TIGA

1006 Words
Ternyata Estu memang tidak harus percaya pada janji seorang pria, terutama jika pria itu masih muda. Estu merasa bodoh karena terlalu percaya dengannya Seharusnya dia sudah menduga dari awal bahwa Gyan berselingkuh dengan Gita. Estu menangis sekaligus tertawa sedih. Kenapa percaya begitu saja dengan Gyan? Kenapa tidak curiga pada Gita? Kenapa dirinya menutup mata, ketika Tuhan menunjukkan bukti yang sudah jelas di depan mata, dan sekarang Tuhan menunjukkannya lagi. "Aku memang bodoh," keluh Estu dengan kesal. Ting Tong. Bel kamar hotel Estu berbunyi, dia mengabaikannya. Ting Tong. Estu tidak bergerak karena terlalu malas untuk membuka pintu. Ting Tong Ting Tong Suara bel berkali-kali membuat Estu terpaksa berjalan menuju pintu sambil menghapus sisa air mata- dia berjalan dengan langkah gontai, dia membuka pintu kamar. "Ya?" Seorang pria berdiri menjulang di depan kamar. "Hallo." Estu mengerutkan kening tidak mengerti. "Siapa?" "Perkenalkan, saya manajer operasional hotel disini. Saya mendengar anda membeli sebotol minuman champagne kami seharga lima belas juta rupiah. Saya hanya ingin mengantarkan botol ini." Estu menatap kotak mewah yang sudah dibuka manajer, menunjukkan sebotol minuman keras mahal sekaligus favorit tunangannya. Hatinya menjadi tercabik-cabik lagi lalu berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku sudah tidak membutuhkannya! Dia berselingkuh dariku!" Manajer itu menjadi panik sekaligus kebingungan. "Buang saja botol itu, saya tidak membutuhkannya! Saya tahu tidak bisa dikembalikan jadi buang saja!" Teriak Estu dengan sedih. Memang sayang membakar lima belas juta sia-sia tapi hatinya lebih baik sedikit daripada diserahkan ke tukang selingkuh. Manajer menghela napas panjang. "Maaf, saya tidak bisa." Estu menjadi dongkol. "Lalu anda bisa minum sendiri atau bersama pasangan anda." Manajer itu tersenyum sedih. "Saya sudah berhenti minum alkohol sejak memiliki anak." Estu menunjuk kamar di depan yang terbuka sedikit. "Kalau begitu, berikan saja pada tamu di depan. Bilang saja saya lagi buang sial." Manajer menatap khawatir pintu yang ditunjuk lalu kembali menatap Estu. "Anda yakin?" "Ya." Angguk Estu lalu menutup pintu dengan cepat supaya manajer itu tidak berubah pikiran. Manajer yang melihat pintu ditutup, balik badan lalu mengetuk pintu. Seorang pria bertubuh kekar dan memakai pakaian formal mendekati sang manajer. "Apakah beliau ada di dalam?" tanya manajer. Pria itu mengangguk lalu menyingkir sedikit dan menutup pintu. Manajer masuk dan melihat atasannya sedang mengamati isi kamar hotel dengan teliti bersama supervisor marketing hotel. "Bos." Panggil manajer itu. Pria yang dipanggilnya bos, menoleh. Jantung si manajer berdegup keras tapi karena orangnya jujur, dia tidak bisa berbohong. Manajer operasional menyerahkan satu kotak mahal ke atasannya. "Tamu kamar depan memberikan ini untuk anda." Pria itu mengangkat salah satu alis. "Apakah saya mengenalnya?" "Sepertinya dia menunjuk orang secara acak, ini hadiah untuk kekasihnya yang ternyata mengkhianatinya, dia bilang buang sial. Tapi kesialan orang lain, bisa menjadi keberuntungan kita, seperti mendapat minuman keras seharga lima belas juta rupiah." Supervisor marketing mengerutkan kening. "Dengan kata lain buang sial? Kenapa kamu punya keberanian sebesar itu memberikannya ke beliau?" Manajer operasional berdehem dan menjadi salah tingkah. "Saya tidak bisa berbohong, takut anak kena." Salah satu bodyguard mengambil kotak di tangan manajer operasional dengan hati-hati lalu membuka kotak di depan bosnya. Pria itu melihat sebuah kartu di dalam dan mengambilnya. Bibir terangkat sedikit ketika melihat isi tulisan di dalamnya. Prisa Estu Anindita. Pria itu mengangguk sedikit dan menyimpan kartu ke dalam saku jasnya. Bodyguard menutup kotak mahal itu dan membawanya dengan hati-hati. "Di kamar mana dia?" tanyanya. "Tepat di depan kamar ini." Jawab manajer operasional sambil menunjuknya dengan sopan. "Kalian tunggu di sini, jangan mengintip." Pria itu jalan menuju kamar yang ditunjuk manajer operasional. Manajer operasional dan marketing saling menatap bingung. Setelah pintu ditutup, bodyguard berdiri di depan pintu, mengawasi orang-orang di dalam ruangan. Pria itu membunyikan bel kamar Estu. "Ya?" Dia membunyikan bel lagi. "Astaga, iya sebentar. Orang habis mandi juga." Estu membuka pintu kamar tanpa mengintip terlebih dulu, menduga tamunya adalah si manajer. Betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang pria tampan yang terlihat tidak asing. Pria itu hendak mengatakan sesuatu, mendadak handphone Estu berbunyi di atas nakas. Raut wajah Estu berubah masam, dia balik badan tanpa melihat pria itu lagi dan segera mengangkat telepon. "Hallo." "Kakak, kakak lagi sibuk?" Estu menghela napas panjang begitu mendengar suara nyaring adiknya, berusaha mengatur emosi lalu menjawab dengan senyum ceria. "Ya, sedikit sibuk tapi jika adik kesayangan kakak yang bicara, kakak tidak masalah." Pria yang membuntuti Estu, berdiri tidak jauh dan mendengarkan perkataan Estu yang sedikit lirih. sontak pria itu mengerutkan kening tidak suka. "Aku boleh minta tolong?" Estu memejamkan mata, berusaha bersikap ceria. "Apa itu?" "Bolehkah aku titip dibelikan satu set perhiasan? Uhm, begini- nggak terlalu mahal kok, cuma sepuluh juta. Kakak kerja di proyek jadi tidak terlalu mahal kan?" "Memangnya mau kamu buat apa?" "Besok acara pernikahan kakak, aku tidak ingin terlihat pucat seperti orang sakit. Aku ingin terlihat cantik dan elegan seperti kakak." "Kenapa tidak minta ayah dan ibu?" Terdengar rengekan. "Kakak tahu kan kalau kedua orang tua kita habis uang banyak untuk aku? Aku tidak ingin merepotkan mereka berdua, selain itu uang hasil modelku belum cair, jadi ini hanya pinjaman saja." Estu tertawa masam. "Bagaimana jika aku tidak punya uang?" "Yah, kenapa?" "Kamu tahu kan kalau aku menikah dan butuh uang banyak, makanya aku-" "Kak, kakak tahu uang terbatas kenapa buat acara besar-besaran?" "Apa?" "Harusnya kakak mengerti kondisi kakak ipar, dia baru saja mendapat jabatan dan merayakan penikahan besar-besaran itu sangat tidak efektif. Harusnya kakak menikah sederhana lalu uangnya disimpan untuk masa depan dan aku juga tidak perlu repot-repot memperbaiki penampilan." Entah kenapa Estu merasa adiknya saat ini sedang cemburu sekaligus kesal. "Apakah kamu tidak suka aku merayakan pernikahan sekali seumur hidup?" "Kakak bukan begitu," isak Gita. "Aku hanya tidak ingin melihat kakak kesulitan, aku juga tidak memaksa kakak membelikan aku perhiasan. Aku hanya ingin melihat kakakku bahagia." Bohong! teriak Esu di dalam hati dan ingin menangis. Menyadari perubahan suasana hati Estu, pria itu berteriak. "PRISA!" Estu terkejut dan hampir menjatuhkan handphonenya, dia menatap bingung pria yang berani masuk ke dalam kamarnya. Pria itu menyeringai lalu berteriak. "APA YANG KAMU LAKUKAN DISAAT MASIH SIBUK BEGINI? BUKANKAH KAMU INGIN PULANG CEPAT?!" Mulut Estu menganga lebar. Siapa orang sinting yang nekat masuk ke dalam kamarnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD