07 - Saling Berseberangan

977 Words
Sella menoleh saat merasakan sentuhan di tangannya. Ia mengernyit menatap pria di depannya - orang yang baru saja menyentuh lengannya dengan cukup berani. "Ya?" Lelaki itu tersenyum. "Bagaimana kabarmu, Sella?" Sella menoleh ke sekitar. Melihat bagaimana tanggapan orang terhadap interaksinya dengan pria di depannya. Ia tidak tahu siapa pria itu, dan bagaimana ia harus bersikap. "Sel?" "Oh, maaf. Kabarku baik," jawab Sella pada akhirnya. "Kamu berpisah sama Dimas? Gimana kalau aku temani kamu, biar tidak terkesan sendirian atau terpaksa berbaur dengan para tetua?" tawar lelaki itu. Sella diam. Ia masih belum tahu siapa lelaki tersebut. Ia takut kalau ia bertindak gegabah, ia akan salah langkah dan menimbulkan permasalahan yang serius. Sebab, dari pesta ini ia baru tahu. Kalau keluarga Dimas memandangnya dengan cara yang beragam. Ada yang tulus menerima Sella, ada yang terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya, dan tak sedikit pula yang bermuka dua. "Ayo, aku temani ambil minum!" Laki-laki asing itu menarik lengan Sella untuk ikut dengannya. Tidak merasakan adanya ancaman, Sella pun menurut. Pria itu memberikan segelas minuman yang langsung Sella terima. Mengajaknya cheers, lalu meminumnya bersama. Namun, baru saja ujung gelas Sella menempel di bibirnya, sebuah telapak tangan yang besar menarik tangan itu untuk lepas. "Dimas?" kaget Sella. Raut wajah Dimas tampak gelap. Sorot mata tajamnya kini tertuju pada lelaki ramah yang menawarkan minum pada Sella barusan. "Kalau mau cari gara-gara, ajak yang lain saja! Aku sedang tidak berminat untuk membereskan masalahmu," ketus Dimas. Lelaki di hadapan mereka itu justru tersenyum remeh. "Coba tanyakan pada istrimu! Apa aku baru saja membuat gara-gara dengannya?" Astaga! Sella benar-benar belum dapat mengenalinya. Sella hanya sempat menilai dari sifat baiknya. Nada Dion terdengar ringan, tapi ada sesuatu di balik senyum tipisnya yang tidak bisa ditangkap Sella dengan mudah. Seolah ia sedang menantang Dimas — tanpa benar-benar mengatakannya. Dimas menatap tajam. Rahangnya mengeras, jemarinya masih menggenggam pergelangan tangan Sella. Cengkeraman itu cukup kuat hingga membuat Sella meringis kecil. “Aku tidak suka kalau ada yang menyentuh orangku sembarangan,” ucap Dimas datar. “Kau tahu itu, Dion.” Sella menatap keduanya bergantian. Orangku? Kalimat itu mengalun di kepalanya dengan getir. Ucapan yang seharusnya terdengar romantis justru terasa seperti klaim dingin tanpa emosi. Sedangkan Dion hanya terkekeh pelan, melepaskan gelasnya ke meja. Dan kini, Sella tahu nama lelaki itu. Dion. Dan karena dia berada di acara ini, artinya dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Dimas. “Masih posesif rupanya,” sahut Dion santai. “Padahal dulu kamu sendiri yang bilang tidak mau dibebani dengan pernikahan itu, kan?” Nada suaranya seolah lembut, tapi jelas sekali menusuk. Sella mematung. Ia bisa merasakan hawa di sekitar mereka menegang. Beberapa tamu di sekitar mulai melirik ke arah mereka. Ia buru-buru menarik lengannya, mencoba menengahi. “Kita… jangan di sini. Orang-orang mulai memperhatikan kita.” Dion menatapnya lembut, seolah tak ingin memperpanjang. “Tenang saja, Sella. Aku tidak bermaksud membuat keributan. Hanya ingin menyapa.” “Dan berusaha mendekatinya? Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalamu!” Dimas menyela dengan suara rendah tapi tajam. Dion tersenyum samar. “Bukankah itu wajar? Aku hanya berusaha mengakrabkan diri dengan istri sepupuku. Lagipula, aku pikir kalian sudah—” “Cukup.” Dimas memotong kalimat itu. Ia menatap Dion dengan tatapan dingin yang nyaris membunuh. “Aku tidak akan membiarkanmu bermain-main di sekitarku lagi. Apalagi di sekitarnya.” Dion terkekeh kecil. “Kamu bicara seolah aku orang luar, padahal kita masih keluarga. Aku sepupumu, bukan musuh.” “Sayangnya, aki tahu kamu bukan orang yang bisa menjaga batas.” Dimas meraih tangan Sella dan menariknya menjauh tanpa memberi kesempatan bagi Dion untuk membalas. Namun, sebelum benar-benar melangkah pergi, Dion berkata cukup keras untuk didengar mereka berdua. “Selalu menyenangkan melihat kalian berdua muncul bersama… seperti pasangan yang bahagia.” Langkah Dimas terhenti sepersekian detik. Namun, ia tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang dan mempercepat langkahnya. Sella menunduk, membiarkan dirinya diseret keluar dari kerumunan. Begitu sampai di area taman belakang, Dimas melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Sella hampir terjatuh, tapi berhasil menahan diri dengan memegang sandaran kursi terdekat. “Aku—” “Jangan bertingkah konyol! Setidaknya, jangan selama kamu berada di depan keluarga besarku!" potong Dimas dingin. “Aku tidak peduli dengan apa pun yang kau lakukan, tapi jangan libatkan aku!” Sella terdiam. “Memang apa yang sudah kulakukan?" tanyanya lirih. Dimas menatapnya lama. Tatapan yang tajam itu seolah ingin menelanjangi isi pikirannya. “Jangan pura-pura polos, Sella. Kamu pikir aku tidak tahu caramu mencari perhatian?” Sella mengerutkan dahi. “Aku tidak mengerti maksudmu.” “Dion,” gumam Dimas dengan nada penuh kebencian. “Kamu masih mencintainya? Kamu kecewa karena bukan dia yang akhirnya menikah denganmu, melainkan aku? Ingin bernostalgia bersama?” “Dia cuma ngajak ngobrol!” seru Sella, nada suaranya mulai meninggi. “Aku bahkan tidak tahu apa maksudmu!” “Omong kosong.” “Aku serius, Dimas!” potong Sella, kali ini dengan suara lebih keras. Keheningan menyusul setelah teriakan itu. Keduanya saling menatap. Satu dengan amarah, satu lagi dengan rasa frustrasi yang tak bisa dijelaskan. Pikiran Sella berkecamuk. "Jadi, dia yang awalnya disukai Kak Sella? Tapi, kedua keluarga malah menjodohkan Kak Sella dengan sepupu laki-laki yang dicintainya? Pasti menyakitkan sekali menjadi Kak Sella," batinnya. "Tapi... laki-laki itu... sebenarnya orang seperti apa dia? Kalau Kak Sella pernah mencintainya, bukankah berarti dia orang yang baik?" Sella terperanjat saat mendengar Dimas menggebrak sesuatu. Pria itu kembali menarik tangannya dengan kasar. Membawanya ke parkiran, lalu memaksa Sella untuk masuk ke mobil. "Kita mau ke mana? Bukankah acaranya baru saja dimulai? Mama pasti nanti cariin." Dimas menatap Sella dengan dingin. "Pulang. Jika terlalu lama di sana, mungkin kamu hanya akan membuagku malu." Sella terperangah. Ia masih tidak tahu kesalahan apa yang dia lakukan hingga Dimas bisa semarah ini. "Dimas dan Dion... mereka tampak saling berlawanan. Kalau Dimas jahat hingga tega menghabisi nyawa Kak Sella, itu artinya Dion..." pikir Sella menggantung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD