BAB 15 - Gadis Sebatang Kara

1710 Words
“Baiklah ... kita lihat saja nanti bagaimana. Dan, ya ... aku akan mengajarimu menembak, menanam sayur dan cara-cara bertahan hidup sebagai orang buangan yang mengubur diri dari dunia luar. Dengan catatan, aku harus mempertimbangkannya lebih dahulu dari semua sudut. Jadi, hal itu sebaiknya jangan kita putuskan sekarang. Kita masing-masing belum memiliki kesepakatan untuk bersama. Dan, biarlah hal tersebut tetap menjadi seperti itu sampai kita memutuskan bagaimana akhirnya nanti.” “Terimakasih, itu sudah cukup bagiku ... yang jelas, aku pasti akan tetap berada dalam keputusanku.” dengan mimik yang berubah serius, gadis itu menjawab dengan tegas. “Sebegitu besarkah niatmu? Kenapa?” kini, Surya Kelana kembali bertanya dengan heran. Karena ia sendiri benar-benar belum bisa menebak motivasi dari gadis yang katanya juga ingin melarikan diri dari dunia luar. “Kau akan tahu jika sudah mendengarkan ceritaku,” dengan singkat, gadis itu menjawab. “Baiklah ... aku tunggu ceritamu, agar bisa menilai kesungguhan niatmu.” “Setuju. Sekarang, kita akan mencari makan kemana? Aku sudah lapar ...” gadis itu tersenyum malu sambil memegangi perutnya yang terasa agak dingin. “Oh ... baiklah. Mari kita makan ...” ***   Hampir satu jam, mereka pergi meninggalkan hotel untuk mencari pengisi perut di rumah makan terdekat. Setelah kenyang dan menjadi hangat, keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar. Rencana kepergian esok hari, memang sudah seharusnya dibicarakan secara lebih detil lagi. Karena bagaimanapun, dua orang tersebut adalah sejatinya merupakan sosok yang asing satu sama lain. Selesai membersihkan diri untuk persiapan istirahat, tampaknya mereka sudah siap untuk melakukan pembicaraan final terkait kepergian mereka. Sang gadis duduk di tengah tempat tidur, dan mengajak Surya untuk naik bersama di atas pembaringan dengannya. Namun dengan sopan, tawaran itu ditolak. Surya Kelana malah menyeret sebuah kursi untuk mendekat ke peraduan tersebut, lalu menempatkan diri di sana sambil menunggu apa yang sudah dijanjikan oleh Meilyana. Sekarang, ia jadi benar-benar ingin tahu alasan si gadis serta latar belakang cerita sebelumnya tentang kejadian apa yang menimpanya. Sebab, semua itu merupakan sebuah penentu bagi Surya untuk mengajak atau meninggalkannya di tempat itu. Dan kini si lelaki sudah menunggu, serta siap untuk mendengarkannya. ---   “Tampaknya, kau sudah tak sabar untuk mendengarkan ceritaku ...” dengan wajah berubah suram, gadis itu menanggapi isyarat dalam diam yang diberikan oleh pada dirinya. “Ya. Aku menunggu itu ...” “Haruskah?” “Karena seseorang yang berniat pergi selamanya, pasti memiliki sebuah alasan cukup kuat. Aku ingin menilai, apakah hal tersebut harus ditebus dengan pelarianmu sendiri yang nanti akan sia-sia.” “Maksudmu?” “katakanlah, kau sedang patah hati dan marah kepada kekasihmu. Lalu ... memutuskan pergi menghilang. Hal itu sangat umum terjadi karena emosi sesaat yang tanpa mempertimbangkan akal sehat. Bukankah itu akan menjadi sia-sia?” “Aku tidak punya kekasih, dan belum pernah sekalipun memiliki seorang kekasih.” “Oh ... atau contoh yang lain. Misal saja, kau sedang marah kepada orangtuamu, lalu memutuskan untuk pergi. Percayalah, kau akan menyesal nantinya. Karena, kemarahan pada orangtua tak mungkin akan dapat bertahan lama. Yakinlah, dua tiga hari atau katakanlah seminggu ... kau pasti sudah ingin pulang karena merindukan mereka.” “Bukan seperti itu. Karena aku sangat menghormati mereka dan tak mungkin lari dari rumah walau kecewa seperti apapun.   Aku punya alasan kuat untuk pergi menghilang. bukan hanya cukup, tapi lebih dari cukup.” “Seperti misalnya?” tanya si lelaki memancing. “Ke-ke ... kematian kedua orangtua, adik, dan seorang sahabat dalam satu malam ... di satu tempat. Cukup?” Si lelaki terperangah. Spontan, wajahnya tersentak menatap paras sang gadis yang kini jadi memerah menahan tangis. “Benarkah?” dengan hati terguncang, Surya kelana bertanya perlahan seperti berbisik. “Mereka semua dibunuh. Bahkan aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Papa mau dibunuh,” pecahlah tangis si gadis yang telah ia tahan selama waktu hampir dua puluh empat jam itu. ---   Surya kelana kembali tersentak. Sementara, si gadis menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil langsung tersedu dengan perlahan. Kedua pundak Meilyana terlihat terguncang, seakan ia tengah mencoba menepis bayangan yang ia sendiri tak mempercayainya. Hati laki-laki Surya tergerak ... tanpa suara, ia beringsut maju untuk mendekati sang gadis yang masih tersedu dalam hening, “Maaf ...,” hanya kata itu yang terucap dari bibir sang lelaki saat ia meraih pundak gadis yang belum lama ia kenal. Mendapatkan sebuah sentuhan penuh simpati, si gadis mendekatkan tubuhnya tanpa sadar untuk menempel pada lelaki yang belum juga menempatkan diri untuk duduk di atas kasur. Namun karena ada sebuah pelukan dan kepala yang menyandar ke arah bahu kokohnya, kini telah  membuat Surya Kelana terpaksa  untuk mencari suatu posisi nyaman bagi keduanya. Dan ... pelukan mereka terlihat begitu alami serta spontan tanpa direncanakan. Lelaki yang merasa terkejut sekaligus berbelas kasih, dengan ikhlas menyediakan bahunya untuk menjadi sandaran hati rapuh yang tengah berduka. Karena apa yang tadi dikatakan oleh si gadis, adalah sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Sesekali, tubuh sang gadis terguncang, lalu sesaat berikutnya ia mengusap wajah untuk menghapus airmata yang berderai tanpa suara. Dan lelaki bertubuh tegap itu hanya mampu mengusap punggung sang gadis untuk memberi penghiburan sementara ... ---   “Aku tak mau menjadi bebanmu, atau bagi siapapun di dunia ini. Namun memang sebaiknya kamu harus mengerti secara lengkap, apa yang telah kualami pada hari kemarin ...” Si lelaki hanya menggangguk membisu, lalu mendengarkan dengan serius setiap kisah yang terucap dari bibir Meilyana setelah itu ... ---    Duapuluh empat jam sebelumnya,  di dalam sebuah rumah yang merupakan tempat tinggal keluarga Meilyana ... “Kamu tidur duluan saja, aku dipanggil Papa untuk membicarakan sesuatu. Mungkin, dia butuh bantuan seperti biasanya,” demikian kata Meilyana pada sahabatnya. Malam itu, teman akrab si gadis harus menginap dirumah Meilyana akibat kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat. Sebenarnya, sang sahabat hanya ingin berkunjung saja tanpa berniat untuk menginap. Tetapi karena suhu yang memanas di luar sana telah mengakibatkan kekacauan, akhirnya ia harus menginap sementara menunggu situasi tenang. Dan kedua orang tua sahabatnya itu juga menyarankan agar si anak jangan pulang ke rumah terlebih dahulu. “Baiklah, aku tidur duluan saja. Hi-hi ... emang sudah ngantuk, kok.” Jawab sang sahabat sambil tersenyum manis. “Oke ... sampai ketemu besok ...” sahut Meilyana sambil melangkah meninggalkan kamarnya. “Baiklah, sampai ketemu besok.” Jawab sang sahabat sambil membuka kedua lengan untuk saling memeluk dan mencium pipi. Malam ini, ia akan berbagi tempat tidur dengan sahabatnya itu. karena, rumahnya memang tidak memiliki kamar khusus yang diperuntukkan bagi tamu. Maklum, rumah tinggalnya memang dipenuhi dengan berbagai macam persediaan barang dagangan. Sehingga, bahkan beberapa kamar juga harus difungsikan sebagai gudang. Jadi, yang tersisa hanya tiga ruang untuk dipakai sebagai kamar tidur. Kedua orangtuanya menggunakan kamar paling depan yang berbatasan langsung dengan toko. Sedang adiknya menempati ruangan yang terletak persis di depan kamar mereka. Sementara, Meilyana mendapatkan ruangan sendiri yang lebih nyaman di belakang. Hanya saja, kamarnya memang berdampingan langsung dengan kamar mandi serta dapur. ---   Sekeluar dari kamarnya, gadis itu melangkah menuju ruang kerja ayahnya yang terletak di sudut belakang toko. Tiba di tempay yang dimaksud, ia melihat jika seluruh ruangan toko yang menjual kebutuhan pokok itu telah gelap. Namun, ruang kecil di sudut belakang terlihat memancarkan sinar yang menunjukkan keberadaan sang ayah di dalamnya. “Maaf, Pa ... aku sedikit terlambat. Hari ini toko tutup, aku kira malam ini Papa tidak butuh bantuanku.” Demikian sapa si anak ketika ia memasuki ruang kerja ayahnya. Seperti kebiasaan sehari-hari, gadis itu memang selalu membantu orangtuanya untuk menghitung pendapatan hari itu pada setiap malamnya. Pembukuan laba rugi dan pembayaran nota serta pengadaan barang, memang telah diserahkan tanggungjawabnya pada si anak gadis. Sehingga, ayah dan anak itu secara rutin akan melakukan pembicaraan tentang evaluasi dan rencana pemesanan barang serta pengaturan keuangan lainnya. Tentu saja, hal tersebut dimaksudkan oelh sang ayah agar anak gadisnya bisa sepenuhnya pandai mengelola usaha. ---   Hendrawan, adalah lelaki berusia 50-an tahun. Ia memiliki dua orang anak, lelaki dan perempuan. Meilyana adalah merupakan anak sulung, sehingga dialah yang sekarang menjadi harapan kedua orangtua untuk terjun sepenuhnya dalam usaha keluarga tersebut. Sang adik yang kebetulan memiliki jarak usia agak jauh dengan si kakak, merupakan seorang anak laki-laki remaja yang baru menginjak bangku sekolah SMA. Meskipun anak bungsunya juga ikut membantu di toko sepulang sekolah, namun yang memiliki lebih peran utama di tempat itu adalah Meilyana. “Nggak apa. Hari ini kita memang tidak aan melakukan kegiatan seperti biasa. Papa hanya ingin mengobrol terkait dengan kerusuhan hari ini ...” “Ah, iya ... berita-berita di TV sepertinya sangat mencekam.” Sahut si anak untuk menanggapi perkataan ayahnya. “Benar sekali ... Papa juga sudah melakukan banyak sekali hubungan telepon dengan para relasi. Sepertinya, keadaan ini tak akan pulih dengan cepat. Pergolakan politik telah terjadi. Ekonomi yang terpuruk, tentu saja menjadi penyebab semua ini.” “Benar, Pa ... bahkan, kabarnya bukan hanya di ibu kota saja kerusuhan terjadi. Di beberapa tempat, kegaduhan ini sudah marak ...” “Tak salah perkataanmu itu ...  dan Papa memang memanggilmu kesini untuk membicarakan hal tersebut. Karena, semua itu pasti akan berimbas pada kehidupan ekonomi seluruh masyarakat.” “Pa ... benarkan banyak tempat yang dijarah serta terbakar?” “Iya ... Papa juga mendengar itu. yang lebih miris ... ada beberapa kabar perkosaan dengan motif sentimen rasial. Dan ... sejujurnya Papa takut.” “Karena kita termasuk dalam sasaran sentimen anti ras tersebut?” tanya si anak gadis dengan tubuh sedikit menggigil. “Sepertinya begitu. Tapi, Papa rasa memang ada yang janggal disini. Mahasiswa yang menuntut pemerintahan diganti, mengapa malah mengakibatkan rakyat tak bersalah menjadi korban? Sepertinya, hal itu hanya dijadikan kambing hitam atau pengalihan issue saja.” “Presiden tidak mau turun?” “Presiden belum mau lengser, dan itulah yang menjadikan keadaan berlarut. Rakyat yang sedang marah dan lapar, pasti akan mudah dipengaruhi dan tersulut untuk melakukan tindakan anarkis.” “Yang jadi korban, akhirnya rakyat juga.” “Begitulah nasib orang kecil. Di bawah, kita saling berhadapan bertikai ... sementara yang di atas, tak tersentuh oleh hukum serta imbas kekacauan ini.” Lelaki paruh baya itu tampak begitu galau saat mengucapkan kata-kata terakhirnya. Ia adalah seorang ayah dan suami yang harus bertanggungjawab untuk melindungi keluarganya. Namun keadaan kacau yang saat ini terus saja berlangsung tanpa tahu kapan akan berakhirnya, tentu saja telah menjadikan dirinya gundah dan kehilangan akal dalam menyikapi situasi itu. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD