BAB 14 - Belum Bisa Memutuskan

1770 Words
Kamar hotel tersebut kembali hening, ketika si gadis terdiam untuk mencerna cerita yang baru saja ia dengarkan. Meski belum bisa mengetahui kebenarannya, ia sendiri paham bagaimana situasi politik saat itu. Bahkan, musnahnya semua harta dan kematian keluarganya juga tak terlepas dari situasi politik yang sedemikian tak menentu. Entah mengapa, desakan mahasiswa yang menuntut Presiden untuk mundur, kini malah diwarnai dengan berbagai peristiwa yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kekuasaan itu sendiri. Rakyat saling berhadapan dengan rakyat, padahal seharusnya mereka bisa bersatu padu untuk berkonsentrasi menurunkan tirani. “Aku dengar, beberapa aktivis juga telah ‘menghilang’ tanpa jejak ... apakah tim kalian merupakan bagian yang melakukan pekerjaan seperti itu?” dengan hati-hati, si gadis bertanya lebih detil lagi. “Aku juga mendengarnya. Entahlah, mereka menghilang dengan cara seperti apa, aku tak tahu. Namun bisa kutegaskan disini ... tim kecil kami belum pernah bertugas untuk melakukan hal-hal seperti itu. Bahkan, sebenarnya kami juga belum pernah mendapatkan sebuah penugasan resmi untuk membuat kekacauan atau mengurusi rakyat sipil. Operasi yang kami lakukan kemarin, adalah tugas pertama dalam situasi sekarang yang melibatkan seluruh tim. Sebelumnya, kami hanya melakukan rutinitas pengumpulan data serta analisis situasi saja. Sejujurnya, aku dan tim hanya sempat menjalani pendidikan dan melakukan beberapa tugas terkait ancaman keamanan.” “Keahlian bertempur?” tanya si gadis lagi. Tampaknya, Meillyana juga memiliki sedikit pengetahuan tentang politik dan seluk beluk intrik dunia spionase. “Tentu saja iya ... kenapa kau tanyakan itu?” “Hanya sebatas ingin tahu saja. Emmm ... aku penggemar novel dan film spionase .. ahh ... maaf, jadi terbawa larut dengan ceritamu,” jawab gadis tersebut dengan muka sedikit memerah. “Berarti, sedikitnya kau tahu tentang aksi para agen spionase?” “Pembobolan data, pembuka kunci, peguasaan senjata, propaganda, trik dan intrik intelejen? Ah ... pengetahuanku hanya terbatas pada fiksi saja.” “Kalau kau ingin tahu ... kira-kira, apa yang kami dapat dalam pendidikan adalah hal-hal semacam itu ... kami juga dibekali keahlian menyamar, penjinak bom atau penguasaan bahan peledak. Intinya, semua hal yang berhubungan dengan intelejen dan kontra intelejen.” “Wow ... keren. Hi-hi ... pantesan bisa dapat identitas palsu dengan cepat ...” tanpa dapat menyembunyikan kekaguman, Meillyana melontarkan kata-kata itu. Sampai disitu, Surya Kelana tak menanggapi komentar sang gadis. Dan saat melihat si lelaki diam, Meillyana segera menyimpulkan cerita Surya Kelana dengan jalan pikirannya sendiri, “Seperti yang pernah aku baca dalam sebuah buku ... mungkin kelompokmu adalah sebuah organisasi rintisan yang bersifat sangat rahasia dan akan digunakan untuk melakukan pekerjaan tertentu demi kepentingan seseorang VVIP. Karena sekarang tengah mendapatkan sebuah ancaman kedudukan ... maka kelompokmu  harus segera dibubarkan agar keberadaannya tak menyeret atau mencoreng nama baik seseorang ...” “Aku tak tahu ... kira-kira, mungkin memang seperti itu. Tapi yang sangat aku mengerti saat ini adalah, Surya Kelana harus menghilang dari muka bumi ini bersama kesembilan orang anggota tim. Karena jika kami memang sengaja dimusnahkan, keberadaanku di dunia dalam keadaan hidup ini akan menjadi sebuah ancaman bagi seseorang. Aku adalah saksi, dan takkan mungkin dibiarkan untuk bisa berbicara,” dengan jelas, si lelaki menggarisbawahi posisinya saat ini. “Ah, iya ... karena, kalian adalah saksi yang memiliki benang merah dan mengetahui siapa penghubung dengan boss besar yang ada di balik kelompok kalian.” “Ya ... dan kau harus tahu. Yang aku maksud dengan bersembunyi, adalah menghilangkan jejak keberadaanku sama sekali. Aku harus hidup di bawah tanah dan tak boleh sedikitpun muncul ke permukaan. Lalu yang terpenting ...  hal tersebut tersebut pasti akan membutuhkan waktu yang panjang untuk menunggu hingga situasi menjani normal kembali.” “Sampai kapan?” “Yang jelas, bukan hanya satu dua tahun. Bisa jadi memerlukan sepuluh hingga dua puluh tahun lagi. Aku paham bagaimana cara kerja alat-alat kekuasaan rezim ini. Mereka tak akan mudah disingkirkan dari tampuk kekuasaan. Apapun caranya, pasti akan mereka gunakan untuk tetap menjadi benalu di negeri ini.” “Ya ... pastinya begitu. Mereka akan bertahan, karena menyerah berarti akan mati dengan hina beserta terbongkarnya seluruh borok yang dimiliki.” ---   Semula, si lelaki tampan menyangka jika apa yang ia ceritakan tadi akan membuat si gadis ketakutan. Atau, paling tidak akan berpikir seribu kali untuk melakukan perjalanan bersamanya. Tapi ternyata, ia kecele. Gadis tersebut, bahkan memiliki sedikit pengetahuan dan analisa tentang betapa bobroknya rezim yang sekarang ini. Dan yang terpenting lagi, Meillyana justru malah terlihat tidak menyukai latar belakang sistem kenegaraan yang korup dan membuat seluruh rakyat jadi menderita. Mata sipit yang bersinar lembut dari sang gadis, sekarang malah memancarkan sebuah tekad yang benar-benar diluar dugaannya. Dalam sorot tatapan yang penuh kelegaan, si lelaki malah menemukan jika sang gadis terlihat begitu antusias untuk terus bersamanya. ---   Untuk meyakinkan dugaannya, Surya segera bertanya dalam nada menguji, “sekarang, apakah kau tidak takut berjalan bersamaku? Aku adalah buronan, seorang saksi yang harus disingkirkan dalam kematian. Dan ... bisa saja, siapapun yang mengetahui rahasiaku akan ikut disingkirkan juga. Kamu paham? Semua harus dibungkam agar tiada jejak sedikitpun keberadaan kelompok rahasia kami.” “Aku mendengar, mengerti dan sangat memahami. Dan, tentu saja aku tidak takut. Seperti yang kukatakan kemarin malam, aku juga akan mati jika ditemukan oleh orang yang telah mengira jika aku sudah ikut meninggal bersama keluargaku ... karena, aku melihat satu persatu wajah para pembunuh, dan mengenal beberapa orang diantaranya,” dengan tegas, gadis itu berkata pada Surya sambil menggigit bibirnya keras.    Tampak sekali, emosi si gadis kini sudah tak bisa ditahan lagi ketika mengatakan tentang sebuah hal yang berhubungan dengan kisah kelamnya. Setelah kata itu terucap, baru sang lelaki sadar jika gadis yang bersamanya itu juga memiliki sebuah kisah yang mungkin sama menyeramkan dengan ceritanya sendiri. “Ohhh ... maaf. Karena semua kesibukan ini, aku lupa jika kau pasti juga memiliki sebuah alasan yang kuat untuk pergi,” sambil berkata demikian, si lelaki mengamati wajah sang gadis yang semakin memerah. “Engkau benar. Aku memiliki sebuah kisah yang sangat mengerikan. Tapi, sebaiknya nanti saja aku menceritakan hal tersebut. Sekarang, biar kubantu engkau membereskan semua barang, lalu kita membersihkan diri dan pergi untuk mencari makan malam. Maaf, aku lapar dan butuh sesuatu untuk mengisi perut agar semua energi segera pulih kembali. Dan ... Ya! Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Semakin jauh, akan bertambah baik bagiku,” dengan sebuah senyum tabah, si gadis menutup pembicaraan. ---   Satu persatu barang yang ada dalam tas kanvas panjang itu mulai dikeluarkan oleh sang pemilik. Dan ... lelaki itu kembali dibuat surprise oleh sikap si gadis yang tak terlihat heran sedikitpun saat melihat benda-benda ‘asing’ yang segera saja dibongkar saat itu juga. “Hmmm ... jika kita sudah menemukan sebuah tempat yang bagus, aku akan meminta padamu untuk mengajari aku agar bisa menggunakan semua itu,” hanya demikian komentar Meillyana saat ia mencoba mengangkat sebuah senjata genggam sambil menunjuk pada senjata laras panjang yang kini sedang dilepasi beberapa bagiannya. Surya hanya diam, ia tak berkomentar dan malah menyibukkan dirinya untuk melepas bagian-bagian komponen senjata tersebut. Bila popor serta badan senjata masih menyatu dengan larasnya, maka akan jadi terlalu panjang untuk dimasukkan dalam sebuah tas. Dan kini semua harus ia lepaskan bagiannya secara terpisah, sehingga senjata runduk tersebut  bisa dibagi menjadi tiga potong. Praktis membawanya, dan juga tak akan mencolok atau memancing kecurigaan. ---   “Bang ... boleh?” dengan sedikit manja, gadis itu memanggil si lelaki agar menanggapi kata-katanya tadi. Sepertinya, itulah kali pertama gadis tersebut memenggil Surya Kelana dengan sebutan ‘abang’. “Hmm ... kita lihat nanti. Karena, saat ini kita sama-sama belum tahu apakah engkau akan sanggup mengikutiku pergi.” Akhirnya, si lelaki menjawab dengan suara perlahan. “Sudah kukatakan tadi jika aku ingin mengikutimu, sepanjang engkau mengijinkan. Tapi, aku juga tak akan memaksa jika kau memang kurang nyaman dengan kehadiranku. Bawalah aku keluar dari Jakarta, mungkin aku bisa mencari kehidupan sendiri walau entah akan kemana nantinya.” “Kau serius tak memiliki tujuan?” kali ini, Surya Kelana baru merespon semua kesungguhan yang selalu saja terucap dari bibir sang gadis. “Sudah aku katakan berkali-kali ...” kelihatannya, kata tersebut diucapkan dengan nada sedikit merajuk. “Sama sekali tak punya kerabat di luar kota? Aku bisa mengantarkanmu kesana.” “Kalaupun ada, belum tentu aku mau kesana. Tapi, aku memang tak memiliki satupun kerabat.” “Maaf, aku hanya sangsi.” “Kenapa?” “Karena, tempat yang akan aku tuju adalah sebuah persembunyian untuk mengubur diri. Aku akan menghilang dan sementara ‘membunuh’ diriku sendiri dari dunia luar. Yang berarti, tujuanku adalah sebuah tempat terpencil tanpa listrik, tanpa teknologi, jauh dari keramaian, televisi dan apapun yang biasa ditemukan manusia normal.” “Aku sanggup dan tak keberatan dengan itu. Oh, ya ... bukankah aku sekarang sudah menjadi istrimu?” wajah cantik itu berubah cerah saat menjawab dengan mantap semua keraguan si lelaki. Dan kini, kembali sebuah senyum nakal tersungging disana. “Engkau bisa? Sanggup? Karena aku tahu, kau ini bukanlah tipe seorang gadis biasa yang bisa menjalani hidup berat.” Dengan ragu, pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut si lelaki. “Bukankah aku ‘istrimu’? Seorang istri yang baik, pasti akan turut kemanapun sang suami pergi.” “Ah, jangan kau sebut itu. Semua hanya identitas palsu yang memang akan kita gunakan untuk mempermudah pelarian.” “Hmmm ... tapi aku suka itu. Dan kau akan melihat buktinya jika aku sanggup menjalani hidup seberat apapun tanpa mengeluh.” “Meskipun harus bersembunyi di hutan? Bercocok tanam untuk mencari makan, bahkan tanpa memiliki satupun hubungan dengan orang lain entah sampai kapan?” “Aku bisa, asal kau mau mengajariku hidup seperti itu.” Mendengar jawaban yang demikian, kepala si lelaki menengadah meninggalkan keseriusannya berbenah. Lalu ... tatapannya terpaku pada sebuah senyum manis pada wajah cantik yang seolah tengah menemukan secercah cahaya baru di kegelapan. Mata yang sembab serta gurat kelelahan di paras gadis itu, ternyata tak mengurangi arti seri penuh harapan di sana. “Kita lihat saja nanti. Sebaiknya, jangan kita putuskan saat ini agar tak menjadi ganjalan. Semua bisa berubah, karena keadaan sekarang yang masih serba tak pasti. Sementara, kita jalani seperti ini lebih dulu, hingga saatnya harus pergi nanti, itulah keputusan akhir yang akan menjadi kesepakatan kita.” Panjang lebar, lelaki itu menjelaskan aturan main saat itu. ---   Walau sebetulnya sudah merasakan sebuah simpati mendalam untuk menolong si gadis, namun Surya Kelana malah menjadi sangsi dengan dirinya sendiri. Ia tak yakin jika nantinya akan mampu mengatasi keadaan seiring perubahan jaman dan suasana hati mereka. Saat itu, keduanya sama-sama memiliki perasaan putus asa karena harus kehilangan dunia masing-masing. Dan satu dua hari lagi, bisa saja keadaan akan berubah. Atau, mungkin saja mereka bisa menemukan solusi berbeda yang lebih baik tanpa harus memiliki ketergantungan dengan lainnya. ***       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD