ENAM

1398 Words
Sewaktu kita menjalani hidup, selalu bertanya-tanya. Apakah kita sedang menjalani hukuman atau ujian dari Tuhan? Kenapa keluarga kita tidak bisa harmonis seperti yang lain? Kenapa kita harus menjalani hidup seperti ini? Tidak ada yang pernah tahu jawaban yang pasti, manusia hanya tinggal menjalankannya. Termasuk Estu yang tidak pernah bisa membayangkan seumur hidupnya masuk ke salon. Enzo melihat jam tangan. "Sudah jam satu pagi, kita harus cepat-cepat untuk pernikahan kamu besok." "Apa?!" "Kita akan menunjukkan betapa cantik dirimu, Estu. Sisanya ada di tangan kamu sendiri." Estu menjadi bingung dengan sikap Enzo. "Aku-" "Aku juga harus bersiap melihat anak angkatku menikah." Estu sudah ditarik para pegawai salon mahal itu sementara Enzo masuk ke ruangan lain dan diberikan perawatan. Beberapa jam kemudian, menjelang pagi. Setelah mendapatkan treatment dan tertidur sebentar, Estu menatap takjub cermin. Apakah ini aku? Memakai gaun pengantin berwarna putih. Tapi sepertinya ada yang kurang, apa ya? Estu melirik gaun berwarna merah yang menarik perhatiannya. Enzo yang baru keluar dari kamar khusus, melihat Estu menatap gaun pengantin berwarna merah lalu tersenyum. "Coba saja." Estu menoleh lalu terpana melihat ketampanan Enzo. "Papi, tampan sekali." Enzo menaikkan kedua alis. "Sepertinya aku mulai tidak terbiasa dipanggil papi dari wanita cantik seperti kamu." Normalnya wanita akan tersipu mendengar pujian dari Enzo tapi tidak untuk Estu, karena tidak ada yang pernah memujinya cantik. "Benarkah?" tanya Estu tidak percaya meskipun memang dirinya takjub dengan perubahan ini. "Ya, apakah kamu suka gaun pengantin berwarna merah?" "Uhm- sebenarnya kalau pulang sudah ada gaun pengantin. Tunggu! Kenapa ada pakai ini? Hari ini memang aku menikah tapi-" "Kamu mau menikah dengan Gyan, kan?" "Tapi dia sudah menikah siri dengan adikku atau jangan-jangan mereka sudah menikah secara resmi duluan?" tanya Estu ke Enzo. "Aku tidak tahu dan tidak peduli." "Diakan anak angkat papi juga dan aku-" wajah Estu berubah murung. Enzo menjepit dagu Estu supaya bisa menatap matanya. "Kamu ingin membalasnya?" "Apa?" "Kamu tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja, kan?" Estu merenung lalu mengangguk kecil dan bertekad. "Ya." "Kita akan membalas mereka, tapi kamu harus tahu apa yang terjadi ke depannya. Bisa saja mereka semua membenci dan mengusir kamu." Estu menatap lurus Enzo. "Aku tidak peduli." Enzo tersenyum. "Bawa bodyguard untuk menemani kamu." "Papi sendiri?" "Kamu ingin ditemani?" Estu menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri." Enzo tersenyum. "Anak pintar." Estu kembali menatap gaun pengantin berwarna merah itu. Tiga jam kemudian. Ayah Estu mondar mandir dengan cemas sambil sesekali melihat jam tangan. "Kemana anak itu? Sama sekali tidak ada kabar." Ibu Estu sesekali coba menghubungi Estu. "Tidak diangkat sama sekali." Gita menatap cemas luar jendela. "Kakak tidak datang ya?" Adik perempuan Gyan yang sedang rebahan di atas tempat tidur Gita mencemooh. "Paling juga sibuk kerja, kak Gita tidak perlu cemas." Gita memutar kepalanya. "Tapi tetap saja kak Prisa harus menikah hari ini, sudah ada perjanjian dengan kakek dan tidak bisa dibatalkan." Adik laki-laki Gyan menatap Gita sekilas lalu kembali main dengan handphonenya. Adik perempuan Gyan cemberut tidak suka. "Kakak baik sekali, mau bersabar dan memberikan kakak ke kak Prisa. Kalau aku ya gak mau." Gita tertawa. "Kak Prisa itu tunangan kakak kamu." "Tapi tetap saja lebih cantik kak Gita daripada dia, dia bahkan tidak bisa dibanggakan. Kadang aku suka kesal kalau dia memakai baju asal begitu." Komentar adik perempuan Gyan. "Semua perempuan pasti cantik." "Tapi kak Prisa tidak." Tiba-tiba suasana menjadi heboh dari luar. "PRISA, APA-APAAN INI?!" Adik perempuan Gyan membantu Gita keluar dari kamar lalu melihat wanita bergaun pengantin merah ala barat. Gita menatap iri gaun itu, terlihat mahal terutama satu set perhiasan di tubuhnya. Yang membuat dia bingung, siapa wanita cantik itu? "Prisa!" teriak ibu. Gita terpana begitu juga dengan adik perempuan Gyan. Prisa yang tomboy bisa menjadi secantik ini? Estu menatap muak mereka semua lalu perhatiannya menuju Gyan yang sudah duduk di depan penghulu. Gyan berdiri dengan canggung. "Prisa." Estu tersenyum cantik seperti boneka, tidak ada riasan mewah, hanya untuk menonjolkan gaun pengantin berwarna merah sementara Gita sudah memakai kebaya cantik dan terlihat mahal untuk mengalahkan calon pengantin perempuan. "Ah, sepertinya acara belum dimulai ya?" tanya Gita sambil duduk di samping Gyan tanpa didampingi siapapun. Gyan tersenyum kecut. "Bagaimana bisa aku menikah tanpa kehadiran kamu?" "Meskipun aku tidak hadir, siapa tahu ada yang bisa menggantikan posisi aku." Senyum Estu. "Prisa, kamu jangan kurang ajar ya!" tegur ayah Estu sambil duduk di saksi nikah. Estu menghela napas panjang dan melihat penghulu yang gugup, penghulu yang sama saat menikahkan Gyan dan Gita. Gyan mulai mengulurkan tangan ke penghulu, Estu segera menepisnya. Gyan terkejut, begitu juga dengan si penghulu. "Prisa!" bentak ayah Estu. Estu menatap sedih ayah kandungnya. "Ayah, apakah ayah menyayangiku?" "Kamu bicara apa? Tentu saja ayah sayang." "Kalau begitu, jika aku membatalkan pernikahan ini- apakah ayah akan marah?" tanya Estu. "Prisa, kamu bicara apa? Kita sudah membuat pesta ini jauh hari, kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu?" tanya Gyan sambil mengguncang tangan Estu. Estu menjauhkan tangan Gyan dengan jijik. "Karena aku berubah pikiran, setelah dipikirkan kembali- kita tidak cocok." "Apa-apaan ini, apakah kamu ingin menghancurkan nama baik keluarga kami?!" bentak ibu Gyan yang panik. "Kami sudah mengeluarkan uang banyak untuk pernikahan ini dan kamu bilang batal begitu saja?!" teriak ayah Gyan. Gyan dan Estu saling menatap. Estu baru menyadari, tatapan Gyan tidak seperti dulu. Tatapannya sudah berbeda. "Sejak kapan kamu tidak mencintaiku lagi?" "Kamu bicara apa Prisa?" tanya Gyan tidak mengerti. "Aku mencintaimu bahkan akan menikahi kamu." Estu tersenyum lalu melirik Gita yang cemas. Estu memainkan kalung di lehernya, begitu melihat kalung cantik ini, dia segera membelinya dengan cicilan. Sesekali memanjakan diri tidak apa kan? "Maaf ya, Gita. Kakak cuma bisa menyicil kalung ini untuk dipakai sendiri," kata Estu tanpa merasa bersalah sama sekali. Gita menggigit bibir bawahnya dengan iri. "Prisa, pernikahan ini tidak bisa dibatalkan! Kamu ingin mencoreng nama baik keluarga aku?" desis Gyan. Estu menoleh dan sengaja memperbesar suara. "Oh, tentu saja bisa. Acara ini menggunakan uang kakek aku, jadi terserah aku bisa melakukan apapun." Tamu yang hadir sontak saling berbisik, mereka mendengar keluarga Gyanlah yang mengeluarkan uang banyak untuk pesta pernikahan sederhana ini. Estu tersenyum. "Aku menimbang perkataan kamu yang ingin menikah di rumahku tanpa di gedung, jadi memang aku lebih suka menikah di gedung." "Prisa, kamu mau merajuk sekarang? Tidak lucu!" kata Gyan. Ayah Estu mulai emosi dan menunjuk Estu untuk keluar. "Jika kamu datang ke sini hanya untuk mengacau, lebih baik keluar dari rumah ini sekarang juga!" Estu berdiri dengan susah payah, lalu berjalan ke luar rumah. "KAKAK!" teriak Gita dengan nada suara ingin menangis. "Kakak jangan lakukan ini ke kak Gyan, kakak jangan batalkan pernikahan ini!" Estu balik badan dan menatap lurus Gita. "Yang kalian inginkan itu bukan aku, tapi warisan kakek. Jika aku dan Gyan menikah maka warisan kakek akan dibagi dua dengan Gyan lalu entah suatu saat kalian bisa membunuh aku untuk mendapat harta seutuhnya." "PRISA!" bentak ibu Estu. Estu menatap sedih wanita yang sudah melahirkannya. "Tubuh Gita memang lebih lemah dari aku, aku paham kalian butuh uang untuk kesehatan Gita tapi satu hal yang kalian lupakan, kalian berdua punya anak lain yaitu aku." Ibu Estu menampar wajah Estu dengan tangan gemetar. "Kamu tega sekali mengatakan hal itu ke ibu." Gita pingsan di lengan adik perempuan Gyan. Dengan panik Gyan menggendongnya ke kamar. Estu yang melihat itu, menyentuh pipi yang ditampar dan tersenyum sedih lalu melihat kedua orang tuanya yang bias. Enzo yang memakai topeng dan mantel panjang, masuk lalu menutupi wajah Estu dengan kain sutra panjang berwarna merah. Semua orang yang melihat terkejut. Ayah Estu menunjuk Estu dengan marah. "Kamu- kamu- ternyata selingkuh dengan pria lain!" "Prisa! Moral kamu ternyata-" ibu Gyan tidak menyangka apa yang dilakukan Estu dengan pria bertopeng itu. Enzo mengangkat Estu dan memanggulnya seperti karung beras Estu yang terkejut, sontak memberontak. "LEPASKAN AKU!" teriaknya. "KELUAR DARI RUMAH INI! DASAR ANAK PEMBAWA AIB!" teriak ayah Estu yang marah. Estu yang memberontak sontak terdiam lalu berusaha mengeluarkan tangan dari kain dan mengacungkan kedua jari tengah ke mereka semua. Adik-adik Gyan marah melihat kelakuan tidak bermoral Estu. Kedua orang tua Gyan juga mencaci Estu sebagai anak tidak tahu diri dan mulai membandingkannya dengan Gita. Enzo tertawa di balik topeng kucingnya. "Kamu- lain kali jangan seperti itu ke orang yang lebih tua." "Seperti apa?" "Mengacungkan jari tengah." Estu menurunkan tangannya cepat-cepat. "Darimana kamu tahu?" "Lupa siapa yang menghukum kamu saat marah dengan almarhum kakek dan mengacungkan jari tengah?" "Huh! Almarhum Kakek yang mengajarkan ini, tapi dia juga yang marah sendiri." Ketus Estu yang pasrah dibawa pergi Enzo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD