Setelah Enzo dan Estu masuk ke dalam mobil, mereka duduk saling berhadapan.
Estu baru menyadari kalau mobil yang didudukinya adalah limousine, setelah meniup beberapa helai rambutnya ke atas, dia menatap marah Enzo. "Aku masih belum selesai."
"Apa yang akan kamu lakukan disana? Sumpah serapah?"
"Itu salah satunya." Geram Estu sambil mengangguk kecil.
"Ah, aku pikir kamu berubah ternyata tidak sama sekali." Sesal Enzo sambil mengusap wajah dengan kedua tangan. "Seharusnya kamu bisa membalas mereka dengan elegan."
Estu merasa tidak ada yang salah dengan pembalasannya. "Kenapa aku harus balas dengan elegan sementara mereka-"
"Karena itu yang mereka inginkan, dengan menunjukkan perilaku yang bar-bar, semua undangan akan menilai 'pantas dia ditinggalkan.'"
Estu terdiam dan mulai memikirkannya.
"Untung saja aku segera datang dan memakai topeng, jika mereka tahu aku datang menolong kamu, citra kamu akan semakin jelek."
Estu mulai menyadari kesalahannya. "Maafkan aku."
"Tidak masalah." Enzo mengacak rambut Estu.
Estu merasa malu, bahkan orang tuanya saat mengetahui kesalahan Estu, menghukum atau menyindir. Tidak ada kalimat maklum atau menenangkan.
Bukan berarti Estu selalu ingin benar sendiri.
Enzo menghela napas panjang. "Sekarang kamu benar-benar diusir seperti aku bilang dari awal, kamu mau tinggal dimana?"
Estu mengangkat kepala. "Mau gimana lagi? Tinggal cari kontrakan rumah, toh aku juga sering ke lu₩ar kota."
Enzo tidak suka ide itu. "Bagaimana jika kamu tinggal di rumahku?"
"Apa? Yang benar saja!" seru Estu. Membayangkan akan bertemu lagi Gyan membuatnya merasa muak. "Gak mau ah!"
Enzo mengangkat dagu Estu untuk menatap dirinya. "Aku tidak suka kamu tinggal sendiri di luar, jika Gyan dan adik kamu tahu alamat rumah yang kamu sewa, mereka pasti akan mendekati kamu."
"Aku tidak akan menemui mereka."
"Estu, apakah kamu lupa jika Gyan adalah anak angkat aku? Dia bisa memakai orang-orang aku untuk menemukan kamu."
Estu menipiskan bibirnya. "Aku tidak mau satu rumah dengan pria yang belum menikah."
"Jadi kamu ingin aku menikah terlebih dahulu baru kamu mau tinggal di rumah aku?" tanya Enzo tidak mengerti.
Estu menjadi bingung. "Ah, aku benar-benar tidak tahu."
Enzo menghela napas panjang. "Kita kembali ke hotel."
Estu terkejut. "Bagaimana jika mereka menangkapku?"
"Kamu baru takut sekarang? Kemana saja tadi saat menghancurkan pernikahan sendiri?"
"Aku-"
"Aku kira kamu akan membalas mereka dengan cara elegan dan ternyata-" Enzo tidak menyelesaikan kalimatnya.
Estu tahu dirinya salah, tapi tetap saja dia punya hak untuk merasa kesal. "Apa? Mau menyalahkan aku? Salah saja aku yang lahir terlalu sehat atau juga aku yang tidak bisa memenuhi keinginan orang tua!"
Estu menepis tangan Enzo yang hendak membelai kepalanya.
"Jangan sentuh aku!"
Enzo hanya duduk diam, memperhatikan Estu menangis.
Estu menangis sangat keras dan seperti anak kecil, dulu dia menahan rasa sakit supaya dianggap dewasa, tapi sekarang dia tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Enzo menghela napas. "Mau es krim?"
Meskipun sudah dewasa, ada satu hal sifat yang tidak bisa dirubah Estu yaitu es krim.
Estu mengangguk.
Enzo mengetuk jendela pembatas, sopir membukanya.
"Ya?"
"Ke drive thru, pesankan es krim dua dan juga burger triple meat lalu kentang goreng."
Sopir terpana dengan pesanan atasannya. Apakah untuk wanita itu?
Sopir tidak bertanya lagi dan segera mengarahkan mobil ke drive thru terdekat.
Sekretaris yang duduk di sebelah sopir, memberikan laporan ke Enzo. "Tuan besar, tuan muda Gyan bertanya kapan anda datang."
Enzo mengangkat kedua alis dengan heran. "Bukankah pernikahan sudah dibatalkan?"
"Tuan Enzo bilang, pengantin wanitanya mendadak diganti."
Estu yang mendengar itu tertawa histeris. "Pasti dia akan melangsungkan pernikahan dengan Gita! Aku tahu itu!"
Enzo menatap dingin Estu.
Estu tidak terpengaruh, dia sudah sering diberikan tatapan menakutkan dari kakeknya. "Apa? Mau menghukum aku lagi?"
Enzo memutar bola mata, lupa karena Estu tidak pernah takut dengan dirinya. "Kalau begitu, kita juga tidak mau kalah. Setelah ke drive thru, kita mendaftarkan pernikahan hari ini juga."
Estu tersentak. "Siapa yang akan menikah? Papi?"
"Tentu saja kita berdua."
Estu mendadak bingung dengan ide ajaib pria di hadapannya, lalu menunjuk mereka berdua bergantian.
"Jika putra angkat aku bisa menikah dengan adik kamu, kenapa kita berdua tidak bisa menikah?" Tanya Enzo.
Estu mengerjapkan mata. "Papi tidak kehilangan akal sehat, kan?"
"Bukankah kamu yang kehilangan akal sehat sekarang? Sebelum semuanya menjadi kacau, aku bisa menolong kamu."
Estu mengerutkan kening.
Enzo menepuk kursi di sampingnya. "Kemarilah!"
Estu takut dan tidak mau mendekati pria itu.
"Estu."
Estu merinding begitu mendengar suara rendah yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut.
"Jangan buat aku mengulanginya lagi."
Estu segera pindah tempat, instingnya mengatakan bahwa Enzo adalah pria berbahaya yang tidak bisa dilawan. "A- apa?"
"Aku tahu bagaimana perlakuan kedua orang tua kamu yang sangat buruk, kakekmu cerita banyak hal."
Estu mengangguk. Kakeknya suka curhat kemana-mana jadi tidak aneh jika semua kenalannya tahu apa yang dialami kakek.
"Apakah kamu tahu, saat ini rumah yang ditempati orang tua dan bahkan perusahaan adalah milik kakek? Kamu mendapat warisan saham terbesar, namun mereka menyuap pengacara untuk menahan surat wasiat itu."
Estu terkejut.
"Kedua orang tua kamu, ingin harta kakek jatuh atas nama Gita tapi mereka tidak bisa mengubah surat wasiat karena ada rekaman juga saat pembuatan surat wasiat."
"Dan rekaman itu-"
"Ada di aku."
Estu terdiam.
"Menikah denganku dan gunakan semua daya milikku untuk membalas dendam pada mereka yang sudah menghancurkan hidup kamu."
Estu menarik napas panjang. "Bagaimana jika di tengah jalan aku gagal?"
"Aku akan membantu kamu."
Estu menundukkan kepala. "Bagaimana jika aku tidak ingin balas dendam? Aku memang kesal tapi mereka tetap orang tua aku."
Enzo menaikkan dagu Estu. "Dan aku adalah suami masa depan kamu."
"Bisakah aku diberikan waktu untuk berpikir?" Tanya Estu.
"Silahkan, aku tidak memaksa." Enzo menarik tangan di dagu Estu.
Estu menghapus air mata yang akan mengalir. Rasanya sangat menyakitkan, seolah dunia di sekitarnya menjadi runtuh. Keluarga yang dia harapkan dan doakan setiap malam, lebih suka menghancurkan dirinya.
Enzo menarik bahu Estu supaya kepalanya bersandar di d**a. "Ada satu hal yang lupa aku beritahu kepada kamu."
"Apa?" Tanya Estu.
"Kedua orang tua kamu sudah merencanakan perceraian untuk kamu dan Gyan setelah Gyan resmi diumumkan menjadi penerusku, apakah kamu masih mau memaafkan orang tua yang benci kamu karena harta kakek jatuh ke tangan kamu?"
Estu memejamkan mata dan berusaha menelan rasa sakit.