbohong.
"Maaf," lirih Sajaka segera menarik Sadina ke dalam pelukan. "Gue cuma nggak mau kehilangan lo, Din. Maaf."