06 - Ibu Mertua

984 Words
Sella membalas tatapan Dimas dengan memelas. "Apa aku harus ikut?" "Andai aku bisa, aku juga tidak akan membawamu," balas Dimas final, sebelum lelaki itu meninggalkan Sella begitu saja. Sella mendengus sebal. Ia tidak suka pesta. Ia tidak suka berbaur dengan banyak orang yang tidak ia kenal. Apalagi, sekarang ia masih belum tahu banyak soal kebiasaan serta hubungannya dengan orang-orang yang ada di sekeliling pemilik raga ini. "Apa ada cara agar aku bisa tidak menghadiri pesta ini? Pesta keluarga? Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah mertuaku," kesal Sella. *** Pesta itu diadakan di sebuah kediaman mewah milik tetua Keluarga Permadi - keluarga dari garis ibu Dimas. Sella dan Dimas mengenakan dreecode hitam-putih senada. Tangan keduanya saling bertautan saat mereka masuk ke area pesta. "Sella sayang!" Seruan itu membuat Sella menoleh. Ia tersenyum tipis ke arah wanita paruh baya yang menyapanya dengan ramah. "Apa dia ibu mertuaku?" pikir Sella. Wanita paruh baya itu menarik Sella hingga tautan tangannya dan Dimas terlepas. Lalu, ia memeluk Sella dengan erat. Tubuh Sella kaku. Ia bahkan tidak tahu siapa wanita ini. Sehingga ia juga tidak tahu bagaimana akan meresponsnya. "Bagaimana kabarmu? Mama kamu mana?" Wanita itu menatap Sella dan Dimas secara bergantian. "Mama?" ulang Sella. Ia tidak mengerti, "mama" yang mana yang ditanyakan oleh wanita itu. Entah ibu tiri Sella atau mertuanya. "Mereka belum datang?" Suara Dimas mengintrupsi lamunan Sella. Ah... sekarang Sella mengerti siapa yang dimaksud. Pasti mertuanya - ibu Dimas. "Loh, kalian nggak bareng?" Sella dan Dimas kompak menggeleng. "Kami langsung berangkat dari rumah." "Ya sudah, ayo masuk sama Tante! Udah ada beberapa sepupu kamu yang datang. Kamu sapa mereka! Ajak ngobrol, oke?" Wanita itu menggandeng Sella agar ikut dengannya. Sedangkan Dimas mengekor di belakang. Sella diajak mengobrol oleh beberapa orang, sehingga ia melupakan Dimas. Ia tidak sadar jika Dimas sudah tidak berada di dekatnya. Yang ia tahu, saat ia menoleh ke belakang, pria itu sudah menghilang. "Cari Dimas, ya?" tanya salah seorang tante Dimas yang ikut mengajak Sella mengobrol. Sella tersenyum tipis. "Palingan lagi ngobrolin bisnis sama sepupu-sepupunya," kata Tante Tia, yang tadi mengajak Sella untuk bersamanya. "Mbak Mila!" Tante Tia memanggil seseorang, membuat Sella otomatis menoleh. Seorang wanita paruh baya tersenyum, berjalan ke arah mereka. Wanita itu tampak begitu elegan dan tenang. Senyumnya hangat mengisyaratkan keramahan. "Mila? Mila Permadi? Mamanya Dimas?" pikir Sella. "... Dia adalah putra sulung Hakim Mahawira fan Mila Permadi." Kalimat itu terngiang di kepala Sella. Ya. Ia tidak salah ingat. Mila Permadi adalah ibu dari Dimas. Sella tampak kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana dalam bersikap. Ia tidak punya ingatan yang lebih jauh mengenai seorang Mila Permadi dan bagaimana hubungan mereka di masa lalu. Wanita itu - Mila Permadi, menyentuh lengan Sella. "Sudah dari tadi, Sel?" "Eh? I-iya." Sella menjawabnya dengan gugup. Mama Mila menatap bingung ke arah Sella. Sella pun jadi semakin salah tingkah. Lalu, Mama Mila menatap satu per satu kerabatnya yang tadi bersama Sella. "Kalian semua apa kabar?" "Baik, Mbak." "Iya, baik." Mila tersenyum. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sella. "Ada yang gangguin kamu?" Sella terperanjat. Ia menggeleng kaku. "Nggak ada kok..." Sella tidak tahu sapaan apa yang harus ia pakai pada Mama Mila. "Kalau ada yang ganggu kamu, bilang aja sama Mama, oke?" Sella menghela napas lega. Ternyata, hubungannya dengan Mama Mila tidaklah buruk. Sepertinya Mama Mila sangat perhatian padanya. "Iya, Ma..." "Tumben tumbenan loh Sella mau membaur sama kita. Tadi diajakin sama Tia. Diajak ngobrol juga nyambung," kata wanita paruh baya yang Sella ketahui sebagai kakak ipar Tante Tia. Mama Mila tersenyum. "Mama juga ngerasain. Pembawaan kamu berbeda hari ini. Dari awal Mama lihat tadi, Mama sampai hampir pangling." "Iya, kan? Dari make up sama bajunya juga beda. Lebih fresh, lebih terkesan manis," imbuh Tante Tia. Sella menggaruk telinganya karena malu mendengar pujian itu. Namun, di sisi lain Sella juga bertanya-tanya. Memang seperti apa sosok kakaknya di mata mereka semua? Sella kembali teringat ucapan Mama Ratu. Sella tidak begitu dekat dengan keluarga Dimas. Namun, melihat apa yang kini ada di hadapannya, kenapa semua tampak berbeda? "Kata Bi Marsih kamu sempat mengalami kecelakaan ya beberapa hari yang lalu?" tanya Mama Mila. Sella pikir, maksud Mama Mila adalah saat raga ini jatuh ke kolam. Ia pun mengangguk. "Itu gimana kejadiannya? Waktu itu Mama mau datang. Tapi kata Bibi, kamu sudah baik-baik aja dan lagi istirahat. Jadi Mama takut malah ganggu," kata Mama Mila. "Aku nggak begitu ingat jelas, Ma." Sella memilih berbohong. Rasanya malu mengakui bahwa kejadian saat itu memang ia sengaja karena masalah percintaannya dengan Dimas. Saat semua sibuk mengobrol, Mama Mila membawa Sella menyingkir ke tempat yang lebih sepi. "Dimas, ya?" tebak Mama Mila. "Ya?" Sella tidak mengerti kenapa Mama Mila tiba-tiba menyebut nama Dimas. "Apa Dimas yang sudah mencelakai kamu? Dia mendorongmu ke kolam?" Mata Sella membulat. Ia menggeleng, tidak mau terjadi kesalah pahaman. Faktanya, meski benar tindakan nekad Sella itu didasari oleh cekcoknya dengan Dimas, tapi memang Sella sendiri lah yang masuk ke kolam untuk mengancam Dimas. "Kamu nggak perlu bohong sama Mama, sayang. Bi Marsih juga bilang bukan. Tapi, melihat hubungan kamu dengan Dimas, Mama yakin kejadian kemarin ada hubungannya sama Dimas." Sella lagi-lagi menggeleng. "Bukan seperti itu, Ma... Saat itu Sella dan Dimas memang sempat ribut. Tapi, Dimas sama sekali tidak menyakiti fisik Sella, kok." "Apa yang terjadi kemarin memang murni salah Sella. Sella terlalu gegabah sehingga melakukan hal yang bodoh. Maaf sudah bikin Mama khawatir," ungkap Sella. Mama Mila menatap Sella dengan tatapan sendu. Tangannya mengusap lengan Sella lembut. "Maafin Dimas, ya! Dia masih sering berbuat kurang baik sama kamu. Bagaimana pun, pernikahan kalian awalnya memang terjadi karena perjodohan. Bukan sepenuhnya salah Dimas kalau sampai sekarang dia masih menentang. Tapi pelan-pelan, Mama yakin dia bakalan menerima kamu." "Apalagi dengan sifat kamu yang sekarang. Dimas pasti akan nisa menerima kamu dan membuka hatinya untukmu..." Sella terdiam. "Sifatku yang sekarang? Tapi aku bahkan bukan Kak Sella yang asli," pikirnya. "Apa yang membuatku berbeda dengan Kak Sella, sampai-sampai mamanya Dimas bisa membedakan sifat kami?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD