"Kakak sibuk? Kalau begitu aku tidak mau ganggu kakak. Jangan lupa besok menikah dengan kakak ipar hehehe." Tutup Gita tapi masih berbaik hati mengingatkan Estu.
Estu masih menatap pria asing di hadapannya tapi entah kenapa sepertinya wajah itu tidak asing.
Senyum Enzo yang memikat muncul. "Masih tidak mengenaliku?"
Estu masih meraba ingatannya yang bisa dibilang disimpan di dalam otak satu gigabyte.
"Kalau begitu kenapa kamu memberiku minuman mahal?" tanyanya dengan senyum memikat.
"Iseng? Buang sial?" jawab Estu yang lebih ke pertanyaan, dia bingung kenapa pria tampan itu masuk seenaknya dan memberikan pertanyaan yang juga seenaknya.
Pria itu menunjukkan senyum memikatnya lagi. "Hanya kamu yang berani melakukan itu padaku."
Estu benar-benar tidak paham apa yang dikatakan pria asing ini. "Maaf, sebaiknya anda keluar dari kamar saya sebelum saya panggil petugas keamanan."
"Estu."
Tangan Estu yang tadinya menyentuh gagang telepon hotel, berhenti.
"Estu."
Estu tidak berani balik badan, pria itu tidak hanya memiliki wajah tampan dan senyum memikat tapi juga suara yang candu.
"Ah, kakek. Rupanya ada putri yang mengompol disini, padahal dia sudah berusia sebelas tahun."
Estu yang terbuai dengan suara candu itu, sontak seperti dibanting ke tanah. Balik badan dan menatap ngeri pria tampan itu. "Papi Enzo?"
Estu berhenti mengompol di usia dua belas tahun. Hanya lima orang yang tahu dosanya. Estu sendiri, baby sitter yang pernah menjaga dirinya, Ayah yang diam-diam pernah membantu membersihkan kekacauan, Kakek yang mengomel tapi tetap membantu lalu pap Enzo.
Kening Enzo berkerut. "Papi?"
"Ah, habisnya-"
"Gyan memang memanggilku papi karena aku ayah angkatnya."
Estu menjadi tidak enak karena bersikap tidak sopan terhadap Enzo, dia meninggalkan rumah itu sejak usia tujuh belas tahun dan hanya berkomunikasi dengan Gyan.
Enzo berjalan mendekati Estu dan menepuk kepalanya seperti yang dia lakukan saat Estu masih kecil.
Estu mendongak dan menatap Enzo yang tersenyum.
"Lama tidak bertemu, Estu."
Hanya dua orang di dunia ini yang memanggilnya Estu. Kakek dan papi Enzo.
Gyan pun memanggilnya Prisa.
Tidak lama Enzo mencubit kedua pipi Estu yang tembem. "Sekarang, ceritakan padaku kenapa kamu bisa patah hati padahal besok menikah dengan anak angkat aku?"
Kedua mata Estu berkaca-kaca lalu menangis keras seperti yang dilakukannya dulu semasa kecil ketika kakek marah dan menghukumnya.
Enzo menghela napas panjang.
Satu jam kemudian Estu selesai cerita, duduk di samping tempat tidur dengan sesengukan.
"Mereka bilang aku ini tidak cantik- mereka juga bilang aku tidak pantas buat Gyan-" Estu mengusap air matanya dengan punggung tangan
Enzo mendengarkan dengan duduk tegap dan melipat kedua tangan di depan d**a.
Setelah memastikan Estu tenang, Enzo mulai bertanya. "Apakah kamu bahagia selama tinggal di sana?"
"Apa?"
"Tinggal bersama kedua orang tua dan adikmu."
Estu mulai memikirkannya lagi. Dari awal kembali ke rumah itu, tidak ada satupun yang menyambutnya dengan hangat. Kedua orang tua sibuk mengurus Gita yang sakit-sakitan, Estu yang tomboi dan tidak bisa diam hanya bisa mengalah demi adiknya.
"Kamu tidak tahu?"
"Aku tidak bisa menilai jelek keluarga kandung." Geleng Estu dengan hati sedih, biar bagaimanapun mereke keluarga kandungnya.
Enzo menatap bangga Estu. "Pertahankan sikap itu, anak pintar."
Air mata Estu kembali mengalir. Selama ini yang memuji hanya kakek dan papi, lalu sekarang mendengar pujian itu kembali membuat hati Estu menghangat.
"Apa kamu tidak pernah curiga dengan hubungan mereka? Tidak mungkin tiba-tiba menikah tanpa saling mengenal."
Estu menggeleng sedih. "Aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang tua dan Gita, mereka lebih banyak di rumah sakit dan aku tidak bisa ke sana."
"Kenapa tidak bisa ke sana?" Tanya Enzo dengan nada curiga.
"Gita bilang iri padaku karena terlahir sehat dan bisa pergi kemana pun, kata ayah- itu membuat kondisinya bertambah menurun," jawab Estu.
"Mereka bilang begitu?" Tanya Enzo yang masih tidak percaya.
"Ya." Angguk Estu dengan yakin.
Enzo menghela napas panjang lalu berdiri. "Ayo."
"Apa?"
"Kita minum berdua, sayang sekali beli mahal tidak meminumnya." Ajak Enzo.
"Sebenarnya itu hadiah untuk Gyan." Estu menggigit bibir dengan sedih.
"Aku tahu." Enzo mengulurkan tangan.
Estu yang memakai baju kebesaran sampai selutut dan celana training, menatap ragu uluran tangan Enzo. "Mau kemana?"
"Nanti kamu juga tahu."
Estu menyentuh tangan Enzo yang terulur dan terbius mata pria tampan yang biasa dipanggil papi karena ketularan Gyan, tunangannya.
Mereka berdua keluar dari kamar.
"Aku belum bawa tas dan menutup pintu." Estu baru mengingat kebodohannya.
"Tidak perlu."
Estu melihat genggaman tangan Enzo yang hangat, persis sekali saat dirinya hilang di pasar dulu karena kakek tiba-tiba menghilang.
Enzo menggandeng tangannya dengan erat supaya tidak tersesat lagi.
Estu jadi membandingkan sikap ayah kandungnya yang tidak pernah hangat dengan pria lain.
Mereka berdua naik ke lantai paling atas dan masuk ke dalam ruangan. Enzo mendudukkan Estu di sebuah kursi empuk dan besar khas milik petinggi perusahaan di film-film lalu meja panjang kokoh dan terlihat mahal.
"Ini-" Estu menjadi bingung.
Enzo menelepon seseorang dengan telepon kantor dan tidak lama seseorang datang membawa kotak.
Estu mengedipkan mata begitu melihat kotak yang dikenalnya itu.
Enzo meletakkan sebuah buku di atas meja lalu menuang minuman di gelas champagne. "Baca sekaligus minum ini."
"Hah?" Estu mendongak tidak mengerti.
"Lakukan saja."
Estu mulai membuka buku dan membaca, kedua matanya terbelalak ketika melihat buku tentang manajemen hotel. "Apa ini?"
"Baca aja sampai habis lalu resapi."
Estu tidak mengerti maksud Enzo tapi tetap patuh seperti dulu.
Enzo tersenyum kecil lalu menghabiskan champagne di gelasnya.
Estu terlihat mulai tertarik dengan isi buku dan serius membaca, sudah lama dia tidak membaca.
Enzo mengacak rambut Estu. "Aku tinggal dulu."
Estu mengangguk kecil, kedua matanya masih menatap isi buku.
Enzo keluar dari ruangan, begitu melihat salah satu bodyguardnya, dia mengeluarkan perintah. "Jaga tempat ini, cari cara supaya dia tidak keluar dari tempat ini. Jangan bersikap kasar."
"Baik."
Enzo menatap pintu yang tertutup sekali lagi, lalu berjalan menuju lift. Hari ini dia sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang, dia tidak bisa melewatkan janji itu dan ingin bertemu sekaligus melihat kesombongan apa lagi yang akan mereka lontarkan.
"Dia bahkan belum menggantikan posisi anda, tapi sudah berani bertindak bossy," keluh bodyguard di belakang Enzo.
Enzo memahami perkataan bodyguard. "Tidak apa, anggap saja latihan sebelum bertemu lagi."
Bodyguard berharap atasannya mencari pendamping hidup dan mendapat keturunan sehingga tidak mengandalkan kerabat untuk dijadikan pewaris, namun dia tidak berani mengutarakannya dengan bebas karena tidak mau ikut campur kehidupan bosnya.